|
|
Minggu, 20 Agustus 2017 Khotbah GMIT Minggu, 20 Agustus 2017 - Minggu ke-11 sesudah PentakostaUlangan 6:1-9 AJARKANLAH BERULANG-ULANG Umat Israel sedang dalam perjalanan dari tanah perbudakan di Mesir ke Tanah Perjanjian di Kanaan, di mana kelak mereka akan menetap. Mereka sedang dalam proses penjang pembentukan sebagai sebuah umat atau bangsa. Bangsa yang hendak dibangun adalah bangsa yang 'adil dan makmur", di negeri yang berlimpah susu dan madu, di kota-kota yang besar dan baik. Mereka akan menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tentu untuk itu, mereka harus membangun diri dalam segala aspek kehidupan, dan hal itu sudah dilakukan sementara mereka dalam perjalanan. Mereka belajar mengorganisir diri, dalam suku-suku, kaum, keluarga dan rumah tangga. Mereka membentuk, dan tentu melatih tentara. Mereka membangun sistem ibadah. Dan lain sebagainya. Satu hal yang unik pada bangsa Israel, adalah relasi mereka dengan TUHAN, dan tempat yang diberikan kepada TUHAN. Umat/bangsa Israel adalah bangsa yang “teokratis”, di mana sejatinya Allah yang memerintah. TUHANlah yang membentuk mereka sebagai sebuah bangsa. TUHANlah Pemilik dan Pemimpin/Raja mereka sesungguhnya. Para Pemimpin, seperti Musa, dan kemudian Hakim-hakim lalu Raja-raja hanyalah “wakil”, yang memimpin dan memerintah 'atas nama" Tuhan. Hidup di dalam dan memelihara prinsip “teokratis” itu, tidaklah mudah. Godaan dan tantangan dari dalam dan luar begitu kuat dan memikat, menggiring mereka menjauh dari TUHAN. Tidak mudah menjadi pribadi apalagi umat yang unik, yang berbeda. Karena itu, proses belajar umat Israel berlangsung lama dan intensif. Selama 40 tahun, sepanjang perjalanan di padang gurun, mereka belajar untuk menjadi “Umat Tuhan” yang benar dan setia. Pengalaman belajar umat Israel sangatlah berat. Mereka ternyata adalah umat yang “bebal”, tegar tengkuk, keras kepala, yang sangat susah diajar. Berkali-kali mereka mendapat teguran dan hajaran keras. Sesaat mereka sadar, tetapi kemudian kembali melakukan kesalahan. Hanya karena kasih setia Tuhan yang tetap memelihara perjanjian-Nya dengan mereka dan nenek moyang mereka, maka mereka bissa tetap bertahan. Di penghujung masa tugas nabi Musa, ketika umat Israel hampir sampai di penghujung perjalanan dan memasuki negeri perjanjian, nabi Musa mengumpulkan umat itu, dan sekali lagi mengajar mereka. Ia mengingatkan lagi sejarah panjang perjalanan mereka, khususnya pengalaman mereka bersama Tuhan. Dan Ia menyampaikan lagi ketetapan-ketetapan dan peraturan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Nabi Musa menegaskan, pertama, bahwa apa yang ia ajarkan itu adalah ketetapan dan peraturan yang diberikan oleh Tuhan sendiri, dan mereka harus memerhatikan dan melakukannya dengan setia. Firman, ketetapan dan peraturan Tuhan tidak hanya untuk didengarkan atau diketahui, atau dimengerti…. Tetapi untuk dilakukan. Baru ketika dilakukan, ada hasil dan dampaknya, bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan dan bagi umat secara keseluruhan. Jika itu mereka lakukan, maka keadaan mereka akan baik, dan mereka akan menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan Tuhan. Kedua, dan ini yang menjadi titik perhatian kita saat ini, mereka harus “mengajarkannya” kepada anak-anak mereka. Firman, ketetapan dan peraturan Tuhan tidak hanya untuk didengarkan, diketahui, dimengerti dan dilakukan oleh mereka yang mendengarkan waktu itu, oleh orang-orang dewasa itu, tetapi harus diteruskan, diwariskan kepada “anak-anak mereka”, dan proses pewarisan ini harus berjalan terus menerus, dari generasi ke generasi. Proses inilah yang menentukan, apakah mereka akan berumur panjang dan terus berkembang sebagai sebuah umat/bangsa, begitu juga bagi kita sekarang sebagai Gereja. Kita menyadari bahwa aspek pengajaran termasuk aspek yang paling diabaikan dalam kehidupan bergereja kita. Tidak heran kalau sedikit saja anggota Gereja yang memiliki pengetahuan dan pemahaman ajaran iman yang memadai. Syukur kalau yang sedikit itu, termasuk kita di sini. Bahkan ada gejala, makin sedikit yang mengenal kitab-kitab dalam Alkitab, makin sedikit yang mengenal tokoh-tokoh dalam Alkitab. Dan kalau kitab dan tokoh saja sudah seperti itu, bagaimana lagi dengan firman dan ajaran yang lebih dalam. Maka pengajaran seperti yang dilakukan oleh nabi Musa terhadap orang-orang dewasa dari umat Israel, sesungguhnya adalah sesuatu yang relevan dan makin relevan bagi kita umat Tuhan masa kini. Beberapa Jemaat telah mulai dengan menyelenggarakan kelas-kelas Sekolah Minggu atau kursus Alkitab untuk orang-orang dewasa, tidak hanya untuk anak-anak seperti sekarang ini. Karena hanya kalau orang-orang dewasa telah mengetahui, memahami dan melakukan ajaran-ajaran itu, baru ia bisa mengajarkannya kepada anak-anak dan generasi selanjutnya. Pengajaran itu harus dilakukan berulang-ulang, dengan cara membicarakannya “di mana saja dan kapan saja”: waktu duduk di rumah, waktu dalam perjalanan, waktu berbaring dan waktu bangun. Hal “Keberulang-ulangan” ini adalah hal yang sangat penting, tetapi menjadi masalah besar bagi kebanyakan kita pada masa kini. Kita sering merasa tidak punya cukup waktu, dan tidak punya cukup kesabaran untuk itu. Tetapi, tidak ada pilihan lain, jika kita ingin bahwa ajaran-ajaran itu bisa diingat dan dibiasakan. Kebutuhan akan 'keberulang-ulangan" itu makin mendesak di era modern ini, di mana kita semua, dan lebih-lebih lagi, anak-anak kita, dilanda oleh banjir informasi yang begitu dahsyat. Informasi akan berkelebat begitu cepat, dan hanya informasi yang berulang-ulang yang bisa mengendap dalam memori. Hal ini telah dimanfaatkan oleh dunia periklanan sejak lama. Sayang, sebab nasehat ini sudah sejak ribuan tahun diberikan kepada umat Tuhan. 'Keberulang-ulangan" itu makin perlu, jika sasaran pengajaran itu hingga pada taraf pemahaman dan pembiasaan/internalisi. Dan memang ini yang dikehendaki oleh Tuhan. Ketika sesuatu menjadi kebiasaan dan tradisi, maka sesuatu itu akan dilakukan 'dengan sendirinya", tanpa perlu lagi diingatkan atau disuruh-suruh. “Prinsip-prinsip” pengajaran Alkitab ini sebenarnya bisa berlaku bagi semua hal dan bidang yang perlu dan berguna bagi kehidupan: Pengajaran yang berulang-ulang. Amin! (RBM)
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
All Garis Besar: All Khotbah GMIT 2017: Khotbah GMIT Minggu, 13 Agustus 2017 - Minggu ke-10 sesudah Pentakosta Khotbah GMIT Minggu, 20 Agustus 2017 - Minggu ke-11 sesudah Pentakosta Khotbah GMIT Mingggu, 27 Agustus 2017 - Lukas 2:41-52 - Minggu ke-12 sesudah Pentakosta Alkitab Bahasa Rote Tii - Genesis(50) Alkitab Bahasa Rote Tii - Perjanjian Baru(96) Bacaan Alkitab GMIT 2017(12) Contoh Tata Ibadah GMIT(39) Khotbah GMIT 2017(3) Khotbah GMIT 2025(11) LAGU GEREJA ETNIK NTT(9) Lagu Rohani Timor(3) Pembacaan Alkitab GMIT(1) Renungan GMIT 2022(33) Renungan GMIT 2023(2) Tentang Gereja GMIT(1) Tentang GMIT(5) xxx(11) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |