lagu-gereja.com/toraja

View : 1354 kali
Bahan khotbah Sabtu Sunyi    Tanggal  16 April 2022

INJIL DALAM KEMATIAN
Kareba kaparannuan lan kamatean

Bacaan Mazmur     : Mazmur 31:1-9
Bacaan 1    : Ayub 14:1-17
Bacaan 2    : 1 Petrus 4:1-6 (Bahan Utama)
Bacaan 3    : Yohanes 19:38-42
Nas Persembahan    : Mazmur 31:20
Petunjuk Hidup Baru    : 1 Petrus 4:1

Tujuan:
Warga jemaat memahami bahwa Injil tidak dibatasi oleh apapun termasuk kematian
Warga jemaat bersungguh-sungguh menghargai hidupnya dengan memberi yang terbaik kepada Tuhan sekalipun harus menderita bahkan pada akhirnya akan mati

Pemahaman Teks
Mazmur 31:1-9, menguraikan  doa pemazmur memohon perlindungan Tuhan (ay.2). Baginya, Tuhan itu seperti gunung batu dan kubu perlindungan yang kokoh (ay.3). Pemazmur yakin bahwa sikap berserah pada Tuhan akan memberi rasa aman dari serangan musuh-musuhnya (ay 4,6). Pada akhirnya akan nampak bahwa orang-orang yang berlindung pada Tuhan akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia Tuhan yang setia akan menilik setiap sengsara dan memperhatikan kesesakan jiwa umat-Nya (ay. 8).
Ayub 14:1-17, adalah keluhan Ayub yang melukiskan kerapuhan manusia yang terbatas dalam hitungan waktu (ay 5). Ayub mengeluh bahwa kehidupan akan berakhir bahkan menghilang setelah ia mati. Kalau pohon ditebang masih ada harapan sebab akan tumbuh tunasnya (ay 7). Tetapi jika manusia mati, habislah ia seperti air yang menguap dari dalam laut, dan seperti sungai surut dan menjadi kering (ay 10,11). Ayub juga tidak mengerti jika Allah menambahkan penderitaan dalam hidup manusia yang singkat. Jika hidup manusia berada dalam penetapan Tuhan, hendaklah Tuhan menjauhkan hal yang akan menyengsarakan manusia (ay 6). Di hadapan Tuhan, Ayub berkata bahwa  "Masakan Tuhan hendak mengadili manusia yang rapuh dan fana?" (ay 3). Walaupun demikian Ayub menyadari bahwa tidak mungkin manusia yang najis dapat menghasilkan kekudusan. Keluhan Ayub menunjukkan hakekat kerapuhan dan kefanaan manusia dengan segala jenis penderitaan yang dialaminya selama hidupnya sampai kematian datang kepadanya.
 1 Petrus 4:1-6 adalah surat penggembalaan dan pengharapan kepada orang-orang percaya yang berstatus sebagai perantau atau pendatang di seluruh wilayah Asia Kecil dalam wilayah kekaisaran Romawi. Surat ini berisi penegasan tentang identitas orang percaya kepada Kristus Ada penegasan bahwa meskipun mereka harus menghadapi pergumulan, pengharapan yang harus dimiliki di balik semua penderitaan dan kesusahan yang terjadi karena iman kepada Kristus. Penulis menasehati orang-orang percaya bahwa penderitaan karena kebenaran Kristus adalah sebuah kebahagiaan, sebab lebih baik menderita karena kebenaran jika itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat (1 Petrus 3:14,17). Dengan demikian penderitaan Kristus menjadi teladan bagi orang-orang percaya. Penulis surat ini mengingatkan orang percaya untuk menyadari bahwa hidup beriman kepada Kristus itu tidak  mudah, melainkan sarat dengan kesusahan bahkan penderitaan seperti yang telah dialami oleh Kristus. Penulis juga menekankan satu  pesan penting  “agar waktu yang sisa jangan dipergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah”(ay.2). Petrus pun menekankan agar orang segera berhenti berbuat dosa. Sebab barangsiapa menderita penderitaan badani, maka ia telah berhenti berbuat dosa. Hal ini tergambar bahwa  untuk dapat berhenti berbuat dosa, maka mesti ada niat dan latihan badani untuk lepas dari keinginan nafsu dan melawan dorongan-dorongan  jahat yang selalu muncul dalam diri kita sendiri maupun godaan yang datang dari luar.  
Salah satu hal penting yang ditekankan dalam teks ini adalah pemberitaan Injil kepada orang-orang mati (ay 6). Ada dua tafsiran yang berbeda terkait Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati. Tafsiran yang pertama  mengatakan bahwa pemberitaan Injil kepada orang-orang mati dapat dipahami sebagai adanya kesempatan kedua kepada orang mati yang belum percaya Injil untuk memperoleh keselamatan dalam Yesus Kristus. Jadi dipahami bahwa Yesus pergi menginjili mereka supaya selamat. Akan tetapi pendapat ini tidak dibenarkan oleh ayat-ayat lain dalam Alkitab dan ditolak oleh bapa-bapa gereja.
Tafsiran yang kedua, dan ini lebih banyak diterima bahwa pernyataan Petrus ini harus ditempatkan pada konteks sejarah pada masa gereja mula-mula dimana jemaat mulai mempersoalkan tentang nasib mereka-mereka yang telah mati sebelum Allah menyatakan diri di dalam Yesus Kristus pada masa Perjanjian Baru, padahal mereka melakukan hal-hal yang benar di hadapan Tuhan. Jadi yang dimaksud orang-orang mati dalam teks ini bukanlah kiasan terhadap orang-orang yang mati secara secara rohani karena belum menerima Injil. Para penafsir kebanyakan sepakat bahwa yang dimaksud dengan “orang mati” di sini adalah benar-benar orang yang sudah mati secara badani namun belum menerima penyataan Allah dalam Yesus Kristus. Sementara itu kehidupan mereka tetap didasarkan pada kehendak Allah. Apa yang disampaikan rasul Petrus merupakan penghiburan kepada mereka bahwa meskipun mereka telah mati sebelum Yesus datang, namun karena mereka tetap hidup kehendak Allah tidak seperti orang sezamannya yang hidup menurut daging, maka untuk mereka pun injil di beritakan dan keselamatan dianugerahkan.  
Yohanes 19:38-42, adalah kisah tentang pemakaman Yesus.  Yusuf dan Nikodemus mengapani mayat Yesus (ay.40). Mereka berani menyatakan iman bahkan rela berkurban dengan memberi yang terbaik bagi Yesus. Mereka tidak takut dikucilkan maupun menajiskan diri karena menyentuh mayat Yesus. Nikodemus membawa rempah-rempah untuk menguburkan mayat Yesus sesuai tradisi yang berlaku (ay.40). Lalu mereka menguburkan mayat Yesus sebagaimana mestinya, di suatu makam yang masih baru (bdk. Mat. 27:60).
Korelasi: Pengakuan akan keterbatasan dan keberdosaan adalah kekuatan kita untuk mengambil bagian dalam penderitaan dan kematian Yesus untuk menerima pengharapan dari terang Injil sebagai jaminan kebangkitan dan keselamatan.

Pokok-pokok pengembangan khotbah
Berita kematian Yesus, sampai juga kepada orang mati.
Misi penyelamatan yang dikerjakan oleh Kristus melalui kematian-Nya diperuntukkan bagi semua orang yang percaya dan yang menerimanya. Satu-satunya alasan untuk pernyataan ini adalah bahwa Allah mengasihi semua orang. Allah mengehendaki baik orang-orang hidup maupun orang-orang yang sudah mati sebelum karya Kristus, dapat hidup bersama dalam kasih karunia Allah. Pengakuan bahwa Yesus turun ke dalam dunia orang mati hendak menekankan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus itu, tidak dibatasi oleh kematian itu sendiri (bdk. PGT IV:5). Mereka yang meninggal sebelum Allah menyatakan diri dalam Yesus Kristus tetap menerima kasih karunia Allah. Melalui kematian-Nya Kristus telah menyelesaikan baik perkara orang hidup maupun perkara orang mati asalkan mereka hidup sesuai kehendak Allah.
Dengan demikian yang hendak ditekankan adalah kasih karunia Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus adalah kepastian atau jaminan keselamatan bagi yang percaya sekalipun mereka akan mati. Inilah salah satu yang perlu menjadi penghayatan Sabtu Sunyi bahwa Yesus ada di dalam kubur sebagai jaminan bahwa keselamatan itu tidak dibatasi oleh kematian, sebab Ia akan hidup. Kita bersyukur bahwa kita menerima penyataan Allah di dalam Yesus Kristus saat kita masih hidup. Jangan sia-siakan hal itu, karena akan datang waktunya

Hidup bagi Allah: Bersabar dalam penderitaan
Karena Kristus telah menderita, mati dan dikuburkan, maka setiap  yang orang percaya kepada-Nya harus pula menyiapkan dirinya dan mentalnya untuk rela dan siap menderita demi mempertahankan imannya kepada Kristus. Mereka yang bersedia menderita bagi Kristus menemukan bahwa lebih mudah untuk menolak dosa lalu mengikuti kehendak Allah (ay.1). Daya Tarik dosa menjadi tidak berarti lagi dan sebaliknya kehendak Allah menjadi yang terpenting (ay.2). inilah prinsip yang harus menjadi pegangan bagi semua orang percaya. Taat kepada Allah, bahkan jika hal itu berarti penderitaan, ejekan atau penolakan justru akan semakin memperkuat orang percaya secara moral dan rohani, dan juga akan menerima kasih karunia yang lebih besar (bdk. 1 Petrus 4:14). Apakah saat ini, orang-orang Kristen masih rela dan mau menderita demi ketaatan kepada kehendak Allah?

Menghargai kehidupan, Mempersiapkan kematian
Bacaan yang lain (Mazmur dan Ayub) menekankan bahwa keterbatasan dan keberdosaan manusia akan berujung pada kematian. Oleh sebab itu sebelum eksistensi kehidupan ini berakhir, maka salah satu nasihat Rasul Petrus adalah menghargai waktu yang tersisa  yakni dengan memberi yang terbaik kepada Tuhan (ay.2). Nasihat ini penting supaya waktu yang ada jangan lagi digunakan untuk hidup dalam hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (ay.3). Sebab semua yang terjadi akan dipertanggungjawabkan kepada Dia yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati (ay.5). Oleh karena itu sebagai umat Allah, baiklah kita menggunakan waktu yang ada,  memberi yang terbaik kepada Tuhan dan sesama bukan lagi untuk hidup dalam dosa melainkan kehidupan kita  merupakan suatu persembahan hidup kepada Kristus (PGT Bab V:6).  Jika Yusuf orang Arimatea dan Nikodemus (Mat 27:60)  menggunakan waktu yang ada dengan menguburkan mayat Yesus, maka sudah pasti bahwa banyak juga hal yang baik dan yang bermakna  yang bisa kita lakukan (bagi keluarga, pelayanan, pekerjaan dan sesame manusia). Mari kita dengan sadar menguburkan segala keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah lalu menghidupkan ketaatan dan kesetiaan melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan,  sebagai bentuk kesadaran kita menghargai kehidupan dan mempersiapkan kematian yang pada saatnya  akan datang.













Selanjutnya:
Bahan khotbah hari Minggu, 17 April 2022 - PASKAH (Bulan Diakonia -


Sebelum:
Bahan khotbah Jumat Agung - Jumat, 15 April 2022 - KEMATIAN YANG MENGHIDUPKAN / Kamatean Mepatuo - Yohanes 19:28-30


All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022..

Register   Login