lagu-gereja.com/toraja

View : 771 kali
Daud menaruh kepercayaannya pada TUHAN lalu Ia mengalami kebaikan Allah:
Mazmur 40:1-6
Bahasa Toraja:
Umposande' Puang Matua lan kamandasan
1Lu lakona pangala sengo. Misa' pa'pudian natono' Daud. (40-2) Lantuk penaangku untayan PUANG, Napalempeina' kale sia Natanannimo talinga tu pengkamoyaku,
2(40-3) Mangkamo' Naendekan diong mai liku nanii kasanggangan, diong mai buka mapullan, Napopellesei tu lentekku dao buntu batu, sia Napabantang tu tengkaku.
3(40-4) Ia umpabu'tu nanian ba'ru dio pudukku, misa' pa'pudi-pudian lako Kapenombanta. Buda tau la untiroi tu iannato anna kabangnga'I sia umposande' PUANG.
4(40-5) Maupa' tu to umpassare kapa'rannuananna lako PUANG, sia to tang undampangngi tu to ma'patiramban, sia to sepang lako kamo'rangan.
5(40-6) O PUANG Kapenombangku, budamo tu mintu' penggauran kalle-kalleamMi mangka Mipogau', sia mintu'na Mipondokangkan, tu kipomelona; tae' misa' apa ma'din dipasangtintiangKomi. Iake la kurundunanni sia la kupokadai, tang dikemba'mo dibilang.

Bahasa Indonesia:
Syukur dan doa
40:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (#40-#2) Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. 40:2 (#40-#3) Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, 40:3 (#40-#4) Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN. 40:4 (#40-#5) Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! 40:5 (#40-#6) Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.

Penjelasan:
* Karena Keyakinan Daud akan Allah (40:1-6)
Dalam ayat-ayat ini kita akan mendapati,
I. Kesesakan dan kesukaran yang telah mengimpit sang pemazmur sebelumnya.
Dia telah dilemparkan ke dalam lobang kebinasaan dan ke dalam lumpur rawa (ay. 3). Dia tidak dapat keluar dari sana, malahan justru makin terperosok di dalamnya. Dia tidak mengatakan apa pun mengenai penyakit tubuh ataupun penghinaan dari para musuhnya, sehingga masuk akal saja jika kita berpikir bahwa yang mengganggunya kini ialah kegelisahan hati dan kegundahan jiwanya. Kelesuan jiwa yang dipicu oleh kesadaran bahwa Allah sedang menarik diri, serta gempuran keraguan dan ketakutan mengenai nasib dalam kekekalan nanti memang merupakan lobang kebinasaan dan lumpur rawa yang sering kali dialami oleh banyak anak-anak Allah yang terkasih.

II. Ketaatan dan kerendahan hati Daud di hadapan Allah, serta pengharapannya yang penuh iman kepada-Nya di dalam keadaan yang suram itu: Aku sangat menanti-nantikan Tuhan (ay. 2). Aku menanti-nantikan dan mendamba. Dia tidak mengharapkan kelegaan selain dari Allah sendiri. Tangan yang menerkam dan memukul adalah tangan sama yang menyembuhkan dan membalut (Hos. 6:1), sebab jika tidak begitu, kesembuhan tidak akan kunjung datang. Dari Allah sajalah ia mengharapkan kelegaan, dan besar pengharapannya, tanpa ragu sedikit pun bahwa kelegaan itu akan datang di saat yang tepat. Allah memiliki cukup kuasa untuk membantu yang terlemah, juga memiliki cukup anugerah untuk menolong yang paling tidak layak ditolong dari semua orang yang mempercayai-Nya. Akan tetapi, dia menanti dengan sabar, yang menunjukkan bahwa kelegaan itu tidak datang dengan segera. Meski begitu, dia tetap saja tidak meragukan kepastian datangnya kelegaan itu dan bertekad untuk terus percaya, berharap, dan berdoa, sampai kelegaan itu benar-benar datang. Orang-orang yang meletakkan harapan mereka di dalam Allah dapat menanti dengan penuh keyakinan, tetapi juga harus menunggu dengan sabar. Nah, hal ini sungguh benar tertuju kepada Kristus. Kesengsaraan-Nya, baik di taman maupun di kayu salib berlangsung terus-menerus dan terasa bagaikan lobang kebinasaan dan lumpur rawa. Pada saat itulah jiwa-Nya gundah dan merasa amat sedih. Tetapi, ia lantas berdoa, “Bapa, muliakanlah nama-Mu. Bapa, selamatkanlah Aku.” Dan dia pun berpegang teguh dalam hubungan-Nya dengan Bapa-Nya, “Bapa-Ku, Bapa-Ku,” dan menanti-nantikan-Nya dengan penuh kesabaran.

III. Daud mengalami kebaikan Allah yang melegakannya di dalam kesesakan itu, yang dia catatkan demi kehormatan Allah dan demi menghiburkan dirinya serta orang-orang lain.

1. Allah menjawab doa-doanya: Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Walaupun harus menunggu lama, orang-orang yang menanti-nantikan Allah dengan penuh kesabaran pastilah tidak akan menanti dengan sia-sia. Tuhan kita Yesus telah didengarkan karena kesalehan-Nya (Ibr. 5:7). Bahkan, Dia selalu yakin bahwa Bapa-Nya selalu mendengarkan-Nya.

2. Allah meredakan ketakutannya, menenangkan jiwanya yang gundah gulana, serta memberikan kedamaian di dalam hati nuraninya (ay. 3): “Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan yang penuh dengan keputusasaan dan tanpa harapan, lalu dia menyingkirkan awan-awan dan menyinari jiwaku secara gemilang dengan kepastian bahwa kebaikan-Nya akan datang. Dan bukan hanya itu, Dia juga menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku.” Orang-orang yang telah mengalami tekanan rohani, tetapi kemudian diberi kelegaan oleh anugerah Allah, dapat benar-benar merasakan perkataan itu. Mereka telah diangkat dari lobang kebinasaan.

3. Allah memenuhinya dengan sukacita dan kedamaian oleh karena keyakinannya itu: “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku. Dia telah memberiku alasan untuk bergirang dan memberiku hati yang bersukaria.” Kelihatannya, dia dibawa ke dalam sebuah dunia baru, dan hal itu telah memenuhi mulutnya dengan nyanyian baru, untuk memuji Allah kita. Sebab semua nyanyian kita memang harus dipakai untuk memuji dan memuliakan-Nya. Rahmat yang baru, terutama yang belum pernah kita terima, memang menghendaki nyanyian-nyanyian baru. Hal ini menggambarkan Tuhan Yesus saat Ia masuk ke firdaus, saat bangkit dari kubur, dan dimuliakan dalam sukacita dan kemuliaan yang telah dipersiapkan bagi-Nya. Dia dibawa keluar dari dalam lobang kebinasaan, dan ditempatkan di atas gunung batu dan mendapatkan nyanyian baru dalam mulut-Nya.

IV. Hikmah yang dapat diambil dari contoh kebaikan Allah terhadap Daud tersebut.

1. Pengalaman Daud itu dapat menjadi penguatan bagi banyak orang untuk berharap kepada Allah, dan untuk tujuan inilah dia menuliskannya di sini, yaitu supaya banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN. Mereka akan menjadi takut kepada Tuhan dan keadilan-Nya, yang telah membawa Daud dan Sang Anak Daud ke dalam lobang kebinasaan itu, supaya mereka pun akan berkata, “Jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?” Mereka akan menjadi takut kepada Tuhan dan kebaikan-Nya, yang telah memenuhi mulut Daud dan Sang Anak Daud dengan nyanyian-nyanyian baru yang penuh sukacita dan pujian. Ada rasa takut kudus terhadap Allah, yang bukan saja sejalan dengan pengharapan kita di dalam Dia, melainkan juga menjadi dasar dari pengharapan kita itu. Mereka tidak akan menjadi takut kepada-Nya dan menghindar dari-Nya, melainkan takut kepada-Nya dan mempercayai-Nya di dalam kesesakan mereka yang terdalam, tanpa merasa ragu bahwa Dia akan selalu sanggup dan siap menolong, seperti yang dirasakan Daud di dalam kesesakannya. Cara Allah berurusan dengan Tuhan kita Yesus dapat meneguhkan kita untuk mempercayai Allah. Saat Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan demi dosa-dosa kita, Ia sedang menuntut-Nya supaya membayar utang kita. Dan saat Ia mengangkat-Nya dari antara orang mati dan menempatkan-Nya di sebelah kanan-Nya, Ia menunjukkan bahwa Ia telah menerima pelunasan utang yang Yesus lakukan itu dan dipuaskan oleh karenanya. Jadi, penghiburan apa lagi yang lebih besar daripada itu, yang dapat mendorong kita untuk takut dan menyembah Allah serta percaya kepada-Nya? (Rm. 4:25; 5:1-2). Sang pemazmur mengundang orang lain untuk menjadikan Allah sebagai pengharapan mereka, sebagaimana yang telah diperbuatnya sendiri dengan mengumandangkan ucapan bahagia bagi mereka yang berbuat demikian (ay. 5): “Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN dan hanya kepada Dia saja (yang memiliki pikiran-pikiran agung dan baik mengenai Dia dan berbakti sepenuhnya kepada Dia), dan yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, tidak bertindak seperti orang-orang yang mengandalkan diri mereka sendiri, dan tidak mengandalkan orang-orang yang dengan angkuh mendorong orang lain untuk mempercayai mereka, sebab keduanya menyimpang kepada kebohongan, sebagaimana semua orang yang berpaling dari Allah.” Hal ini terutama berkaitan dengan iman kita di dalam Kristus. Berbahagialah orang-orang yang percaya kepada-Nya dan kebenaran-Nya saja, serta tidak berpaling kepada orang-orang Farisi yang dengan angkuh berusaha menandingi-Nya dengan kebenaran mereka sendiri. Berbahagialah mereka yang tidak dikuasai oleh ajaran-ajaran kaum Farisi itu, dan yang tidak menyimpang kepada kebohongan bersama-sama dengan orang-orang Yahudi degil yang tidak takluk kepada kebenaran Allah(Rm. 10:3). Berbahagialah orang-orang yang dapat meluputkan diri dari godaan tersebut.

2. Rasa sukacita yang timbul karena belas kasihan tersebut menggugahnya untuk merenungkan dengan penuh syukur kebaikan-kebaikan lain yang telah ia terima dari Allah (ay. 6). Saat Allah menaruh nyanyian baru ke dalam mulut kita, kita tidak boleh melupakan nyanyian lama kita, melainkan harus mengulanginya lagi: “Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib, baik bagiku maupun bagi orang lain. Kebaikan-Mu kali ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kebaikan lainnya yang sudah Engkau berikan.” Banyak sekali berkat yang tiap hari kita terima melalui pemeliharaan dan anugerah Allah.

Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Rabu, 18 Januari 2023 - BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM (Tokonni tama malikunna) - Lukas 5:1-11


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Senin, 16 Januari 2023 - KANANDAI TU PANGADARAN MEPAPUSA (Hati-hati dengan ajaran palsu) - Galatia 1:6-10


All Renungan Gereja Toraja 2023:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login