lagu-gereja.com/toraja

View : 511 kali
Ulangan 23:21-25
Bahasa Toraja:
Diona pangallonan
21Iake mangallonangko lako PUANG, Kapenombammu, da mumarempa umpalanda'i, belanna iatu PUANG, Kapenombammu, inang Natuntunko kumua la mupalanda', sia manassa kasalangko.
22Apa, iake tae' len mumangallonan, tae' mukasalan.
23Iatu apa tassu'mo dio pudukmu, la mupalanda' tongan, belanna lalan penaammu tonganmo mangallonan lako PUANG, Kapenombammu, tu mangkamo nasa'bu' pudukmu.
Mebua anggoro' sia ungkalette' gandung dio pa'lakna tau
24Iake tamako pa'lak anggoro'na solamu, ma'din mukande sadia'mu tu buanna sanamosomu, apa tae' muma'din umpatamai pa'panniammu.
25Iake tamako pa'lak gandungna solamu, tu maririmo, ma'din mukalette', apa da muka'ta'i pesae' tu gandungna solamu, tu maririmo.  

Bahasa Indonesia:
Tentang nazar
23:21 "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. 23:22 Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. 23:23 Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri."
Dari hal memetik buah anggur dan bulir gandum di tanah orang lain
23:24 "Apabila engkau melalui kebun anggur sesamamu, engkau boleh makan buah anggur sepuas-puas hatimu, tetapi tidak boleh kaumasukkan ke dalam bungkusanmu. 23:25 Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu."

Penjelasan:
* Peduli kepada sesama yang membutuhkan makanan di dalam perjalanannya (ayat 24-25). Peraturan ini dirancang untuk orang-orang yang dalam perjalanan jauh tidak sempat membawa bekal makanan.

* Peduli terhadap diri sendiri dan keluarga diwujudkan dengan cara:
Pertama, peduli terhadap kesucian hidup sehingga tidak membiarkan diri atau anggota keluarganya terjebak dalam pelacuran bakti dan semburit bakti (= persetubuhan sesama lelaki), walaupun hasilnya dipersembahkan untuk Tuhan (band. dengan upaya pencucian uang [money laundry] melalui persembahan di gereja) (ayat 17-18).
Kedua, peduli terhadap integritas pribadi sehingga tidak sembarangan bernazar. Bila sudah bernazar, yang bernazar harus menepatinya dengan sungguh-sungguh (ayat 21-23). Peduli terhadap diri sendiri dengan menjaga kesucian hidup dan integritas pribadi berarti menghormati Tuhan. Peduli pada orang lain dan diri sendiri harus diberikan porsi yang seimbang. Peduli pada orang lain adalah wujud kasih Kristiani. Peduli terhadap diri sendiri dan keluarga adalah wujud penghormatan kita pada Kristus. Keduanya harus berjalan bersama.

Tekadku: Menjadi berkat bagi sesama, pelindung bagi keluarga dan menjaga diri dari kenajisan, itulah kewajibanku.  


* Pemenuhan nazar yang dengannya kita telah mengikat jiwa kita dituntut di sini. Hal ini merupakan bagian dari hukum alam (ay. 21-23).
(1) Kita di sini diberi kebebasan apakah mau membuat nazar atau tidak: Apabila engkau tidak bernazar yaitu suatu korban dan persembahan tertentu, lebih daripada apa yang diperintahkan oleh hukum, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Allah telah menyatakan kesediaan-Nya untuk menerima suatu persembahan sukarela yang dinazarkan seperti itu, kendati itu hanya sedikit tepung terbaik (Im. 2:4, dst.), yang cukup memberikan dorongan bagi orang-orang yang tergerak untuk berbuat demikian. Tetapi supaya jangan sampai para imam, yang mendapat bagian terbesar dari nazar-nazar dan persembahan-persembahan sukarela itu, hidup dengan menghisap harta orang banyak, dengan mendesakkan sebagai kewajiban bagi mereka untuk membuat nazar-nazar seperti itu, melampaui kemampuan dan keinginan hati mereka, maka para imam di sini diberi tahu dengan tegas bahwa tidak boleh diperhitungkan sebagai dosa pada orang banyak jika mereka tidak membuat nazar-nazar seperti itu. Lain halnya jika mereka menghilangkan korban-korban yang telah dituntut oleh Allah secara khusus. Sebab Allah ingin membuat manusia merasa ringan dalam melayani-Nya, dan ingin agar semua persembahan mereka diberikan dengan rela dan riang hati meurtu uskup Patrick.

(2) Kita di sini diikat oleh kewajiban-kewajiban yang tertinggi, ketika sudah membuat nazar, untuk melaksanakan nazar itu, dan melaksanakannya dengan segera: “Janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, supaya jangan sampai jika itu tidak segera dilakukan, semangat itu akan memudar, nazar itu akan terlupakan, atau terjadi sesuatu yang akan membuatmu tidak dapat melaksanakannya. Apa yang keluar dari bibirmu sebagai sebuah nazar yang khidmat dan disengaja tidak boleh dicabut kembali, tetapi haruslah kaulakukan dengan setia, dengan tepat waktu dan dengan sepenuhnya.” Aturan dari Injil melangkah agak lebih jauh daripada ini. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya (1Kor. 9:7), meskipun itu tidak keluar dari bibirnya. Di sini ada alasan yang baik mengapa kita harus memenuhi nazar kita, yaitu bahwa jika kita tidak memenuhinya, maka Allah akan menuntutnya dari pada kita, akan mengadakan perhitungan dengan kita secara pasti dan keras, tidak hanya karena berbohong, tetapi juga karena mencoba-coba mempermainkan Dia, yang tidak akan membiarkan diri-Nya dipermainkan. Lihat Pengkhotbah 5:3.

Izin diberikan di sini, ketika mereka sedang melalui sebuah ladang gandum atau kebun anggur, untuk memetik dan memakan bulir-bulir gandum atau buah anggur yang tumbuh di pinggir jalan, entah hal itu dilakukan karena kebutuhan atau kesenangan, hanya saja mereka tidak boleh membawanya pergi (ay. 24-25). Itulah sebabnya para murid tidak ditegur karena memetik bulir-bulir gandum karena mereka sudah tahu bahwa hukum Taurat mengizinkannya, tetapi karena mereka melakukannya pada hari Sabat, yang telah dilarang oleh adat istiadat nenek moyang. Nah,

    1. Hukum ini menyiratkan kepada mereka betapa berlimpahnya gandum dan anggur yang akan mereka miliki di Kanaan, sedemikian banyaknya hingga buah sekecil apa pun tidak akan terlewatkan. Apa yang tersedia akan cukup bagi diri mereka sendiri dan semua teman mereka.
    2. Hukum ini membantu meringankan para pelancong yang miskin, untuk melepas lelah dalam perjalanan mereka, dan mengajar kita untuk bersikap baik terhadap pelancong-pelancong seperti itu. Orang Yahudi berkata, “Hukum ini terutama dimaksudkan untuk menghargai para pekerja, yang diupah untuk mengumpulkan panen dan memetik buah anggur mereka. Mulut para pekerja tidak boleh diberangus sama halnya seperti lembu yang sedang mengirik.”
    3. Hukum ini mengajar kita untuk tidak menuntut hak milik dalam hal-hal kecil, yang tentangnya mudah untuk berkata, apa artinya itu bagi kita? Memang benar bahwa buah anggur yang dimakan oleh orang yang lewat itu bukanlah miliknya, tidak pula sang pemilik memberikan buah anggur itu kepadanya. Namun nilai buah itu begitu kecil sehingga beralasan bagi sang pemilik untuk berpikir bahwa seandainya dia ada di situ, dia akan rela memberikannya kepada orang yang lewat itu, dan dia sendiri tidak akan menggerutu dalam berbuat kesopanan yang serupa. Oleh karena itu, mengambil buah anggur dalam hal ini bukanlah pencurian.
    4. Hukum ini membiasakan mereka untuk bersikap ramah, dan mengajar kita untuk siap berbagi, mau memberi, dan tidak menganggap segala sesuatu yang diberikan sebagai suatu kehilangan. Namun demikian,
    5. Hukum ini melarang kita untuk menyalahgunakan kebaikan dari sahabat-sahabat kita, dan mengambil keuntungan dari kelonggaran-kelonggaran yang baik untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran yang tidak masuk akal. Kita tidak boleh menarik garis satu meter dari orang-orang yang hanya meminta satu senti saja. Mereka boleh makan buah anggur milik sesama mereka, tetapi itu tidak lantas berarti bahwa mereka boleh membawanya pergi.

Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Jumat, 17 Februari 2023 - Menguduskan Perkawinan - Matius 19:1-12


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Selasa, 14 Februari 2023 - Cerminan Hidup - Keluaran 20:1-17


All Renungan Gereja Toraja 2023:
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login