| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2023 Jumat, 21 April 2023 Renungan Gereja Toraja Jumat, 21 April 2023 - Jangan Ragukan - 1 Korintus 15:20-261 Korintus 15:20-26 15:20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. 15:21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. 15:22 Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. 15:23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. 15:24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. 15:25 Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. 15:26 Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Penjelasan: * Kebangkitan Kristus; Kebangkitan Orang-orang Kudus (1 Korintus 15:20-26) Pada bagian ini Rasul Paulus meneguhkan kebenaran mengenai kebangkitan dari antara orang mati, kematian yang kudus, kematian di dalam Kristus, I. Mengenai kebangkitan Kristus. 1. Karena Kristus benar-benar yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (ay. 20). Ia telah benar-benar membangkitkan diri-Nya sendiri, dan Ia telah bangkit dengan ciri dan sifat yang sama, sebagai yang sulung dari orang-orang yang meninggal di dalam Dia. Sebagaimana Ia pasti telah bangkit, maka di dalam kebangkitan-Nya terdapat jaminan yang sebenar-benarnya bahwa orang-orang yang telah meninggal di dalam Dia akan bangkit seperti halnya tuaian bangsa Yahudi dahulu diterima dan diberkati melalui persembahan dan penerimaan buah-buah sulung. Sama seperti seluruh adonan juga dibuat kudus oleh pentahbisan roti sulung (Rm. 11:16), begitu juga tubuh Kristus secara keseluruhan, semua orang yang oleh iman telah dipersatukan kepada-Nya, dijamin kebangkitannya oleh ke bangkitan Kristus. Sebagaimana Ia telah bangkit, mereka juga akan bangkit, sama seperti adonan itu kudus karena roti sulung yang juga kudus. Ia tidak bangkit hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi bangkit sebagai kepala untuk tubuh, yaitu jemaat-Nya. Dan mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia (1Tes. 4:14). Perhatikanlah, kebangkitan Kristus merupakan janji dan jaminan bagi kita, jika kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Karena Dia telah bangkit, kita juga akan dibangkitkan. Kita menjadi bagian dari adonan yang ditahbiskan, dan akan turut mengambil bagian dalam penerimaan dan perkenanan yang dikaruniakan kepada buah-buah sulung. Ini adalah alasan pertama yang digunakan oleh Rasul Paulus untuk menegaskan kebenaran ini, dan hal ini, 2. Digambarkan melalui sebuah perbandingan antara Adam yang pertama dan yang kedua. Sebab sama seperti maut datang oleh satu orang manusia, maka pantas jugalah kalau oleh satu orang manusia datang pula kelepasan dari maut itu, atau kebangkitan orang mati (ay. 21). Jadi, sebab sama seperti dalam persekutuan dengan Adam semua orang mati, demikian pula dalam persekutuan dengan Kristus semua orang akan dihidupkan kembali. Sebagaimana melalui dosa Adam yang pertama manusia mengalami kematian karena semuanya menerima tabiat dosa yang sama darinya, demikian jugalah melalui jasa dan kebangkitan Kristus semuanya memperoleh bagian di dalam Roh dan tabiat rohaniah-Nya, dihidupkan kembali dan memperoleh hidup yang kekal. Semua orang yang mati, mati karena dosa Adam. Menurut pengertian Rasul Paulus, semua orang yang dibangkitkan, dibangkitkan melalui jasa dan kuasa Kristus. Tetapi maksudnya tidaklah bahwa sebagaimana semua orang mati di dalam Adam, maka semua orang, tanpa kecuali, akan dihidupkan di dalam Kristus. Penjelasan Rasul Paulus membatasi makna umum seperti ini. Kristus bangkit sebagai buah sulung, maka semua orang yang menjadi milik-Nya (ay. 23) akan dibangkitkan juga. Oleh karena itu, ini tidak berarti bahwa semua orang akan dibangkitkan tanpa kecuali, melainkan tepatnya semua orang yang bangkit, dibangkitkan karena jasa kebangkitan Kristus, sehingga kebangkitan mereka itu disebabkan oleh manusia Kristus Yesus, sebagaimana kematian semua orang disebabkan oleh manusia yang pertama. Jadi, seperti oleh manusia masuk kematian, oleh manusia pula datang pembebasan. Dengan demikian sesuailah dengan hikmat ilahi bahwa sebagaimana Adam yang pertama menghancurkan keturunannya karena dosa, Adam yang kedua akan membangkitkan keturunan-Nya kepada kekekalan yang mulia. 3. Sebelum ia menyudahi pembahasannya, ia menyatakan bahwa akan ada urutan kebangkitan yang dapat diamati. Bagaimana tepatnya urutan itu tidak disebutkan di sini, namun dikatakan bahwa secara umum akan ada urutan. Mungkin orang-orang yang lebih dahulu dibangkitkan adalah mereka yang memiliki peringkat tertinggi dan telah melakukan pelayanan yang paling unggul, atau menanggung penderitaan kejam yang paling memilukan, atau mengalami kematian akibat penganiayaan yang mengerikan, bagi kepentingan Kristus. Di sini hanya dikatakan bahwa Kristus sebagai buah sulung akan dibangkitkan terlebih dahulu, dan sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Tidaklah berarti bahwa kebangkitan Kristus harus terjadi sebelum kebangkitan umat-Nya, supaya kebangkitan-Nya itu diletakkan sebagai dasar. Sama seperti orang-orang yang tinggal jauh dari Yerusalem tidak perlu pergi ke sana dan mempersembahkan buah-buah sulung itu, sebelum mereka dapat menganggap adonan itu kudus. Untuk menguduskan semuanya, mereka hanya perlu memisahkan dan mengkhususkan buah-buah sulung itu sampai buah-buah itu dapat dipersembahkan, yang dapat dilakukan kapan saja sejak saat hari raya Pentakosta sampai hari raya Pentahbisan Bait Suci. (Lihat penafsiran Uskup Agung Patrick atas Bil. 24:2). Persembahan buah-buah sulung inilah yang menguduskan adonan. Dengan demikian adonan itu menjadi kudus karena persembahan itu, walaupun persembahan itu dilakukan sebelum hasil tuaian dikumpulkan, hanya perlu disisihkan untuk maksud persembahan itu, dan kemudian dipersembahkan sebagaimana mestinya. Jadi, sesuai sifatnya kebangkitan Kristus harus mendahului kebangkitan orang-orang kudus-Nya, walaupun ada beberapa di antaranya yang mungkin telah bangkit terlebih dahulu sebelum Dia. Karena Ia telah bangkit, maka mereka bangkit. Perhatikanlah, orang orang yang menjadi milik Kristus harus dibangkitkan karena hubungan mereka dengan Dia. II. Rasul Paulus memberikan alasan dengan melihat keberlangsungan dari kerajaan Sang Pengantara, yaitu yang berlangsung sampai semua musuh-musuh-Nya dihancurkan, dan yang terakhir dibinasakan ialah maut (ay. 24-26). Kristus telah bangkit, dan saat kebangkitan-Nya, Ia dipercayakan dengan kerajaan yang berdaulat, yang kepada-Nya telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:18), dan dikaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya setiap lutut akan bertekuk di hadapan-Nya, dan setiap lidah mengaku bahwa Dia adalah Tuhan (Flp. 2:9-11). Dan pemerintahan kerajaan ini akan tetap dipegang-Nya sampai semua pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan musuh dibinasakan (ay. 24), sampai semua musuh-Nya diletakkan di bawah kaki-Nya (ay. 25), dan sampai musuh yang terakhir dibinasakan, yaitu maut (ay. 26). 1. Alasan ini menyiratkan semua hal-hal khusus sebagai berikut: (1) Bahwa Juruselamat kita bangkit dari kematian untuk memperoleh semua kuasa di tangan-Nya dan memegang pemerintahan suatu kerajaan, sebagai Pengantara: Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Rm. 14:9). (2) Bahwa kerajaan pengantaraan ini akan berakhir setidaknya sampai dapat membawa umat-Nya dengan selamat menuju kemuliaan dan menaklukkan semua musuh-Nya dan musuh-musuh umat-Nya: Kemudian tibalah kesudahannya (ay. 24). (3) Bahwa kerajaan itu akan tetap berlanjut sampai segala kekuasaan musuh dibinasakan dan semua musuh diletakkan di bawah kaki-Nya (ay. 24-25). (4) Bahwa di antara semua musuh-Nya, maut harus dibinasakan (ay. 26) atau dimusnahkan, kuasa maut atas umat-Nya harus ditiadakan. Sampai sejauh itulah Rasul Paulus memberikan pernyataannya secara jelas, tetapi ia meninggalkan kita untuk menyimpulkan sendiri bahwa orang-orang kudus harus bangkit, kalau tidak maut dan kubur akan berkuasa atas mereka, juga kuasa kerajaan Juruselamat kita tidak akan dapat mengalahkan musuh terakhir umat-Nya dan membatalkan kuasanya. Ketika orang-orang kudus hidup kembali dan tidak dapat mati lagi, maka pada saat itulah maut akan ditiadakan, yang harus terjadi sebelum kerajaan pengantaraan dari Juruselamat kita itu diserahkan kepada Allah Bapa, yang harus terjadi tepat pada waktunya. Oleh karena itu, orang-orang kudus akan hidup kembali dan tidak dapat mati lagi. Inilah tujuan dari penjelasan yang diberikan Rasul Paulus. Akan tetapi, 2. Rasul Paulus menyampaikan beberapa petunjuk yang patut diperhatikan, seperti, (1) Bahwa Juruselamat kita, sebagai manusia dan sebagai pengantara antara Allah dan manusia memiliki kuasa rajawi yang dipercayakan kepada-Nya, yaitu sebuah kerajaan: Segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya, Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya (ay. 27). Sebagai manusia, segala kuasa-Nya harus diperoleh dari pelimpahan kuasa. Dan walaupun tugas pengantaraan-Nya itu mengharuskan adanya kodrat ilahi-Nya, namun sebagai Pengantara tidak begitu jelas Ia memiliki sifat-sifat Allah. Ia bertindak sebagai seorang pribadi yang berdiri di antara Allah dan manusia, memiliki kedua sifat itu, manusiawi dan ilahi, sebab Ia harus mendamaikan kedua belah pihak, Allah dan manusia. Ia menerima penugasan dan kuasa dari Allah Bapa untuk bertindak dalam jabatan ini. Sang Bapa tampil di dalam seluruh masa penyelenggaraan ini, dalam keagungan dan kuasa Allah: sedangkan Sang Anak, yang menjadi manusia, tampil sebagai pelayan Bapa, walaupun Ia sendiri adalah Allah sama seperti Bapa. Bagian ini juga tidak boleh dipahami bahwa Ia memiliki kekuasaan kekal atas semua makhluk, karena kekuasaan demikian adalah kekuasaan-Nya sebagai Allah. Jadi bagian ini harus dimengerti sebagai berbicara mengenai suatu kerajaan yang dipercayakan kepada-Nya sebagai Pengantara dan manusia-Allah. Bagian ini juga menyatakan bahwa terutama sesudah kebangkitan-Nya, ketika Ia telah memperoleh kemenangan, Ia akan duduk bersama sama Bapa di atas takhta-Nya (Why. 3:21). Pada saat itulah nubuat itu digenapi, Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus (Mzm. 2:6), mendudukkan-Nya di atas takhta-Nya. Inilah yang dimaksudkan oleh ungkapan yang begitu sering disebutkan di dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru, yaitu tentang duduk di sebelah kanan Allah (Mrk. 16:19; Rm. 8:34; Kol. 3:1, dst.), duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa (Mrk. 14:62; Luk. 22:69), du-duk di sebelah kanan takhta Allah (Ibr. 12:2), duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga (Ibr. 8:1). Duduk di atas takhta ini berarti Ia menjalankan kuasa pengantaraan dan kerajaan-Nya, yang dilaksanakan pada saat Ia naik ke sorga (Mrk. 16:19). Hal ini dibicarakan di dalam Kitab Suci untuk meninggikan Dia sebagai upah atas kehinaan-Nya yang mendalam dan kerendahan diri-Nya dalam menjadi manusia, serta mati bagi manusia di atas kayu salib yang terkutuk itu (Flp. 2:6-12). Pada saat naik ke sorga, Dia telah diberikan kepada jemaat sebagai Kepala atas segala yang ada, diberi kuasa untuk memerintah dan melindungi jemaat terhadap semua musuhnya, dan pada akhirnya membinasakan semua musuh itu dan menyempurnakan keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kuasa ini bukanlah kuasa yang berkaitan dengan diri-Nya sebagai salah satu pribadi Allah. Ini bukanlah kuasa tidak terbatas yang dimiliki-Nya dari awal mula, melainkan kuasa yang dilimpahkan kepada-Nya dan terbatas untuk tujuan khusus. Walaupun Kristus yang memiliki kuasa itu adalah Allah, namun di dalam masa penyelenggaraan ini Ia tidak bertindak sebagai Allah tetapi sebagai Pengantara, Ia menjadi sedikit berbeda dengan Allah. Ia bertindak bukan sebagai Yang Mahabesar yang telah dirugikan, melainkan sebagai pribadi yang membela makhluk-makhluk-Nya yang bersalah. Ia melakukan hal ini atas persetujuan-Nya sendiri dan berdasarkan tugas yang diberikan kepada-Nya, dan Ia selalu bertindak dan tampil dalam sifat-sifat seperti itu. Karena itu, lebih tepat kalau dikatakan bahwa kuasa itu dikaruniakan kepada-Nya. Dapat saja Ia memerintah sebagai Allah dengan kekuasaan yang tidak terbatas, namun sekarang Ia memerintah sebagai Pengantara, dengan kuasa yang dilimpahkan kepada-Nya, dan terbatas untuk tujuan khusus ini. (2) Bahwa kuasa kerajaan yang dilimpahkan kepada-Nya pada kesudahannya harus diserahkan kembali kepada Bapa, yang telah melimpahkan kepada-Nya (ay. 24). Sebab kuasa itu diterima untuk melaksanakan tujuan dan maksud yang khusus, yaitu kuasa untuk memerintah dan melindungi jemaat-Nya sampai semua anggota jemaat dikumpulkan dan semua musuh jemaat dikalahkan dan dihancurkan selama-lamanya (ay. 25-26). Ketika semua tujuan ini telah dicapai maka wewenang dan kuasa ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Sang Penebus harus memerintah sampai musuh-musuh-Nya dihancurkan serta keselamatan jemaat dan umat-Nya disempurnakan. Ketika tujuan ini tercapai, maka Ia menyerahkan kembali kuasa itu, yang Ia terima hanya untuk tujuan ini, walaupun Ia akan terus memerintah jemaat dan tubuh-Nya yang telah dimuliakan di sorga. Karena itu, dalam pengertian ini dikatakan bahwa Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya (Why. 11:15), bahwa Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33), bahwa kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap (Dan. 7:14). Lihat juga Mikha 4:7. (3) Sang Penebus pasti akan memerintah sampai musuh terakhir umat-Nya dibinasakan, sampai maut itu sendiri dilenyapkan, sampai orang-orang kudus-Nya dihidupkan kembali dan memperoleh kehidupan yang sempurna, tidak pernah lagi merasa takut dan ada dalam bahaya maut lagi. Sebelum semua ini tercapai sempurna, Ia akan memiliki semua kuasa di sorga dan di bumi, Dia yang mengasihi kita, memberikan diri-Nya sendiri bagi kita, dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya. Ia yang begitu punya hubungan dekat dengan kita dan begitu peduli kepada kita. Betapa hal ini akan memberikan dukungan dan semangat bagi orang-orang kudus-Nya di setiap saat kesesakan dan pencobaan! Ia yang telah mati namun hidup, dan hidup sampai selama-lamanya akan memerintah, dan akan terus memerintah sampai penebusan umat-Nya di sempurnakan serta semua musuh-Nya dibinasakan sama sekali. (4) Ketika semua ini selesai dilakukan, dan segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki-Nya, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (ay. 28). Saya mengartikan hal ini bahwa pada saat itu manusia Kristus Yesus, yang telah tampil begitu mulia selama pemerintahan kerajaan-Nya akan tampil dan menyerahkan kembali kuasa kerajaan itu kepada Sang Bapa dan tunduk kepada-Nya. Banyak kali hal-hal di dalam Kitab Suci dikatakan akan terjadi ketika dinyatakan atau ditampilkan. Dan penyerahan Kerajaan ini akan menyatakan bahwa Dia yang menampakkan diri dalam kemuliaan raja yang berkuasa selama pemerintahan kerajaan ini akan menaklukkan diri-Nya di bawah Allah. Kemanusiaan yang dimuliakan dari Tuhan Yesus kita, dengan semua kemuliaan dan kuasa yang meliputinya, tidak lebih daripada seorang makhluk yang mulia. Hal ini akan tampak ketika Kerajaan itu diserahkan, dan itu akan terjadi bagi kemuliaan ilahi, supaya Allah menjadi semua di dalam semua, supaya kesempurnaan keselamatan kita dapat tampak ilahi sama sekali, dan Allah sendiri yang memperoleh kemuliaan itu. Perhatikanlah, walaupun kodrat manusiawi harus digunakan di dalam penebusan kita, namun Allah yang harus menjadi semua di dalam semua. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Renungan Gereja Toraja Sabtu, 22 April 2023 Tanda Yunus - Matius 12:38-42 Sebelum: Renungan Gereja Toraja Senin, 17 April 2023 - TUO LAN KAKINAAN (Hidup Bijaksana) - Amsal 2:11-22 All Renungan Gereja Toraja 2023: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |