lagu-gereja.com/toraja

View : 665 kali
Mazmur 31:10-14
31:9 (#31-#10) Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku. 31:10 (#31-#11) Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah. 31:11 (#31-#12) Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. 31:12 (#31-#13) Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. 31:13 (#31-#14) Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, -- ada kegentaran dari segala pihak! -- mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.

Penjelasan:
*  Iman adalah kuncinya.
Kemarin kita sudah belajar bahwa doa merupakan tindakan refleks rohani yang diperlukan untuk mempertahankan dan menyelamatkan keberadaan kita. Hari ini kita akan belajar lebih banyak lagi tentang berbagai masalah yang menimpa Daud dan bagaimana ia menghadapinya selain berdoa.

Orang-orang mencela dan menghina Daud karena sesuatu yang ia percayai dan pertahankan. Kadang-kadang ia harus menghadapinya seorang diri. Orang-orang bahkan kenalannya menertawakan, mencaci maki, dan sangat meremehkannya (11, 19). Dengan berbisik-bisik mereka merancang kejahatan atasnya (14). Ia meresponi semua itu dengan iman kepada Allah bahwa Ia tidak akan mempermalukan dirinya (1). Bagaimana dengan ditinggalkan sendirian oleh sahabat-sahabatnya? Daud mengalami juga. Kesetiaannya kepada Allah membuat teman- temannya berpaling darinya. Mereka menolaknya seperti mereka membuang barang yang sudah pecah bahkan sudah dianggap mati (13). Namun demikian ia tetap beriman kepada Allah dan menyatakan bahwa 'Engkaulah Allahku, masa hidupku ada dalam tangan-Mu' (15-16). Ia yakin bahwa Allah secara penuh mengendalikan apa pun yang menimpanya. Selain itu Daud juga merasakan kesedihan dan tekanan jiwa yang dahsyat sehingga fisiknya juga merosot (10-11). Namun sekali lagi dalam iman kepada Allah ia tetap dapat berkata bahwa 'Aku akan bersukacita karena Engkau telah menilik sengsaraku' (8). Ancaman juga tidak melewati dirinya. Dia tahu dengan pasti tentang persekongkolan yang akan menghancurkan dirinya. Nampaknya ia akan dengan mudah jatuh ke tangan musuh-musuhnya yang akan membunuhnya (14, 16).

* Keluhan yang Penuh Kesedihan; Doa yang Rendah Hati dan Penuh Rasa Percaya (31:10-14)
Dalam ayat-ayat sebelumnya Daud telah memohon keadilan Allah, dan menyeru-nyerukan hubungannya dengan Allah, serta betapa ia bergantung kepada-Nya. Di sini dia berseru memohon belas kasihan-Nya, dan mengutarakan betapa besar kesusahan yang dialaminya, yang menjadikannya layak memperoleh belas kasihan itu. Perhatikanlah:

Bagaimana ia mengeluh tentang persoalan dan kesesakan yang dialaminya (ay. 10): “Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak, dan memerlukan belas kasihan-Mu.” Bagaimana dia mengingat keadaannya bahkan tidak jauh berbeda dengan beberapa keluhan yang diucapkan Ayub.

        1. Persoalan yang dihadapinya sedemikian membekas dalam benaknya dan membuatnya sangat berduka. Begitu hebat kepedihannya hingga jiwanya tenggelam di dalamnya. Hidupnya berlalu dengan semua keadaan ini, dan dia terus-menerus mengeluh (ay. 10-11). Dalam hal ini dia melambangkan Kristus, yang sangat akrab dengan penderitaan dan sering menangis. Dari raut muka Daud yang segar dan kemerah-merahan, dengan kepandaiannya bermusik, serta perbuatannya yang gagah berani di masa mudanya, kita bisa menduga bahwa dia adalah orang yang periang sekaligus tegar. Dia cenderung bergembira, dan tidak menyimpan persoalan di dalam hatinya. Akan tetapi, di sini kita melihat betapa berubahnya dia: dia nyaris kehabisan air mata, dan nafasnya hampir putus. Biarlah orang-orang yang penuh gairah hidup dan riang gembira berhati-hati memasuki keadaan yang luar biasa, dan tidak pernah menentang datangnya kesusahan. Allah dapat menemukan cara untuk membuat mereka murung jika mereka tidak mau belajar untuk bersungguh-sungguh.
        2. Tubuhnya menderita oleh karena dukacita dalam pikirannya (ay. 11): Kekuatanku merosot, tulang-tulangku menjadi lemah, dan semua itu oleh karena sengsaraku(kjv: oleh karena pelanggaranku -” pen.). Mengenai Saul dan perselisihannya dengan dia, dengan yakin Daud dapat bersikeras bahwa ia benar. Akan tetapi, berkenaan dengan sengsara yang ditimpakan Allah kepadanya, dia mengakui bahwa dia layak mendapatkannya, dan dengan rela hati mengaku bahwa kejahatannyalah yang menimbulkan semua persoalan yang dialaminya itu. Kesadaran akan dosa menyentuhnya sampai ke dalam hati dan menghancurkan dirinya melebihi segala malapetaka yang dihadapinya.
        3. Sahabat-sahabatnya berlaku tidak ramah dan menjadi malu karena dia. Dia menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalannya. Ketika mereka melihatnya, mereka lari dari padanya(ay. 12). Mereka tidak berani melindunginya ataupun memberinya pertolongan. Mereka tidak berani menunjukkan dukungan kepadanya, atau bahkan sekadar terlihat bersamanya. Mereka takut mengalami masalah jika melakukannya, sebab Saul telah menyatakan bahwa dia adalah seorang pengkhianat dan pelanggar hukum. Mereka sudah melihat betapa mahalnya harga yang harus dibayar oleh imam Ahimelekh karena membantu dan menyokong Daud, meskipun hal itu dilakukannya tanpa sepenuhnya memahami perkara yang terjadi. Oleh karena itu, walaupun mereka harus mengakui bahwa dia telah diperlakukan dengan sangat tidak adil, mereka tidak berani tampil baginya. Dia telah dilupakan oleh mereka, hilang dari ingatan seperti orang mati (ay. 13), dan dipandang dengan hina seperti barang yang pecah. Mereka yang menyanjung-nyanjungnya sedemikian rupa ketika ia berada di posisi terhormat, sekarang menjadi orang asing baginya, begitu ia terpuruk ke dalam situasi yang memalukan, meskipun dengan cara yang tidak adil. Demikianlah dunia dipenuhi dengan sahabat seperti burung layang-layang, yang lenyap di musim dingin. Biarlah mereka yang terperosok ke dalam pihak yang kalah tidak menganggap aneh jika dikucilkan karenanya. Namun demikian, pastikanlah bahwa ada seorang sahabat di sorga yang tidak akan membiarkan mereka. Carilah Dia.
        4. Musuh-musuhnya menghakiminya dengan tidak adil. Mereka tidak akan mengejar-ngejar dia begitu rupa jika mereka tidak terlebih dahulu menganggapnya sebagai orang jahat. Di hadapan semua lawannya dia tercela, menakutkan bagi tetangga-tetangganya (ay. 12). Mereka yang telah menyaksikan dia sebagai orang yang penuh integritas (lurus dan bertanggung jawab), dan telah yakin sepenuhnya dalam hati nurani mereka bahwa dia adalah orang yang jujur, justru menjadi orang-orang yang tampil ke depan untuk menunjukkan dia sebagai orang yang berlawanan dengan sifat-sifat itu. Mereka melakukan ini supaya bisa menjilat Saul. Demikianlah ia mendengar banyak orang berbisik-bisik. Setiap orang menggenggam batu untuk melemparinya, karena ada kegentaran dari segala pihak. Artinya, mereka tidak berani melakukan tindakan sebaliknya, karena orang yang tidak mau ikut-ikutan mendakwa Daud akan dianggap tidak setia kepada Saul. Begitulah, orang-orang baik selalu digambarkan sebagai orang jahat oleh mereka yang sudah berniat buruk kepada mereka.
        5. Hidupnya menjadi sasaran dan ia masuk ke dalam bahaya yang berkepanjangan di dalamnya. Kegentaran ada di segala pihak, dan ia tahu bahwa apa pun yang direncanakan oleh para musuh terhadapnya, rencana itu bukan bertujuan untuk merampas kebebasannya, melainkan untuk mengenyahkan hidupnya (ay. 14), suatu hidup yang sangat bernilai, dan berguna, hidup yang dihiasi jasa-jasa kepada bangsa Israel; suatu hidup yang belum pernah diserahkan kepada siapa pun sebelumnya. Demikian juga, dalam semua rancangan yang dibuat orang Farisi dan pengikut Herodes terhadap Kristus, tujuannya hanyalah untuk mengenyahkan hidup-Nya. Seperti itulah kebencian dan kekejaman keturunan si ular.


* Salah satu yang bisa kita pelajari dari penderitaan adalah adanya kesadaran bahwa kita tidak bisa mengendalikan seluruh hidup  kita. 
Penderitaan  membawa  kita  pada  titik  di  mana  kita butuh topangan. Kesepian dan ketiadaan perhatian hanya akan menambah   berat   penderitaan   yang   dirasakan.   Persoalannya adalah tidak banyak orang yang hidup dalam penderitaan yang mau membuka diri dan membagikan pengalaman penderitaannya. Bisa jadi, persoalannya ini muncul karena tidak banyak orang yang siap menjadi teman “curhat” (teman berbagi) yang bisa dipercaya.
Daud menemukan bahwa Allah adalah tempat terbaik untuk menumpahkan keluh kesahnya. Di hadapan Allah, Daud mencurahkan keluh kesahnya dan kesengsaraannya. Ia bertutur tentang  musuh  yang  tidak  lagi  hormat  kepadanya  dan  orang- orang yang mengenalnya menjauh darinya (ay. 12). Ia risau dengan segala kejayaan yang pernah ditorehkannya, namun seolah-olah tidak ada orang yang mengingatnya. Bahkan, banyak orang bermufakat untuk membunuhnya (ay.14).
Kita kerap berada dalam situasi seperti yang dialami oleh Daud. Orang-orang terdekat kita seolah-olah menjadi orang asing. Kita merasa kesepian sekalipun berada di keramaian. Wajah-wajah yang menatap kita tampak tidak bersahabat dan penuh dengan tuduhan  dan  penghakiman.  Orang-orang  sangat  mudah melupakan hal-hal baik yang pernah kita kerjakan. Singkatnya, kita seolah-olah sendirian menjalani kehidupan. Dalam situasi seperti itu,  tetaplah  berpengharapan. Melalui Daud,  Allah memperlihatkan  bahwa  Dia  ada  dan  akan  senantiasa  berbelas kasih kepada kita. Berpalinglah kepada-Nya dan tumpahkanlah segala keluh kesah kita di hadapan-Nya. Amin.


Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Rabu, 12 April 2023 - AMAN DALAM LINDUNGAN TUHAN (Manaman lan pangrondongna Puang) - Mazmur 31:1-23


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Senin, 10 April 2023 - PARRI`NA TO MENGKAOLA (Penderitaan orang yang Setia) - Ayub 13:17-28


All Renungan Gereja Toraja 2023:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login