| lagu-gereja.com/toraja |
|
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022 Bahan khotbah Kamis Putih Tanggal 14 April 2022Kamis, 14 April 2022 Bahan khotbah Kamis Putih - Kamis, 14 April 2022 - DIBASUH DARAH KRISTUS Nabasei Rara-Na / Puang Yesus - Yohanes 13:1-20DIBASUH DARAH KRISTUS Nabasei Rara-Na Puang Yesus Bacaan Mazmur : Mazmur 116:12-19 Bacaan 1 : Keluaran 12: 1-15 Bacaan 2 : 1 Korintus 11:23-34 Bacaan 3 : Yohanes 13:1-20 (Bahan Utama) Nas Persembahan : Mazmur 116:12-14 Petunjuk Hidup Baru : Yohanes 13:14-15 Tujuan: Jemaat memahami arti dan makna pengorbanan Kristus Jemaat menghidupi pengorbanan Kristus dengan hidup rendah hati dan saling mengampuni Pemahaman Teks Mazmur 116:12-19 merupakan doa pemazmur yang mengalami pengalaman iman saat menghadapi ancaman maut (ay.3,8). Pembebasan dari Tuhan mendorongnya untuk membayar nazar dengan korban syukur kepada Allah (ay.12-14). Penekanan pemazmur terungkap dengan sebuah pengakuan "aku mengasihi Tuhan" dan "seumur hidupku aku berseru kepada-Nya." Keluaran 12:1-15 menarasikan kisah permulaan perjamuan Paskah dengan berbagai peraturan yang diberikan kepada bangsa Israel agar mereka terluput dari bencana di Mesir. Terdapat ritual makan anak domba paskah dengan tergesa-gesa dan berdiri dengan sayur pahit dengan waktu yang sangat sempit untuk meninggalkan Mesir sambil mengoleskan darah anak domba di tiang pintu sebagai simbol keberadaan orang Israel. 1 Korintus 11:23-34 menjelaskan tentang kisah perjamuan Paskah di Mesir sebelum bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir sekaligus menjelaskan tentang pengorbanan Kristus yang sudah memberikan tubuh dan darahNya untuk mengampuni manusia yang berdosa. Namun ternyata makna perjamuan telah mengalami pergeseran, sebab pada waktu itu orang tidak lagi saling mempedulikan, melainkan masing-masing hanya menikmati makanannya sendiri (ay.17-22). Ironis, sebab perjamuan kudus sesungguhnya merupakan tempat untuk mengingat kembali kepedulian Kristus sebagai bentuk kasih dan pembebasan-Nya bagi keselamatan dunia (ay.23-36). Yohanes 13:1-20 menguraikan bagaimana Yesus mengawali tindakan kasih dengan cara membasuh kaki murid-murid-Nya (ay.4-5). Yesus menyatakan bahwa Ia telah mengambil peran yang sangat rendah untuk melayani mereka. Yesus adalah seorang guru dan Tuhan yang rela membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai teladan kepada mereka agar mereka pun mau melakukan hal yang sama (ay.14-15). Melalui tindakan tersebut, Yesus mau membuka pikiran para murid-Nya, bahwa melayani bukanlah pekerjaan/tindakan rendah melainkan sesuatu yang akan membawa kebahagiaan (ay.17). Yesus hendak mengajarkan kepada murid-Nya, bahwa hakekat pelayanan yang sesungguhnya adalah ketika kita mau menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan dan prestise diri sendiri. Hal ini sama sekali berbeda dengan kebiasaan yang berlaku pada zaman kuno, yakni bahwa pembasuhan kaki selalu dilakukan oleh orang yang posisinya lebih rendah daripada yang dibasuh. Pada umumnya yang membasuh kaki tuannya dan atau tamu tuannya adalah para budak. Akan tetapi Yohanes mencatat hal yang sangat berbeda. Yesus yang adalah Guru dan Tuhan melakukan tindakan pembasuhan yang biasanya dilakukan oleh para hamba atau budak. Ia menanggalkan jubah-Nya (bentuk jamak himatia seharusnya diterjemahkan “pakaian-pakaian” jadi bukan hanya jubah-Nya saja yang ditanggalkan). Mengikat pinggang juga menjadi gambaran dari seorang budak yang siap melayani (bnd.Luk.17:8). Salah satu pesan penting yang hendak disampaikan disini adalah prinsip kerendahan hati yang dicontohkan oleh Yesus. Selain itu bahwa waktu pembasuhan kaki umumnya dilakukan pada saat tamu baru saja tiba di rumah (itu keharusan bagi seorang budak kepada tamu). Sedangkan jika mencermati penuturan Injil Yohanes sepertinya pembasuhan kaki Yesus kepada murid-murid-Nya dilakukan pada saat makan, artinya bukan keharusan (ay.2,4). Hal ini hendak mengungkapkan bahwa Yesus melakukan pembasuhan kaki ini dengan penuh kesadaran dan kerelaan. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh gereja dengan melakukan pembasuhan kaki pada saat perayaan dan penghayatan Kamis Putih. Pembasuhan kaki yang dilakukan oleh gereja hendaknya merupakan sebuah pemaknaan dari apa yang telah diteladankan oleh Kristus dan bukan sekadar sebagai formaliats belaka tanpa pemaknaan yang mendalam. Korelasi segenap bacaan ialah menyatakan kasih Allah yang tak terbatas kepada manusia untuk membebaskan dan menyelamatkan mereka. Ia bahkan rela merendahkan diri, menderita dan mati demi keselamatan umat yang dikasihi-Nya. Pokok-pokok pengembangan khotbah Berdasarkan uraian di atas, maka ada beberapa makna yang terkandung dalam kisah pembasuhan kaki Yesus kepada para murid-Nya: Pembasuhan kaki: demonstrasi Kasih yang sempurna (ay.1-5) Injil Yohanes memulai kisah ini tidak hanya dengan menekankan tentang kemahatahuan Yesus tentang apa yang akan terjadi atas diri-Nya, tetapi juga tentangg kasih-Nya. Kata “mengasihi” (agapao) muncul dua kali dalam ayat 1. Yesus mengasihi mereka sampai kesudahannya (ay.1b). Kata “sampai kesudahannya” (eis telos) bisa menerangkan aspek waktu (sampai terakhir atau mati) tetapi bisa juga menerangkan aspek kualitas (sampai tertingi=terbesar). Menarik bahwa pembasuhan ini juga dilakukan Yesus kepada Yudas Iskariot yang tentu Ia tahu persis akan mengkhianati Dia (ay.2,11). Yesus tetap menunjukkan kasih-Nya kepada Yudas walaupun hati Yudas sudah diberikan kepada iblis (ay.2). Kasih seperti ini jelas merupakan kasih yang paling agung yang mungkin jarang ditemukan. Bandingkan dengan kasih Allah kepada umat Israel pada saat pembebasan dari Mesir (Kel.12:1-15). Kasih Kristus kepada para murid tidak tanggung-tanggung. Ia tidak hanya membasuh kaki mereka, melainkan membasuh dosa mereka dengan darah-Nya yang kudus. Begitu juga kepada kita orang berdosa, melalui pengorbanan Kristus di kayu salib dosa kita telah dibasuh dengan darah Kristus. Oleh karena itu kita terpanggil untuk menyatakan kasih Allah yang besar dengan saling mengasihi termasuk kepada mereka yang membenci kita (Mat. 5:44). Pembasuhan kaki: simbol penebusan dosa (ay.6-11) Ketika Yesus hendak membasuh kaki Petrus, sang murid menolak dengan tegas (ay.6,8). Penolakan Petrus disebabkan oleh karena ketidakmengertian terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus yang memang bertentangan dengan budaya mereka pada saat itu. Dan ternyata Yesus memahami hal itu dnegan berkata: “apa yang Kuperbuat engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak” (ay.7). Ketidakmengertian dan penolakan Petrus menjadi sarana untuk mengarahkan murid-murid lainnya bahwa tindakan pembasuhan kaki memiliki makna yang jauh lenih dalam. Sama seperti air yang dipakai dalam pembasuhan kaki murid-murid, demikian pula “air dan darah” yang keluar dari tubuh Yesus di kayu salib (Yoh.19:34; 1 Yoh.5:6) menyucikan seluru kehidupan setiap pengikut-Nya. Jika Petrus tidak dibasuh oleh Yesus, maka ia tidak akan mendapat bagian di dalam Dia. Jika Petrus tidak dibasuh oleh Yesus, maka ia tidak akan memperoleh penebusan dosa dan tidak akan mewarisi berkat-berkat rohani dari Yesus. Murid-murid perlu dibersihkan dosanya melalui kurban Kristus di kayu salib supaya mereka selamat (ay.8,10). Akan tetapi mereka tetap harus tetap dibersihkan terus melalui firman supaya mereka berbuah (Yoh.15:1-5). Pembersihan kaki yang dilakukan oleh Yesus hanya terjadi sekali untuk selamanya, tetapi murid-murid sampai kapan pun tetap harus mandi berulang-ulang. Demikian pula dengan penebusan Kristus yang hanya sekali dilakukan untuk selamanya (Rm.6:10;Ibr 7:27, 10:10), tetapi pembersihan melalui firman harus terus-menerus dilakukan. Oleh karena Yesus telah membasuh dosa kita dengan darah-Nya maka hendaklah dosa jangan lagi berkuasa atas hidup kita melainkan kita mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah sebagai ibadah yang sejati (Rm. 12:1) Teladan hidup rendah hati Setelah Yesus selesai melakukan pembasuhan, Ia menanyakan arti dan tindakan itu kepada murid-murid-Nya (ay.12). Akan tetapi sebelum mereka menjawabnya, Ia sendiri telah menjelaskan arti dari tindakan membasuh kaki mereka. Yesus berkata: “jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (ay.14). Sebagaimana Yesus sebagai Guru dan Tuhan mau membasuh kaki mereka, demikian pula mereka wajib untuk saling membasuh kaki. Hal ini menjadi amat penting untuk ditekankan oleh Yesus. Jika seorang murid memandang murid lain, maka ia akan mendapati temannya itu tidak pantas untuk dibasuh kakinya. Sebaliknya jika ia melakukannya dengan memandang kepada Yesus yang adalah Guru dan Tuhan, maka mereka akan memiliki alasan yang cukup untuk dengan rendah hati akan membasuh kaki sesamanya. Nasihat inilah yang kemudian mendorong gereja mula-mula untuk melakukan pembasuhan kaki secara hurufiah (1 Tim. 5:10). Apakah perintah ini bisa kita lakukan? Di satu sisi perintah ini tidaklah sulit sebab kita hanya diminta untuk membasuh kaki sesama kita yang sama (rendahnya) dengan kita. Jikalau Yesus sudah melakukannya dengan membasuh kaki mereka yang lebih rendah dari diri-Nya atau lebih tepatnya membasuh kaki orang berdosa, masakan orang berdosa merasa diri terlalu tinggi untuk membasuh kaki orang berdosa lainnya? Di sisi lain perintah ini memang sulit. Tentu akan menjadi mudah bagi kita apabila Yesus memerintahkan kita untuk membasuh kaki-Nya. Kita mungkin dengan senang hati akan melakukan itu. Perintah membasuh kaki sesama jelas tidak mudah karena kedagingan kita sering mendorong kita untuk berada di atas orang lain. Dihormati lebih nikmat daripada direndahkan. Memimpin lebih lebih enak daripada melayani. Namun demikian, satu hal yang pasti Yesus katakan, “berbahagialah kamu jika kamu melakukannya” (Yoh. 13:17).
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Bahan khotbah Jumat Agung - Jumat, 15 April 2022 - KEMATIAN YANG MENGHIDUPKAN / Kamatean Mepatuo - Yohanes 19:28-30 Sebelum: Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 11-16 April 2022 - Prapaskah VI - TEGUH SEPERTI GUNUNG BATU / Matoto` susi batu Laulung - Lukas 22:14-23 All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022: Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |