| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2023 Senin, 17 April 2023 Renungan Gereja Toraja Senin, 17 April 2023 - TUO LAN KAKINAAN (Hidup Bijaksana) - Amsal 2:11-22Senin, 17 April 2023 TUO LAN KAKINAAN (Hidup Bijaksana) Amsal 2:11-22 Amsal 2:11-22 11Pa'timbang melo la ungkaduttu'ko, tangnga' melo la urrinding pala'ko, 12anna rampanangko dio mai lalan kadake, sia dio mai to ma'kada leko', 13dio mai tu to untampe lalan malolo, la unturu' lalan mapittuk; 14tu parannu umpogau' kadakena, sia unnarrak diona gau' ma'bulang leko', tu umpabu'tu kadake, 15tu ma'lekko-lekko lalanna sia unnola lalanna tu umpapusai, 16anna rampanangko dio mai baine to senga', dio mai baine, tu tang ditandai tu ma'kada massede, 17tu untampemo muanena tonna mangurapa sia tang ungkilalaimo basse Kapenombanna; 18belanna iatu banuanna solo' rokko kamatean, sia mintu' lalanna ma'palulako to'bombo tomate. 19Moi misa' tu mintu' to male lako, tae'mo sule, sia tae'mo nalambi' lalan katuoan. 20Ammu turu' batattana to melo sia ungkaritutui lalanna to malambu'. 21Belanna iatu bulo lollong la untorroi tondok sia iatu to masallo' la mareso' lan, 22apa iatu mintu' to tang mekaaluk la disabu'i lan mai tondok sia iatu mintu' to tang maruru' la ditorakki lan mai. 2:11 kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau 2:12 supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat, 2:13 dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap; 2:14 yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat, 2:15 yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya; 2:16 supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya, 2:17 yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya; 2:18 sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam maut, jalannya menuju ke arwah-arwah. 2:19 Segala orang yang datang kepadanya tidak balik kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan. 2:20 Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. 2:21 Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, 2:22 tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan pengkhianat akan dibuang dari situ. Penjelasan: * Hiduplah Bijaksana Biasa dirangi tu kada nakua senga’ siami ke inang to kinaa, melo buangan kadanna, masipa’ penggauranna, matokko kapa’dokkoanna sia unnampui pa’timbangan melo. Nakua lan singgi’ toraya, to maluangan batu ba’tangna, to masindung pa’inaanna. Den duka pepasan to kinaa nenne’bang napa’pakilalan to matua to diomai kumua tae’ angga’na tu kamanarangan, kasugiran sia pangka’ dio kalena si misa’-misa’ tau ke tae’i anna kinaa. Battuananna ia tu kakinaan iamo umpakeangga’ torroanna simisa’-misa’tau. Buda to manarang, to sugi’ sia pangka’ apa nenne’ napokada kadake tau belanna penggauran sia pessiparanna tu tang melo sia ponno kakadakean. Nakua duka to matua, ia ke tae’ anta kinaa manassa tae’ solata. Garonto’na kakinaan situru’ kada dipa’pakaintinan lan sura’ Sarambu Peada’ iamo tu ungkataku’ Puang. “Ungkataku' PUANG iamo pamulanna kakinaan sia untandai To tarru' masero iamo garonto'na tangnga' kinaa” (Ams.9:10). Iamoto anna sipatu tu kakinaan dipengkullei sia dipopa’biasa lan katuoanta. Parallu dipemaranga kumua lan te katuoanta, lendu’ budanna tu lalan, apa lalan iato buda duka tangditandai umbanna tu maraa mebaa lako kapusan sia kasanggangan. Lalanna to kadake iamotu lalan ma’lekko-lekko sia lalan pusa, ponno kada leko’ sia pa’pakena tu mebaa lako kasanggangan, urruttakki kamaindananna tananan dapo’, tangtore umpabu’tu kadake sia umpakelok katonganan-Na Puang Matua. Ia tu to kinaa, ungkabarii kameloan, tontong unnola lalan malolo, unnampui pa’timbangan melo sia manaman katuoanna. Ia tu to kinaa, natandai tu melo sia kadake, maruru’ lan pengkaranganna belanna tontong makaritutu umpeladai’ katonganan-Na Puang anna pogau’i lan katuoanna. .Amin. * Faedah yang Diberikan Hikmat (2:10-22) Jangkauan ayat-ayat tadi adalah untuk menunjukkan, 1. Betapa besar manfaat hikmat sejati bagi kita. Hikmat ini akan menjauhkan kita dari jalan orang berdosa yang menuju kebinasaan, dan dengan demikian jauh lebih baik bagi kita daripada bila kita diperkaya dengan harta duniawi. 2. Bagaimana kita harus memanfaatkan hikmat yang diberikan Allah kepada kita itu dengan sebaik-baiknya. Kita harus menggunakannya untuk membimbing kita dalam melintasi jalan kebajikan, dan untuk mempersenjatai diri terhadap berbagai jenis godaan. 3. Melalui aturan apa saja kita dapat menguji diri apakah kita sudah memiliki hikmat ini atau belum. Pohon akan diketahui dari jenis buah yang dihasilkannya. Bila kita benar-benar bijaksana, hal ini akan tampak melalui sikap hati-hati kita untuk menghindari semua pergaulan dan perbuatan jahat. Hikmat ini berguna bagi kita, I. Untuk memelihara kita dari kejahatan, dari kejahatan dosa, dan dengan begitu, dari kejahatan akibat kesukaran yang menyertainya. 1. Secara umum (ay 10-11), “Ketika menguasaimu sepenuhnya, hikmat itu akan memelihara engkau.” Kapankah hikmat itu menguasai kita sepenuhnya? (1) Ketika hikmat berkuasa atas kita. Ketika hikmat bukan saja mengisi kepala dengan gagasan, tetapi juga masuk ke dalam hati dan berkuasa serta menanamkan pengaruh ke atasnya. Ketika hikmat bertakhta di situ dan mengatur perasaan dan hasrat hati, ketika hikmat masuk ke dalam hati sebagaimana ragi masuk ke dalam adonan roti hingga larut dan mengubahnya sesuai gambarnya sendiri, maka hal ini akan membawa kebaikan bagi kita. (2) Ketika kita sangat menyukainya, saat pengetahuan itu menjadi kesenangan jiwa: “Ketika engkau mulai menikmatinya sebagai hiburan yang paling menyukakan dan tunduk kepada aturan-aturannya dengan sukarela dan dengan hati yang puas. Ketika engkau menyebut pelaksanaannya sebagai suatu kebajikan dan bukan perhambaan ataupun tugas, sebagai kebebasan dan kesenangan, serta menyebut kehidupan saleh sebagai kehidupan paling nyaman yang bisa dijalani manusia di dunia ini, maka ketika itulah engkau akan memperoleh manfaat darinya.” Walaupun dalam beberapa hal pengekangan yang ada di dalamnya terasa kurang menyenangkan bagi kehendak daging, itu pun bahkan terasa menyenangkan bagi jiwa. Pada waktu tercapai keadaan ini, kebijaksanaan akan memelihara serta menjaga kita. Allah memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia (ay. 8) dengan cara memberi mereka kebijaksanaan supaya dapat menghindar dari jalan yang mencelakakan, untuk menjaga diri sendiri supaya si jahat tidak dapat menjamah mereka. Perhatikanlah, asas kasih karunia yang bertakhta di hati akan menjadi pelindung yang kuat, baik terhadap kerusakan di dalam maupun pencobaan dari luar (Pkh. 9:16, 18). 2. Secara lebih khusus, hikmat akan memelihara kita. (1) Dari orang-orang yang menganut asas-asas yang cemar, yakni orang-orang atheis yang duniawi dan yang berusaha menyelewengkan penilaian orang muda serta menanamkan prasangka di dalam pikiran mereka terhadap agama dan menanamkan pikiran-pikiran yang membela perbuatan jahat: “Hikmat akan membuatmu terlepas dari jalan yang jahat (ay. 12), sehingga terlepaslah engkau dari cengkeraman maut, dari jalan yang dilintasinya, yang dianjurkannya kepadamu.” Musuh ini disebutkan dalam bentuk tunggal (ay. 12), seorang yang jahat, tetapi setelah itu dalam bentuk jamak (ay. 13). Di situ terdapat sebuah perkumpulan, suatu kelompok yang bersekongkol melawan agama dan bergandengan tangan untuk mendukung kerajaan Iblis serta kepentingannya. [1] Mereka memiliki roh yang menentang segala sesuatu yang baik: Mereka mengucapkan tipu muslihat. Mereka mengatakan apa saja untuk melawan agama, baik untuk menunjukkan kebencian mereka terhadapnya maupun untuk mengajak orang supaya menjauhinya. Mereka adalah pembela Iblis. Mereka memohon kepada Baal, dan membelokkan Jalan Tuhan yang lurus. Betapa menjengkelkannya pikiran kotor yang berdebat demi dosa, dan betapa berani mereka mencemooh firman Allah! Hikmat akan memelihara kita dari pergaulan dengan orang-orang seperti itu atau setidaknya menjaga kita agar tidak terjerat oleh mereka. [2] Mereka sendiri meninggalkan segala sesuatu yang baik, dan biasanya orang-orang seperti inilah yang menjadi musuh yang jahat dan berbahaya bagi agama, seperti yang disaksikan Julian (ay. 13): Mereka meninggalkan jalan yang lurus, yang pernah mereka tempuh seperti yang diajarkan kepada mereka, mencampakkan segala pengaruh dari pendidikan mereka dahulu, dan memisahkan diri dari awal yang penuh pengharapan, untuk menempuh jalan yang gelap. Mereka menjalani kehidupan jahat yang membenci terang, bagaikan orang-orang yang mengenakan penutup mata dan dibimbing oleh kebodohan dan kesalahan menuju kegelapan yang pekat. Jalan-jalan dosa adalah jalan-jalan dalam kegelapan yang tidak nyaman dan tidak aman. Alangkah bodohnya orang-orang yang meninggalkan jalan lurus yang rata, menyenangkan, dan terang, untuk menjalani kehidupan seperti itu! (Mzm. 82:5; 1Yoh. 2:11). [3] Mereka menyukai dosa, baik untuk dilakukan sendiri, maupun saat melihat orang lain melakukannya (ay. 14): Mereka bersukacita mendapatkan kesempatan untuk melakukan kejahatan, juga dalam melaksanakan dan berhasil mengerjakan hal yang jahat. Orang bodoh gemar melakukan kejahatan. Bagi mereka tidak ada pemandangan yang lebih memuaskan daripada melihat tipu muslihat yang jahat, untuk melihat mereka yang berpengharapan ditarik ke dalam kehidupan penuh dosa, dan setelah itu melihat hati mereka menjadi keras dan menetap di dalam kehidupan seperti itu. Mereka senang apabila bisa melihat kerajaan Iblis berdiri dengan kuat (Rm. 1:32). Ketidaksalehan mereka sudah sedemikian parahnya. [4] Mereka bersikeras untuk tinggal dalam dosa (ay. 15): Sungguh berliku-liku jalannya, jalan yang berbelok-belok untuk menghindari kejaran tuduhan hati nurani dan mematahkan kekuatannya. Hati mereka yang penuh tipu muslihat sarat dengan dalih yang licik dan sikap mengelak yang tidak kentara, guna mempererat pegangan mereka dalam kejahatan. Di dalam jaringan jalan yang berliku-liku dan menyesatkan itu mereka bersembunyi dari tangkapan firman Allah dan suara hati mereka sendiri. Sungguh sesat perilaku mereka. Artinya, mereka bersikeras untuk tetap menjalaninya, tak peduli apa pun yang dikatakan melawan perilaku mereka. Setiap orang yang bijaksana akan menjauhi pergaulan dengan orang-orang seperti itu. (2) Dari para perempuan yang rusak akhlaknya. Golongan yang pertama tadi membawa kepada kejahatan rohani, nafsu pikiran yang belum dikuduskan, sedangkan golongan yang ini membawa kepada keinginan-keinginan daging yang mencemarkan tubuh yakni bait Allah yang hidup itu, yang di lain pihak berjuang melawan jiwa. Di sini, perempuan pezinah disebut perempuan asing, sebab tak seorang pun laki-laki baik dan berhikmat yang bersedia berurusan dengan perempuan seperti itu. Perempuan seperti itu harus dijauhi orang Israel, seolah-olah dia bukan orang Yahudi melainkan orang asing bagi persemakmuran yang kudus itu. Benar-benar perempuan yang asing memang! Jauh dari semua asas pikiran sehat, kebajikan, dan kehormatan. Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa untuk bisa dilepaskan dari daya tarik seorang perempuan pezinah. II. Hikmat ini berguna untuk membimbing dan memimpin kita kepada hal yang baik (ay. 20): Sebab itu tempuhlah jalan orang yang baik. Kita harus menjauhi jalan orang yang jahat dan perempuan asing, supaya kita dapat menempuh jalan-jalan yang baik. Kita harus berhenti berbuat jahat, supaya dapat belajar berbuat baik. Perhatikanlah: 1. Ada jalan yang secara khusus merupakan jalan orang baik, jalan yang sejak dulu ditempuh orang-orang baik. 2. Sungguh bijaksana apabila kita menempuh jalan itu, meminta jalan lama yang baik itu dan berjalan di dalamnya (Yer. 6:16; Ibr. 6:12; 12:1). Janganlah kita sekadar menempuhnya untuk beberapa waktu, tetapi biarlah kita senantiasa berjaga-jaga untuk tetap menjalaninya dan tidak pernah keluar darinya. Jalan-jalan orang benar adalah jalan kehidupan yang telah dan akan tetap ditempuh semua orang yang bijaksana. “Engkau boleh meniru orang-orang mulia itu, yakni para bapa leluhur dan nabi-nabi (demikianlah uskup Patrick membacanya secara bebas), dan dipelihara di dalam jalan-jalan orang benar yang telah berjalan di dalamnya.” Kita bukan saja harus memilih jalan kita secara umum dengan mengikuti teladan baik orang-orang yang dikasihi Allah, tetapi juga mengambil petunjuk darinya dalam memilih jalan kita secara khusus. Amatilah jalurnya, dan ikutilah jejak kaki mereka. Di sini diberikan dua alasan mengapa kita harus memilih seperti itu: (1) Karena kesetiaan manusia akan menjadi pengukuhan mereka (ay. 21), pengukuhan atas [1] Kepribadian mereka: Orang jujurlah akan mendiami tanah dengan damai dan tenteram sepanjang umur hidup mereka. Kelurusan hati mereka turut berperan dalam menciptakan keadaan itu, karena ia menenteramkan pikiran mereka, membimbing rencana mereka, mendapatkan kehendak baik sesama bagi mereka, dan membuat mereka berhak menerima perkenan Allah yang istimewa. [2] Keluarga mereka: Orang yang tak bercelalah, melalui keturunan mereka, akan tetap tinggal di situ. Mereka akan berdiam dan tetap tinggal di Kanaan sorgawi sampai selamanya, sementara Kanaan duniawi hanya merupakan pelambang belaka. (2) Karena kejahatan manusia akan menjadi kehancuran mereka (ay. 22). Lihatlah apa yang akan terjadi atas orang fasik, yang memilih jalan orang yang jahat. Mereka akan dipisahkan, bukan saja dari sorga dengan semua pengharapannya kelak, tetapi juga dari dunia ini sekarang ini, yang kepadanya hati mereka tertambat, yang di dalamnya mereka menyimpan harta mereka. Mereka menyangka telah berakar di dalamnya, padahal mereka dan juga keluarga mereka akan dicabut dari situ sebagai hukuman, supaya dunia ini memperoleh belas kasihan. Akan datang harinya ketika tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka (Mal. 4:1). Biarlah hikmat itu masuk ke dalam hati kita, dan menyenangkan jiwa kita, sehingga menjauhkan kita dari jalan yang akan berakhir seperti itu.
Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Renungan Gereja Toraja Jumat, 21 April 2023 - Jangan Ragukan - 1 Korintus 15:20-26 Sebelum: Renungan Gereja Toraja Minggu, 16 April 2023 - KAMI ADALAH SAKSI - (Kamimo Sola Nasang tu Ungkatottongngi) - Yohanes 20:19-31 All Renungan Gereja Toraja 2023: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |