|
|
Minggu, 13 Agustus 2017 Khotbah GMIT Minggu, 13 Agustus 2017 - Minggu ke-10 sesudah PentakostaAmsal 4:1-13 LATAR BELAKANG Menurut Perjanjian Lama Hikmat secara etimologi ada 3 akar kata dalam bahasa Ibrani yang menunjuk pada kata hikmat yaitu 'hokmah (hikmat), bina (pengetahuan), dan tevuna (kebijakan) semuanya menunjuk pada hal praktis konkret bukan sekedar teoritis. Hikmat adalah kepintaran mencapai hasil, menyusun rencana yang benar untuk memperoleh hasil yang di kehendaki. Pusat hikmat ialah hati, sebagai pusat keputusan moral dan intelektual. Mereka yang memiliki kecakapan teknis disebut bijaksana antara lain Bezaleel pengrajin kemah pertemuan (Kel 31:1), seniman patung (Yes 40:20), para perempuan peratap (Yer 9:17). Raja-raja dan para pemimpin secara khusus membutuhkan hikma, mereka bergantung pada keputusan yang tepat dalam bidang sosial politik. Yosua, Daud dan Salomo diberikan karunia khusus yaitu kebijaksanaan untuk menunaikan tugas sebagai raja. Suatu kelas khusus dalam pemerintahan monarki memberikan kesempatan bagi setiap laki-laki atau perempuan untuk belajar tujuannya adalah agar menjadi kaum intelektual. Pada masa Yeremia, kaum intelektual ini memiliki peran penting sebagaimana para nabi yaitu sebagai penasehat dalam masalah sosial, politik dan pemerintahan. Tugas dari para orang berhikmat ini adalah menyusun strategi, merumuskan rencana, menyusun nasihat untuk beroleh hidup yang berhasil. Tugas orang berhikmat layaknya bapak dalam hubungannya dengan orang-orang yang kesejahteraannya bergantung pada hikmat itu, misalnya Yusuf menjadi 'bapak" bagi Firaun (Kej 45:8), Debora menjadi 'ibu" bagi Israel (Hak 5:7). Hikmat adalah milik Allah yang utuh dan mutlak. Hikmat Allah mencakup sempurna, luas dan lengkap menyentuh setiap bidang kehidupan (Ayb 10:4, Ams 5:31), mencakup semua kedaulatan di dunia serta menggenapi semua apa yang dipikirkan oleh Allah. Alam semesta adalah bukti hikmat Allah dan manusia adalah bukti karya hikmat tinggi yang diciptakan oleh Allah sendiri. Proses-proses alamiah dan historis berada di bawah kendali hikmat Allah yang merupakan pembedaan sempurna antara baik dan jahat serta merupakan dasar untuk pahala dan hukuman yang diterima oleh orang jahat dan orang benar (Mzm 1:37-38, Ams 10:3, 11:4). Kebijaksanaan yang berdasarkan pada kecakapan alamiah ini merupakan karunia rahmani sebab kegiatan kreatif Allah sendirilah yang memungkinkan perolehan kebijaksanaan yang demikian itu. Hikmat alkitabiah sekaligus bersifat agamawi dan praktis yang berasal dari rasa takut pada Allah (Ayb 28:28, Ams 1:7, Mzm 111:10). Hikmat berkembang menyentuh segenap hidup seperti ditunjukkan secara luas dalam Amsal. Hikmat memperoleh pengetahuannya sendiri dengan jalan Allah dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian sumber hikmat adalah pengenalan akan Allah bahkan manusia sendiri tidak akan pernah mampu menyelami hikmat selain daripada ketertundukkan sepenuhnya kepada kemahakuasaan dari Allah. Hikmat dalam arti utuh dan mutlak hanyalah milik Allah (Ayub 12:13; Yesaya 32:2; Daniel 2:20-23). Hikmat Allah mencakup bukan hanya sempurnanya dan lengkapnya pengetahuan-Nya mengenai setiap segi kehidupan, tapi juga mencakup kedaulatan-Nya menggenapi tuntas apa yang ada dalam pikiran-Nya dan yang mustahil dapat digagalkan (Ayub 10:4; Ayub 26:6; Amsal 5:21; Amsal 15:3). Hikmat menurut Perjanjian Lama tujuannya adalah mendidik orang muda agar hidup teratur secara moral, dan berhasil dalam hidup makmur dan sejahtera. Hikmat ini bermula dari rasa takut akan Tuhan mendatangkan ketaatan dan membawa pada keberhasilan. Satu hal yang penting bahwa hikmat Allah ini sangat luas dan dalam sehingga manusia tidak akan pernah mampu memahami kebesaran hikmat Allah. Bagi orang Israel hikmat Allah saja yang hadir dalam proses penciptaan alam semesta sehingga tidak ada seorang manusia yang dapat menyamai hikmat Allah. Menurut Paulus dalam Perjanjian Baru Perihal hikmat, Paulus banyak belajar ketika ia masih menjadi seorang murid. Tentang konsep hikmat, Paulus selalu mengkaitkan dengan pemberitaan tentang Yesus. Dalam I Korintus 1 dan 2; Paulus menentang suatu hikmat yang dari segi intinya bertentangan dengan teologi salib yang diberitakan oleh Paulus. Sebab bagi Paulus, teologi salib adalah inti iman dan proklamasi orang Kristen. Karena itu, ia mendefinisikan kembali hikmat dalam terang salib dalam Kristologinya. Menurut Paulus, berita tentang salib adalah unsur yang tidak bisa diabaikan dalam pemberitaan Injil. Paulus menegaskan bahwa hanya di dalam dan melalui salib dan kematian Yesus, Allah menyatakan diri-Nya sendiri kepada dunia yang tidak dapat mengenal Allah melalui hikmatnya sendiri. Pemberitaan tentang salib juga mengungkapkan keadaan yang benar bahwa apa yang dunia anggap sebagai hikmat, bagi Allah merupakan suatu kebodohan dan apa yang dunia ini anggap suatu kekuatan, bagi Allah merupakan suatu kelemahan. Ini tidak berarti bahwa tidak ada kemungkinan untuk mengenal Allah, karena meskipun manusia gagal mengenal Allah berdasarkan hikmatnya sendiri, dapat mengenal Allah melalui pemberitaan tentang salib berdasarkan iman. Jadi mereka yang percaya akan memahami bahwa salib adalah kuasa dan hikmat Allah. Jelas, bahwa hikmat Allah yang Paulus maksudkan itu identik dengan Tuhan yang mulia itu. Hikmat itulah yang dicari oleh orang yang telah matang secara rohani untuk melakukan kebaikan bagi semua. Dalam Perjanjian Baru hikmat Allah nyata dalam diri Yesus bahwa Yesus sendirilah hikmat itu dan hikmat termulia dari Allah nyata lewat proses penyelamatan manusia lewat kematianNya di kayu salib. Menurut Paulus segala hikmat adalah kesia-sian jikalau tidak bermuara pada teologi penyaliban. Hal in juga merupakan kecaman keras terhadap gnostis suatu aliran hikmat duniawi zaman perjanjian Baru yang merupakan hasil asimilasi dengan kebudayaan helenisme.- TAFSIRAN Dalam pasal ini Salomo menekankan hal-hal yang sama dengan yang telah ditekankannya kepada kita dalam pasal-pasal sebelumnya, dengan berbagai ungkapan yang begitu indah dan dahsyat kuasanya. Di dalamnya terdapat imbauan yang sungguh-sungguh untuk mempelajari hikmat, yaitu tentang kesalehan sejati yang berasal dari didikan-didikan baik yang diberikan oleh ayahnya kepadanya dan diperkuat dengan berbagai alasan yang tepat (ay. 1-13) dan peringatan untuk menjauhi pergaulan buruk dan segala persekongkolan dengan pekerjaan kegelapan yang sia-sia (ay. 14-19) serta arahan-arahan khusus untuk memperoleh dan mempertahankan hikmat dan menghasilkan buah-buah hikmat itu (ay. 20-27). Ajakan yang dilayangkan Salomo kepada anak-anaknya untuk datang dan menerima didikan darinya (ay. 1-13): Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah. Artinya: Pertama, bahwa didikan dimulai dari dalam kehidupan keluarga. Keluarga menjadi unit pertama dari persekutuan untuk menjadi tempat didikan, ajaran, teladan dan pembentukkan. Kedua, biarlah semua kaum muda, dalam masa kecil dan masa remaja mereka, mau bersusah payah mendapatkan pengetahuan dan karunia, sebab masa-masa itu adalah masa yang tepat untuk belajar, supaya akal budi mereka dibentuk dan dididik. Sebab, di usia muda seperti itulah terletak harapan keberhasilan sebagaimana batang pohon juga mudah dibengkokkan ketika masih muda dan lemah. Ketiga, biarlah semua orang yang mau menerima didikan datang dengan sikap seperti anak-anak, sekalipun mereka sudah dewasa. Kiranya mereka menurut, dapat diajari, dan tidak mengandalkan diri sendiri. Kiranya mereka menerima nasihat itu sebagai perkataan dari seorang ayah, yang diucapkan dengan kuasa dan juga kasih sayang. Semua didikan berasal dari Allah sebagai Bapa kita di sorga, Bapa dari Roh kita, yang harus kita patuhi supaya kita hidup sebagai hikmat kehidupan. RENUNGAN Gereja terpanggil untuk menjalankan perannya sebagal gereja yang sesungguhnya memberi arah dan menuntun warganya untuk sanggup menjawab realitas dunia dan juga harus mampu membawa perubahan, yakni perbaikan, transfomasi, kemajuan dan peningkatan peran di tengah hidup berjemaat dan bermasyarakat dan pendidikan menjadi bagian integral dalam pelayanan gereja dan karenanya harus dilakukan dengan komitmen dan pengorbanan pengabdian diri kepada Tuhan. Jadi kebanggaan dengan berdirinya sekolah-sekolah sebagai 'peninggalan" yang sungguh berharga yang selama ini ada dan berperan penting tidak saja dalam hal berbagi informasi/pengetahuan dan wawasan lewat didikan, bimbingan dan ajaran, tetapi juga pembentukan watak dan mental yang bercirikan kekristenan bagi generasi masa kini untuk masa depan gereja dan bangsa. Meski terjadi di sana-sini pergumulan dan persoalan mutu atau penurunan kualitas tetapi menjadi penting adalah apa yang dapat kita buat secara langsung dan berguna untuk menjawab persoalan tersebut. Inilah tugas kita semua, termasuk tugas guru-guru agama Kristen yang selama ini memberi diri dengan sungguh. Peran pendidikan ini harus menjadi perhatian gereja sebagai bagian integral dari pelayanan gereja. Sejarah mencatat sejak dari dulu kecermerlangan pendidikan yang diasuh gereja, peran pendidikan gereja dalam membina dan mencerdaskan warganya mampu menghasilkan ke jenjang yang lebih tinggi, selalu tampil cemerlang bahkan pendidikan menjadi cikal bakal gereja didirikan dan berkembang dengan pesat. Untuk itulah sangat urgen disikapi dan diberi perhatian semua pihak, lewat kehadiran gereja dalam meneruskan “peninggalan berharga” dan mendirikan Sekolah-sekolah Kristen telah ikut mencerdaskan masyarakat hingga ke taraf yang lebih tinggi. Kita tidak perlu harus bertanya, apa peran gereja sekarang ini, tetapi yang harus dijawab, sebagai warga gereja semua terpanggil untuk memajukan pendidikan Kristen agar misi Kristus yang membawa manusia dari kegelapan pada terang dapat nyata di dunia melalui pendidikan. Dan melalui ciri-khasnya sebagai Sekolah Kristen akan terus memberi kontribusi bagi pencerdasan bangsa dan Negara serta pendidikan gereja dapat menciptakan pemahaman untuk saling menghargai dan mampu menempatkan diri ditengah-tengah keberagaman bangsa kita. Data GMIT menunjukan, ± 589 sekolah Kristen dari tingkat TK/PAUD - SMA/SMK yang berada di bawah Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) dan ± 200 - 250an sekolah yang didirikan oleh gereja di bawah yayasan pendidikan gereja setempat tersebar di wilayah pelayanan GMIT (NTT & Sumbawa-NTB). Dari sekian banyak sekolah GMIT yang ada, bisa dihitung dengan jari jumlah yang sekolah yang kondisi bangunan dan menajemennya tertata dengan baik dan menjadi sekolah rebutan para siswa dan orang tua. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor kelemahan: sekolah yang terancam ditutup karena Ijin Operasional Pendirian Sekolah, Kekurangan dana pendukung untuk membiayai para pendidik yang memberi diri untuk mendidik dan mengajar, kondisi bangunan sekolah yang buruk, manajemen yayasan dan sekolah yang terus diperbaharui dan juga kesadaran seluruh jemaat dalam dukungan/peran yang masih minim, kurangnya fasilitas dan sarana pendukung di sekolah-sekolah GMIT, kurangnya motifasi dan dukungan finansial dari orangtua anak, minimnya Dana untuk Operasional Sekolah, reduksi makna pelayanan oleh para pelaku pelayanan yang kurang melihat pendidikan sebagai bagian integral pelayanan gereja, belum adanya visi yang sama di kalangan para pelaku pelayanan. Semua ini menggugah kepedulian kita untuk dapat menata kelola sekolah-sekolah GMIT secara baik dan bertanggung jawab. Sebuah sekolah Kristen di New South Wales, Australia (IPEKA Integrated Christian School) menuliskan: “Orang-orang Kristen percaya bahwa dunia adalah milik Allah. Ia mempunyai rencana untuk dunia dan semua yang tinggal di dalamnya. Pendidikan Kristen bukan berarti menghindar dari dunia, melainkan berusaha terlibat dengan budaya dan mempersiapkan siswa-siswa untuk kehidupan yang merefleksikan, melayani dan memuliakan Allah. Pendidikan Kristen adalah mengakui Allah dalam setiap area mata pelajaran; bahkan, di setiap area kehidupan. Pendidikan Kristen berusaha menuntun siswa kepada eksplorasi dunia yang membuat mereka mengerti cara Allah yang mengagumkan dalam menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Pendidikan Kristen mendorong para siswa untuk menemukan potensi luar biasa di dalam diri mereka untuk bisa hidup berkecukupan dan produktif bila mereka melandaskan segala keputusan dan tindakan mereka pada komitmen terhadap Yesus Kristus dan jalan-jalan-Nya.” Sebuah tujuan mulia melalui pendidikan Kristen yang terselenggara sebagai bagian integral dalam pelayanan gereja. Pertanyaan refleksi? Sejauhmana pendidikan Kristen GMIT mengaplikasikan hakekatnya pendidikan Kristen dalam penyelengaraannya? Menjadi pergumulan bersama untuk mewujudnyatakannya dalam pendidikan di GMIT yang berlangsung selama ini. Bagaimana memperbesar kekuatan untuk mengatasi kelemahan sekaligus memanfaatkan peluang dan membatasi atau meminimalisir ancaman yang dapat merusak pelayanan GMIT di bidang pendidikan. Oleh karena itu peran semua pihak gereja menjadi penting dalam mendukung dan menunjang penyelenggaraan pendidikan Kristen GMIT yang telah berdiri bahkan seblum gereja hadir. Salah satu keputusan Persidangan Sinode tahun 2015 adalah alokasi dana 2 % (± Rp 3,8 M/tahun) bagi Pendidikan Kristen GMIT terutama sekolah-sekolah yang sudah berjalan bahkan hingga ratusan tahun, mencakup managemen sekolah melalui yayasan, kesejahteraan guru-guru honor setiap bulannya dan dengan dana ini diharapkan bisa mengcover anak-anak sekolah yang kurang mampu, dan dengan demikian kita menjadi bagian dari upaya mencerdasakan anak bangsa melalui pendidikan formal, tetapi dalam perjalanannya hingga kini masih belum maksimal, bahkan masih jauh dari harapan bersama sesuai data perincian keuangan sejak dari tahun 2015 penyetoran untuk dana 2% dari klasis ke sinode berkisar Rp. 200 - 300 juta/tahun. Melalui Firman Tuhan kita diingatkan tentang tanggung jawab yang besar sebagai gereja untuk benar-benar dan sungguh menyadari tentang pendidikan sebagai bagian integral dari pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Salomo mengingatkan kita tentang hikmat yang identik dengan pendidikan dan pengajaran, karena hikmat dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengajaran. Tujuan hikmat adalah mendapatkan kecakapan intelektual dan kemampuan untuk menyusun rencana dan menetapkan keputusan etis dalam kehidupan diri sendiri maupun orang lain, sehingga setiap didikan dan ajaran hakikatnya mempunyai tujuan sebagaimana bacaan kita : Pertama, dia harus mendengar dan menerima perkataan itu (ay. 10), tekun memerhatikan dan menyerapnya, sebagaimana tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya (Ibr. 6:7). Begitulah Allah menarik perhatian kita pada firman-Nya: Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku. Kedua, dia harus memegang contoh ajaran yang sehat yang diberikan ayahnya (ay. 4): Biarlah hatimu memegang perkataanku. Perkataan itu baru bisa dipegang jika perkataan tersebut ditanamkan dalam hati, terpatri dalam tekad dan kasih. Ketiga, dia harus menguasai dirinya sendiri dengan perkataan tersebut: Berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, taatilah, dan itulah cara untuk bertambah di dalam pengetahuan mengenai hal itu (Yoh. 7:17). Keempat, dia harus setia dan tinggal di dalam perkataan itu: “Jangan menyimpang dari perkataan mulutku (ay. 5), seakan-akan gentar menerima akibatnya yang terlalu besar bagimu, tetapi berpeganglah pada didikan (ay. 13), bertekad untuk tetap teguh dan tidak pernah mengabaikannya. Melalui bulan pendidikan ini (ketetapan Sinode GMIT), kita diimbau untuk berpikir bersama, bergumul bersama dan mengambil tindakan bersama yang tepat untuk mencurahkan perhatian penuh pada upaya membangun kesadaran bersama betapa pentingnya pendidikan Kristen bagi kehidupan gereja dan bangsa. Jangan sampai ke depan sekolah-sekolah Kristen GMIT hanya jadi “batu nisan” bagi masa depan gereja. (SB)
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
All Garis Besar: All Khotbah GMIT 2017: Khotbah GMIT Minggu, 13 Agustus 2017 - Minggu ke-10 sesudah Pentakosta Khotbah GMIT Minggu, 20 Agustus 2017 - Minggu ke-11 sesudah Pentakosta Khotbah GMIT Mingggu, 27 Agustus 2017 - Lukas 2:41-52 - Minggu ke-12 sesudah Pentakosta Alkitab Bahasa Rote Tii - Genesis(50) Alkitab Bahasa Rote Tii - Perjanjian Baru(96) Bacaan Alkitab GMIT 2017(12) Contoh Tata Ibadah GMIT(39) Khotbah GMIT 2017(3) Khotbah GMIT 2025(11) LAGU GEREJA ETNIK NTT(9) Lagu Rohani Timor(3) Pembacaan Alkitab GMIT(1) Renungan GMIT 2022(33) Renungan GMIT 2023(2) Tentang Gereja GMIT(1) Tentang GMIT(5) xxx(11) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |