lagu-gereja.com/toraja

View : 1430 kali
Bahan khotbah hari Minggu
Minggu, 10 Juli 2022
MENJALANI HIDUP SEBAGAIMANA MESTINYA
Ullingkai Katuoan Susi tu Sipato’nasiamo

Bacaan Mazmur : Mazmur 82:1-8
Bacaan 1 : Amos 7:7-17 (Bahan Utama)
Bacaan 2 : Kolose 1:1-14
Bacaan 3 : Lukas 10:25-37
Nas Persembahan : Mazmur 54:8
Petunjuk Hidup Baru : Lukas 10:37-38

Amos 7:7-17
Patiro mendeata ma'pentallunna, iamotu batu petimbang
7Susite tu apa Napatiroanna' Puang, iamotu bendan tu Puang dio to' rinding tembo' malolo, sitangke batu petimbang.
8Attu iato ma'kadami tu PUANG lako kaleku Nakua: Apara mutiro, e Amos? Ma'kadamo' kukua: Misa' batu petimbang. Ma'kadami tu Puang Nakua: La Kupalako taungKu, to Israel, tu batu petimbang; tae'mo Kula ullendu'i lenni.
9Sangadinna iatu inan madaona Ishak la disanggangi sia iatu mai inan maindanna Israel la diro'pok, sia la ke'de'Na' unnukungi tu bati'na Yerobeam la umparampoi pa'dang.

Amos diula'i male
10Ta'kala mesuami tu Amazia, to minaa dio Betel mennolo lako Yerobeam, datu Israel, nakua: Iatu Amos umpaden misa' kasipakulu-kuluan la unneakomi dio lu mintu' to Israel; tae'mo nabelai tondok la umpassanni tu mintu' kadanna.
11Belanna susite tu kadanna Amos nakua: Iatu Yerobeam la mate nakande pa'dang sia iatu to Israel manassa la male dipali' lan mai tondos-
12Undinnato ma'kadami tu Amazia lako Amos nakua: E to patanda-tandan! mallaiko madoi' lako tondok Yehuda; inde to dio la munii ungkande roti sia ma'nubua'.
13Apa dio Betel da'mo muma'nubua', belanna iate inan iate inan maindanna kadatuan sia inan kemenombanna tondok.
14Mebalimi tu Amos lako Amazia nakua: Tangiana' nabi sia tangiana' anak nabi sangadinna misa'na' to manglaa sia to ungkaduttu' bua ara pangala'.
15Apa Naalamo' PUANG dio mai boko' domba, sia ma'kada tu PUANG lako kaleku, Nakua: Maleko ammu ma'nubua' diona ukungan diparampo lako taungKu Israel.
16Iamoto, perangii tu kadanNa PUANG. Ma'kadako mukua: Da muma'nubua' diona ukungan diparampo lako Israel sia da mupalolong kada diona ukunganna bati'na Ishak.
17Iamoto inde sia tu kadanNa PUANG Nakua: Iatu bainemu la pasandak salu lako rampanan kapa' lan lu kota, iatu anakmu muane sia anakmu baine la songka nakande pa'dang, sia iatu pa'lakmu la ditaa-taa ulang pesuka', na iko kalena la mate dio to' padang tang masero, sia iatu to Israel manassa la male dipali' lan mai tondokna. 

Penjelasan:
Penjelasan:
* Am 7:7 - Dekat sebuah tembok
Dekat sebuah tembok. Tembok itu adalah kerajaan Israel.

* Am 7:8 - Aku akan menaruh tali sipat // Aku tidak akan memaafkannya lagi
Aku akan menaruh tali sipat. Pengukuran tembok merupakan lambang ujian terhadap perilaku Israel (bdg. II Sam. 8:2; II Raj. 21:13). Aku tidak akan memaafkannya lagi. Dalam penglihatan-penglihatan sebelumnya, Allah mendengarkan permohonan sang nabi, tetapi sekarang la tidak menerima doa syafaat. Hukuman yang adil harus datang.

* Am 7:9 - Bukit-bukit pengorbanan // Dari pada Ishak // Tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan // Pedang
Bukit-bukit pengorbanan. Orang-orang menyembah di apa yang disebut bukit-bukit pengorbanan, yaitu bukit-bukit alami atau gundukan-gundukan buatan. Bangsa-bangsa lain juga memakai bukit-bukit pengorbanan seperti itu (Ul. 12:2; Yes. 15:2; 16:12). Bukit-bukit pengorbanan ini, dengan pengaruh kafirnya, akhirnya ikut andil bagi kehancuran Israel (I Raj. 12:31-33; 13:32-34). Dari pada Ishak. Pelbagai penafsiran atas ayat ini telah diberikan, tetapi jelas bahwa Amos memakai nama itu sebagai sinonim untuk Israel, sebagai bangsa. Tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan. Persamaan pernyataan ini dengan pernyataan sebelumnya dalam ayat itu memang nyata. Pedang. Lambang bala tentara Asyur (Am. 6:14).

* Oposisi Gerejawi 7:10-17.
Amazia, imam di Betel, mendakwa Amos mengadakan persepakatan melawan Yerobeam dan memerintahkan agar ia kembali ke Yehuda. Amos menjawab bahwa ia berbicara atas perintah Allah.

* Am 7:12 - Carilah makananmu di sana
Carilah makananmu di sana. Amazia menyuruh Amos untuk mencari nafkah dengan cara bernubuat di Yehuda.

* Am 7:14 - Melainkan aku ini seorang peternak // pemungut buah ara hutan
Melainkan aku ini seorang peternak. Amos menyangkal bahwa ia adalah seorang nabi profesional dan mengatakan bahwa ia adalah seorang gembala dan pemungut buah ara hutan. Buah ini tak bernilai tinggi, dan harus dibuka dengan alat khusus untuk mengeluarkan airnya yang berlebihan sebelum masak.

* Am 7:15 - Tetapi Tuhan mengambil aku ... Tuhan berfirman kepadaku
Tetapi Tuhan mengambil aku ... Tuhan berfirman kepadaku. Pengulangan nama Allah membuat jelas fakta bahwa Amos tidak bernubuat oleh kehendak manusia, tetapi karena panggilan langsung Allah, yang menjadikan dia nabi.

* Am 7:17 - Bersundal
Bersundal. Diperkosa oleh para tentara yang menyerbu.


Tujuan
- Jemaat memahami bahwa pengetahuan tentang kebenaran semestinya mewujud dalam kehidupan
- Jemaat tetap menunjukkan hidup sesuai kebenaran Allah

Pemahaman Teks
Mazmur 82:1-8 berbicara mengenai kegagalan para pemimpin. Kegagalannya nyata dalam sikap yang tidak membela orang miskin dan sikap yang tidak menghukum orang-orang jahat. Pemazmur melihat bahwa tidak ada keadilan. Kehidupan menjadi goyah karena tidak lagi berdasar pada kebenaran Allah. Karena itu pemazmur memintah kepada Allah untuk menghakimi bumi.

Amos 7:7-17 berisi nubuat nabi Amos yang melayani di Israel Utara, walaupun dia sendiri berasal dari Yehuda (Israel Selatan). Amos bernubuat di Israel Utara pada saat Yerobeam II menjadi raja (sekitar abad ke-8 SM). Di bawah kepemimpinan Yerobeam II, Israel Utara mengalami perkembangan yang pesat. Minat terhadap agama sangat tinggi. Namun di balik semua itu ternyata dosa juga berkembang secara pesat. Ketidakadilan semakin menjadi-jadi di kalangan masyarakat. Amos meneubuatkan tentang apa yang akan terjadi dengan Israel sebagai buah dari dosa mereka. Ayat 7-9, bercerita mengenai penglihatan Amos yaitu tali sifat. Tali sifat ialah seutas benang yang ditaruh pemberat pada ujungnya. Tali sifat adalah semacam timbangan yang dipakai oleh tukang bangunan untuk menilai apakah sebuah tembok berdiri tegak lurus. Dalam penglihatan itu Allah sendiri menjelaskan maknanya. "Sesungguhnya, Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umat-Ku Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi”. Tali sifat adalah simbol kebenaran dan keadilan Allah yang akan membongkar dosa Israel yang akan mendatangkan hukuman. Hal ini bisa dibandingkan dengan ungkapan pada Yesaya 28:17, “Dan Aku akan membuat keadilan menjadi tali pengukur, dan kebenaran menjadi tali sipat; hujan batu akan menyapu bersih perlindungan bohong, dan air lebat akan menghanyutkan persembunyian." Ayat 9 menunjukkan secara konkrit dari penghukuman yaitu:

Bukit pengorbanan dari pada Ishak akan dilicintandaskan dan tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan. Nampaknya Amos menyebut bukit pengorbanan Ishak sama dengan tempat kudus Israel.

Tempat-tempat penyembahan dan peribadahan itu akan diruntuhkan dan dilicintandaskan.
Akan terjadi peperangan melawan raja Yerobeam. Kejayaan semu akan diruntuhkan bahkan akan berujung pada pembuangan bangsa ini (ay.9, 11, 17).

Ayat 10-13 berisi reaksi dan tindakan Amazia yang adalah seorang imam di Betel. Dalam mendengar teguran Tuhan melalui nabi Amos, imam ini merasa tidak nyaman. Teguran Tuhan dinilai sebagai sesuatu yang mengganggu stabilitas keamanan negara dan kekuasaan raja. Sehubungan dengan itu Amazia melakukan dua hal. Pertama, Ia menyampaikan laporan secara provokatif kepada raja Yerobeam. Ini nyata ketika ia mengirim pesan: "Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel”. Teguran dari Tuhan dianggap persepakatan Amos dengan kelompoknya untuk melawan raja. Amazia telah bertidak sebagai “pembisik” yang sesat kepada raja. Kedua, Ia mengancam dan mengusir Amos. Ia melarang Amos menyampaikan pesan Tuhan. Ia menuduh Amos sebagai orang yang mencari makan melalui nubuatnya. Jadi Amazia bertindak tidak sebagaimana mestinya. Ia lebih memilih mempertahankan kenyamanan semu yang penuh dengan dosa ketimbang berubah sebagaimana suara kebenaran dari Tuhan. Ia berusaha “menyenangkan hati manusia”, dalam hal ini Yerobeam II. Ia tidak lagi menjadi imam yang mewakili umat untuk mengaku dosa, tetapi ia telah mejadi alat politik penguasa untuk mengamankan kekuasaan. Sikap Amazia ini adalah contoh utama dari beragama tanpa pertobatan atau beribadah tanpa pertobatan.

Ayat 14-17 berisi sikap Amos yang penuh ketegasan menyampaikan pesan dari Tuhan. Pertama-tama ia membela dirinya atas tuduhan Amazia bahwa Amos bernubuat karena sedang mencari makan. Dengan tegas Amos menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya seorang peternak dan pemungut buah ara hutan, tetapi Tuhanlah yang memanggil untuk bernubuat. Amos berkeyakinan bahwa ia bukanlah seorang yang sedang mencari makan sebagaimana tuduhan Amazia, melainkan ia adalah orang yang sedang mencari makna sesuai panggilan Tuhan (ay. 14,15) . Selanjutnya ia bernubuat mengenai kehancuran Israel yang berujung pada pembuangan (ay.16-17). Nubuatnya semakin jelas dan semakin tegas. Amos telah bertindak sebagaimana mestinya.

Kolose 1:1-14 berisi ucapan syukur Paulus bersama Timotius. Ucapan syukur ini didasarkan pada dua hal yang terjadi di jemaat Kolose. Pertama: Iman dalam Kristus Yesus bertumbuh dalam jemaat. Kehidupan jemaat sungguh memperlihatkan bahwa mereka bertumbuh dalam iman. Kedua: Kasih terhadap semua orang Kudus menjiwai seluruh jemaat. Hubungan dalam jemaat diwarnai oleh hubungan kasih yang benar. Jadi sebenarnya yang disyukuri ialah kehidupan jemaat yang telah menggambarkan Injil. Kehidupan jemaat telah memperlihatkan cara hidup yang semestinya.
Lukas 10:25-37 berisi pokok percakapan tentang sesama manusia. Percakapan dimulai dari pertanyaan mencobai dari ahli taurat kepada Yesus:
Guru apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Tekanan ahli taurat adalah perbuatan. Terhadap pertanyaan ini, Yesus bertanya balik: Apa yang tertulis dalam hukum taurat. Kepada ahli taurat Yesus bertanya mengenai hukum taurat. Dari segi pengetahuan ahli taurat memang menguasai hukum aurat sehingga jawabannya tepat: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Secara hurufiah ahli taurat memang ahli dalam soal taurat. Yang menjadi persoalan baginya, ialah “siapakah sesamaku”. Untuk menjelaskan pertanyaan ini Yesus mau membimbing ahli taurat melalui sebuah cerita mengenai seorang yang dirampok. Dalam cerita itu Yesus menampilkan dua sikap terhadap orang yang dirampok. Pertama, imam dan orang Lewi yang berusaha menghindar dan tidak mau menolong. Kedua, orang Samaria yang tergerak hatinya lalu menolong orang yang dirampok itu. Ahli taurat tahu bahwa sikap yang benar adalah sikap orang Samaria. Yesus mengatakan, “pergilah dan perbuatlah demikian”. Peduli adalah sikap yang benar dan semestinya. Jadi yang Yesus ajarkan adalah pengetahuan yang benar tentang kebenaran semestinya mewujud dalam tindakan.

Korelasi dari segenap bacaan, adalah pemazmur menyadari bahwa Allah akan menyatakan keadilan di tengah ketidakadilan. Amos tetap konsisten mendengarkan perintah Tuhan sekalipun ditekan. Jemaat di Kolose telah menunjukkan cara hidup yang sesuai dengan hakekat kasih. Yesus mengkritik para imam dan orang Lewi, karena tidak bertindak sebagaimana mestinya.

Pokok-pokok pengembangan khotbah
Bagaimana caranya kita menjalani hidup agar bisa bertumbuh dalam iman? Ada yang mengatakan rajin beribadah atau memperbanyak ibadah namun ada yang mengatakan rajin dan setia memberikan persembahan, berupaya membangun gedung gereja yang megah, dan sebagainya.
Amos 7:7-17 berisi penglihatan Amos tentang kehidupan Israel berikut akibatnya. Dari penglihatan Amos ini ada tiga hal yang bisa diangkat sebagai peringatan dan pelajaran.

Ibadah tanpa kebenaran dan keadilan
Amos 7:7-17 berisi nubuat Nabi Amos mengenai hukuman Tuhan yang akan menimpa Israel karena dosanya. Dosa apakah yang dilakukan oleh Israel? Ketika mereka diperintah raja Yerobeam II, memang boleh dikatakan bahwa Israel mengalami kemajuan dalam kemakmuran termasuk perhatian terhadap agama cukup tinggi. Buktinya ialah banyak tempat ibadah dibangun; bahkan mungkin juga banyak imam diangkat oleh raja antara lain imam di Betel yaitu Amazia. Jadi dapat dikatakan bahwa secara pandangan mata manusia, orang Israel saat itu menunjukkan kesemarakan dalam agama dan ibadah. Bisa dibandingkan misalnya di
daerah Toraja dan daerah-daerah lain dimana kita dapat melihat gedung-gedung gereja berdiri dengan megahnya di banyak tempat (di sini pengkhotbah dapat mengungkapkan statistik rumah ibadah dalam satu lingkungan tertentu dimana jemaat itu berada). Apa yang salah ?...

Dalam penglihatan Amos, Allah sendiri menjelaskan bahwa tali sifat itu akan ditaruh di tengah Israel untuk membongkar dan menunjukkan dosa mereka. Tali sifat adalah simbol kebenaran dan keadilan Allah. Hal ini dapat dibandingkan dengan Yesaya 28:17 “Dan Aku akan membuat keadilan menjadi tali pengukur, dan kebenaran menjadi tali sipat; hujan batu akan menyapu bersih perlindungan bohong, dan air lebat akan menghanyutkan persembunyian." Dari sini kita dapat melihat bahwa rupanya tidak ada keadilan di tengah masyarakat. Agama dan semua yang berbau agama merupakan perlindungan bohong. Kehidupan beragama semakin semarak tetapi ketidakbenaran dan ketidakadilan semakin merajalela. Pemazmur menyebutnya “menghakimi dengan lalim”. Ibadah tidak mempengaruhi kehidupan mereka.

Lalu bagaimana dengan kita? Dari segi kesemarakan ibadah boleh dikatakan bahwa kita sungguh berkembang. Ada berbagai jenis kebaktian: kebaktian hari minggu, kebaktian rumah tangga, kebaktian OIG, kebaktian insidentil, kebaktian Penyegaran Iman. Tentu banyak dari orang-orang yang ikut kebaktian yang sungguh-sungguh menampakkan cara hidup yang benar. Namun tidak bisa disangkali bahwa sebagian dari orang-orang yang rajin beribadah itu sering masih cenderung mengikuti bahkan memaksakan kebenarannya sendiri misalnya: ingin benar sendiri dalam sidang-sidang; juga kadang-kadang masih ada kencenderungan untuk lebih mengutamakan adat istiadat ketimbang Firman Tuhan. Karena itu bukalah hidup untuk diluruskan oleh kebenaran dari Tuhan.

2.Sikap mempertahankan kenyamanan semu.
Amazia, seorang imam dalam menerima teguran dari Tuhan melalui nabi Amos, merasa terganggu. Sebagai seorang imam, semestinya ia bersyukur karena ada seorang nabi (rekan kerja) yang menyampaikan kebenaran dari Tuhan. Akan tetapi Amazia justru merasa diganggu oleh suara kebenaran dari Tuhan. Kebenaran suara Tuhan dianggap sebagai pengganggu kenyamanan semu yang sementara dinikmati. Itulah sebabnya ia memanipulasi kebenaran itu dengan menyampaikan berita yang bersifat hasutan. Ia melecehkan nabi sebagai orang yang mencari makan (mungkin ada juga jemaat mengatakan: nang dakaran kandemimola…). Banyak orang lebih memilih untuk mengamankan diri ketimbang berlaku seperti yang diinginkan Tuhan. Hal ini misalnya yang dilakukan oleh seorang imam dan seorang Lewi dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Luk.10:25-37). Mereka adalah orang-orang beragama yang tahu (bahkan mungkin sering mengkhotbahkan), bahwa kita harus menolong sesama manusia. Sangat disayangkan mereka justru mengamankan diri ketika melihat orang yang butuh pertolongan. Mereka tidak berbuat sebagaimana mestinya.

2.Sikap atau hidup sebagaimana mestinya.
Berbeda dengan Amazia, nabi Amos tampil dengan penuh ketegasan mengenai kebenaran Firman Tuhan. Sekalipun direndahkan sebagai orang yang sedang mencari makan, ia tidak mundur. Sekalipun ia ditekan dan diusir ia tetap menyampaikan suara Tuhan. Bagi Amos, suara Tuhan tidak boleh dihalangi dan dikalahkan oleh suara dari orang-orang yang senang mengamankan diri di bawah kekuasaan. Ia malahan menyampaikan nubuat dengan jelas dan tegas. Ia konsisten dalam menyampaikan kehendak Tuhan. Ia sungguh-sungguh bertindak sebagaimana mestinya. Ia berupaya hidup sebagaimana mestinya. Paulus bersyukur karena Iman dalam Kristus Yesus bertumbuh dalam jemaat Kolose. Kehidupan mereka sudah menggambarkan iman yang benar. Kasih terhadap semua orang Kudus menjiwai seluruh jemaat. Hidup mereka sudah sebagaimana mestinya. Pengetahuan mereka tentang kasih sudah mengejewantah dalam keseharian hidup. Hal ini juga yang ditegaskan Yesus bahwa Pengetahuan yang benar tentang kebenaran semestinya mewujud dalam tindakan. Kebenaran mengejewantah dalam keseharian hidup. Pertanyaan bagi kita sekarang ialah konsistenkah kita dalam berbagai keadaan? Tentu tidak mudah. Hanya dengan kekuatan Roh Kudus kita bisa konsisten. Di sini kita dapat melihat bahwa rupanya hidup yang bertumbuh dalam iman ialah hidup yang konsisten mengikuti kebenaran dari Tuhan. Karena itu, peganglah yang benar serta hidupilah yang benar itu. Hiduplah sebagaimana mestinya.














Selanjutnya:
Khotbah Minggu Gereja Toraja Minggu, 17 Juli 2022 - DENGARLAH PERINGATAN TUHAN (Tananni Talinga tu Peada`na Puang) - Amos 8: 1-14


Sebelum:
-


All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022..

Register   Login