lagu-gereja.com/toraja

View : 597 kali
Mazmur 102:1-12
Passambayang umpangandoan Sion

1Passambayangna to mandasa bang, ke tang naattami sia untua' sarrona dio oloNa PUANG. (102-2) O PUANG, tananni talinga tu passambayangku, sia sangapaoi anna rampo mati' Kalemi tu pengkamoyaku.

2(102-3) Da Mibunianna' lindoMi ke nalambi'na' attu kamandasan; tanannina' talingamMi; sia perangiina' madomi', ke meongli'na'.

3(102-4) Belanna iatu katuoangku labu' butung rambu, sia mintu' bukungku malassuk susi api dukku.

4(102-5) Iatu penaangku malayu butung riu nala'da' allo, belanna tang kupoinaa kumande.

5(102-6) Iatu kuli'ku la'ka' lako bukungku, napobua' sarro budangku.

6(102-7) Butungna' kayo dio lu padang aak, sia tenmo' langau to' batu dio tondok daun lauan.

7(102-8) Maroyana' sia butungna' Manuk-manuk torro misa dao bubungan.

8(102-9) Kiallo-kiallo nabe'sena' mintu' ualingku, sia mintu' tu to sumadang-madang lako kaleku, unggatai tau, umpotandaran kada sangangku;

9(102-10) Belanna ungkandena' au butung bo'bo', sia kuto'bo' uai mata tu kuiru'na,

10(102-11) Diona kare'dekamMi sia kasengkeamMi. Belanna mangkamo' Miangka', amMi tibe polena' sule.

11(102-12) Iatu katuoangku susito bayo-bayo kalando, sia malayuna' ten to riu.

12(102-13) Apa Kamu, o Puang, unnisung tontong sae lakona, sia iatu kadiannamMi batu silambi' disituran-turananni.

Doa minta tolong dan doa untuk Sion
102:1 Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN. (#102-#2) TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu. 102:2 (#102-#3) Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku! 102:3 (#102-#4) Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian. 102:4 (#102-#5) Hatiku terpukul dan layu seperti rumput, sehingga aku lupa makan rotiku. 102:5 (#102-#6) Oleh sebab keluhanku yang nyaring, aku tinggal tulang-belulang. 102:6 (#102-#7) Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan. 102:7 (#102-#8) Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh. 102:8 (#102-#9) Sepanjang hari aku dicela oleh musuh-musuhku, orang-orang yang mempermainkan aku menyumpah dengan menyebut namaku. 102:9 (#102-#10) Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan, 102:10 (#102-#11) oleh karena marah-Mu dan geram-Mu, sebab Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku. 102:11 (#102-#12) Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput. 102:12 (#102-#13) Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun.


Penjelasan:
* Sebagian orang berpikir bahwa Daud menulis mazmur ini pada waktu pemberontakan Absalom. Ada lagi yang berpendapat bahwa Daniel, Nehemiah, atau seorang nabi lain menuliskannya untuk digunakan oleh jemaat Yahudi, yang tengah menjadi tawanan di Babel, karena mazmur ini tampak berbicara tentang kehancuran Sion dan tentang waktu yang ditetapkan untuk membangunnya kembali, yang diperhitungkan Daniel berdasarkan kumpulan Kitab (Dan. 9:2). Atau mungkin si pemazmur sendiri sedang amat menderita, yang dikeluhkannya pada permulaan mazmur, tetapi (seperti dalam Mazmur 77 dan mazmur-mazmur lain) ia menghibur dirinya sendiri di dalam penderitaan itu dengan mempertimbangkan kekekalan Allah dan kemakmuran serta kelanggengan jemaat, betapa pun sekarang jemaat sedang kesusahan dan terancam bahaya. Tetapi jelas, dari penerapan ayat Mazmur 26 dan 27 kepada Kristus (Ibr. 1:10-12), bahwa mazmur ini merujuk pada hari-hari Mesias, dan berbicara entah tentang penderitaan-Nya atau tentang penderitaan-penderitaan jemaat-Nya karena Dia.

Keluhan-keluhan dalam Kesengsaraan (102:1-12)
    Judul mazmur ini sudah sangat jelas. Mazmur ini adalah doa seorang sengsara. Mazmur ini dikarang oleh seorang yang sedang mengalami kesengsaraan itu sendiri, sengsara bersama jemaat dan untuk jemaat. Bagi orang-orang yang peduli terhadap kepentingan umum, penderitaan-penderitaan seperti ini terasa lebih berat daripada penderitaan-penderitaan lain. Mazmur ini dirancang untuk keadaan sengsara, dan dimaksudkan untuk digunakan oleh orang lain yang mungkin tengah mengalami kesengsaraan serupa. Sebab, segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis dengan sengaja untuk menjadi pelajaran bagi kita. Seluruh firman Allah berguna untuk membimbing kita dalam doa. Tetapi di sini, seperti yang sering kali terjadi di tempat-tempat lain dalam Kitab Suci, Roh Kudus telah mempersiapkan permohonan kita untuk kita, telah menaruh kata-kata ke dalam mulut kita. Bawalah serta kata-kata bersamamu (Hos. 14:2, terjemahan kjv; tb: Hos. 14:3: bertobatlah -” pen.Bawalah sertamu kata-kata penyesalan -” pen.). Di sini kita melihat doa yang ditaruh ke dalam tangan orang yang sengsara: biarlah kiranya hati mereka, dan bukan tangan mereka, terpatri padanya, dan baiklah mereka mempersembahkannya kepada Allah. Perhatikanlah:,
        1. Sudah sering kali menjadi nasib orang-orang kudus yang terbaik di dunia ini untuk menderita kesengsaraan yang teramat perih.
        2. Bahkan orang-orang baik bisa jadi hampir kewalahan menanggung kesengsaraan-kesengsaraan mereka, dan mungkin bahkan tidak kuasa lagi menahannya.
        3. Apabila kita sedang sengsara, dan roh kita kewalahan, sudah menjadi kewajiban dan kepentingan kitalah untuk berdoa. Dengan doa kita mencurahkan keluhan kita ke hadapan Tuhan. Ini artinya bahwa Allah memberi kita izin untuk bersikap bebas dengan-Nya dan bahwa kita boleh bebas berbicara di hadapan-Nya, serta juga bebas untuk datang kepada-Nya. Ini juga berarti betapa roh yang sedang sengsara akan merasa lega jika ia mengangkat bebannya dengan menyampaikan keluhan-keluhan dan kesedihan-kesedihannya dengan rendah hati.

Cara penyampaian seperti itu kita dapati di sini, yang di dalamnya,
        I. Si pemazmur dengan rendah hati memohon Allah untuk memperhatikan kesengsaraannya dan doanya di dalam kesengsaraannya itu (ay. 2-3).
Apabila kita berdoa di dalam kesengsaraan kita,
            1. Haruslah menjadi kepedulian kita untuk memperhatikan apakah Allah akan mendengar kita dengan penuh rahmat. Sebab, jika doa-doa kita tidak berkenan di hati Allah, maka doa-doa itu pun tidak akan ada gunanya bagi diri kita sendiri. Oleh sebab itu, baiklah hal ini ada dalam pandangan mata kita, agar doa kita boleh terdengar oleh Allah, bahkan sampai ke telinga-Nya ( 18:7). Dan, untuk mencapainya, marilah kita mengangkat doa kita dan jiwa kita bersamanya.
            2. Kita boleh berharap bahwa Allah akan mendengar kita dengan murah hati, karena Ia telah memerintahkan kita untuk mencari-Nya dan telah berjanji bahwa kita tidak akan mencari-Nya dengan sia-sia. Jika kita mengangkat doa di dalam iman, maka di dalam iman pula kita boleh berkata, “TUHAN, dengarkanlah doaku! Dengarkanlah aku,” yakni,
                (1) “Nyatakanlah diri-Mu kepadaku, janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku di dalam murka, pada hari aku tersesak. Jika Engkau tidak bersegera membebaskanku, setidak-tidaknya biarlah aku tahu bahwa Engkau berkenan kepadaku. Jika aku tidak melihat pekerjaan-pekerjaan tangan-Mu bagiku, setidak-tidaknya biarlah aku melihat senyuman wajah-Mu kepadaku.” Allah yang menyembunyikan wajah-Nya saja sudah merupakan masalah bagi orang baik ketika ia ada di dalam kemakmurannya (30:8, ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.;kjv: “aku mendapat masalah” -” pen.), jadi apalagi jika kita ada dalam masalah dan Allah menyembunyikan wajah-Nya. Sungguh menyedihkan keadaan seperti ini.
                (2) “Nyatakanlah diri-Mu untukku. Jangan hanya mendengarkanku, tetapi juga jawablah aku. Berilah aku pembebasan yang kubutuhkan dan yang kudambakan. Jawablah aku dengan segera, bahkan pada hari aku berseru.” Ketika banyak masalah menekan kita dengan berat, Allah mengizinkan kita untuk berdoa dengan mendesak-desak seperti itu. Namun, harus dengan rendah hati dan sabar.

        II. Ia mengeluh dan meratapi keadaan hina yang kini dialaminya karena kesengsaraan-kesengsaraannya.
            1. Tubuhnya kurus kering, dan ia sudah benar-benar menjadi tengkorak, hanya tinggal tulang-belulang. Sama seperti kemakmuran dan sukacita digambarkan dengan membuat tulang-tulang menjadi gemuk, dan tulang-tulang yang tumbuh subur seperti tanaman, begitu pula permasalahan besar dan kesedihan mendalam digambarkan di sini dengan hal yang sebaliknya: tulang-tulangku membara seperti perapian (ay. 4). Aku tinggal tulang-belulang (ay. 6). Bahkan, hatiku terpukul dan layu seperti rumput (ay. 5). Anggota-anggota tubuhku yang penting terkena, dan terasa ada yang busuk di sana. Aku sendiri layu seperti rumput (ay. 12), hangus terbakar oleh panasnya permasalahanku. Jika kita terpuruk oleh karena penyakit-penyakit tubuh, janganlah kita menganggapnya aneh. Tubuh itu seperti rumput, lemah dan berasal dari tanah, jadi tidak heran jika ia layu.
            2. Ia sangat bersedih hati dan rohnya berduka. Ia begitu terhanyut memikirkan permasalahan-permasalahannya sehingga lupa makan rotinya (ay. 5). Ia tidak bernafsu memakan makanan yang dibutuhkan, dan lagi ia tidak bisa menikmatinya. Apabila Allah menyembunyikan wajah-Nya dari jiwa, maka kesenangan-kesenangan indrawi akan terasa hambar. Ia senantiasa mendesah dan mengaduh, seperti orang yang tertekan tiada terkira (ay. 6), dan ini membuat dirinya lelah dan rohnya letih. Ia ingin menyendiri, seperti yang biasa diperbuat oleh orang-orang yang cenderung bermuram durja. Teman-temannya meninggalkan dia dan malu akan dia, dan ia pun tidak begitu menginginkan kehadiran mereka bersamanya (ay. 7-8): “Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, atau burung bangau (menurut sebagian orang) yang suka mengeluarkan suara pilu. Aku sudah menjadi seperti burung ponggok, yang suka berdiam di reruntuhan bangunan yang sudah ditinggalkan. Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh. Aku tinggal di atap, dan di sana kuhabiskan waktuku untuk merenungkan masalah-masalahku dan meratapi diriku sendiri.” Orang-orang yang berbuat demikian, ketika bersedih hati, memang akan melegakan diri mereka sendiri. Tetapi, mereka merusak diri sendiri, dan tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya mereka sedang memberi keuntungan kepada si penggoda. Dalam kesengsaraan, kita harus duduk sendirian untuk merenungkan jalan-jalan kita (Rat. 3:28), tetapi bukan untuk menjadi terbenam dalam kesedihan secara berlebihan.
            3. Ia dipergunjingkan oleh musuh-musuhnya, dan segala perilaku yang jahat dikatakan untuk melawannya. Ketika teman-temannya pergi dari dia, musuh-musuhnya datang melawannya (ay. 9): sepanjang hari aku dicela oleh musuh-musuhku, yang dengan berbuat demikian bermaksud untuk membuatnya kesal (sebab orang yang berhati jujur hancur hatinya bila mendengar celaan) dan juga untuk membuatnya dibenci semua orang. Ketika mereka tidak dapat menjangkaunya dengan cara lain, mereka menembakkan anak-anak panah ini kepadanya, kata-kata pahit. Dalam berbuat demikian mereka tidak mengenal lelah. Mereka melakukannya sepanjang hari. Meluncur tak habis-habisnya. Musuh-musuhnya sangat geram: mereka marah terhadap aku (ay. 9, terjemahan kjv -” pen.), dan sangat keras kepala serta tidak mau berhenti. Mereka menyumpah dengan menyebut namaku. Sama seperti orang-orang Yahudi yang mengikat diri mereka dalam sumpah untuk membunuh Paulus. Atau, mereka telah bersumpah untuk melawan akusebagai pendakwa-pendakwa, untuk mencabut nyawaku.
            4. Ia berpuasa dan menangis di bawah pertanda-pertanda murka Allah (ay. 10-11): “Aku makan abu seperti roti. Bukannya memakan rotiku, aku malah terbaring dalam debu dan abu, dan aku mencampur minumanku dengan tangisan. Ketika aku seharusnya menyegarkan diriku dengan minuman, aku malah hanya melegakan diriku dengan tangisan.” Dan apakah gerangan yang menjadi masalahnya? Ia mengatakannya kepada kita (ay. 11): oleh karena marah-Mu. Permasalahan itu sendiri tidaklah terlalu menyusahkannya melebihi murka Allah, karena bagi dia murka-Nya itulah yang menjadi penyebab permasalahan itu. Ini, inilah ipuh dan racun dalam kesengsaraan dan penderitaan itu: Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku, seperti kita melempar barang ke tanah supaya hancur berkeping-keping. Kita mengangkatnya terlebih dahulu, agar bisa menghempaskannya lebih keras ke bawah. Atau, “Engkau dulu telah mengangkatku dalam kehormatan, sukacita, dan kemakmuran yang luar biasa. Tetapi, kenangan akan hal itu malah semakin memperberat kesedihanku sekarang, dan membuatnya lebih menyedihkan lagi.” Kita harus melihat tangan Allah baik dalam mengangkat kita maupun dalam melemparkan kita, dan berkata, “Terpujilah nama Tuhan, yang memberi maupun yang mengambil.”
            5. Ia memandang dirinya sendiri sebagai orang yang sedang sekarat: hari-hariku habis seperti asap (ay. 4), yang hilang lenyap seketika. Atau, hari-hariku habis di dalam asap, yang tidak meninggalkan sisa-sisanya. Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang (ay. 12), seperti bayang-bayang senja, atau pengantar bagi malam yang kian mendekat. Nah, semua ini, meskipun tampak berbicara tentang malapetaka-malapetaka si pemazmur secara pribadi, dan karena itu merupakan doa yang pantas bagi seseorang yang tengah menderita, namun dimaksudkan sebagai gambaran tentang penderitaan-penderitaan jemaat Allah, yang dengannya si pemazmur turut berbela rasa. Ia menjadikan kesedihan-kesedihan orang banyak sebagai kesedihannya sendiri. Ada kalanya tubuh mistis Kristus, seperti tubuh si pemazmur di sini, layu dan kering, bahkan, seperti


* TETAP BERHARAP PADA TUHAN
Ketika anda tertekan karena masalah, siapa orang terdekat yang kepadanya anda menyampaikan masalah yang sedang anda alami?
Mazmur 102 menggambarkan  ratapan kehidupan tentang kehancuran Yerusalem sekaligus merupakan doa untuk pemulihan kota tersebut. Pemazmur menunjukkan kesedihannya akan kehancuran Yerusalem (ay.1-2). Selain itu, pemazmur menilai seolah-olah Tuhan menyembunyikan wajah-Nya dan tidak menjawab doanya. Walaupun demikian, pemazmur tidaklah putus asa karena dalam kondisi seperti itu pemazmur tetap meyakini bahwa Tuhan akan mendatangkan pemulihannya. Pengharapan pemazmur ini tampak dalam pengakuan akan kekuasaan dan kemurahan hati Allah (ay.13-16). Pemazmur sangat yakin bahwa Allah akan memulihkan Yerusalem, meskipun dia tidak dapat melihatnya secara langsung, tetapi dengan iman, pemazmur percaya bahwa keturunannya akan melihat pemulihan yang akan datang dari Allah (ay.29). Penderitaan yang dialaminya membuat pemazmur berharap kepada Allah dan terus mengingatkan dirinya bahwa ia adalah manusia ciptaan Tuhan yang lemah dan sangat terbatas di hadapan Allah.

Dari Mazmur ini mengingatkan kita untuk tetap hidup dalam pengharapan yang kokoh kepada Tuhan walau beban hidup sangat berat melanda kita. Ada sebuah puisi dari Hendry Francis Lyte yang berjudul “Tinggallah sertaku”  Hari-hari hidup yang singkat cepat berlalu, sukacita bumi redup, kemuliaannya sirna, perubahan dan kerusakan kulihat dimana-mana, O Tuhan yang tak berubah, tinggallah sertaku. Ku Tak takut akan musuh, selama Engkau di dekatku, Sakit tak berarti, air mataku tak lagi getir. Dimana sengat maut? Kemenangan kubur? Kutetap menang, JIKA KAU TINGGAL SERTAKU. Tetaplah berharap pada Tuhan. Amin

Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Kamis,11 Mei 2023 - BERANI KARENA BENAR (Barani belanna katonganan) - Kisah Para Rasul 7:9-22


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Selasa, 09 Mei 2023 - MENOLAK KEHENDAK ALLAH (Untumpu paporaian-Na Puang Matua) - Yohanes 8:48-59


All Renungan Gereja Toraja 2023:
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login