lagu-gereja.com/toraja

View : 678 kali
Bahan khotbah hari Minggu                     Tanggal 20 Februari 2022

KASIH  YANG TUNTAS
Pa’kaboro’  Sundun

Bacaan Mazmur     : Mazmur 37:1-11
Bacaan 1    : Kejadian 45:1-15
Bacaan 2    : 1 Korintus 15:42-50
Bacaan 3    : Lukas 6:27-36 (Bahan Utama)
Nas Persembahan    : Mazmur 141:2
Petunjuk Hidup Baru    : Lukas 6:36

Tujuan:
Jemaat memahami arti dan wujud kasih yang sempurna.
Jemaat senantiasa berupaya hidup dalam kasih yang sempurna sebagai karakter kristiani.

Pemahaman Teks
Kejadian 45:1-15 menggambarkan secara dramatis suasana ketika ‘kejahatan’ berhadapan dengan ‘kebenaran’. Sambil menangis, Yusuf memperkenalkan dirinya kepada sudara-saudaranya, “Akulah Yusuf! Masih hidupkah Bapa?”. Yusuf tetap mengasihi  saudaranya, sekalipun mereka telah berlaku jahat pada dirinya. Yusuf menenangkan perasaan  saudaranya yang terkejut, gemetar,  ketakutan. Demikianlah ‘kejahatan’ akan gemetar ketika berhadapan dengan ‘kebenaran’, dan ‘kejahatan’ tidak mampu berdiri tegak di hadapan kokohnya ‘kebenaran’. Namun ‘kebenaran’ bukanlah sesuatu yang berkarakter balas dendam, melainkan berkarakter kasih sebagaimana yang nampak jelas dalam perkataan Yusuf:  “janganlah bersusah hati janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (ay. 5). Yusuf meyakini, bahwa kehadiran Yusuf di Mesir merupakan rancangan Allah untuk kebaikan semua orang, bukan saja orang Mesir tetapi juga untuk masa depan keluarga besar Yakub (Israel) dan keturunan, bahkan bangsa-bangsa lain. Inilah Kasih yang tuntas (sempurna) dari Allah yang dinyatakan dalam diri Yusuf. Setiap rancangan Allah senantiasa dipenuhi oleh Kasih untuk kebaikan manusia, karena Allah adalah Kasih itu sendiri (Allah adalah Kasih: Bdk 1 Yoh. 4:8).
Mazmur 37:1-11 menegaskan pesan agar umat Tuhan tetap bertahan dalam Tuhan, meskipun orang fasik sepintas kelihatan lebih sejahtera. Umat Tuhan hendaknya jangan terpengaruh dengan “kesuksesan” yang sebenarnya bersifat semu atau fana (ay. 2,10). “Kesuksesan” orang fasik justru merupakan sebuah ‘jalan cepat’ yang membawa mereka kepada kebinasaan (waktunya sangat singkat). Pemazmur mengajak pembacanya untuk tetap berpegang teguh dan dengan setia memegang dan melakukan perintah Tuhan, tidak pemarah dan iri hati (Bdk. Karakter Kasih dalam 1 Kor. 13) kepada keberhasilan orang fasik (ay.7), karena semua itu bersifat semu. Orang percaya diajak untuk tetap konsisten menantikan waktu yang telah ditetapkan oleh Tuhan di mana mereka akan diberikan warisan negeri yang kekal (ay.9).
  1 Korintus 15:42-50 berisi penjelasan Paulus tentang kebangkitan orang percaya. Seperti halnya tanaman, biji tidak hanya harus mati sebelum bertumbuh. Lebih dari itu, tubuh tanaman yang telah bertumbuh jelas berbeda dengan biji yang ditabur dan ditanam sebelumnya. Itu sebabnya, terkait dengan kebangkitan tubuh bagi orang-orang percaya, Paulus katakan bahwa mereka itu ditaburkan dalam kebinasaan namun dibangkitkan dalam ketidakbinasaan (ay.42). Tubuh yang dibangkitkan berbeda dengan tubuh yang awal sebab yang awal bisa binasa, hina, penuh kelemahan dan alamiah seperti pada manusia pertama (Adam) yang berasal dari debu tanah. Tetapi setelah kebangkitan, tubuh tidak lagi binasa, namun menjadi kuat dan mulia serta rohaniah seperti Adam yang terakhir yakni Kristus yang berasal dari sorga (ay.47). Hal ini sejalan dengan proses, betapa yang mula-mula datang adalah memang yang alamiah, tetapi yang kemudian adalah yang rohaniah (ay.46; bandingkan juga dengan ajaran ‘yang dikandung dari Roh Kudus’). Kita  memakai rupa alamiah dalam kehidupan yang fana, namun dalam kebangkitan kelak kita memakai rupa yang sorgawi (ay.49). Kehidupan Kerajaan Allah adalah kehidupan alamiah yang sedang dibaharui secara rohaniah (ay.50); ada di dunia tapi bukan dari dunia dan sedang menuju kepada penyempurnaan. Adapun kehidupan rohaniah yang terus-menerus dibaharui juga tidak terlepas dari atau semata-mata hanya kasih karunia Allah (lihat 1 Kor. 15:10) dalam Yesus Kristus melalui karya Roh Kudus.
 Lukas 6:27-36 merupakan “sisi lain ajaran Yesus di kaki bukit” yang sangat radikal dan revolusioner yakni menjalani hidup berdasarkan kaidah emas (kencana) yaitu perlakukan orang lain seperti yang diharapkan orang berlakukan kepada kita (bnd. Mat. 7:12). Hal ini merupakan sebuah gaya hidup (karakter) yang “baru”, yang diajarkan Yesus, contoh:  1) Mengasihi musuh dan mendoakan yang membenci (ay.27-280) 2) Tidak membalas dan mendendam, serta tidak mengambil kembali apa yg telah diberikan kepada orang lain (ay.29-30). Untuk itu, dibutuhkan tekad untuk sungguh-sungguh berjuang dalam menciptakan sebuah gaya hidup “baru” yang dikehendaki oleh Tuhan. Karena itu berjuanglah hidup seperti yang dikehendaki Tuhan. Bermurah hatilah, sebab Tuhan tetap berbuat baik bagi mereka tanpa memandang muka:  “berkorban demi kebahagiaan orang lain”. Ini bukanlah sebuah altruisme melainkan sebuah cara hidup yang mendasari keberadaan manusia di dunia dan merupakan jawaban dari pertanyaan untuk apa manusia ada di dunia ini (Bdk. Kej. 1:27-28). Ketika manusia diciptakan, sebelum manusia berbicara dan berpikir maka perintah untuk bertanggung jawab segera diberikan oleh Tuhan). Singkatnya, bukan altruisme tapi tanggung jawab hidup sebagai manusia.
Korelasi yang terlihat dari seluruh bacaan ialah terkait dengan cara hidup dari manusia lama (yang berpusat pada aku) menjadi manusia baru (berpusat pada Yesus Kristus). Cara hidup seperti itulah yang dipraktekkan Yusuf di hadapan saudara-saudaranya, serta diajarkan oleh Paulus dan terwujud sempurna dan memuncak dalam diri Yesus Kristus. Orang Kristen hendaknya tidak hanya hidup secara alamiah dan/atau naluriah (sekadar mengikuti kehendak dan perasaan) seperti makhluk-makhluk lainnya dan seperti ‘manusia lama’, tetapi hendaknya hidup dalam kehidupan yang dibaharui secara rohaniah, yakni yang berkarakter kasih yang sempurna. Kehidupan seperti inilah yang merupakan kehidupan yang akan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang sedang menuju kepada penyempurnaannya.

Pokok-pokok pengembangan khotbah
Hidup sebagai orang percaya bukanlah kehidupan sekadar hidup seadanya. Tuhan mengasihi manusia apa adanya, tetapi Ia menolak untuk membiarkan manusia (orang-orang percaya) hidup seadanya? Tuhan menghendaki agar orang-orang percaya dari hari ke hari mengalami pertumbuhan rohani. Ibarat pertumbuhan alami atau fisik manusia, manusia yang telah lahir sebagai ‘manusia baru’ dalam Yesus Kristus juga diharapkan untuk terus menerus mengalami pertumbuhan secara rohani dan tidak terus menjadi “bayi rohani”. Itulah pertumbuhan sebagai manusia baru dalam Yesus Kristus, yakni pertumbuhan rohani yang dari hari ke hari mengalami proses pendewasaan iman, proses menjadi makin serupa dengan Kristus.
Kehidupan untuk menjadi makin serupa dengan Kristus adalah sebuah perjuangan. Hanya orang-orang yang terus berjuanglah yang juga terus mengalami dan menikmati kehidupan ini. Karena hanya dengan berjuang, maka pencapaian demi pencapaian dapat dirasakan. Dalam perjuangan itu orang percaya butuh semangat (spirit) untuk tetap setia dalam perjuangan menjadi makin serupa dengan Kristus. Semangat yang (wajib) diperlukan oleh orang percaya itu adalah kasih. Mengapa kasih? Lihatlah pada kisah Yusuf! Kasih membuat Yusuf tetap bertahan, bahkan dalam situasi tidak ada “pegangan duniawi” sama sekalipun (tidak ada sanak keluarga di Mesir, difitnah, dipenjara, dikhianati). Inilah rahasia kekuatan Yusuf: KASIH! Satu-satunya yang menjadi adalan Yusuf adalah Tuhan Allah Israel, yang walaupun tidak dilihatnya dengan mata biasa, namun begitu jelas kehadiran-Nya dengan “mata iman”. Tidak ada dendam kepada lawan-lawanya (termasuk saudara-saudaranya yang telah berbuat jahat kepadanya). Yusuf menjadi representasi (mewakili) kehadiran Kasih Allah yang sempurna di dunia. Dari Yusuf yang tidak memiliki kepekaan sosial (yang merasa nyaman dengan pengistimewaan dari ayahnya dan kurang peduli kepada saudara-saudaranya karena pengistimewaan itu), menjadi Yusuf yang penuh belas kasih kepada semua orang. Demikianlah Tuhan membentuk Yusuf. Bukankah Tuhan menghendaki agar semua orang percaya mengalami hal yang sama seperti yang dikerjakan-Nya dalam diri Yusuf? Jelas demikian! Tuhan menginginkan agar semua anak-anak-Nya menjadi makin serupa dengan Kristus! Demikianlah, perjuangan hidup orang percaya adalah perjuangan yang dilandasi oleh Kasih Allah dalam Yesus Kristus.
“YESUS sebagai MODEL sekaligus MODAL” demikian kata Pdt. Eka Darmaputera. Sebagai MODEL, YESUS telah mengajarkan, baik itu melalui perkatan maupun perbuatan, yakni memberikan teladan kepada setiap orang percaya: setia hingga akhir. Ia Setia memikul salib dan menyangkal diri (bnd.Flp.2:5-11). Apa itu menyangkal diri dan memikul salib? Bagaimana hal itu dilakukan? Menyangkal diri dan memikul salib adalah penyangkalan kedaulatan diriku dan sekaligus pengakuan kedaulatan Tuhan, serta kesiapan melaksanakan sepenuhnya kehendak Tuhan. Setiap orang percaya memiliki dan memikul salib yang khas (unik), sebab tantangan dan pergumulan hidup setiap orang berbeda.
Yesus sendiri telah memperlihatkan dengan terang benderang hal itu. Jika Yusuf mewakili kehadiran Kasih Allah di dunia ini, maka di dalam Yesus Kristus Kasih Allah dinyatakan secara langsung (Allah sendiri yang datang menyatakan Kasih-Nya). Selanjutnya, sebagai MODAL, Yesus menjaminkan penyertaan senantiasa (bukan sekali-sekali atau pada waktu-waktu tertentu saja melainkan setiap saat), hingga pada akhir zaman! Yohanes 12:26 mengajarkan, mengingatkan dan menegaskan bahwa di mana Yesus berada, di sana pelayanan-Nya berada dan di mana pelayanan-Nya berada di sana Yesus berada. Sekali lagi, jaminan ini (YESUS sebagai MODAL) berlaku SENANTIASA (setiap saat)!
Kasih setia Tuhan Yesus berlaku senantiasa kepada orang-orang percaya. Karena itu tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak hidup setia dalam Tuhan, serta tidak ada alasan untuk tidak setia mengasihi. Karena itu orang-orang percaya juga mesti memahami dengan benar kasih Allah yang utuh, termasuk sisi lain dari kasih. Apa itu sisi lain dari kasih? Sisi lain dari kasih, adalah ‘membenci’! Ya, membenci segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kasih! Allah mencintai manusia berdosa tapi IA tidak pernah mencintai dosa!












Selanjutnya:
Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 21-26 Februari 2022 - KASIH YANG TUNTAS / Pa`kaboro` Sundun - 1 Korintus 15:42-50


Sebelum:
Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 14-19 Februari 2022 - JALAN KEBAHAGIAAN / Lalan Kamauparan - Yeremia 17:5-10


All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022..

Register   Login