| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2022 Bahan Khotbah HUT RI Tanggal 17 Agustus 2022 LUPUTKANLAH DAN LEPASKANLAH (Rampananni sia lendokanni) - Mazmur 82:1-8Bahan Khotbah HUT RI Tanggal 17 Agustus 2022 LUPUTKANLAH DAN LEPASKANLAH Rampananni sia lendokanni Bacaan : Mazmur 82:1-8 Nas Persembahan : Mazmur 15:1-2 Petunjuk Hidup Baru : Roma 13:3 Tujuan: - Jemaat memahami bahwa Allah menginginkan bahwa setiap kuasa yang dimiliki digunakan dengan adil - Jemaat memaknai kemerdekaan dengan cara menghidupi nilai-nilai keadilan Pemahaman Teks Mazmur 82:1-8 Mazmur Asaf ini menyoroti praktek kelaliman yang terjadi dalam dunia penghakiman. Allah tampil sebagai pemegang otoritas kekuasaan mengatasi segala hakim. Kata “berdiri” pada ayat 1 hendak menunjukkan bahwa sebagai pimpinan dalam sidang ilahi tersebut, Allah sedang menyampaikan sesuatu yang penting dan genting. Posisi berdiri tersebut merupakan gambaran bahwa Allah menegur dengan keras perilaku para hakim. Perilaku mereka disebutkan sebagai kategori menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik (ay.2). Bahkan sangat bisa diprediksi bahwa perilaku tersebut sudah berlaku dalam waktu yang lama, sehingga Allah menegur mereka dengan kalimat: Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim? Mestinya, sebagai hakim mereka bertindak untuk: memberi keadilan kepada orang lemah, membela hak orang sengsara, membebaskan orang miskin, melepaskan orang lemah dari tangan orang fasik (ay.3-4). Ini berbicara kepada keberpihakan kepada kaum lemah yang memang seringkali terpinggirkan. Kelompok-kelompok seperti ini seringkali menjadi korban ketidak-adilan. Ibarat pepatah: sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Mereka sudah tidak berdaya, namun justru makin dikekang terstruktur dan sistematis. Orang-orang tersebut memang tak berdaya karena berada dalam kebodohan (ay.5). Para hakim tersebut disapa dengan sebutan allah dan anak Yang Mahatinggi (ay.6). Sapaan tersebut hendak menekankan bahwa sesungguhnya pada diri manusia secara umum dan para hakim itu secara khusus, terdapat kuasa ilahi yang mestinya dipergunakan secara bertanggung jawab. Kuasa atau wewenang tersebut seharusnya digunakan untuk menghadirkan keadilan dan jangan justru disalahgunakan dengan cara bertindak secara lalim. Pertimbangannya ialah karena pada akhirnya semua manusia akan sama-sama mati (ay.7). Tidak ada yang bisa luput dari peristiwa kematian, maka setiap manusia mestinya menggunakan kesempatan yang ada untuk mewujudkan keadilan. Tetapi pada akhirnya, Mazmur dari bani Asaf ini ditutup dengan pernyataan pengharapan kepada Allah untuk menghakimi bumi (ay.8). Pada akhirnya setiap orang akan menyadari, bahwa jikalau penguasa dalam dunia ini tidak dapat diharapkan untuk mendatangkan keadilan, maka Sang Hakim yang sesungguhnya, Sang Pemilik segala bangsalah yang menjadi harapan terakhir. Pokok-pokok pengembangan khotbah Para pemegang kuasa, berlaku adillah Dalam perikop ini, hakim pertama-tama merujuk kepada para pengambil keputusan dalam proses pengadilan. Namun, tidak berlebihan jikalau para hakim tersebut juga dihubungkan dengan para pemegang kekuasaan dan pengambil kebijakan dalam sistem pengelolaan negara, terutama yang memberi dampak langsung kepada kehidupan rakyat. Misalnya, bagi yang duduk dalam parlemen (legislatif), pemerintahan (eksekutif), peradilan (yudikatif), dan lembaga-lembaga lainnya, mulai dari pusat sampai ke pelosok tanah air. Pada momentum perayaan HUT proklamasi kemerdekaan RI ke-77 tahun ini, sapaan firman Tuhan menjangkau semua pihak. Memperjuangkan nilai-nilai keadilan, bukan hanya memang sesuai dengan amanat undang-undang negara, tetapi terutama juga merupakan amanat dari firman Tuhan. Firman Tuhan menyoroti agar negara, melalui para penyelenggara negara, merealisasikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, tanpa pandang buluh. Misalnya saja di hadapan hukum. Prinsip semua berkedudukan sama di hadapan hukum (equality before the law) harus dijunjung tinggi. Firman jelas menentang sikap yang tebang pilih, atau cenderung tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dalam bidang ekonomi pun demikian. Secara resmi dikemukakan dalam undang-undang, bahwa ekonomi memang ditata dan dikelola untuk sepenuh-penuhnya kemakmuran segenap rakyat. Namun apabila dalam faktanya masih terjadi diskriminasi pembangunan, maka kondisi ini menjadi sorotan firman Tuhan hari ini. Perayaan HUT Proklamasi kemerdekaan akan terasa hambar saja (untuk tidak mengatakan: percuma saja), apabila nilai-nilai keadilan tidak direalisasikan. Terwujudnya keadilan sosial bagi semua, bukan hanya menjadi harapan rakyat secara umum, tetapi pada dasarnya merupakan tuntutan firman Tuhan. Saking pentingnya keadilan sosial tersebut, sehingga Allah sebagai Hakim di atas segala hakim, Penguasa di atas segala penguasa, harus “berdiri” dalam sidang ilahi untuk menyoroti praktek ketidak-adilan. Bersama memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Jikalau di atas sudah disoroti tentang pentingnya para pemangku kekuasaan, pemangku kebijakan, merealisasikan keadilan, bukan berarti rakyat boleh berpangku tangan dan bersikap pasif saja. Rakyat harus menciptakan suasana kondusif dalam masyarakat yang dapat mendukung terwujudnya praktek keadilan tersebut. Terutama dalam konteks perayaan HUT proklamasi kemerdekaan kali ini, jikalau firman Tuhan menyoroti praktek kelaliman, artinya keadilan tidak terjadi, maka untuk mewujudkan prinsip keadilan tersebut semua pihak hendaknya turut berjuang. Tidak mungkin mengharapkan datangnya keadilan dari para pemangku kekuasaan, apabila dalam lingkup terkecil dalam masyarakat, misalnya keluarga, justru terjadi praktek kelaliman. Jikalau dalam keluarga seseorang mendapat pola didikan yang memang cenderung tidak adil, maka kelak ia pun berpotensi bersikap tidak adil saat menduduki posisi tertentu. Kelaliman pun terjadi di mana-mana. Oleh sebab itu, sorotan firman Tuhan saat ini selalu relevan bagi semua pihak, dan bukan hanya bagi pihak tertentu saja. Setiap pribadi memiliki kecenderungan untuk berlaku adil, namun juga kecenderungan untuk berlaku lalim. Karena itu HUT RI akan bermakna apabila setiap pribadi dapat menghidupi prinsip keadilan.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Bahan khotbah hari Minggu, 21 Agustus 2022 - DITETAPKAN UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN (Diangka’ la umbangun katuoan) - Yeremia 1:4-10 Sebelum: Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 15-20 Agustus 2022 - FIRMAN-KU SEPERTI API DAN PALU (Iatu Kadang-Ku susi api sola pepa’tong) - Lukas 12:49-53 All Renungan Gereja Toraja 2022: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |