| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2022 Bahan khotbah hari Minggu Tanggal 31 Juli 2022 - PERBUATAN YANG BERMAKNA Penggauran Kebattuan - Pengkhotbah 1:12-18Bahan khotbah hari Minggu Tanggal 31 Juli 2022 PERBUATAN YANG BERMAKNA Penggauran Kebattuan Bacaan Mazmur : Mazmur 49:1-13 Bacaan 1 : Pengkhotbah 1:12-18 (Bahan Utama) Bacaan 2 : Kolose 3:1-11 Bacaan 3 : Lukas 12:13-21 Nas Persembahan : 1 Tawarikh 16:29 Petunjuk Hidup Baru : Kolose 3:16 Tujuan: 1. Jemaat memahami bahwa segala perbuatan hanya bermakna kalau didasarkan pada anugerah Tuhan. 2. Jemaat tetap menjalani hidup dengan bersandar pada karya Allah Pemahaman Teks Mazmur 49:1-13 berisi nasihat dan teguran bahwa kekayaan, harga diri, dan kemasyhuran adalah kesia-siaan. Karena itu pada ayat 1-5, semua manusia (hina - mulia, kaya - miskin) untuk mendengar hikmat (kata-kata yang menyejukkan, menegur serta membahagiakan). Ayat 6-13 lebih jauh mengungkapkan nasib dari orang yang bersandar pada harta benda, yakni yang tidak dapat membebaskan dirinya (tebusan kepada Allah ganti nyawanya). Kubur mereka menjadi rumah untuk selama-lamanya (pikiran hanya sebatas kuburan dan acara penguburan). Orientasinya pun hanya kuburan dan penguburan (ay.11-12). Ia disamakan dengan hewan yang dibinasakan (ay.13). Pengkhotbah 1:12-18 juga menjelaskan tentang kesia-siaan. Segala perbuatan adalah sia-sia dan merupakan usaha menjaring angin, serta melelahkan dan tidak ada gunanya. Bahkan meskipun Pengkhotbah merasa dirinya sudah memperoleh hikmat dan pengetahuan lebih banyak dari semua orang yang pernah memerintah di Yerusalem, ia pun tetap merasa upayanya merupakan kesia-siaan dan menjaring angin (ay.16-17). Karena itu, manusia hendaknya bisa menempatkan dirinya dengan bijak di hadapan Tuhan, termasuk segala hal yang dapat dia kerjakan dengan segala jerih lelahnya. Di luar Tuhan, semuanya hanya akan menjadi kesia-siaan. Kolose 3:1-11 menjelaskan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang telah dibangkitkan bersama Kristus. Mereka hendaknya memikirkan perkara yang di atas, di mana Kristus ada. Mereka diminta memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol.3:1-2). Karena itu semua perbuatan yang mendatangkan murka Allah harus dijauhi, yakni percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan. Hidup jemaat akan bermakna jika selalu terarah pada kehendak dan pikiran Kristus. Lukas 12:13-21 berisi pengajaran (teguran) Yesus mengenai orang-orang yang hati dan pikirannya hanya berpusat pada harta benda. Melalui kisah orang kaya yang bodoh, diperlihatkan betapa harta yang melimpah ternyata sama sekali tidak bisa menyelamatkan nyawa orang kaya tersebut. Kehidupan sepenuhnya dalam kendali Tuhan, dan tidak ditentukan oleh berapa sedikit banyaknya harta kekayaan yang dimiliki. Saat nyawanya akan diambil, orang kaya tersebut tak punya kewenangan sedikitpun untuk menolaknya. Tentang hal ini, firman Allah mengatakan, “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Lukas 12:21) Korelasi dari keempat bacaan ialah terkait sikap dan pandangan yang benar terkait harta benda dan berbagai upaya pekerjaan manusia di dalam hidupnya. Umat hendaknya berpikir dan bekerja dalam perspektif kehendak Tuhan, sebab di luar Tuhan akan banyak jerih lelah dan harta benda yang sia-sia dan tak bermakna. Pokok-pokok pengembangan khotbah Hikmat duniawi adalah sia-sia Siapa yang tidak mengenal Salomo? Alkitab mencatat bahwa ketika menjadi raja Israel, ia meminta Allah untuk memberinya hikmat (II Taw. 1:7-12), dan dia menjadi orang paling penuh hikmat di dunia (I raja-raja 4:29-34). Di dalam pemerintahan Salomo-lah bait suci didirikan sebagai pusat peribadahan. Bangsa Israel pun mengalami kemajuan dan kemakmuran secara ekonomi. Lalu mengapa Salomo dalam kitab Pengkhotbah kemudian mengatakan bahwa pengejaran hikmat adalah sia-sia? Salomo membawa setiap manusia dalam ziarah kehidupan yang dijalani dengan mengatakan dan menjelaskan bagaimana segala sesuatu yang pernah ia usahakan, uji atau rasakan selama hidupnya tidak ada artinya/sia-sia, tak masuk akal, tak berguna, bodoh dan hampa. Ketika Salomo mempelajari, mengadili, menulis dan mengajar para raja dan pemimpin bangsa yang datang kepadanya berdasarkan hikmat yang Allah beri, ternyata Salomo kemudian gagal memperhatikan nasehatnya sendiri dan mulai jatuh. Kejatuhan dan kegagalan Salomo adalah ketika ia menggunakan hikmat duniawi dalam kehidupannya (1 Raj. 11:1-13). Pada akhir hidupnya, Salomo melihat kembali kehidupan masa lalunya dengan sikap rendah hati dan pertobatan yang sungguh di hadapan Allah, bahwa segala sesuatu (pengetahuan, kekayaan, filsafat dan kebahagiaan) di luar Allah sungguh merupakan hal yang hampa, tak berarti dan hanya berakhir pada kesia-siaan. Perkataan “yang bongkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung” menunjuk pada kekacauan dan kebingungan yang akhirnya manusia alami karena segala pertanyaan yang tak terjawab dalam hidupnya. Tidak ada keberhasilan atau hikmatnya yang dapat membuatnya benar-benar bahagia. Hikmat sejati hanya ada di dalam Allah dan kebahagiaan sejati hanya berasal dari Tuhan. Tak ada seorang pun yang dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Tuhan (Bnd. Pkh.2:25) Hikmat Allah melahirkan akal budi Satu tulisan Salomo lainnya, yakni Mazmur 127:1 mengatakan, bahwa “jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”. Pesannya jelas, yakni kerajaan atau keluarga yang melupakan hikmat Allah hanya akan berujung pada kesia-siaan. Itu sama dengan upaya “menjaring angin”, yakni pekerjaan yang tak akan memberi hasil. Angin bisa dirasakan ketika bertiup tetapi tidak bisa dipegang atau disimpan. Lantas bagaimana memperoleh hikmat Allah? Kitab Ayub 28:28: “Sesungguhnya takut akan Tuhan, itulah HIKMAT, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi” (bnd. Ams. 9:10). Hikmat Allah dimulai dari takut dan hormat pada Tuhan. Dalam takut dan hormat pada Tuhanlah, manusia bisa menyadari betapa di luar Tuhan, segala upaya dan jerih lelahnya tidak akan memberi hasil apa-apa. Apa yang harus diperbuat di dalam dunia ini? Pengakuan Iman Gereja Toraja Bab VI ayat 2 “Umat Allah ini adalah persekutuan baru, milik Yesus Kristus, yang menata kehidupannya berdasarkan Firman Allah, dan bukan menurut kaidah-kaidah kehidupan lama atau kuasa apapun juga. Berdasarkan Firman Allah itu dan di bawah pimpinan Roh Kudus, umat Allah menjalankan tugas nabiahnya untuk meyakinkan dunia tentang dosa dan kebenaran”. Orang Kristen adalah umat Allah yang seharusnya hidup dalam hikmat Allah, sehingga tidak lagi disebut sebagai manusia lama yang hidup dalam kedagingan, melainkan semua perbuatannya ditata berdasarkan Firman Tuhan dan anugerah-Nya untuk menyatakan kebenaran Allah. Karena itu umat Tuhan seharusnya: Memandang kehidupan dari sudut pandang Allah sehingga memampukan kita menikmati setiap karya Allah dengan penuh ungkapan syukur (bnd.Kol.3:1-2). Segala sesuatu yang dilakukan dalam anugerah Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Hidup takutlah akan Allah di sepanjang hidupnya. Hari-harinya dipenuhi dengan melayani Allah maupun sesama, dan bukan melayani kesenangan diri sendiri. Harta benda, jabatan dan kedudukan, serta berbagai hal indah lainnya, hendaknya tidak berorientasi pada diri dan keluarga sendiri (bnd.Luk.12:18-20). Sebaliknya segala sesuatu yang dimiliki hendaknya dapat memberi makna dan dampak yang baik bagi kehidupan orang lain. Orang yang memiliki hikmat Tuhan akan terus berbuat baik dan menghasilkan perbuatan yang bermakna yaitu: mematikan dalam dirinya segala sesuatu yang duniawi (Kol.3:5,8,9), menyatakan kasih Yesus, menyatakan kebenaran, memuliakan Tuhan dengan seluruh harta benda, jabatan, membuka hati untuk dipenuhi damai sejahtera Kristus dan memuji Tuhan dalam sepanjang ziarah kehidupannya. Apa pun juga yang mereka perbuat, selalu diperbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk sesama (Kol.3:23).
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 1-6 Agustus 2022 - PERBUATAN YANG BERMAKNA (Penggauran Kebattuan) - Kolose 3:1-11 Sebelum: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 25-30 Juli 2022 - KITA ADALAH AMI DAN RUHAMA (Kitamo tu Ammi sia Ruhama) - Kolose 2:6-15 All Renungan Gereja Toraja 2022: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |