| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2023 Sabtu, 10 Juni 2023 Renungan Gereja Toraja Sabtu, 10 Juni 2023 - BELAJAR DARI BURUNG UNTA (Melada` lako Unta) - Ayub 39:16-21Ayub 39:16-21 39:13 (#39-#16) Dengan riang sayap burung unta berkepak-kepak, tetapi apakah kepak dan bulu itu menaruh kasih sayang? 39:14 (#39-#17) Sebab telurnya ditinggalkannya di tanah, dan dibiarkannya menjadi panas di dalam pasir, 39:15 (#39-#18) tetapi lupa, bahwa telur itu dapat terpijak kaki, dan diinjak-injak oleh binatang-binatang liar. 39:16 (#39-#19) Ia memperlakukan anak-anaknya dengan keras seolah-olah bukan anaknya sendiri; ia tidak peduli, kalau jerih payahnya sia-sia, 39:17 (#39-#20) karena Allah tidak memberikannya hikmat, dan tidak membagikan pengertian kepadanya. 39:18 (#39-#21) Apabila ia dengan megah mengepakkan sayapnya, maka ia menertawakan kuda dan penunggangnya. Penjelasan: * Hikmat dan misteri. Setelah Elihu menegaskan bahwa Allah tak dapat ditemui (ayat 37:23), kita dikejutkan dengan kehadiran Yahweh. Kehadiran Allah seakan merupakan pembenaran diri-Nya. Namun, kita melihat bahwa Allah tidak menjawab tuduhan Ayub, melainkan bertanya, menyudutkannya lagi sama seperti yang dilakukan Elihu dalam 37:15-18. Argumen Allah adalah bahwa Ayub ternyata tidak memahami desain yang diciptakan-Nya (ayat 38:2). Kebesaran Allah ini menunjukkan bahwa Ia tidak terkungkung atau dikotak-kotakan dalam pikiran sempit Ayub dan teman-temannya. Pertemuan ini mengubah konsep Ayub. Yahweh datang dalam badai, suatu tanda kemurkaan. Ayub mungkin berpikir bahwa ia akan dihancurkan Allah. Tetapi, ternyata Allah hanya menusuk dengan kata-kata. Jika Ayub ada waktu penciptaan, ia pasti memiliki hikmat Allah. Perkataan Yahweh selebihnya terdiri dari 2 bagian. Pertama, tentang keteraturan dunia (ayat 38:12-38) dan kedua, tentang dunia binatang (ayat 38:39-39:30). Di bagian pertama, Allah berbicara tentang embun dan pagi (ayat 38:12-15), tentang dunia bawah tanah (ayat 38:16-18), tentang terang dan kegelapan (ayat 38:19-21), tentang salju, hujan batu, dan guruh (ayat 38:22-24), tentang hujan (ayat 38:25-28), tentang es dan embun beku (ayat 38:29-30), tentang langit dan gugusannya (ayat 38:31-33), dan tentang guntur dan awan (ayat 38:34-38). Ayub terpojok. Ia tidak memiliki hikmat penciptaan. Ia tidak memiliki hikmat Allah. Di bagian kedua, serentetan binatang liar yang asing bagi Ayub didaftarkan: singa (ayat 39:1-2), burung gagak, kambing gunung, dan rusa (ayat 39:3-7), keledai liar (ayat 39:8-11), lembu hutan (ayat 39:12-15), burung unta (ayat 39:16-21), burung elang dan rajawali (ayat 39:29-33), kecuali kuda perang yang tidak liar (ayat 39:22-28). Binatang-binatang liar ini disebutkan untuk menunjukkan ada hal-hal yang berada di luar jangkauan berpikir dan hikmat Ayub. Hal ini ditegaskan kembali dengan penyebutan kuda perang yang ideal yang menunjukkan bahwa Ayub memang tak memiliki hikmat seperti Yahweh. * BELAJAR DARI BURUNG UNTA Burung unta adalah salah satu burung yang unik. Selain tidak bisa terbang, burung unta juga dilukiaskan dalam kitab Ayub sebagai binatang yang bodoh tetapi sombong. Bodoh karena membiarkan telurnya begitu saja dan tak peduli kepada anaknya. Ia “sombong” karena menertawakan kuda dan penunggangnya, pada hal ia juga hanya bisa mengepakkan sayapnya tetapi tak bisa terbang. Kalau ia berlaku bodoh, itu wajar karena memang Tuhan tidak memberinya hikmat. Pelajaran apakah yang hendak Tuhan sampaikan kepada Ayub dengan mengambil burung unta sebagai ilustrasi? Yang pertama, sombong dan bodoh rupanya itu selalu ada bersama. Orang bodoh cenderung sombong, dan orang sombong sesunggguhnya adalah orang yang mengumumkan kebodohannya. Bisa dikatakan, bodoh adalah sikap yang muncul orang yang dengan sedikit pengetahuan saja sudah merasa di atas dari yang lain. Jangan sampai menjadi seperti burung untah dalam hal ini. Kedua, meskipun burung unta itu bodoh, ia ternyata bisa berkembangbiak dan sampai hari ini ia tidak punah. Ia kelihatan bodoh, tetapi kuasa dan pemeliharaan Tuhan tidaklah berkurang, berlaku juga untuk yang bodoh. Kita juga adalah orang-orang bodoh, dalam arti penuh keterbatasan dan memang sering bertindak bodoh serta bersikap sombong. Kita beruntung oleh karena kebodohan dan kesombongan kita tidak diperhitungkan Allah. Pemeliharaan dan penyelamatan-Nya tidak mensyaratakan kelayakan dalam ukuran tertentu. Namun, orang yang telah diselamatkan juga dipanggil untuk bertumbuh dalam hikmat yang dari Allah, hikmat yang membawa kita semakin serupa dengan gambaran Anak-Nya (Rm. 8:29)
Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Renungan Gereja Toraja Jumat, 02 Juni 2023 - TUHAN MENATA SEMUANYA (Puang Matua unnatoi tu mintuna) - Mazmur 104:10-18 All Renungan Gereja Toraja 2023: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |