lagu-gereja.com/toraja

View : 711 kali
Ayub 13:17-28
17Perangii melomi tu kadangku sia tanannimi talingammi tu apa kupamanassa.
18Manassa iatu kara-karaku kupasirundunammo, kutandai, kumua tonganna'.
19Mindara ma'din umbalina' lan kara-karaku? Iake tonganni den, la kappana' anna ka'tu sunga'ku.
20Ia manna tu da'dua penggauran da Mipogau'i lako kaleku, manassa tae' kula umpembunian kaleku dio oloMi.
21Alai tu limamMi dio mai kaleku sia da napamataku'na' tu apa mepatirambamMi.
22La metambaKomi, angku mebali; ba'tu aku la ma'kada, amMi pebaliina'.
23Sangapara tu kakelokangku sia kasalangku? Paissannina' tu kapatodotintingangku sia kasalangku.
24Ma'apai amMi buni lindoMi sia Misangana' ualimMi?
25MorairoKomika umpatirambanna' susitu daun nairi' angin, sia unnula' dalame marangke,
26miurungan ullampakanna' toto' mapalla, sia Mipakkan tu kakelokangku tongku mangura,
27sia Mipatama sangkala tu lentekku sia Mipenniroi tu mintu' tengkaku sia Misakkalanganni tu pala' lentekku?
28Iatu iannato la rampo lako tau, tu sanggang susito kayu manapo sia susito sampin nakande busung! 

Bahasa Indonesia:
13:17 Dengarkanlah baik-baik perkataanku, perhatikanlah keteranganku. 13:18 Ketahuilah, aku menyiapkan perkaraku, aku yakin, bahwa aku benar. 13:19 Siapa mau bersengketa dengan aku? Pada saat itu juga aku mau berdiam diri dan binasa. 13:20 Hanya janganlah Kaulakukan terhadap aku dua hal ini, maka aku tidak akan bersembunyi terhadap Engkau: 13:21 jauhkanlah kiranya tangan-Mu dari padaku, dan kegentaran terhadap Engkau janganlah menimpa aku! 13:22 Panggillah, maka aku akan menjawab; atau aku berbicara, dan Engkau menjawab. 13:23 Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu. 13:24 Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu? 13:25 Apakah Engkau hendak menggentarkan daun yang ditiupkan angin, dan mengejar jerami yang kering? 13:26 Sebab Engkau menulis hal-hal yang pahit terhadap aku dan menghukum aku karena kesalahan pada masa mudaku; 13:27 kakiku Kaumasukkan ke dalam pasung, segala tindak tandukku Kauawasi, dan rintangan Kaupasang di depan tapak kakiku? 13:28 Dan semuanya itu terhadap orang yang sudah rapuh seperti kayu lapuk, seperti kain yang dimakan gegat!"

Penjelasan:
* Ayb 13:13-19 - Apa pun yang akan terjadi atasku // Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagi aku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapanNya // Itulah yang menyelamatkan aku // Siapa mau bersengketa dengan aku? Pada saat itu juga aku mau berdiam diri dan binasa // Aku yakin bahwa aku benar

Di dalam proses berpaling dari manusia kepada Allah, Ayub membangkitkan keberaniannya untuk berhadapan dengan Hakimnya. Apa pun yang akan terjadi atasku (ay. 13b). Ayub berketetapan untuk membela perkaranya apa pun risikonya, bahkan kehilangan nyawa sekalipun (ay. 14). Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagi aku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapanNya (ay. 15). Ayub tidak mengharapkan apa-apa sebab dia mengira bahwa Allah akan mengakhiri hidupnya tidak lama lagi - dan mungkin lebih cepat lagi karena pembelaan berani yang akan diutarakannya. Sekalipun demikian, dia harus menyatakan dirinya tidak bersalah. Itulah yang menyelamatkan aku (ay. 16a). Keinginan yang berani untuk menghampiri Allah ini sendiri merupakan bukti dari keputusan yang menguntungkan dirinya sebab hadirat Allah merupakan satu-satunya tempat yang paling dihindari oleh orang yang hatinya menuduh dia munafik. Siapa mau bersengketa dengan aku? Pada saat itu juga aku mau berdiam diri dan binasa (ay. 19). Sebuah tantangan yang penuh kemenangan namun tidak wajar jika Ayub membayangkan Allah itu sama dengan manusia. Jika terbukti bahwa dirinya bersalah, yaitu bahwa dia sebetulnya memang bukan orang saleh - bukan hanya menurut penampilan dan teori - dia akan mati sebagai orang bisu. Namun hal itu ia tahu tidak mungkin terjadi: Aku yakin bahwa aku benar (ay. 18).

* Ayb 13:20--14:22 - Maka aku tidak akan, bersembunyi terhadap Engkau // Engkau ... menghukum aku karena kesalahan pada masa mudaku // Hendaklah Kaualihkan pandangan-Mu daripadanya agar ia beristirahat sehingga ia seperti orang upahan dapat menikmati harinya (14:6) // Sampai langit hilang lenyap mereka tidak terjaga // "Ah kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati ... kemudian mengingat aku pula" // Sungguhpun Engkau menghitung langkahku // Demikianlah Kauhancurkan harapan manusia // Engkau menggagahi dia untuk selama-lamanya

Maka aku tidak akan, bersembunyi terhadap Engkau (13:20b). Jika diizinkan untuk diadili dengan benar, maka Ayub, berbeda dengan Adam, tidak akan menyembunyikan diri dari Allah karena malu. Jika saja Allah berhenti sejenak dari menekan Ayub dan berhenti meliputi dia dengan kemegahan-Nya yang dahsyat itu (13:21; bdg. 9:34, 35), Ayub akan tampil di hadapan-Nya sebagai pembela atau sebagai penggugat (ay. 22). Jika Ayub berhasil mempertahankan integritasnya, maka akan terbukti (menurut konsepnya yang tidak memadai tentang penderitaan manusia bahwa Allah telah membuat kesalahan dengan menyiksa dirinya secara demikian berat. Atau, jika Ayub ingin berhasil meyakinkan Allah akan kesalahan-Nya itu, maka dia harus terlebih dahulu menunjukkan integritas dirinya. Dengan membayangkan dirinya berhadapan dengan Penyiksanya di sidang pengadilan yang demikian dinanti-nantikan, sang penderita kini menuntut sebuah penjelasan tentang mengapa Allah memusuhinya (13:23, 24). Akan tetapi, suasana hukum ini memudar dengan cepat dan pidato hukum tersebut berubah menjadi sebuah ratapan penutup (13:25 dst.).

Engkau ... menghukum aku karena kesalahan pada masa mudaku (13:26b). Bandingkan kalimat ini dengan pengakuan akan keberdosaan manusia yang universal di 14:4. Ketika berdebat dengan para sahabatnya, hal yang dipersoalkan adalah integritas umum Ayub yang ia sendiri jelas yakini. Tetapi tampaknya, dalam pertemuan bayangan dengan Sang Hakim, hal tersebut diperdalam lagi dengan membahas kedudukan seorang berdosa di hadapan Oknum yang benar-benar kudus. Tanggapan Ayub kemudian ketika Allah menampakkan diri kepadanya tergambar lebih dulu di sini (bdg. 40:3-5). Sementara itu, kehancurannya yang menakutkan, yang tidak bisa dijelaskan menurut kaidah keberdosaan manusia secara umum, meremukkan jiwanya. Hendaklah Kaualihkan pandangan-Mu daripadanya agar ia beristirahat sehingga ia seperti orang upahan dapat menikmati harinya (14:6). Sekalipun keluhan ini diungkapkan dalam kaitan dengan kelemahan semua makhluk yang fana, toh sifatnya pribadi (bdg. 14:3b). Bagi Ayub, kiranya segenap jerih payah dan kesedihan manusia itu cukup demikian saja (bdg. 7:1 dst.; Kej. 3:17-19). Sampai langit hilang lenyap mereka tidak terjaga (14:12b). Begitu terbaring dalam kematian, bagaikan pohon yang tertebang (14:7-9), manusia tidak memiliki harapan lagi untuk bangkit (14:10-12). (Tentang keabadian langit lih. Mzm. 72:5, 7, 17; 89:29, 36, 37; Yer. 31:35, 36). Ayub tidak berharap dirinya dimusnahkan, namun dia tidak melihat adanya kehidupan sesudah kematian selain berada di dunia orang mati yang bukan kehidupan nyata.

Ketika bangkit dari kesuraman tersebut, Ayub berseru, "Ah kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati ... kemudian mengingat aku pula" (14:13). Seandainya keinginan ini terwujud, dan seandainya dunia orang mati hanya merupakan tempat untuk singgah saja dan benar-benar suatu tempat untuk bebas dari permusuhan Allah yang tidak dapat dipahami saat itu (ay. 13); seandainya di balik dunia orang mati ada giliran kebangkitan (ay. 14c) yang muncul karena ada pembaharuan belas kasihan oleh sang Khalik (ay. 15) - betapa bahagianya masa depan yang akan mengubah pergumulan yang dihadapi saat itu (ay. 14b)! Konsep kebangkitan bukan kunci untuk membuka rahasia penderitaan Ayub ketika itu, namun konsep tersebut memberikan kerangka untuk berharap. Kerinduan Ayub ini belakangan menjadi keyakinannya (19:25 dst.), dan harapan semacam itu mulia adanya. Namun, harapan tertinggi berupa keselamatan bukan merupakan tema utama Kitab Ayub. Kitab ini memang menantang dan mendorong kita untuk bertahan terus dengan senantiasa berharap. Namun kitab ini memperhadapkan kita dengan tuntutan yang malah lebih besar lagi. Kitab ini berisi panggilan utama dan abadi untuk menyerahkan diri dengan sukacita, apa pun akibatnya, kepada Tuhan perjanjian.

Sungguhpun Engkau menghitung langkahku (14:16a). Kurva dari keadaan rohani Ayub sepanjang perdebatan besar ini grafiknya menurun dalam jawaban-jawaban individu semacam ini, di mana klimaksnya bukan pada akhir melainkan diikuti oleh suatu luapan emosi yang kian lama kian lemah. Api pengharapan Ayub padam, sekalipun hanya untuk sesaat, oleh pemikiran yang pahit tentang perlakuan keras tanpa kenal ampun dari Allah yang mengumpulkan setiap dosa Ayub untuk dihukum (14:16, 17). Demikianlah Kauhancurkan harapan manusia (14:19c). Penderitaan yang berkesinambungan seperti halnya suatu kekuatan alam yang terus-menerus merusak hal-hal yang. paling kokoh (14:18, 19). Engkau menggagahi dia untuk selama-lamanya (14:20a). Keganasan Allah berpuncak pada pukulan yang mematikan, dengan memisahkan manusia dari dunia ini, bahkan dari ingatan keturunannya (14:21), dengan mengurung manusia dalam kematian, dalam penderitaan pembusukan yang membosankan dan tanpa akhir serta dalam nyanyian penguburan yang suram bagi jiwanya (14:22).

Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Selasa, 11 April 2023 - BERPALING KEPADA ALLAH (Messaile lulako Puang) - Mazmur 31:10-14


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Minggu, 9 april 2023 - AKU TELAH MELIHAT TUHAN - Yohanes 20:1-18


All Renungan Gereja Toraja 2023:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login