lagu-gereja.com/toraja

View : 329 kali
2 Raja-Raja 2:13-18
2:13 Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan. 2:14 Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: "Di manakah TUHAN, Allah Elia?" Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa. 2:15 Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: "Roh Elia telah hinggap pada Elisa." Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah. 2:16 Mereka berkata: "Coba lihat! Di antara hamba-hambamu ini ada lima puluh orang laki-laki, orang-orang tangkas. Biarlah mereka itu pergi mencari tuanmu, jangan-jangan ia diangkat oleh Roh TUHAN dan dilemparkan-Nya ke atas salah satu gunung atau ke dalam salah satu lembah." Elisa menjawab: "Janganlah suruh pergi!" 2:17 Tetapi ketika mereka mendesak-desak dia sampai memalukan, maka berkatalah ia: "Suruhlah pergi!" Mereka menyuruh lima puluh orang. Orang-orang ini mencari tiga hari lamanya, tetapi tidak bertemu dengan Elia. 2:18 Ketika mereka kembali kepada Elisa yang masih tinggal di kota Yerikho, berkatalah ia kepada mereka: "Bukankah telah kukatakan kepadamu: Jangan pergi?"

Penjelasan:
* Jubah Elia pada Elisa (2:13-18)

Setelah pengangkatan Elia.

I. Bukti-bukti kehadiran Allah beserta Elisa, dan tanda-tanda pengangkatannya menggantikan Elia, untuk menjadi bapa bagi para rombongan nabi serta kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda, seperti gurunya itu.
            1. Elisa memiliki jubah Elia, lambang jabatannya, yang dapat kita duga dipakainya dan dikenakannya demi tuannya itu (ay. 13). Sewaktu Elia pergi ke sorga, meski ia tidak membiarkan raganya terjatuh seperti halnya orang lain, ia membiarkan jubahnya terjatuh. Ia tidak mengenakan pakaian, supaya keabadian dapat dikenakan kepadanya. Ia pergi menuju sebuah dunia tempat ia tidak memerlukan jubah untuk menghiasi dirinya, atau untuk melindunginya dari cuaca, atau untuk menyelubungi wajahnya (1Raj. 19:13). Ia meninggalkan jubahnya sebagai warisan bagi Elisa Meski jubah itu sendiri hanya bernilai kecil, tetapi karena jubah itu merupakan bukti turunnya Roh ke atas Elisa, nilainya melebihi seandainya Elia mewariskan kepadanya ribuan keping emas dan perak. Elisa mengambilnya, tidak sebagai pusaka sakti yang harus disembah, tetapi sebagai pakaian kebesaran untuk dikenakan serta sebagai ganti rugi pakaiannya sendiri yang telah dikoyakkannya. Elisa mencintai jubah ini sejak pertama kali itu dilemparkan kepadanya (1Raj. 19:19). Ia yang pada saat itu dengan penuh sukacita mematuhi panggilan Elia melalui jubah itu, dan menjadi pelayannya, kini dimuliakan oleh jubah itu, dan menjadi penerus tuannya. Ada banyak peninggalan orang-orang besar dan baik, yang seperti jubah itu, sebaiknya dikumpulkan dan dilestarikan oleh orang-orang yang masih hidup, yaitu segenap perkataan, tulisan, dan teladan mereka, supaya seperti halnya pekerjaan-pekerjaan mereka dapat mendapat penghargaan dan terus berlanjut melalui semuanya itu, juga agar segenap peninggalan mereka itu dapat tinggal dan memberi manfaat bagi orang-orang yang masih hidup.
            2. Elisa memiliki kuasa seperti Elia untuk membelah sungai Yordan (ay. 14). Setelah berpisah dengan bapanya, Elisa kembali kepada anak-anaknya yang ada di sekolah bagi para nabi. Sungai Yordan, yang sebelumnya telah dibelah untuk memberi jalan bagi Elia menuju kemuliaannya, terbentang di antara dirinya dan mereka. Elisa akan mencoba, apakah sungai ini akan terbelah untuk memberinya jalan guna menunaikan tugasnya, dan dengan itu, ia akan mengetahui bahwa Allah besertanya, dan bahwa ia memiliki dua bagian dari roh Elia. Mujizat terakhir Elia akan menjadi mujizat pertama Elisa. Demikianlah Elisa memulai karyanya dari tempat Elia meninggalkannya, supaya tidak ada kekosongan. Sewaktu membelah sungai Yordan,
                (1) Elisa mempergunakan jubah Elia, seperti yang diperbuat Elia (ay. 8), untuk menunjukkan bahwa ia bertekad mempertahankan cara-cara yang dipakai tuannya dan tidak akan memperkenalkan hal-hal baru, seperti cenderung diperbuat orang-orang yang berpikir dirinya lebih berhikmat daripada pendahulu mereka.
                (2) Elisa memohon kepada Allahnya Elia: Di manakah Tuhan, Allah Elia? Ia tidak bertanya, “Di manakah Elia?” sebagai ungkapan perasaannya atas kehilangan tuannya, seolah-olah ia tidak bisa tenang ketika kini tuannya telah tiada, atau sebagai ungkapan keraguannya akan kebahagiaan tuannya, seolah-olah, seperti yang dikhawatirkan para rombongan nabi, ia tidak tahu apa yang terjadi pada diri tuannya. Atau juga, sebagai ungkapan rasa ingin tahunya akan keadaan tuannya, khususnya akan hal-hal terperinci perihal tempat ke mana tuannya itu terangkat. Tidak, itu adalah hidup yang tersembunyi, belumlah diketahui akan menjadi apa kita di masa mendatang. Atau pun sebagai ungkapan kebutuhannya akan pertolongan dari tuannya. Tidak, Elia kini sudah berbahagia, tetapi ia tidaklah mahatahu atau mahakuasa. Karena itulah, Elisa bertanya, Di manakah Tuhan, Allah Elia? Kini ketika Elia telah diangkat ke sorga, Allah dengan limpahnya telah membuktikan diri-Nya sebagai Allah Elia. Andai kata Ia tidak mempersiapkan bagi Elia kota itu, dan tidak berbuat lebih baik baginya di sana daripada yang pernah diperbuat baginya di dunia ini, Ia pasti akan malu disebut Allahnya (Ibr. 11:16; Mat. 27:31-32). Kini ketika Elia telah diangkat ke sorga, Elisa menanyakan,
                    [1] Allah. Ketika makhluk ciptaan yang menjadi penghiburan kita diambil, kita mempunyai Allah untuk kita datangi, Allah yang hidup sampai selama-lamanya.
                    [2] Allah Elia, Allah yang dilayani Elia, yang dimuliakannya, yang menjadi tempatnya memohon dan bersandar pada waktu seluruh Israel mencampakkannya. Kemuliaan ini akan diberikan kepada orang-orang yang berpaut kepada Allah pada masa-masa ketika banyak orang murtad dari-Nya, yaitu bahwa Allah secara khusus akan menjadi Allah mereka. “Allah yang empunya Elia, yang telah melindungi dan memeliharanya, serta yang dengan berbagai cara telah memuliakannya, khususnya kini ketika ia sudah tiada di dunia ini, di manakah Dia? Tuhan, bukankah kepadaku telah dijanjikan roh Elia? Genapilah janji itu.” Kata-kata dalam bahasa asli yang mengikuti pertanyaan “Di manakah TUHAN,” yaitu Aphhis ” yaitu Ia, yang disusul dengan kalimat berikut, Ia memukul air itu, dipandang beberapa penafsir merupakan jawaban dari pertanyaan ini, Di manakah Allah Elia? Etiam ille adhuc superest ” “Dia tetap hidup dan dekat. Kita telah kehilangan Elia, tetapi kita tidak kehilangan Allahnya Elia. Dia tidak meninggalkan dunia. Bahkan Dia masih tetap tinggal bersamaku.” Catatlah, Pertama, tanggung jawab dan hal penting bagi orang-orang kudus di bumi adalah mencari Allah, dan memohon kepada-Nya sebagai Tuhan Allah dari para orang kudus yang telah terlebih dulu pergi ke sorga, Allah nenek moyang kita (1Taw. 12:17). Kedua, barang siapa mencari Dia akan memperoleh penghiburan besar. Dia ada di dalam bait-Nya yang kudus (Mzm. 11:4) dan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya (Mzm. 145:18). Ketiga, barang siapa melangkah menurut roh dan jalan para pendahulu mereka yang saleh dan setia, pasti akan mengalami kasih karunia yang sama dengan yang dialami para pendahulu mereka. Allahnya Elia akan menjadi Allahnya Elisa juga. Tuhan Allah dari para nabi kudus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Dan lagi, apa gunanya bagi kita memiliki jubah-jubah mereka yang telah tiada, tempat-tempat mereka, buku-buku mereka, ketika kita tidak memiliki roh mereka, Allah mereka?
            3. Elisa memperoleh tempat di hati para rombongan nabi seperti Elia dahulu (ay. 15). Beberapa orang dari rombongan nabi yang bersekolah di Yerikho, yang telah menetap dengan nyaman di dekat sungai Yordan, ketika menyaksikan apa yang terjadi, terheran-heran ketika menyaksikan sungai Yordan terbelah di hadapan Elisa pada waktu ia kembali. Dan mereka pun memahaminya sebagai suatu bukti meyakinkan bahwa roh Elia telah hinggap padanya, dan oleh karenanya, mereka harus menghormati dan mematuhinya seperti mereka menghormati dan mematuhi Elia. Mereka pun lalu pergi menemuinya untuk memberinya selamat atas keberhasilannya melintasi api dan air dengan aman, serta atas kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya. Maka, sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah. Mereka dididik di sekolah-sekolah nabi, sementara Elisa diambil ketika sedang membajak, tetapi ketika menyaksikan bahwa Allah beserta Elisa, dan bahwa dia adalah orang yang Allah berkenan menghormatinya, mereka pun dengan segera tunduk kepadanya sebagai kepala dan bapa mereka, seperti halnya orang Israel tunduk kepada Yosua sewaktu Musa telah mati (Yos. 1:17). Barang siapa tampak memiliki Roh dan keberadaan Allah beserta mereka, harus mendapat penghormatan dan kasih kita yang terbaik, tanpa melihat kehinaan latar belakang dan pendidikan mereka. Kepatuhan yang dengan sukarela ditunjukkan para rombongan nabi ini tentu saja menjadi pendorong besar bagi Elisa dan membantu memperjelas panggilannya.

II. Pencarian sia-sia para rombongan nabi akan Elia.
            1. Mereka berpendapat bahwa Elia mungkin telah dihempaskan, entah hidup atau mati, ke atas gunung atau ke suatu lembah. Karena itu, mereka rela mengutus beberapa orang kuat untuk mencari dia (ay. 16). Beberapa dari antara mereka mungkin mencetuskan gagasan ini sebagai bentuk penolakan atas pemilihan diri Elisa: “Pertama-tama, kita harus yakin bahwa Elia betul-betul telah pergi. Masakan Elia dicampakkan begitu saja oleh sorga, padahal ia merupakan sebuah bejana pilihan?”
            2. Elisa tidak menyetujui gagasan mereka itu, tetapi akhirnya ia menyerah setelah didesak-desak (ay. 17). Mereka memaksanya sampai ia merasa malu menentangnya lebih lanjut, supaya jangan ia disangka tidak menghormati tuannya atau enggan menyerahkan jubah itu kembali. Orang bijak boleh saja mengalah kepada sesuatu yang menurut penilaian mereka tidak perlulah dan tidak ada gunanya, demi kedamaian dan pendapat baik orang lain.
            3. Perkara itu membuat robongan nabi itu malu akibat permintaan mereka sendiri, sama seperti mereka, lewat rengekan mereka, telah membuat Elisa malu karena telah menentangnya. Utusan mereka, setelah lelah mencari tanpa hasil, kembali dengan jawaban non est inventus ” ia tidak bisa ditemukan, dan ini memberi Elisa kesempatan untuk menegur para sahabatnya itu atas kebodohan mereka: Bukankah telah kukatakan kepadamu: Jangan pergi? (ay. 18). Kenyataan ini membuat mereka akan lebih bersedia untuk mematuhi pertimbangan Elisa lain kali. Kita tidak akan pernah sampai kepada Elia dengan cara melintasi gunung dan lembah, tetapi kita, pada waktunya nanti, akan sampai kepadanya dengan meneladani iman dan kegigihannya yang kudus.


Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Rabu, 24 Mei 2023 - KEKUASAANNYA TAK TERBATAS (Tangmaangge tu Kuasan-Na) - Mazmur 99:1-5


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Senin, 22 Mei 2023 - TOBANG BELANNA MENTIROSENGA (Jatuh karena Melihat yang lain) - 2 Raja-Raja 12:1-12


All Renungan Gereja Toraja 2023:
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login