lagu-gereja.com/toraja

View : 616 kali
Bahan khotbah hari Minggu     Tanggal 27 Februari 2022
Transfigurasi

SELUBUNG SUDAH TERSINGKAP
Tilendokmo tu pebungku’

Bacaan Pujian     : Mazmur 99:1-9
Bacaan 1    : Keluaran 34:29-35
Bacaan 2    : 2 Korintus 3:12-18 (Bahan Utama)
Bacaan 3    : Lukas 9:28-36
Nas Persembahan           : Mazmur 99:2,5.
Petunjuk Hidup Baru       : 2 Korintus 3:17-18

Tujuan :
1. Jemaat memahami bahwa kemuliaan Allah menjangkau masa lalu,masa kini dan masa depan
2. Jemaat mampu melatih diri mengikuti proses kemuliaan Allah  dalam Yesus melalui
    penderitaan,penyaliban,kematian dan kebangkitan-Nya.

Pemahaman Teks
    Keluaran 34:29-35 menjelaskan tentang peristiwa kehadiran Allah melalui  kedua loh hukum Allah dan kemuliaan-Nya yang terpancar melalui wajah Musa. Musa menanggalkan selubung mukanya ketika menghadap Allah, lalu Allah memerintahkan kepadanya untuk menuliskan pada loh batu hukum Allah sebagai perkataan perjanjian antara Allah dengan Israel. Akibat dari kemerosotan spiritual Israel sehingga mereka tidak dapat berjumpa dengan Allah secara langsung, dan Musa-lah yang menjadi perantara mereka dengan Allah, dan bahkan ketika musa keluar untuk menyampaikan hukum yang diperintahkan Allah, bangsa itu tidak sanggup melihat wajah Musa yang bercahaya.
    Mazmur 99:1-9  menjelaskan tentang keagungan Tuhan, yang disaksikan oleh seluruh bangsa, yang membuat bumi bergoncang dan membuat orang-orang gemetar, dan bahkan setan-setanpun menjadi gemetar (Yak.2:19). Tuhan patut dipuji karena kekuatan-Nya, keadilan-Nya dan kekudusan-Nya yang mengatasi segala bangsa.
    2 Korintus 3:12-18, Rasul Paulus menekankan tentang kemuliaan Tuhan yang tidak terselubung lagi bagi umat-Nya karena Allah telah menyingkapkan diri-Nya melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Paulus sendiri telah mengalami bagaimana Allah telah menjumpainya, karena itu ia telah berbalik kepada Tuhan (ay.16) Tuhan sendiiri di dalam Roh-Nya berbicara dan mengangkat selubung dari matanya, sehingga Paulus mengalami kemerdekaan dari hukuman dan dosa (2 Kor.3:6,9). Kemerdekaan inilah yang menjadi dasar pengharapan besar bagi Paulus (ay.12) sehingga dia dipenuhi keberanian untuk menyatakan kebenaran (ay.12b) sekaligus memiliki pengharapan melihat kelepasan dari kefanaan menuju kekekalan (2 Kor.5:5). Kemerdekaan itu juga berlaku bagi warga jemaat yang percaya kepada Kristus yakni melihat dan mengalami kemuliaan Tuhan (ay.18) yang jauh lebih sempurna dari apa yang dialami Musa (Kel.34:29-35). Kemerdekaan di dalam Kristus memampukan serta memberi keberanian baik kepada Paulus maupun kepada kita sebagai umat untuk menghadap Allah secara langsung dan menyaksikan kemuliaan-Nya. Pengalaman dan keyakinan Paulus dan jemaat Korintus berbeda dengan pengalaman Musa bersama orang Israel (ay.13-15). Hanya Musa yang mengalami kemuliaan itu dan bersifat sementara, dan bagi Israel, mereka tidak dapat menikmati dan mengalami kemuliaan itu bahkan  pikiran mereka tertutup hingga akhirnya hati mereka tertutup sepanjang saman (ay.14-15)
    Lukas 9:28-36 menceritakan tentang kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus. Peristiwa di atas gunung memperlihatkan bahwa kemuliaan Allah pada masa lampau yang dialami Musa dan Elia telah dipertemukan dalam Yesus Kristus akan digenapi-Nya pada masa yang akan datang. Peneguhan kepastian adanya masa depan  yang penuh kemuliaan dan kebahagiaan diperlihatkan walaupun hanya sesaat kepada murid-murid yang diwakili Petrus,Yakobus,dan Yohanes agar mereka bersiap dan mampu bertahan menghadapi godaan dan penderitaan yang akan segera mereka alami bersama Yesus. Pengalaman Musa dan Elia mengikut Allah menjadi pembelajaran berharga bagi mereka berjalan bersama Yesus bahwa kemuliaan yang dinikmati Musa dan Elia juga akan menjadi milik mereka bersama Kristus pada masa kini dan masa akan datang, bahkan saat itu mereka sungguh merasakan kebahagian sehingga Petrus berkata “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini (ay.33).
    Korelasi: Allah berkenan memberikan kesempatan kepada orang-orang pilihan-Nya menyaksikan kemuliaan Allah dalam hidupnya pada masa kini (walau sesaat saja), tetapi akan dialami secara sempurna pada masa yang akan datang ketika Yesus datang kembali. Di atas gunung Allah Murid-murid diberi kesempatan untuk menyaksikan dan mengalami suasana bahagia yang tak terlukiskan sebagaimana yang dialami orang-orang yang ditetapkan Allah (Musa dan Elia). Kebahagiaan masa lampau, masa kini dan masa akan datang sebagaimana yang dinikmati Musa dan Elia, demikianpun akan terjadi dan dialami oleh  orang yang setia dan konsisten mengikuti Yesus. Penampakan Yesus bersama Musa dan Elia adalah untuk meyakinkan para Murid agar mereka teguh dan konsisten mengikut Yesus yang segera akan mengalami berbagai cobaan, godaan dan penderitaan bahkan kematian namun akan bangkit kembali.

Pokok-pokok pengembangan  khotbah.
1.Kemuliaan Allah memampukan melampaui  ruang dan waktu.
    Kemuliaan Allah berlaku pada masa lampau sekalipun kelihatannya masih terbatas dan terjadi secara istimewa pada orang-orang khusus dan di tempat-tempat khusus pula. Bagi orang-orang khusus yang  setia,tekun dan mempercayakan hidupnya kepada Allah pada masa lampau  (contoh Musa dan Elia) itu menembus ruang dan waktu sehingga bisa muncul dan tampil bersama Yesus di atas gunung. Gambaran masa lalu dan masa depan  diperlihatkan kepada mereka di atas gunung dan dinikmati sesaat oleh murud-murid (kata Petrus “betapa bahagianya kami di tempat ini). Gambaran kemuliaan itu telah disingkapkan kepada mereka agar dapat mengikuti keteladanan Musa dan Elia dalam pelayanan mereka. Kemuliaan Allah akan menjadi miliknya jika mereka konsisten dan setia mengikuti Yesus sama seperti Musa dan Elia yang taat dan setia sampai akhir hidup mereka. (“Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia” ay.35). Murid-murid dipersiapkan mengikuti  proses yang panjang, penuh perjuangan,  pengorbanan dan penderitaan tetapi akan berujung pada kemuliaan salib dan kebangkitan.

2.Kemuliaan Allah yang tersingkapkan.
a. Penderiaan, kematian dan kebangkitan Yesus
    Walaupun Musa dan Elia mengalami pergumulan berat dalam tugas mereka tetapi mereka menikmati hasilnya dan hal itu menjadi inspirasi bagi para murid bahwa apa yang mereka beritakan telah menjadi nyata ketika mereka telah menyaksikan kemuliaan Yesus. Untuk itu para Murid mesti setia dan kokoh bersama Yesus sekalipun harus menghadapi tantangan. Kemuliaan Yesus bukan hanya akan terjadi pada masa depan tetapi juga dalam penderitaan-Nya yang segera akan terjadi dan memuncak pada penyaliban dan kematian-Nya sampai pada kebangkitan-Nya dari kematian.
Kemuliaan yang disaksikan Musa dan Elia memberikan kesejukan, kedamaiaan serta kesejahteraan. Hal itu menjadi jaminan yang pasti bahwa kitapun akan mengalaminya pada masa yang akan datang ketika kemuliaan Allah dinyatakan dengan sempurna melalui kedatangan Yesus kembali pada zaman akhir. Pandemi Covid-19 merupakan peristiwa yang sungguh membuat umat manusia mengalami suasana suram penuh keluhan. Kehidupan ini bagaikan diselubungi kabut yang tebal dan sepertinya tatapan ke masa depan sungguh sulit dan buram. Melalui Transfigurasi Yesus menjaminkan bahwa kemuliaan Allah di masa depan sungguh nyata dan sedang menghampiri bahkan sudah “dicicipi” (dinimkmati sesaat Murid) oleh karena itu sebagai murid Yesus mesti optimis dan bangun (sekalipun dalam keadaan sempoyongan)  menyongsong kemuliaan Allah.

b.Kemuliaan Allah telah dialami oleh Paulus di Damsyik.
        Pengalaman Paulus itu membebaskannya dari belenggu masa lalu yang buruk-kelam dan kejam. Paulus merasakan bahwa pembebasan yang dialaminya sungguh luar biasa dan tidak dapat dibandingkan dengan semua kesuksesan, kebanggan, dan keberhasilannya pada masa lampau. Itulah sebabnya ia mengatakan masa lampau hanyalah “sampah yang tidak berguna” (Fil.3:8). Kemerdekaan telah datang dan melahirkan hati dan pikiran baru yang mampu melihat masa depan penuh gilang-gemilang (Fil.3:13-14). Ia tidak lagi terkurung dan terperangkap dalam “hukum-hukum masa lampau” yang membutakan hati dan pikiran seperti orang-orang Yahudi  (2 Kor.3:14-15). Melalui pengalam Paulus, kita selaku Gereja perlu mengevaluasi diri apakah tidak sedang terperangkap ke dalam hati yang beku dan pikiran yang diselubungi “tradisi dan aturan-aturan  buatan sendiri”? Pandemi Covid 19 telah mengajarkan kita bahwa “semua pengetahuan dan pengalaman manusia termasuk gereja” ada batasnya.

3.Peran Gereja dalam menyingkapkan Kemuliaan Allah
    Kemuliaan Allah yang tersingkapkan kepada Paulus sesungguhnya telah tersingkapkan juga kepada kita melalui pemberitaan dan pelayanan Paulus di bawah kuat kuasa Roh Kudus (ay.17-18). Sama seperti wajah Musa diubah dan disingkapkan di hadapanNya demikianlah juga kepada Paulus dan gereja, kemuliaan itu tersingkakan oleh Roh Kudus di dalam Yesus Kristus. Memang belum nampak secara sempurna karena masih terus diubah untuk semakin serupa dengan Kristus (Rm. 8:29; 1 Kor.15:49; Fil.3:21) namun semuanya itu telah  dijamin oleh Roh Kudus bahwa kita akan memiliki kemuliaan itu kelak. (2 Kor.1:22;5:5, dll).
    Untuk itu sebagai orang Percaya, kita harus berusaha meyakinkan dunia disekitar kita  bahwa kemuliaan Allah sudah, sedang, dan sudah kerjakan di dalam Yesus kristus sehingga masa-masa sulit yang dihadapi tidak membuatnya terjebak dalam spekulasi kehidupan yg tanpa arah. Sebagaimana Allah menyatakan kasih-Nya kepada manusia secara nyata dan konkrit bagi dunia, demikianlah kita selaku Gereja mesti memperlihatkan dan menyatakan kasih Allah secara nyata dan kongkrit. Dalam keadaan yang begitu sulit yang dialami sesama umat manusia, kehadiran gereja sangat dibutuhkan untuk menyatakan kepedulian melalui tindakan kasih yang  nyata.
    Crisis Centre Gereja Toraja merupakan sala satu bentuk pelayanan dimana gereja menyatakan kepeduliannya kepada sesama umat manusia yang mengalami krisis, walaupun nilainya sangat kecil namun oleh keyakinan kita bahwa sekecil apapun jika pelayanan itu dinyatakan dalam ketulusan akan memancarkan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah dalam Yesus Kristus yang dirayakan pada masa-masa Pra-paskah akan sangat relevan dengan masa-masa dunia dirundung pandemi covid-19 dan masa-masa sesudahnya seperti sekarang ini. Gereja menghadirkan Kristus yang solider dan menuntaskan penderitaan dunia dan umat manusia. Gereja perlu memprioritaskan peran-peran pembebasan di bidang sosial-ekonomi melalui tidakan-tindakan diakonia yang karitatif, trensformatif, dan reformatif sehingga selubung kekuatiran tidak menghalangi umat untuk menyaksikan kemuliaan Allah.












Selanjutnya:
Bahan Khotbah Rabu Abu - Rabu, 2 Maret 2022 - PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH / Puasa nakalo` penaanNa Puang - Yesaya 58:1-12


Sebelum:
Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 21-26 Februari 2022 - KASIH YANG TUNTAS / Pa`kaboro` Sundun - 1 Korintus 15:42-50


All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022..

Register   Login