lagu-gereja.com/toraja

View : 673 kali
Bersyukurlah kepada Tuhan karena Pengharapan kita  tidak sia-sia. Dia adalah Allah Yakub sang penyelamat dan penolong kita.

Mazmur 146:1-5
Hanya Allah satu-satunya penolong
146:1 Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! 146:2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. 146:3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. 146:4 Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. 146:5 Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:

Penjelasan:
* Karunia Ilahi (146:1-4)
Daud dianggap yang menulis mazmur ini, dan dia sendiri adalah seorang bangsawan, bangsawan besar. Dengan kedudukannya seperti ini, orang bisa berpikir,

    1. Bahwa ia seharusnya dikecualikan dari pelayanan memuji Allah, bahwa sudah cukup baginya untuk menyaksikan saja imam-imam dan rakyatnya melakukan pelayanan tersebut, dan dia sendiri tidak perlu melakukannya sendiri secara pribadi. Mikhal menganggap Daud merendahkan dirinya sendiri dengan menari-nari di hadapan tabut Tuhan. Akan tetapi, Daud begitu jauh dari berpikiran seperti ini sehingga ia sendiri ingin menjadi yang pertama dan terdepan dalam melakukan pekerjaan memuji Allah ini (ay. 1-2). Ia sama sekali tidak memandang martabatnya itu sebagai suatu hal yang bisa mengecualikan dia untuk memuji Allah. Malah sebaliknya martabatnya itu mewajibkan dia justru untuk menjadi pemimpin dalam melakukannya. Ia menganggap pelayanan tersebut begitu jauh dari merendahkan dia, tetapi justru benar-benar meninggikan dia. Oleh sebab itu, ia menggugah dirinya sendiri untuk memuji Tuhan dan menjadikannya sebagai pekerjaannya: pujilah TUHAN, hai jiwaku! Ia bertekad untuk taat menjalankannya: “Aku akan memuji-muji Dia dengan hatiku, aku akan bermazmur bagi-Nya dengan mulutku. Dalam memuji Dia, aku akan mengarahkan pandanganku kepada-Nya sebagai Tuhan, yang terpuji dan mulia tak terhingga dalam diri-Nya sendiri. Aku akan memandang Dia sebagai Allahku, yang mengikat kovenan denganku.” Pujian itu terasa paling menyenangkan apabila dalam memuji-muji Allah, kita memandang-Nya sebagai milik kita, yang dengan-Nya kita memiliki kepentingan dan hubungan. “Ini akan kulakukan seterusnya selama aku hidup, setiap hari di sepanjang hidupku, dan sampai akhir hidupku. Bahkan aku akan melakukannya selagi aku ada, sebab apabila aku tidak ada di bumi, aku berharap akan ada di sorga, suatu keberadaan yang lebih baik, untuk melakukannya dengan lebih baik.” Apa yang merupakan tujuan utama dari keberadaan kita haruslah menjadi pekerjaan dan kesenangan utama kita selagi kita ada. “Untuk Engkaulah waktu dan tenaga kami harus dihabiskan.”
    2. Ada kemungkinan anggapan bahwa karena ia sendiri sudah menjadi berkat yang begitu besar bagi bangsanya, maka ia harus dipuja, sesuai dengan adat kebiasaan bangsa-bangsa kafir, yang mendewakan pahlawan-pahlawan mereka, bahwa mereka semua harus datang dan berlindung di bawah naungannya dan menjadikannya sebagai andalandan kubu pertahanan mereka. “Tidak,” kata Daud, “Janganlah percaya kepada para bangsawan (ay. 3), janganlah percaya kepadaku, ataupun kepada yang lain. Janganlah menaruh keyakinanmu kepada mereka. Janganlah memupuk harapan-harapanmu atas mereka. Janganlah terlalu yakin akan ketulusan mereka. Sebagian dari mereka sudah tahu betul bagaimana memerintah dengan baik dengan menutup-nutupi maksud mereka yang sebenarnya. Janganlah terlalu yakin dengan keteguhan pikiran mereka dan kesetiaan mereka. Ada kemungkinan mereka akan mengubah pikiran mereka dan juga melanggar janji-janji mereka.” Juga, sekalipun kita menganggap mereka sangat bijak dan baik seperti Daud sendiri, janganlah kita terlalu yakin akan kemampuan dan keberlangsungan mereka, sebab mereka hanyalah anak-anak Adam, lemah dan fana. Memang ada seorang Anak Manusia yang di dalam diri-Nya ada pertolongan, ada keselamatan, dan yang tidak akan mengecewakan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Namun, semua anak manusia yang lain sama seperti manusia yang menurunkan mereka, yang, kendati diberi kehormatan, tidak berlaku taat.

    (1) Kita tidak bisa yakin akan kemampuan mereka. Kuasa raja-raja sekalipun bisa dibatasi, dikekang, dan diperlemah, sehingga mereka tidak mampu melakukan apa yang kita harapkan. Daud sendiri mengakui (2 Sam. 3:39), “Aku ini sekarang masih lemah, sekalipun sudah diurapi menjadi raja.” Sehingga pada anak manusiasering kali tidak ada pertolongan, tidak ada keselamatan. Ia tidak tahu apa-apa, ia kehabisan akal, seperti orang yang bingung, sehingga, meskipun pahlawan, tidak sanggup menolong (Yer. 14:9).
    (2) Kita tidak bisa yakin akan keberlangsungan mereka. Anggaplah ia punya kekuatan untuk menolong kita selagi ia hidup, namun, bisa saja ia mati mendadak pada saat kita teramat sangat mengharapkannya (ay. 4): nyawanya melayang (kjv: nafasnya berembus keluar -” pen.), demikianlah nafasnya berembus setiap saat, dan kemudian masuk kembali, tetapi itu hanya menunjukkan bahwa nafasnya akan terembus untuk selama-lamanya, dan kemudian ia kembali ke tanah. Tanah adalah miliknya, berkenaan dengan asal usulnya sebagai manusia, tanah yang darinya ia diambil, dan yang oleh sebab itu kepadanya juga ia harus kembali, sesuai dengan hukuman yang dijatuhkan (Kej. 3:19). Tanah adalah miliknya, jika ia manusia duniawi, berkenaan dengan pilihan, tanahnya yang telah ia pilih sebagai bagiannya, dan yang kepada hal-hal di dalamnya hatinya telah terpatri. Ia akan pergi ke tempatnya sendiri. Atau, lebih tepatnya, tanah ini adalah tanahnya karena harta miliknya ada di dalamnya. Dan meskipun ia mempunyai banyak harta di bumi, hanya kuburlah yang akan tinggal baginya. Bumi telah diberikan Allah kepada anak-anak manusia, dan ada perselisihan besar untuk memperebutkannya, dan, sebagai pertanda dari wewenang mereka, manusia menganggap ladang-ladang milik mereka. Tetapi, setelah beberapa waktu berlalu, tidak satu bagian pun dari tanah ini yang akan menjadi milik mereka kecuali bagian yang dipersiapkan untuk terbaringnya jasad, dan bagian itu akan menjadi milik mereka selama bumi masih ada. Namun, apabila ia kembali ke tanahnya, pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. Semua rencana dan rancangan yang ia miliki untuk berbuat baik kepada kita hilang dan lenyap, dan ia tidak dapat maju satu langkah pun untuk memenuhinya. Segala tujuannya terputus dan terkubur bersamanya (Ayb. 17:11). Lalu, apa jadinya dengan segala pengharapan yang kita letakkan pada dirinya? Para bangsawan itu fana, begitu pula dengan manusia lain, dan oleh sebab itu kita tidak bisa mendapat jaminan pertolongan dari mereka sebagaimana kita bisa mendapat jaminan pertolongan dari Sang Penguasa yang empunya kekekalan. Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas dan tidak akan lama ia bernafas.

* Pertolongan manusia hanya sesaat dan tidak tuntas. Saat kefanaan menjemput manusia, segala daya akan sirna. Sebaliknya, berharap pada Tuhan tidak mungkin sia-sia. Dia adalah Allah Yakub (5).

Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Kamis, 23 Maret 2023 - Kasih Setia Tuhan - Mazmur 146:6-10


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Selasa, 21 Maret 2023 - Menjadi Anak-anak Allah - Yohanes 1:1-18


All Renungan Gereja Toraja 2023:
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login