| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2022 Bacaan Mazmur : Mazmur 33:10-22Minggu, 7 Agustus 2022 Bahan khotbah hari Minggu, 7 Agustus 2022 - Aksi Pangiu Gereja Toraja - PINGGANG YANG TETAP BERIKAT (Tontong ma’tambeke’) - Lukas 12:35-48 Bacaan 1 : Kejadian 15:1-21 Bacaan 2 : Ibrani 11:1-3, 8-16 Bacaan 3 : Lukas 12:35-48 (Bahan Utama) Nas Persembahan : Mazmur 9:2-3 Petunjuk Hidup Baru : Lukas 12:35-36 Tujuan: - Jemaat semakin memahami bahwa kedatangan Tuhan terjadi pada waktu yang tidak terduga - Jemaat menjalani kehidupannya dengan cara selalu siap sedia menantikan kedatangan Tuhan Pemahaman Teks Mazmur 33:10-22 berisi pujian kepada Allah beserta dengan alasan untuk menaikkan puji-pujian tersebut. Allah tetap mewujudkan rencana-Nya turun-temurun (ay.10-11). Dia juga selalu memperhatikan semua umat, bangsa kepunyaan-Nya yang dibentuk dan dipilihnya sendiri (ay.12-15). Perhatian Tuhan itu merupakan jaminan keselamatan jiwa dan jaminan pemeliharaan kehidupan dalam segala situasi, karena tidak ada kuasa lain di dunia ini yang dapat dijadikan perlindungan (ay 16-19). Kuasa Allah yang mutlak sebagai penolong dan penjamin perlindungan bagi hidup umat-Nya, menjadi alasan yang kuat untuk selalu menantikan Tuhan (ay.20). Dalam bahasa Ibrani, ada beberapa kata yang merujuk pada kata menantikan. Kata-kata itu ialah dumiyah, qavah dan chaka. Dalam ayat 20 ini, kata yang digunakan untuk menantikan ialah chaka, yang bermakna menanti dengan melekat dan merindukan. Dengan demikian, maksud kata menantikan Tuhan dalam ayat ini ialah sebuah tindakan yang dilakukan dengan selalu melekat kepada Tuhan karena didasari oleh kerinduan yang berat. Tindakan menanti-nantikan Tuhan menggambarkan sebuah relasi yang intim, selalu melekat kepada Tuhan, sumber sukacita dan kasih setia (ay.21-22). Kejadian 15:1-21 berbicara tentang perjumpaan Tuhan dengan Abram. Abram sedang gelisah, bahkan ia dilanda ketakutan mengingat usianya yang sudah tua namun belum juga dikaruniai anak. Ia memiliki harta yang banyak, namun jika tak memiliki seorang anak, harta itu akan diwariskan ke tangan hambanya yang bernama Elieser, seorang Damsyik (ay. 1-3). Dalam kegelisahan tersebut, Allah datang menjumpai Abram dengan menegaskan kembali dua hal. Pertama, bahwa yang akan menjadi ahli waris Abram adalah anak kandungnya sendiri, bukan hambanya yang bernama Elieser itu. Artinya, dalam pertolongan dan pengaturan Tuhan, Abram akan memperoleh keturunan, bahkan keturunan Abram itu jumlahnya akan lebih banyak daripada bintang di langit (ay.4-5). Kedua, Abram dan keturunannya akan menjadi pemilik atas tanah yang luas nan subur, yaitu tanah Kanaan (ay 7, 13-16, 18-21). Sebagai jaminan atas janji itu, Tuhan menyuruh Abram melakukan sebuah ritus, pengorbanan beberapa ternak (ay 9-12,17). Abram pun melakukannya sebagai tanda ketaatan dan komitmen Abram menantikan janji Tuhan. Oleh Tuhan, ketaatan dan kepercayaan Abram ini diperhitungkan sebagai sebuah kebenaran (ay.6). Bercermin pada kegelisahan Abram, kita dapat mengatakan bahwa memang menantikan janji Tuhan itu kadang kala berat. Namun yang dibutuhkan adalah komitmen dan ketaatan, karena Tuhan akan hadir untuk meneguhkan janji-Nya itu. Ibrani 11:1-3, 8-16 berbicara tentang defenisi iman dan para saksi iman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan (ay.1-3). Hanya dengan iman seseorang dapat meyakini sesuatu yang diharapkan dan dinantikan, meskipun belum kelihatan. Abraham dan keturunannya sudah mengalaminya (ay.8-16). Dia percaya kepada sesuatu yang dijanjikan Tuhan, walaupun mustahil terwujud menurut logika manusia. Ia hidup dalam ketaatan dan kesetiaan menantikan penggenapan janji Tuhan. Karena itu ia disebut sebagai teladan iman. Lukas 12:35-48 mengisahkan pengajaran Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya supaya selalu siap sedia. Sikap siap sedia ini dibutuhkan dalam menyambut kedatangan Tuhan, yakni yang bisa terjadi dalam waktu yang tidak terduga. Simbol sikap siap sedia yang dimaksudkan Tuhan Yesus terdapat dalam perkataan: “hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (ay.35). Pinggang yang tetap berikat dan pelita yang tetap menyala merupakan sikap seorang hamba yang selalu siap sedia menantikan kepulangan tuannya yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa diduga sebelumnya (ay.36-38). Pinggang yang tetap berikat dapat dipahami artinya dari tradisi berpakaian pada budaya orang Yahudi umumnya saat itu. Secara umum, pakaian mereka berupa jubah panjang yang berukuran besar atau longgar. Karena itu, seorang hamba baru akan leluasa bekerja tanpa terhalang jubahnya, apabila ia mengikat pinggangnya. Apabila seorang hamba sudah mengikat pinggangnya, berarti ia sudah dalam posisi siap melakukan perintah dari tuannya. Begitu pula dengan pelita yang tetap menyala, merupakan tanda siap sedia dari seorang hamba. Pelita yang tetap menyala akan sangat membantu seorang hamba yang siap sedia untuk melakukan penyambutan kepada tuannya yang akan pulang pada waktu yang tidak diketahui sebelumnya (Bnd. ay.39-40). Karena itu sama seperti seorang hamba yang harus selalu siap sedia menantikan kepulangan tuannya, demikian pula dalam menantikan kedatangan Tuhan. Sikap yang selalu siap sedia seperti itu akan mewujud dalam kebahagiaan, karena Tuhan sendirilah yang akan menyematkan penghargaan itu (ay. 41-48). Korelasi seluruh bacaan terletak pada kepastian penggenapan janji Tuhan. Rancangan Tuhan itu tetap dan sifatnya kekal, sehingga patut selalu dinantikan (Maz.33:10-22). Meski kadang terasa berat dan amat lama, bahkan tak jarang menimbulkan keraguan, kesetiaan dan ketaatan Abram patut diteladani. Tuhan sendiri punya cara untuk hadir meneguhkan janji-Nya (Kej. 15:1-21). Oleh sebab itulah, Tuhan Yesus juga mengajak semua untuk selalu siap sedia. Dia bersabda: “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” (Luk. 12:35-48). Pokok-pokok pengembangan khotbah Memang menanti itu sebuah pekerjaan yang berat Kalimat di atas sudah sering kedengaran. Memang pada umumnya diakui bahwa menanti atau menunggu adalah sebuah pekerjaan yang berat. Dalam bahasa Toraja disebut: jama-jaman bukku’. Bahkan ada lirik lagu dari sebuah group band di Tanah Air yang mengatakan: menunggu ternyata menyakitkan. Itulah menanti, bukan saja berat tapi kadang bahkan menyakitkan. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tentu masing-masing mempunyai pengalaman dalam hal beratnya menanti. Bukan saja dalam peristiwa sehari-hari, menanti juga dibutuhkan dalam hal menerima janji Tuhan. Semua bacaan Firman Tuhan saat ini memang memperlihatkan kenyataan demikian. Janji Tuhan itu sifatnya kekal, sehingga manusia patut menantikannya. Namun demikian, waktu penantian yang panjang serta keadaan hari ini yang tampak bertolak belakang dengan apa yang dinantikan di masa depan, seringkali membawa manusia dalam keraguan dan ketakutan. Abram jelas mengalami hal ini. Usianya bersama Sara yang sudah demikian tua, tampak bertolak belakang dengan harapan beroleh keturunan yang banyak. Tuhan sendiri memahami kondisi Abram yang demikian. Itu sebabnya Tuhan datang meneguhkan kembali janji-Nya. Iman terhadap penggenapan janji Tuhan menjadi kunci untuk melihat penggenapan janji Tuhan tersebut. 2.Pinggang yang tetap berikat mengubah penantian menjadi nyaman Tuhan Yesus mengajarkan sebuah sikap penantian yang benar. Seorang hamba yang selalu siap sedia menanti kedatangan tuannya ditandai dengan pinggang yang tetap berikat. Pinggang yang tetap berikat itu membuatnya merasa nyaman untuk beraktivitas pada saat kapanpun. Karena pinggang yang tetap berikat maka ia dapat mengendalikan jubahnya sendiri, sehingga jubah itu tidak menghalanginya dalam beraktivitas. Memang hal yang dibutuhkan dalam hal menanti, termasuk menanti kedatangan Tuhan, ialah tetap fokus kepada tugas yang memang menjadi bagian yang harus kita kerjakan. Soal waktu, cepat atau lambat, biarlah tetap dalam kedaulatan Sang Pemilik hidup ini. Tugas kita ialah melakukan yang memang harus dilakukan sebagai hamba. Setidaknya kita terus membenahi halangan yang kadang justru bisa muncul dari diri sendiri. Bagaikan sang hamba yang pinggangnya tetap berikat supaya jubahnya sendiri tidak menghalangi, kita juga bisa melakukan hal ini. Menciptakan sesuatu pada diri kita yang membuat kita merasa nyaman, sekalipun menanti dalam waktu yang panjang. 3. Sikap yang benar dalam menanti melahirkan rasa merindukan Menarik, salah satu kata dalam bahasa Ibrani yang merujuk kepada pengertian menanti ialah kata chaka, yang juga mengandung makna menanti dengan melekat dan merindukan. Ini berarti bahwa melalui penantian penggenapan janji-Nya, Tuhan ingin menarik kita kepada sebuah relasi yang melekat kepada-Nya. Relasi yang membuat kita memiliki sikap merindukan Tuhan. Mungkin keadaan inilah yang belum tercapai dalam kehidupan kita. Jangankan melekat dan merindukan, yang sering terjadi ialah penantian yang justru melahirkan rasa jenuh dan sikap lalai, bahkan kemudian hilang entah ke mana. Karena itu, keadaan yang saling melekat dan merindukan hendaknya terwujud dalam sebuah sikap yang siap sedia. Demikian pun sebaliknya, sikap siap sedia senantiasa akan membawa kita pada hubungan yang semakin melekat dan merindukan kehadiran Tuhan.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 8-13 Agustus 2022 - PINGGANG YANG TETAP BERIKAT (Tontong ma’tambeke’) - Kejadian 15:1-21 Sebelum: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 1-6 Agustus 2022 - PERBUATAN YANG BERMAKNA (Penggauran Kebattuan) - Kolose 3:1-11 All Renungan Gereja Toraja 2022: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |