| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2023 Kamis, 19 Januari 2023 Renungan Gereja Toraja Kamis, 19 Januari 2023 - RESPON KEBAIKAN TUHAN - Umpebali Kamasokanan-Na Puang - Mazmur 40:7-11Mazmur 40:7-11 Bahasa Toraja: 6(40-7) Iatu pemala' pangrere' sia kande dipemalaran tae' Miporai, sangadinna Mipato'tokmo tu talingangku, iatu pemala' ditunu pu'pu' sia suru' pengkalossoran tae' Mianga'i. 7(40-8) Kukuami: Tiromi, rampoMo'; nalan tu sura' tilulun diniimo mangka ussura'i tu a'gangKu. 8(40-9) O Kapenombangku, kuporai umpogau'i tu naalanna penaamMi, sia iatu sukaran alukMi manda' kupariba'teng. 9(40-10) Kupa'peissanammo tu kareba kaparannuan lan kombongan kalua' iamotu diona kamaloloamMi; manassa tae' kutampun pudukku. O PUANG, Miissan tu iannato. 10(40-11) Iatu kamaloloamMi tae' kubuni len lan penaangku, sangadinna kupokadamo tu kamarurusamMi sia kamakarimmanan lu mai Kalemi, tae' kusamboan lenni tinimbu malambe' tu kamasokanamMi sia kamanapparamMi. Bahasa Indonesia: 40:6 (#40-#7) Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. 40:7 (#40-#8) Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; 40:8 (#40-#9) aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." 40:9 (#40-#10) Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN. 40:10 (#40-#11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar. Penjelasan: * Dari mana ucapan syukur mengalir? Tentu dari hati yang telah merasakan pertolongan Tuhan. Bagaimana mengungkapkan rasa syukur yang benar? Kita belajar dari pemazmur, yaitu dengan tidak sekadar menaikkan kata-kata syukur dan pujian, atau dengan mempersembahkan kurban-kurban bakaran, melainkan dengan menundukkan diri dalam ketaatan kepada firman (ayat 7-9). Kurban bakaran tidak berarti apa-apa kalau tidak disertai dengan hati yang tulus dan taat pada Tuhan. Kurban paling berkenan pada Tuhan adalah persembahan diri untuk Tuhan pakai sekehendak hati-Nya (ayat 9, band. Rm. 12:1). Rasa syukur pemazmur juga dinyatakan kepada Tuhan dengan menyaksikan perbuatan Tuhan kepada umat Tuhan (ayat 10-11). Tujuannya jelas, agar umat Tuhan dikuatkan dan ikut mensyukuri kasih setia-Nya. Itulah gambaran dari bagian pertama mazmur ini (ayat 2-11). * Korban-korban Lahiriah Tidaklah Cukup (40:7-11) Setelah tertegun oleh karena perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan Allah bagi umat-Nya, di sini sang pemazmur secara mengherankan mulai menubuatkan karya ajaib yang mengungguli semua karya-Nya yang lain dan yang merupakan dasar dan sumber dari segala karya itu, yaitu penebusan kita yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Pikiran-pikiran Allah yang ditujukan bagi kita di dalam pekerjaan itu merupakan pemikiran yang paling mengherankan, menakjubkan, dan penuh dengan anugerah, sehingga layak untuk dikagumi lebih dari segalanya. Perikop ini dikutip oleh sang rasul (Ibr. 10:5, dstb.) dan menggambarkan Kristus dan perbuatan-Nya bagi kita. Para orang kudus memang selalu mengindahkan Perjanjian Lama, baik dalam tata cara ibadah maupun dalam perenungan mereka. Dan, ketika sang rasul hendak menunjukkan kepada kita mengenai perbuatan sukarela Sang Penebus, dia tidaklah menuliskan catatannya dari buku hikmat Allah yang tersembunyi, yang bukan menjadi hak kita, melainkan dari hal-hal yang telah diwahyukan. Perhatikanlah: I. Betapa tidak cukupnya korban-korban lahiriah dalam menebus dosa dan mendamaikan kita dengan Allah serta memulihkan kebahagiaan kita di dalam Dia: Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian. Engkau tidak menghendaki Sang Penebus mempersembahkan korban seperti itu. Sang Penebus itu harus mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan sebagai korban, tetapi bukan korban-korban sembelihan dan bakaran (Ibr. 8:3). Oleh karena itulah, Dia tidak boleh berasal dari keturunan Harun (Ibr. 7:14). Atau, pada zaman Mesias, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak diwajibkan lagi, sebab semua tata cara lahiriah akan dihapuskan. Tetapi bukan hanya itu saja: bahkan sewaktu hukum Taurat yang mengatur semua itu masih berlaku pun, dapat dikatakan bahwa Allah tidak menginginkan dan menerima semua itu, demi kebaikan mereka sendiri. Korban-korban itu tidaklah mampu memuaskan keadilan Allah sehingga rasa bersalah akibat dosa dapat dihapuskan. Nyawa seekor domba, yang lebih jauh lebih rendah daripada nyawa manusia (Mat. 12:12), tidak dapat dianggap setara, apalagi sebagai sarana yang layak untuk melestarikan kehormatan pemerintahan Allah dan hukum-hukum-Nya, serta untuk memulihkan kehormatan yang telah tercemar oleh dosa manusia itu. Korban-korban itu tidak mampu menenteramkan hati nurani sehingga sengatan dosa dapat dilenyapkan. Juga, mereka tidak menyucikan sifat dosa sehingga kuasa dosa itu dapat dipatahkan. Semua itu mustahil (Ibr. 9:9; 10:1-4). hal yang membuat korban-korban itu berharga adalah karena mereka merujuk kepada Yesus Kristus, yaitu sebagai pelambang bagi Dia. Jadi, korban-korban itu sungguh hanya bayang-bayang saja, dari hal-hal baik yang akan datang, dan juga sebagai ujian atas iman dan ketaatan umat Allah, ketaatan mereka terhadap hukum Taurat dan iman mereka kepada Injil. Akan tetapi, yang asli atau yang sesungguhnya sendiri akan datang, yaitu Kristus, yang akan membawa kemuliaan bagi Allah dan anugerah kepada manusia. Dan kedua tindakan tersebut tidak mungkin dapat dilakukan oleh korban-korban tadi. II. Penetapan Tuhan kita Yesus untuk menjalankan pekerjaan dan jabatan sebagai Pengantara: Engkau telah membuka telingaku. Allah Bapa telah mengutus-Nya untuk melakukan hal itu (Yes. 50:5-6), dan kemudian mengharuskan-Nya untuk terus menjalankannya sampai tuntas. Engkau telah menggali telinga-Ku. Kalimat itu sepertinya menunjuk kepada aturan dan kebiasaan dalam mengikat budak-budak untuk melayani seumur hidup dengan cara menusukkan telinga mereka ke tiang pintu (Kel. 21:6). Tuhan kita Yesus begitu menyukai pekerjaan-Nya sampai-sampai Dia tidak ingin melalaikannya, dan karena itulah Ia tabah menjalankannya untuk selama-lamanya. Dan karena itulah, Ia sanggup juga menyelamatkan kita dengan sempurna , sebab Dia telah bertekad untuk melayani Bapa-Nya dengan sempurna, dan Bapa-Nya itu menopang Dia dalam melaksanakan tugas tersebut (Yes. 42:1). III. Kerelaan-Nya dalam menjalankan tugas tersebut: “Lalu aku berkata, sungguh, aku datang. Supaya pekerjaan penebusan tidak menjadi gagal karena korban dan persembahan tidaklah mencukupi, maka Aku pun berkata, sungguh, aku datang, untuk memerangi kuasa-kuasa kegelapan, dan untuk memajukan segala kepentingan kemuliaan dan kerajaan Allah.” Hal ini menegaskan tiga hal: 1. Bahwa Dia menawarkan diri untuk menjalankan tugas ini secara sukarela, padahal Dia tidak wajib melakukannya jika saja Ia tidak mau. Tetapi, Dia segera menyambutnya dengan sangat gembira ketika ditawari tugas tersebut, dan sangat disenangkan karenanya. Jika saja Dia tidak benar-benar menerimanya dengan sukarela, maka Dia tidak bisa menjadi jaminan ataupun korban persembahan, sebab oleh karena kehendak-Nya inilah (yang disebut dengan animus offerentis -” pemikiran dari si pemberi persembahan) kita telah dikuduskan (Ibr. 10:10). 2. Bahwa dengan tegas Ia mewajibkan diri-Nya sendiri bagi tugas itu: “Aku datang. Aku berjanji akan datang bila saatnya telah tiba.” Dan karena itulah sang rasul berkata, “Pada saat Dia datang ke dunia inilah Dia benar-benar menggenapi janji ini, sebab untuk itu Dia telah berani mempertaruhkan nyawanya untuk mendekat kepada Allah.” Karena itulah Dia kemudian rela dibelenggu, bukan hanya untuk menunjukkan kasih-Nya yang amat besar, tetapi juga supaya Dia boleh menerima kehormatan dari pekerjaan-Nya itu bahkan sebelum Ia menuntaskannya. Meskipun harganya belum lunas dibayar, utang itu sudah pasti akan dibayar. Jadi, Dialah Anak Domba yang telah disembelih semenjak dunia dijadikan. 3. Bahwa dengan jujur Dia mengakui keterlibatan-Nya: Dia berkata, Sungguh, Aku datang. Dia terus-menerus mengatakannya kepada orang-orang kudus di sepanjang Perjanjian Lama, yang karena itu mengenal-Nya dengan sebutan ho erchomenos-” Dia yang akan datang itu. Firman inilah yang menjadi dasar teguh dari iman dan pengharapan mereka, yang mereka nanti-nantikan dan damba-dambakan kegenapannya. IV. Alasan mengapa Dia datang dalam rangka melaksanakan tugas-Nya itu: sebab dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Dia, 1. Di dalam gulungan kitab yang berisi keputusan dan hikmat atau rencana ilahi. Di sanalah tertulis bahwa telinga-Nya telah dibukakan, dan Dia berkata, Sungguh, Aku datang. Di sanalah tercatat kovenan penebusan, hikmat atau rencana penebusan, hikmat atau rencana pendamaian (manusia dan Allah) antara Bapa dan Anak. Maka, terhadap semua itulah Dia mengarahkan mata-Nya dalam menjalankan perintah yang Ia terima dari Bapa-Nya. 2. Dalam huruf-huruf yang tercetak di Perjanjian Lama. Musa dan semua nabi memberi kesaksian tentang Dia. Dalam seluruh gulungan buku itu, sesuatu pasti disinggung-singgung mengenai diri-Nya. Dan mata-Nya sendiri pun terarah kepada nubuatan itu, supaya semuanya dapat digenapi (Yoh. 19:28). V. Kesenangan yang Dia rasakan dalam melaksanakan tugas-Nya. Setelah menawarkan diri dengan sukarela, Dia tidak menjadi pudar dan tidak patah terkulai, tetapi terus melaksanakan tugas itu dengan kepuasan penuh dalam diri-Nya (ay. 9-10): Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku. Bagi Kristus, makanan dan minuman-Nya adalah meneruskan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada-Nya (Yoh. 4:34). Dan alasannya diungkapkan di sini bahwa, Taurat-Mu ada dalam dadaku. Taurat Allah tertulis dan berkuasa di dada-Nya sana. Maksudnya, itu mengenai hukum yang mengatur pekerjaan dan jabatan sebagai Perantara, yaitu apa yang akan dilakukan dan diderita-Nya. Taurat ini sangat berharga bagi-Nya dan begitu mempengaruhi-Nya di dalam keseluruhan pelaksanaan tugas-Nya itu. Perhatikanlah, ketika Taurat Allah tertulis di dalam hati, maka tugas kita pun akan menjadi kesenangan kita. VI. Pemberitaan Injil kepada anak-anak manusia, bahkan dalam jemaah yang besar(ay. 10-11). Sebagaimana sebagai Imam, Dia mengerjakan penebusan bagi kita, maka sebagai Nabi, Dia pun memberitakannya kepada kita, pertama-tama oleh Dia sendiri, kemudian disusul oleh para rasul-Nya, dan masih berlanjut hingga kini melalui firman dan Roh-Nya. Keselamatan yang sebesar itu mula-mula diberitakan oleh Tuhan(Ibr. 2:3). Injil Kristus-lah yang diberitakan ke segala bangsa.
Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Renungan Gereja Toraja Jumat, 20 Januari 2023 - Melangkah Dalam Kuasa Roh Kudus - Kisah Para Rasul 8:26-40 Sebelum: Renungan Gereja Toraja Rabu, 18 Januari 2023 - BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM (Tokonni tama malikunna) - Lukas 5:1-11 All Renungan Gereja Toraja 2023: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |