| lagu-gereja.com/toraja |
|
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022 Bahan Khotbah Rabu Abu Tanggal 2 Maret 2022Rabu, 2 Maret 2022 Bahan Khotbah Rabu Abu - Rabu, 2 Maret 2022 - PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH / Puasa nakalo` penaanNa Puang - Yesaya 58:1-12PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH Puasa nakalo' penaanNa Puang Bacaan Mazmur : Mazmur 51:1-15 Bacaan 1 : Yesaya 58:1-12 (Bahan Utama) Bacaan 2 : 2 Korintus 6:1-10 Bacaan 3 : Matius 6:16-18 Nas Persembahan : 2 Korintus 6:1 Petunjuk Hidup Baru : Yesaya 58:11 Tujuan: 1.Warga Jemaat memahami Puasa yang dikehendaki oleh Allah. 2.Warga jemaat berlatih diri salah satu bentuk Puasa yang cocok bagi dirinya selama masa-masa Pra Paskah. Pemahaman Teks Mazmur 51:1-17 menggambarkan ungkapan pengakuan dosa dan pertobatan Daud. Ia mengaku dosa dan memohon pengampunan atas dosa-dosanya. Daud memohon kasih dan anugerah dari Tuhan agar dimampukan untuk tidak mengulangi perbuatan yang mencemari dirinya dan kemuliaan Allah. Dia berjanji akan melakukan yang terbaik semampunya (ay.15) demi kemuliaan Allah (ay.18), lalu ditutup dengan sebuah doa bagi Sion dan Yerusalem (ay.20). Yesaya 58:1-12 menceritakan tentang nabi yang diperintahkan untuk menyampaikan kesalahan Israel yang sudah sangat kelewat batas. Setiap hari Israel “mencari Tuhan melalui ibadah, mempersembahkan korban, dan berpuasa” namun menuduh Allah tidak peduli dan menutup mata dan telinga terhadap semua upaya ketaatan dan korban-korban mereka. Karena itu nabi harus menegur mereka bahwa ketaatan dan rutinitas agama yang formalistik telah kehilangan makna sebab setiap hari mereka bertengkar, menidas buruh, dan tidak memperhatikan orang miskin. Allah menghendaki agar kehidupan puasa seperti yang diucapkan dalam ibadah mestinya dipraktekkan dalam kehidupan nyata setiap hari melalui kepedulian dan tindakan nyata bagi yang membutuhkan pertolongan, karena hanya dengan cara seperti itu Allah akan menganugerahkan pemeliharaan dan damai sejahtera serta masa depan yang gemilang. 2 Korintus 6:1-10 menjelaskan bahwa Paulus menjalani pelayanannya sebagai orang yang telah berdamai dengan Kristus. Paulus menekankan keteladanan sebagai hamba Tuhan dan bukan sebaliknya menjadi batu sandungan dalam jemaat. Keteladanan Paulus dicontohkan dalam kesabaran, murah hati serta memelihara disiplin berdoa dan berpuasa serta tidak munafik. Bahkan dirinya bertanggungjawab dan bekerja keras agar pelayanannya tidak menjadi celaan bagi pihak lain. Matius 6:16-18 menuliskan tentang Yesus yang mengajarkan agar murid-murid-Nya menghindari kemunafikan dalam berpuasa seperti yang dipraktekkan banyak orang pada waktu itu. Bagi Yesus biarlah Tuhan yang melihat dan mengetahui isi hati setiap orang dan tidak harus dipamerkan kepada orang lain apalagi untuk mencari pujian. Puasa yang dikehendaki adalah merendahkan diri di hadapan Allah dan bukan menyombongkan diri di hadapan manusia. Korelasi dari keempat bacaan ialah bahwa Allah menghendaki pertobatan yang berasal dari hati yang tulus iklas (Mat.6:16,18) seperti yang dilakukan Daud (Maz.51.) dan Paulus (2 Kor.6:1-10). Karena itu, anugerah dan kasih Allah semestinya menjadi dasar tindakan tulus dan nyata dalam kehidupan konkrit setiap hari khususnya dalam keberpihakan membebaskan sesama yang menderita dan terpinggirkan. Penekanan pada bahan utama Yesaya 58:1-12 dapat dibagi sebagai berikut Ayat 1-5,1oa menekankan pernyataan penolakan Allah terhadap upacara agama yang formalistik dan telah kehilangan makna. Upacara agama berjalan lancar dan semarak namun praktek hidup mereka sangat bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah. Selain itu, Israel justru membenarkan diri dan menuduh Tuhan tidak mendengar dan mengindahkan segala “usaha, kesetiaan dan kebaikan-kebaikan semu mereka setiap hari”. Karena itu mereka harus ditegur karena tindakan orang Israel itu adalah tindak lanjut cara-cara orang munafik yang seolah-olah tidak mampu melihat kelemahan diri malahan berusaha membenarkan diri dan menacari-cari kesalahan pihak lain sambil melemparkan kesalahan kepada orang lain. Mereka mendaftarkan kebaikan-kebaikan sambil membanggakan diri walaupun kebanggaan itu justru tidak berkenan hadapan Allah sehingga suara mereka tidak akan terdengar di tempat tinggi (ay.4b). Rupanya berkembang luas pemahaman bahwa kegiatan berpuasa yang selama ini mereka laksanakan adalah cara terbaik untuk mendekat dan menerima pahala/jawaban mujarab dari Tuhan. Contoh kebanggaan diri karena berpuasa dinampakkan oleh orang muda kaya di hadapan Yesus yang seolah-olah berkata apalagi yang kurang pada diriku Tuhan, bukankah” aku berpuasa 2 kali seminggu” (Luk.18:12). (Ada informasi bahwa pada mulanya kewajiban berpuasa 1 kali Puasa (Im.16.) tetapi kemudian di Pembuangan menjadi 4 kali per-tahun (Za. 7:3,5,; 8:19) dan setelah Pembuangan bahkan menjadi 2 kali/minggu (Luk. 18:21) b.Ayat 6-7 Puasa yang dikehendaki Allah. Allah menghendaki umat-Nya merealisasikan pemuliaan Allah dan perendahan diri melalui perbuatan-perbuatan yang membebaskan dan yang berkeadilan sosial yang dipraktekkan sehari-hari melalui tindakan dan perbuatan dengan cara: Membuka belenggu belenggu kelalaliman, Melepaskan tali-tali kuk, Memerdekakan orang teraniaya,Memecahkan roti bagi yang lapar, Membawa ke rumah orang miskin terlantar, Memberikan pakaian kepada yang talanjang dan Membuka diri terhadap keluarga. Tindakan dan perbuatan seperti inilah yang kemudian dijadikan Yesus sebagai kriteria orang-orang benar yang berhak menerima kemuliaan di sebelah kanan Bapa Sorgawi. Perbuatan-perbuatan yang menjadi misi Kristus di tengah dunia (Mat.25;31-36). c.Ayat 8-12: Janji Pembaruan Ketika bangsa Israel kembali bertobat dari “pemujaan diri” dan menghadap Allah serta memberlakukan seperti dikehendaki-Nya (ay.5-6) maka mereka akan mengalami pembaruan hidup bahkan pembaruan bersama sebagai bangsa (ay.12) serta menikmati damai sejahtera (ay.11b). Pemulihan akan terjadi sebab Tuhan akan mendengar dan menjawab permohonan mereka (ay.9). Terangmu akan merekah seperti fajar (ay.10b) karena mereka akan berjalan dalam tuntunan dan penggembalaan oleh Allah sendiri (ay.11). Pokok-pokok pengembangan khotbah 1.Puasa yang dikehendaki Allah. Menurut beberapa sumber, kata Puasa dan turunannya dipakai 75 kali dalam alkitab. Jadi ajaran tentang puasa cukup penting bagi umat Israel (contoh Paulus dalam bacaan 2 Kor.6:6) tetapi bersamaan dengan itu banyak juga bagian alkitab yang justru menolak praktek puasa (contoh Yes.58:3-5 dan Mat.6:16-18). Berpuasa dianjurkan tetapi juga tidak diharuskan. Berpuasa itu baik tetapi tidak menjadi kewajiban. Apalagi kalau berpuasa dilakukan hanya untuk memenuhi kewajiban tuntutan agama dan terlebih dipakai sebagai saranan menonjolkan diri sebagai orang saleh yang setia dan sekaligus meremahkan orang lain yang tidak berpuasa. Puasa dapat menolong mendekatkan diri kepada Tuhan seperti kata nabi Yoel “tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” (Yoel 2:12) atau seperti yang dilakukan Paulus dan beberapa jemaat (Kis.13:1-3;Kis 14:21-23; 2 Kor. 6:4) Penolakan nabi Yesaya dan Zakaria serta Yesus terhadap puasa terletak pada cara dan tujuan yang keliru tentang berpuasa. Karena itulah puasa tidak menjadi kewajiban yang setara dengan hukum-hukum lain (10 Hukum dan Hukum Kasih,dll). Melaksanakan puasa di hadapan Allah bukan mempertontonkan diri di hadapan manusia (Mat.6:18 jangan dilihat oleh orang...melainkan Bapamu...”). Puasa dapat dilakukan namun disertai tindakan yang konkrit yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bukti memuliakan Allah. Spiritualitas sejati didasarkan pada ketaatan akan keseluruhan perintah Allah melalui pengudusan Roh Kudus secara terus-menerus. Pada perayaan hari Rabu Abu ini berpuasa seperti yang dikehendaki Yesus menjadi pengingat bahwa manusia sungguh rapuh karena itu tidak perlu manusia membanggakan dirinya di hadapan sesamanya apalagi di hadapan Tuhan, sehingga yang bisa dilakukan adalah meletakkan hidupnya ke dalam masa depan yang sedang datang dari pihak Allah yang begitu mengasihi dunia (Yoh.3:16). Manusia membutuhkan pengakuan ketidak berdayaannya sambil berpengharapan bangkit dengan sempoyongan menatap masa depan yang turun dan datang dari Sang Pengasih yang juga pernah tertatih-tatih dengan cucuran darah memikul salib-Nya. 2.Latihan menundukkan diri pada kekuasaan Allah. Ada peryataan bahwa “sekarang kita sudah lebih takut kepada Korona ketimbang kepada Tuhan sebab itu tempat ibadah di gereja ditutup”. Selain itu ada pula yang bertanya kepada Pendeta tentang kapan ibadah dimulai di gereja yang ternyata orang itu justru pada dasarnya malas beribadah selama ini. Bahkan mungkin sudah ada yang mulai meragukan doa-doa permohonan penghentian wabah Korona tidak didengar atau dijawab Allah? Bukankah pola-pola seperti juga yang dihadapi nabi (Yes.58). Krisis karena Korona sangat melelahkan dan menguras tenaga, pikiran, dan perasaan serta sumber-sumber ekonomi yang berdampak mendalam, lama dan luas dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Bagaimana kita gereja berperan dalam proses membangun kembali setelah pandemi pada masa kini dan akan datang? Penundukan diri secara total kepada Allah yang disertai kerelaan yang tulus-iklas mengulurkan untuk bergandengan tangan dengan semua pihak, bahu membahu menghadapi krisis sosial yang terjadi akan menjadi langkah kecil awal datangnya semangat dan bangkitnya pembaruan kehidupan. Aku dan kamu menjadi kita sebagai keluarga Allah yang seperasaan, sehati, sepikir, senasib-sepenanggungan dan jauh dari hubungan hierarkhi serta aturan-aturan formal yang kaku. Paulus dalam 2 Korintus 6:1-10 mencontohkan bagaimana ia (memakai kata kami) sebagai pelayan Allah (ay.1,4) menempatkan dirinya di bawah penguasaan dan pengendalian Allah sambil bersama dengan pelayan-pelayan lain bahkan bersama-sama dengan anggota jemaat (kami menesahatkan ay.1). Demikian hanya tuntutan cara hidup yang dikehendaki Allah dalam Yesaya 58:1-10 yakni tidak boleh membiarkan adanya sesama yang tertinggal apalagi terkapar karena kekurangan dan keterbatasannya secara ekonomi, fisik dan sosial. Perayaan hari Raya Rabu Abu dan masa-masa Pra-Paskah dapat menjadi salah satu kesempatan indah untuk melatih diri berpuasa yakni terus-menerus merendahkan diri di hadapan Allah sambil mempraktekkan solidaritas kepada sesama seperti yang dikehendaki firman Tuhan dalam Yesaya 58:1-10. Mungkin secara teknis dilakukan dengan “berpantang dari salah satu kenikmatan kita selama ini” seperti yang dilakukan Daniel (Dan.1:11-16). Contoh, kita mengurangi porsi makan kita setiap hari dengan menyisihkannya untuk menjadi persembahan diakonia pada hari Perayaan Paskah. Atau bagi perokok, tetap merokok namun menyisihkan sebagian harga rokok setiap hari dan dikumpulkan menjadi persembahan diakonia pada Hari Paskah. Dengan berpuasa, fisik semakin minimalis demikian halnya dengan pikiran dan beban hidup sebab setiap hari mengurangi beban konsumsi (kadar gula darah) dan yang dianggap esensial semakin berkurang sebab hidup semakin tertuju hanya pada nilai-nilai utama dalam hidup. Nilai-nilai tambahan kontemporer yang menerpa dan menggerogoti kesetiaan hanya kepada Allah dan sesama semakin disingkirkan secara perlahan-lahan.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Bahan khotbah hari Minggu, 6 Maret 2022 - Prapaskah I - MENGINGAT KEMURAHAN TUHAN / Unningaran pa`kamaseNa Puang - Ulangan 26:1-11 Sebelum: Bahan khotbah hari Minggu, 27 Februari 2022 - Transfigurasi - SELUBUNG SUDAH TERSINGKAP / Tilendokmo tu pebungku` - 2 Korintus 3:12-18 All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022: Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |