lagu-gereja.com/toraja

View : 796 kali
Bahan khotbah hari Minggu             Tanggal  1 Mei  2022
Bulan Pendidikan

KEMULIAAN ANAK DOMBA
Kamala’biran-Na Anak Domba

Bacaan Mazmur     : Mazmur 30:1-13
Bacaan 1    : Kisah Para Rasul 9:1-6
Bacaan 2    : Wahyu 5:11-14 (Bahan Utama)
Bacaan 3    : Yohanes 21:1-19
Nas Persembahan    : Mazmur 33:1-2
Petunjuk Hidup Baru    : Mazmur 30:2-3

Tujuan:
1.    Jemaat meyakini bahwa Kristus sungguh telah menang atas maut.
2.    Jemaat teguh menghadapi beragam masalah, bahkan maut sekalipun.

Pemahaman Teks
Mazmur 30:1-13 merupakan pujian yang melukiskan karya penyelamatan Allah yang luar biasa. Ia dipulihkan secara luar biasa, yakni serupa dengan orang yang diangkat Allah dari dunia orang mati. Ayat 1-4 berisi pernyataan pemazmur untuk memuliakan Tuhan. Alasannya, karena Tuhan telah mendengarkan teriakannya minta tolong dengan mengangkat dia dari dunia orang mati (ay.4). Tuhan telah menyembuhkan dia (bnd. Mzm. 6:3; 41:5 permohonan minta disembuhkan) dan membebaskan dia dari bahaya maut. Penyembuhan itu dirasakan pemazmur seperti ditarik keluar (atau ke atas) dari sumur yang dalam (kata kerja ‘menarik ke luar’, aslinya atau arti pertamanya ialah ‘menimba’, bnd. Keluaran 2:16, 19 dan Ams. 20:5), oleh Tuhan yang agung yang bersemayam di tempat yang tinggi (bnd. Mzm. 18:17, 47; 99:2,5). Penyembuhan itu membebaskan pemazmur dari sukacita musuh-musuhnya atasnya, artinya melepaskan dia dari segala cercaan dan hinaan mereka seolah-olah dia ‘ditinggalkan oleh Tuhan’ (bnd. Mzm. 22:7-9) atau telah ‘berdosa’ sehingga dihukum oleh Tuhan (bnd. Mzm. 107:17-20). Karena semuanya itulah pemazmur bersyukur memuliakan Tuhan Allah-nya.

Ayat 5-6 berisi ‘siapakah Tuhan menurut pandangan pemazmur?’. Dia adalah Allah yang sesaat saja marah, tapi yang seumur hidup menunjukkan kasihNya (bnd. Yes. 54:7). Pengalaman tentang kasih Tuhan membuat orang melihat Allah dan karya-Nya dalam waktu secara baru. Sebab itu, pemazmur mengundang semua “orang yang dikasihi-Nya”, artinya semua orang termasuk jemaah Tuhan, yang hidup dalam kasih Tuhan dan sadar akan kasih-Nya, untuk juga ikut bermazmur dan memuji Tuhan.

Ayat 7-11 berisi pengakuan pemazmur kepada Tuhan. Pemazmur mengakui dosa kesombongannya (ay.7), mengakui kebaikan Tuhan yang diterimanya secara tidak pantas (ay.8), dan menceriterakan dan mengulang kembali doanya di dalam penderitaan ketika ia memohon belas kasihan Tuhan (ay. 9-11).
Ayat 12-13 berisi pengakuan kepada kasih setia dan belas kasihan Allah kepada pemazmur. Seorang yang dulunya sombong di waktu sehat dan ternyata papa di waktu penderitaan. Kain kabung ratapan dan penderitaan dan keluh kesah permohonan telah diambil darinya. Allah sekarang mengenakan pakaian pesta keselamatan kepadanya yang membuat pemazmur menari-nari, bersukacita dalam Tuhan. 

Kisah Para Rasul 9:1-6 merupakan kisah pertobatan Saulus yang pada dasarnya menegaskan betapa Yesus yang telah mati tersalib, sesungguhnya adalah Tuhan yang hidup. Yesus jugalah yang kemudian memilih dan memanggilnya menjadi hambaNya.

Perjumpaan Saulus dengan Yesus yang bangkit terjadi ketika ia di tengah perjalanan ke Damsyik, atau yang lebih dikenal dengan nama Damaskus (terletak di sebelah utara Palestina, negara Siria sekarang), dengan maksud mengejar para pengikut Yesus (kala itu masih disebut pengikut jalan Tuhan), tepatnya ketika ia sudah mendekati kota (ay.3-4). Dalam suara yang didengar Saulus, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai orang yang sudah dianiaya oleh Saulus. Hal ini menarik karena menunjukkan kepada kita bahwa Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan jemaat yang adalah tubuh Kristus. Menganiaya jemaat Tuhan adalah juga menganiaya Kristus sendiri. Itu berarti kita tidak perlu merasa takut, karena Yesus selalu hadir dalam kehidupan kita. Namun itu juga berarti bahwa jika Yesus hadir dalam kehidupan kita, maka kita tidak boleh hidup seenaknya.

Ketika Saulus telah menjadi buta, Tuhan menyuruhnya untuk bangun dan pergi ke dalam kota. Di sanalah nantinya akan dikatakan kepadanya apa yang harus ia perbuat. Di sini kita melihat, ada perubahan pusat hidup, dari Saulus yang hidup berpusat pada kemauan dan keinginan diri sendiri, menjadi seorang yang berpusat pada kemauan dan keinginan Kristus. Saulus setelah berjumpa Yesus, berubah dari seorang yang gagah, kuat, bersemangat, berambisi dan berkuasa menjadi orang yang lemah, buta, dan tidak berdaya. Saulus yang setelah bertobat berubah nama menjadi Paulus menyatakan bahwa hidupnya adalah untuk melayani Kristus. Ia memberi dirinya dipakai Kristus sebagai alat. Salah satu ungkapan Paulus yang terkenal adalah ‘bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan’ (Flp. 1:21).

Wahyu 5:11-14 mengisahkan penglihatan Rasul Yohanes terkait suara malaikat yang menyatakan kuasa, hormat dan kemuliaan Anak Domba Allah. Sang Anak Domba telah menang (Why.5:5), sehingga puji-pujian dan hormat diberikan pada-Nya.

Menurut Eka Darma Putera dalam bukunya ‘Menyingkap Janji Tuhan’, ada tujuh hal besar yang dimiliki Tuhan Yang Bangkit, yaitu:
Ia memiliki kuasa. Ia bukanlah orang yang dapat membuat rencana, namun tak pernah mencapainya; Ia memiliki kuasa.
Ia memiliki kekayaan. Yesus Kristus tidak pernah menjanjikan sesuatu yang tidak dimiliki-Nya. Tidak ada tuntutan yang tidak dapat dipenuhi-Nya.
Ia memiliki hikmat untuk mengetahui rahasia Allah dan jawaban bagi persoalan-persaoalan hidup.
Ia memiliki kekuatan. Tidak ada situasi yang tidak dapat ditangani-Nya.
Ia memiliki hormat. Hal yang aneh ialah bahwa orang bukan Kristen bahkan seringkali menghormati Kristus dengan mengakui bahwa hanya di dalam ajaran-Nya ada pengharapan bagi dunia yang tersesat.
Keenam, Ia memiliki kemuliaan. Kemuliaan adalah hak Allah semata-mata. Maka mengatakan bahwa Yesus Kristus memiliki kemuliaan sama artinya dengan mengatakan bahwa Ia Ilahi.
Ketujuh, berkat adalah milik-Nya. Semua hal yang dimiliki-Nya, semuanya Ia gunakan untuk melayani manusia yang bagi mereka Ia hidup dan mati; Ia tidak menyimpan semua itu untuk diri-Nya sendiri.

Yohanes 21:1-19 berisi kisah penampakan diri Yesus Kristus pasca kebangkitanNya, yang menegaskan betapa Yesus sungguh telah menang atas maut. Ia kembali menyatakan karya yang ajaib bagi para murid, termasuk dalam hal ini memulihkan Petrus yang telah menyangkali diriNya sebelumnya. Dalam ayat 4 bacaan kita, dikatakan: ‘Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai…’. Secara harfiah keterangan waktu di sini adalah ‘Tetapi ketika fajar sudah menyingsing’. Istilah Yunani untuk ‘fajar (pagi)’ ini berasal dari akar kata yang sama dengan yang di ayat 18:28 ‘hari masih pagi’, dan 20:1 ‘pagi-pagi benar’.
Korelasi segenap bacaan ini terlihat dengan jelas, yakni kepastian kemenangan Allah atas maut. Kristus telah menaklukkan dunia orang mati. Itu sebabnya karya Allah dalam Kristus terus berlanjut dalam kehidupan umatNya.

Pokok-pokok pengembangan khotbah

    Ketika memperhatikan dengan seksama ketiga bacaan yang kemudian lebih difokuskan pada bacaan Wahyu 5:11-14, maka ada beberapa hal yang menarik yang bisa menjadi garis besar dalam khotbah:
Yesus, Anak Domba Allah, layak di sembah
Dalam perikop bacaan kita hari ini, nyata jelas bahwa di antara berlaksa-laksa malaikat hanya Anak Domba yang berhasil membuka gulungan kitab itu. Keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu kemudian memuji-muji Dia (Why. 5:8), malaikat-malaikat yang jumlahnya berlaksa-laksa pun tak ketinggalan memuji-muji Dia (Why. 5:11) dan semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya juga memuji-muji Dia (Why.5:13). Terdengar bergemuruh suara puji-pujian dari seluruh makhluk ciptaan. Puji-pujian ini keluar secara spontan karena ada rasa kekaguman dan ketakjuban dalam diri mereka.
Sebagai orang Kristen, kita sudah berkali-kali mendengar tentang Injil, kabar sukacita, karya anugerah keselamatan Tuhan di dalam dan melalui Yesus Kristus, yang disalibkan, mati namun bangkit pada hari yang ketiga.

Pertanyaan kita: masih adakah rasa kekaguman dan ketakjuban yang terus menerus keluar dari hati kita akan peristiwa itu? Kenapa kita tidak mempunyai reaksi seperti para malaikat dan semua makhluk yang ada di bumi dan yang di laut dan semua makhluk yang ada di dalamnya? Atau seberapa seringkah kita menangis ketika kita mendengar tentang penderitaan Yesus yang mati untuk menebus kita? Akan tetapi, hati-hati, jangan salah paham. Jangan sampai kita jatuh pada ekstrim yang lain, yaitu kita merasa kasihan pada Yesus karena melihat kondisi fisik-Nya.
Sebab siapakah yang perlu dikasihani? Tuhan ataukah diri kita? Ingat, Tuhan tidak butuh belas kasihan dari kita, justru kita yang seharusnya dikasihani. Kita yang justru harus menyesali dan menangisi diri, sebab oleh karena kitalah, Dia harus menderita.

Ilustrasi:
Ada seorang yang terlahir kembar identik. Antara kakak dan adik ini memiliki perangai yang sangat berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Si kakak terkenal kasar, jahat dan selalu meresahkan warga di kompleks mereka tinggal. Suatu hari, sang kakak ini melakukan perampokan dan pembunuhan di salah satu kompleks perumahan, hingga dia tertangkap, kemudian diadili lalu dijatuhi hukuman mati. Dalam penantian pelaksanaan hukuman mati atas dirinya, sang kakak depresi, menjadi gelisah dan tidak mau makan. Adiknya yang begitu mengasihi kakaknya ini, tidak tega melihatnya. Apalagi mendengar sang kakak akan segera dihukum mati. Entah bagaimana caranya, sang adik berhasil secara diam-diam bertukar identitas dengan sang kakak. Sang kakak akhirnya bisa leluasa keluar dari penjara dan sang adik yang justru mendekam dalam penjara sambil menanti proses pelaksanaan hukuman mati.

Ketika sang adik telah dieksekusi mati, sang kakak begitu terpukul dan meraung-raung menangisi kematian sang adik yang tidak layak ia tanggung. Akan tetapi, kalau sang kakak ini berhenti hanya sekedar kasihan dan menangisi kematian saudara kembarnya lalu ia kembali menjadi penjahat, maka semua pengorbanan itu tidak ada artinya. Respon yang tepat adalah dia harus memperbarui hidupnya.
Ketika kita memandang penderitaan salib Kristus bukan rasa kasihan yang seharusnya muncul. Justru salib membuat kita takjub dan kagum sebab hanya Dia yang patut menerima segala pujian dan kemuliaan. Keselamatan yang kita peroleh bukanlah barang yang murah dan juga bukan hal yang mudah bagi Allah Bapa. Bayangkan, bagaimana perasaan kita sebagai orang tua, ayah atau ibu, ketika melihat penderitaan yang harus dialami oleh darah daging kita demi untuk orang lain. Sebagai orang tua, tentu kita tidak pernah ingin ada orang lain yang berlaku kasar atau menyakiti anak kita, bukan?

Kitab Injil Yohanes menceriterakan: ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia lebih memilih supaya anak-Nya yang tunggal itu mati untuk kita (Yoh.3:16). Itulah sebabnya kita dapat memahami kalau Kristus sampai berseru,“Eli, Eli lama sabakhtani”. Kristus adalah seorang manusia sejati sehingga Ia juga dapat merasakan penderitaan seperti kita. Tapi bedanya adalah Ia menang atas penderitaan, bahkan atas maut. Kristus dapat menang atas pencobaan di padang gurun maupun di Getsemani dan Ia dapat melewati semua penderitaan termasuk menang atas maut kekal, sehingga Ia bisa menjadi buah sulung karena Ia terlebih dahulu belajar taat pada Bapa selangkah demi selangkah. Kalau bukan kasih, Allah pasti tidak akan mau menyelamatkan kita. Sebab bagi Allah, jauh lebih mudah menciptakan manusia daripada menyelamatkan manusia. Ketika melihat salib hendaklah kita diingatkan akan kasih Allah dan kita dibuat takjub oleh-Nya dan biarlah kekaguman dan pujian tidak pernah hilang dari kita.

Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang telah dibunuh, kini telah menang.
    Hal ini mau menyatakan bahwa tidak ada kuasa yang di surga, di bumi maupun di bawah bumi yang dapat menghalangi dan menggagalkan rencana Allah, termasuk kuasa maut! Semua rencana Allah atas dunia dan hidup kita itu, Ya dan Pasti. Kita merupakan salah satu bukti dari rencana Allah yang sedang berjalan.

    Jadi, di saat kita sedang mengalami kesulitan jangan pernah berpikir bahwa rencana Allah tidak berjalan dan kita berada di luar rencana Allah. Tidak! Karena itu janganlah engkau bersungut-sungut pada-Nya atas penderitaan yang engkau alami hari ini. Tapi hendaklah dari mulut kita keluar bukan kata-kata sungut, melainkan pujian. Karena hanya Dia yang layak menerima segala pujian dan hormat. Sehingga bersama-sama dengan kumpulan para kerub, para tua-tua dan seluruh alam semesta, kita senantiasa memuji-muji kebesaran-Nya.

    Di hadapan Anak Domba Allah, yang telah menang atas maut itu, kita tersungkur dan menyembah Dia. Kita menaklukkan diri sepenuhnya pada kehendak-Nya dan hanya Dia yang kita sembah bukan yang lain. Karena itu, tepatlah dan benarlah Pengakuan Gereja Toraja yang mengatakan: Yesus Kristus itulah Tuhan dan Juruselamat. Yesus Kristus yang menyatakan kehendak Allah, kasih Allah dan kuasa Allah sebagaimana yang dinyatakan kepada kita dalam Firman Tuhan. Amin!















Selanjutnya:
Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 2-7 Mei 2022 - KEMULIAAN ANAK DOMBA / Kamala`biran-Na Anak Domba - Yohanes 21:1-19


Sebelum:
Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 25-30 April 2022 - BERUBAH OLEH KEBANGKITAN KRISTUS / Napopembali kamalimbangunanNa Kristus - Yohanes 20:19-31


All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022..

Register   Login