|
|
Dilihat: 128 x Save PageKhotbah GMIT 2019 Jumat, 19 April 2019Jumat, 19 April 2019 Jumat, 19 April 2019 - Kristus Dihukum; Penyaliban - Yohanes 19:16b-30 - Jumat Agung Jumat Agung Mazmur 28:1-9 Yohanes 19:16b-30 - Hitam - Salib (putih) dan mahkota duri (kuning) Yesus Disalibkan - Salib (lambang kehinaan) yang membawa keselamatan - Keselamatan sebagai pemulihan relasi antara Tuhan Allah dan manusia. - Salib juga memulihkan relasi kita dengan sesama. Yohanes 19:16b-30 Yesus disalibkan 19:16 Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. (#19-#16b) Mereka menerima Yesus. 19:17 Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. 19:18 Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah. 19:19 Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi." 19:20 Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. 19:21 Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi." 19:22 Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis." 19:23 Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian -- dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. 19:24 Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu. 19:25 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. 19:26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" 19:27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Yesus mati 19:28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci --: "Aku haus!" 19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. 19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Penjelasan:
* Kristus Dihukum; Penyaliban (19:16-18) Di sini kita mendapati hukuman mati dijatuhkan ke atas Tuhan Yesus, dan pelaksanaannya dilangsungkan tidak lama kemudian. Betapa Pilatus bergumul hebat antara keyakinan dan kebejatan dalam dirinya, tetapi akhirnya keyakinannya itu luluh dan kebejatannya menang. Rasa takut kepada orang banyak mengalahkan rasa takutnya kepada Allah. I. Pilatus menjatuhkan penghakimannya terhadap Kristus dan menyetujui perintah pelaksanaan hukuman itu (ay. 16). Di sini kita dapat melihat: . Bagaimana Pilatus berdosa melawan hati nuraninya sendiri: Dia telah berulang kali menyatakan bahwa Kristus tidak bersalah, tetapi pada akhirnya dia menghukum-Nya sebagai seorang yang bersalah. Sejak menjadi wali negeri, Pilatus telah banyak mengecewakan dan menggeramkan bangsa Yahudi, sebab ia adalah seorang yang berjiwa keras dan tinggi hati, dan tindak-tanduknya selalu sesuai dengan tabiatnya yang jahat. Dia telah merampas persembahan kepada Allah dan menghamburkannya untuk pekerjaan pengairan. Ia membawa perisai-perisai yang berukir gambar kaisar ke Yerusalem, dan hal itu sangat menggusarkan orang-orang Yahudi. Ia mengorbankan nyawa banyak orang dengan keputusan-keputusannya pada waktu itu. Karena merasa takut akan dilaporkan mengenai hal-hal di atas serta kekurangajarannya yang lain, ia pun bersedia mengambil hati orang-orang Yahudi. Hal itu membuat keadaan semakin runyam saja. Seandainya dia berlaku baik, lembut dan penuh pertimbangan, maka sikapnya yang menyerah terhadap desakan arus yang deras itu pastilah lebih dapat dimaklumi. Akan tetapi, menyerah di dalam perkara seperti itu membuatnya terlihat sangat jahat, sebab dia biasanya bersikukuh dalam hal lain dan selalu tegas mempertahankan keputusannya. Tetapi kini, dia memilih untuk mengkhianati hati nuraninya sendiri daripada melakukan sesuatu yang dapat merugikan kepentingannya. . Kini dia berusaha untuk memindahkan semua kesalahan ke pundak orang-orang Yahudi. Dia tidak menyerahkan Yesus kepada para bawahannya seperti biasanya, tetapi kepada para penganiaya, yaitu para imam kepala dan tua-tua. Dengan demikian, ia hendak memaafkan keputusannya yang tidak sesuai dengan hati nuraninya sendiri, yaitu bahwa dia hanya membiarkan penghukuman itu terjadi, dan tidak menjatuhkan hukuman mati kepada Kristus, melainkan hanya menyerahkan-Nya saja kepada orang-orang yang hendak menghukum-Nya seperti itu. . Bagaimana Kristus dijadikan dosa bagi kita. Kita layak dihukum, tetapi Kristus menanggung hukuman itu bagi kita supaya kita tidak lagi harus berada di bawah penghukuman. Kini Allah memasuki penghakiman bersama Anak-Nya, supaya Dia tidak harus memasuki penghakiman itu bersama para hamba-Nya. II. Penghakiman itu pun segera dilaksanakan oleh para penganiaya. Mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan dan tidak ingin membuang waktu, sebab mereka khawatir jangan sampai Pilatus berubah pikiran dan memerintahkan pembatalan penghukuman itu (orang-orang yang cepat-cepat menjerumuskan kita supaya berbuat dosa, lalu tidak memberi kita kesempatan untuk membatalkan apa yang telah kita putuskan adalah musuh-musuh jiwa kita, musuh-musuh yang paling jahat). Selain itu, mereka juga khawatir jangan sampai timbul keributan di antara rakyat dan muncul lebih banyak orang yang menentang mereka melebihi jumlah yang telah dihasut oleh mereka. Alangkah baiknya jika kita mau bertindak gesit dan penuh daya seperti yang mereka lakukan itu, namun untuk hal-hal yang baik, supaya jangan datang lebih banyak kesukaran lagi. . Mereka segera menggiring Sang Tahanan keluar. Dengan rakus para imam kepala langsung saja menerkam mangsa yang telah lama mereka incar-incar itu. Mangsa itu kini telah terjerat jaring mereka. Atau mereka, yaitu para tentara yang akan menjalankan penghukuman itu, membawa-Nya dan menggiring-Nya keluar, bukan ke tempat dari mana Ia berasal, lalu kemudian ke tempat pelaksanaan penghukuman sebagaimana yang biasa kita lakukan, melainkan langsung ke tempat penghukuman. Para imam dan tentara bersatupadu menggiring-Nya. Inilah saatnya Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, manusia-manusia yang jahat dan bebal. Berdasarkan hukum Taurat Musa (yang juga dijalankan oleh hukum kita), para pendakwa juga menjadi pihak yang melaksanakan penghukuman (Ul. 17:7). Begitulah, para imam di sini sangat membanggakan tugas mereka itu. Dia digiring bukan kerena Dia telah melakukan perlawanan, tetapi supaya firman Allah digenapi, seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian (Kis. 8:32). Kita pantas dienyahkan bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan, sebagaimana penjahat digiring ke tempat penghukuman (Mzm. 125:5). Tetapi Dia-lah yang justru dienyahkan demi kita, supaya kita bisa lolos dari penghukuman. . Untuk menambah kesengsaraan-Nya, mereka menyuruh Dia memikul salib-Nya sendiri sampai semampu-mampunya (ay.17), sesuai dengan adat kebiasaan Romawi. Karena itulah mereka dikecam dengan julukan Furcifer, yaitu keras dan keji. Kayu salib mereka tidak langsung berdiri tegak, sebagaimana tiang gantungan yang kita pakai di tempat-tempat penghukuman, sebab si penjahat dipakukan saat salib diletakkan di atas tanah, lalu kemudian salib diangkat tinggi dan dipancangkan ke dalam tanah, lalu dicabut lagi setelah hukuman selesai dilaksanakan. Dan biasanya, salib itu ikut dikuburkan bersama jenazah. Dengan demikian, setiap orang yang disalibkan memiliki salibnya sendiri. Nah, hal Kristus memikul salib-Nya sendiri dapat dipandang: (1) Sebagai bagian dari penderitaan-Nya. Dia benar-benar menderita akibat salib-Nya itu. Salib itu terbuat dari kayu yang panjang dan tebal, yang cocok untuk menyalibkan orang. Beberapa orang berpikir bahwa kayu itu tidaklah dipotong atau diperhalus dulu. Tubuh Tuhan Yesus yang mulia itu begitu rapuh dan tidak biasa menanggung beban seberat itu, apalagi tubuh itu telah banyak didera dan disiksa belakangan ini. Bahunya masih perih dengan cambukan yang mereka hantamkan, dan setiap derik kayu salib itu membuat lukanya semakin pedih, dan membuat nyeri karena tusukan mahkota duri di kepalanya semakin menyayat. Walaupun begitu, semuanya itu Dia tanggung dengan sabar. Dan, semuanya itu barulah permulaan penderitaan-Nya. (2) Sebagai pemenuhan perlambangan yang telah terjadi sebelumnya untuk melambangkan diri-Nya. Ishak, saat dia hendak dikorbankan, juga memikul bilah-bilah kayu tempat tubuhnya kemudian diikatkan untuk dibakar. (3) Sebagai bagian terpenting dari tugas yang sedang dijalankan-Nya, setelah Bapa menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yes. 53:6), dan Dia harus memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib (1Ptr. 2:24). Hal itu sama saja dengan mengatakan, Biarlah kutuk menimpa Aku saja, sebab Dia dijadikan kutuk bagi kita, dan karena itulah salib menimpa Dia. (4) Sebagai pengajaran bagi kita. Di sini Guru kita mengajari semua murid-Nya untuk memikul salib mereka dan mengikuti Dia. Apa pun salib yang Ia perintahkan supaya kita pikul pada suatu waktu, kita harus ingat bahwa Dia telah memikul salib terlebih dahulu. Dia telah memikul sebagian besar beban salib dari kita dan dengan begitu Dia menjadikan kuk yang Dia pasang itu enak dan beban-Nya pun ringan. Dia menanggung ujung salib yang mengandung kutuk itu. Ini bagian ujung yang berat. Karena itulah semua orang kepunyaan-Nya dimampukan untuk menyebut segala kesusahan mereka bagi Dia sebagai kesusahan yang ringan, dan hanya sekejap mata. . Mereka membawa-Nya ke tempat pelaksanaan hukuman: Ia pergi keluar, tidak perlu diseret dengan paksa, karena Dia suka rela menderita. Dia keluar dari kota itu, sebab Dia disalibkan di luar pintu gerbang (Ibr. 13:12). Dan, untuk menambahkan penghinaan pada penderitaan-Nya, Dia dibawa ke sebuah tempat yang biasa dipakai untuk melangsungkan penghukuman, sebagai orang yang dalam segala hal terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Tempat itu disebut Golgota, Tempat Tengkorak. Ke tempat ini orang biasanya melemparkan tengkorak dan tulang belulang orang mati. Kepala-kepala orang jahat yang telah dipenggal juga ditinggalkan di sana. Ini tempat yang menurut adat kebiasaan dianggap najis. Di sanalah Kristus menderita, sebab Dia dijadikan dosa bagi kita, supaya Dia dapat membersihkan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan kita yang mendatangkan kebinasaan serta mengeluarkan kecemaran dari dalamnya. Jika kita menelaah tradisi tua-tua Yahudi, ada dua hal yang disebutkan oleh banyak penulis kuno mengenai tempat itu: (1) Bahwa Adam dikuburkan di sana, dan tengkoraknya terkubur di situ. Mereka menelaah bahwa tempat di mana maut mengalahkan Adam yang pertama juga menjadi tempat di mana Adam yang kedua mengalahkan sang maut itu. Penulis Gerhard mengutip tradisi ini dari Origen, Kyprian, Epifanius, Augustinus, Jerome, dan lain-lain. (2) Bahwa tempat itu merupakan gunung di tanah Moria di mana Abraham hendak mengorbankan Ishak, dan kemudian seekor domba jantan dikorbankan sebagai pengganti Ishak. . Di sanalah mereka menyalibkan Dia bersama kedua penjahat lainnya (ay. 18): Dan di situ Ia disalibkan mereka. Perhatikanlah: (1) Kematian macam apa yang dialami Kristus: mati di atas kayu salib, sebuah kematian yang berlumuran darah, menyakitkan dan memalukan, kematian yang penuh dengan kutuk. Dia dipakukan di atas kayu salib sebagai korban yang terikat di mezbah, sebagai seorang Juruselamat yang ditetapkan untuk menjalani semua itu. Telinganya ditindik ke tiang pintu Allah, untuk melayani Allah selamanya. Dia diangkat ke atas seperti ular tembaga, tergantung di antara sorga dan bumi, oleh karena kita tidak layak berada di kedua tempat itu, kita diabaikan oleh keduanya. Tangan-Nya terentang untuk mengundang dan memeluk kita. Dia tergantung di kayu itu selama beberapa jam. Perlahan-lahan fungsi pikiran dan mulut-Nya melemah hingga akhirnya mati, supaya dengan begitu Dia dapat menyerahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. (2) Siapa yang menemani-Nya saat Dia mati: Bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain. Mungkin saja kedua orang itu sebenarnya tidak harus disalibkan saat itu, tetapi semua itu dilakukan atas permintaan para imam-imam kepala yang ingin menambah penghinaan terhadap Tuhan kita Yesus. Ini mungkin yang menjadi alasan mengapa salah satu di antara mereka ikut mencerca-Nya juga, sebab kematian mereka dipercepat gara-gara Dia. Jika saja mereka menangkap dua dari antara para murid-Nya dan menyalibkan mereka juga bersama-sama dengan Dia, hal itu pasti menjadi sebuah kehormatan bagi-Nya. Akan tetapi, jika orang-orang yang seperti itu mengambil bagian dalam penderitaan-Nya, maka hal itu akan terlihat seolah-olah mereka juga bersama-sama dengan-Nya dalam menanggung hukuman-Nya. Karena itulah ditetapkan bahwa orang-orang yang menemani-Nya dalam penderitaan itu adalah para pendosa yang paling jahat, supaya Dia dapat menanggung cela kita dan dengan demikian upah dan kemuliaan itu menjadi milik-Nya saja. Hal ini membuat-Nya semakin menjadi sasaran penghinaan dan kebencian orang-orang yang cenderung memukul rata semua orang dan tidak mau repot-repot membedakan, sehingga mereka bukan saja menyimpulkan bahwa Dia juga adalah seorang penjahat oleh karena Dia disalibkan bersama para pemberontak, tetapi juga yang terburuk di antara mereka bertiga, sebab Dia ditempatkan di tengah-tengah mereka. Namun dengan begitu firman Allah justru tergenapi, Dia terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Dia tidak mati di tengah-tengah korban di mezbah, darah-Nya pun tidak bercampur dengan darah lembu atau kambing, tetapi Dia mati di antara para penjahat, dan darah-Nya bercampur dengan darah orang-orang yang dikorbankan demi keadilan bagi banyak orang. Sekarang, marilah kita berhenti sejenak. Marilah kita pandangi Yesus dengan mata iman. Pernahkah ada kepedihan yang serupa seperti yang Dia alami saat itu? Lihatlah Dia yang telah dilucuti oleh segala kemuliaan dan diselubungi dengan kehinaan -- Dia yang dipuji-puji para malaikat dijadikan cela bagi manusia -- Dia yang sebelumnya berada di pelukan Bapa-Nya dalam kenikmatan dan sukacita yang abadi kini berada dalam jurang kesakitan dan penderitaan. Lihatlah bagaimana darah-Nya mengucur, bagaimana Dia menghadapi penderitaan maut. Pandanglah Dia dan kasihilah Dia, kasihilah Dia dan hiduplah bagi-Nya, dan bertekunlah untuk memberikan bagi-Nya apa yang bisa kita persembahkan. * Tulisan di atas Salib; Penyaliban (19:19-30) Di sini terdapat beberapa penjelasan luar biasa mengenai berbagai peristiwa yang terjadi menjelang kematian Kristus. Peristiwa-peristiwa yang menyertai ini dipaparkan dengan lebih jelas di sini dibandingkan yang ada dalam kitab-kitab Injil sebelumnya, supaya orang-orang yang berhasrat untuk mengenal Kristus dan bagaimana Ia disalibkan boleh memperhatikan semuanya itu. I. Gelar yang dipasangkan di atas kepala-Nya. Perhatikanlah: . Tulisan yang dibuat Pilatus, dan yang ia perintahkan untuk dipakukan di atas kayu salib untuk menyatakan penyebab mengapa Dia disalibkan di sana (ay. 19). Matius menyebutnya aitia -- tuduhan. Markus dan Lukas menyebutnya epigraphē -- tulisan. Yohanes menyebutnya dengan kata Latin yang tepat, titlos -- gelar: dan bunyinya demikian, Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi. Pilatus memaksudkannya sebagai celaan, yaitu bahwa Dia, Yesus yang berasal dari Nazaret, mengaku-ngaku sebagai raja orang Yahudi dan hendak bersaing dengan kaisar, sedangkan kaisar ini adalah orang yang kepadanya Pilatus mencari muka, seakan dia begitu setia mengabdi bagi kehormatan dan kepentingannya, sehingga dia pun memperlakukan seorang raja gadungan seperti penjahat besar. Akan tetapi Allah menguasai dan membalikkan maksud jahat Pilatus itu, (1) Supaya tulisan itu justru menjadi kesaksian lebih lanjut mengenai ketidakbersalahan Tuhan kita Yesus, sebab kata-kata di dalam tuduhan itu tidaklah mengandung kejahatan apa pun. Jika hal itu yang menjadi dasar untuk mendakwa-Nya, maka jelaskan bahwa Dia tidak melakukan apa pun sampai harus diganjar dengan hukuman mati ataupun belenggu. (2) Supaya tulisan itu dapat memperlihatkan keagungan dan kehormatan-Nya. Inilah Yesus Sang Juruselamat, Nazoraios, seorang Nazir yang terberkati, dikuduskan bagi Allah. Inilah Raja orang Yahudi, Mesias Sang Raja, tongkat kerajaan yang timbul dari Israel, sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Bileam. Dia mati demi kebaikan umat-Nya, seperti yang dinubuatkan oleh Kayafas. Demikianlah tiga orang jahat itu menjadi saksi bagi Kristus, meskipun mereka tidak bermaksud begitu. . Bagaimana tulisan itu mendapat perhatian orang (ay. 20): Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, bukan hanya mereka yang berdiam di Yerusalem, tetapi juga mereka yang datang dari luar daerah itu, dan juga dari negeri-negeri lain, orang-orang asing dan para pemeluk agama Yahudi dari bangsa lain yang datang untuk beribadah pada hari raya itu. Orang banyak membacanya, dan hal itu menyebabkan bermacam-macam perenungan dan pendapat dalam diri orang-orang yang berdiri di sana dan merasa tergugah karenanya. Kristus sendiri telah ditetapkan sebagai sebuah tanda, sebuah gelar. Inilah dua alasan mengapa gelar tersebut dibaca oleh begitu banyak orang: (1) Sebab tempat di mana Yesus disalibkan terletak dekat dengan kota, walaupun di luar gerbang. Seandainya saja tempat itu terletak jauh, mereka mungkin tidak akan tergerak karena rasa penasaran untuk pergi ke sana untuk melihat dan membaca tulisan itu. Sungguh untunglah kita bila sarana untuk mengenal Kristus dihantarkan ke dekat kita. (2) Sebab gelar itu dituliskan dalam bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin, sehingga dapat dipahami oleh semua. Mereka semua mengerti paling tidak satu dari ketiga bahasa tersebut, dan biasanya orang-orang Yahudi adalah kaum yang paling teliti dalam mengajarkan anak-anak mereka membaca. Hal itu semakin membuat tulisan tersebut lebih bernilai lagi, sebab kini semua orang menjadi sangat penasaran untuk mengetahui perkara apa itu yang begitu hangat sampai dituliskan dalam tiga bahasa yang paling terkenal itu. Bahasa Ibrani dipakai untuk mencatat pesan-pesan dari Allah, bahasa Yunani dipakai untuk ajaran para filsuf, sedangkan bahasa Latin untuk tata hukum kerajaan. Dalam ketiga bahasa itulah Kristus dinyatakan sebagai Raja, yang di dalam diri-Nya tersembunyi segala harta karun pewahyuan, hikmat dan kuasa. Allah telah mengaturnya sedemikian rupa sehingga gelar bagi-Nya itu dituliskan dalam tiga bahasa yang paling terkenal pada saat itu, yang menegaskan bahwa Yesus Kristus harus menjadi Juruselamat bagi segala bangsa, dan bukan hanya bagi bangsa Yahudi. Juga untuk menyatakan bahwa setiap bangsa akan mendengar semua pekerjaan ajaib Sang Penebus dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa Ibrani, Yunani dan Latin merupakan bahasa sehari-hari masyarakat di sana pada zaman itu, sehingga sama sekali tidak benar bahwa Kitab Suci harus tetap dipertahankan dalam ketiga bahasa tersebut (seperti yang diartikan oleh beberapa pihak tertentu), melainkan sebaliknya, peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa pengenalan akan Kristus haruslah disebarkan ke segala bangsa dalam bahasa mereka sendiri, sebagai sarana yang paling sesuai, supaya orang-orang dapat berbicara mengenai firman Allah dengan bebasnya seperti ketika mereka sedang bercakap-cakap dengan teman-teman mereka. . Keberatan para penganiaya terhadap tulisan itu (ay. 21). Mereka tidak mau di sana dituliskan Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan, Aku adalah Raja orang Yahudi. Dengan begitu mereka menunjukkan bahwa mereka, (1) Begitu membenci dan mendengki Kristus. Belumlah cukup bahwa Dia disalibkan saja, tetapi mereka ingin menyalibkan nama-Nya juga. Untuk membenarkan tindakan mereka yang memperlakukan-Nya dengan semena-mena, mereka berencana untuk memberikan sifat jelek kepada Dia serta menggambarkan Dia sebagai seorang penyabot kehormatan dan kuasa yang bukan hak-Nya. (2) Begitu mendewa-dewakan kehormatan bangsa mereka. Meskipun mereka kini sudah ditaklukkan dan dijadikan budak oleh bangsa lain, mereka masih tetap bersikukuh mengagungkan martabat mereka sampai-sampai mereka tidak rela memiliki orang semacam itu sebagai raja mereka. (3) Begitu lancang dan sangat menyusahkan Pilatus. Seharusnya mereka sadar bahwa mereka telah memaksanya untuk menghukum Kristus dengan melawan pikirannya sendiri. Namun, tidak mau sadar-sadar juga, mereka masih saja merecokinya dengan hal-hal sepele seperti itu. Dan yang terburuk dalam semua itu adalah bahwa meskipun mereka telah menuduh-Nya berpura-pura menjadi raja orang Yahudi, mereka tetap tidak bisa membuktikannya. Yesus sendiri pun tidak pernah berkata demikian. . Keputusan bulat sang hakim untuk tidak mengubah tulisan itu: "Apa yang kutulis, tetap tertulis, dan tidak akan kuubah hanya demi menyenangkan hati mereka." (1) Di sini, para imam kepala yang bersikap selalu mau mengatur itu mendapatkan jawaban yang ketus. Sepertinya, dari cara Pilatus bicara, dia masih gelisah karena telah menyerah pada keinginan mereka, dan kesal sekali kepada mereka karena telah memaksanya melakukan semua itu, sehingga dia pun bertekad untuk bersikap masam terhadap mereka. Dan dengan tulisan itu dia menyiratkan, [1] Bahwa, sekalipun mereka berpura-pura setia kepada kaisar dan pemerintahannya, mereka sebenarnya tidak tulus. Mereka pasti bersedia mempunyai seorang raja orang Yahudi, jika saja mereka memiliki seorang yang cocok dengan angan-angan mereka. [2] Bahwa seorang Raja yang hina dan rendah seperti itu sudah cukup baik untuk menjadi Raja orang Yahudi, dan itu akan menjadi nasib semua orang yang berani menentang pemerintahan Romawi. [3] Bahwa mereka telah berlaku tidak adil dan tidak masuk akal dalam menganiaya Yesus, karena tidak ada kesalahan yang didapati pada-Nya. (2) Dengan ini, penghormatan pun diberikan kepada Tuhan Yesus. Pilatus tetap pada pendiriannya, bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi. Apa yang ia tuliskan itu sebenarnya telah ditulis sendiri oleh Allah sebelumnya, sehingga dia pun tidak dapat mengubahnya lagi, sebab demikianlah yang tertulis, bahwa Mesias, Raja yang telah diurapi itu akan disingkirkan (Dan. 9:26). Jadi, inilah alasan yang benar dari kematian-Nya: Dia mati karena Raja Israel memang harus mati, harus mati dengan cara demikian. Saat orang-orang Yahudi menolak Kristus dan tidak mau menerima-Nya sebagai raja mereka, Pilatus, seorang bukan-Yahudi, justru ngotot mempertahankan bahwa Dia adalah Raja. Hal ini melambangkan apa yang terjadi selanjutnya, yaitu ketika orang-orang bukan-Yahudi tunduk kepada kerajaan Mesias yang sudah ditentang habis-habisan oleh orang-orang Yahudi yang tidak mau percaya. II. Pembagian pakaian-Nya di antara para prajurit yang menyalibkan-Nya (ay. 23-24). Ada empat prajurit yang ditugaskan saat itu. Sesudah mereka menyalibkan Yesus, memakukan tubuh-Nya di kayu salib dan mengangkat salib itu beserta Dia yang terpaku di sana, mereka kemudian tidak punya tugas apa-apa lagi selain menunggu-Nya mengembuskan nafas terakhir setelah mengalami kesakitan yang amat sangat. Sebagaimana yang kita lakukan kini bila telah selesai dengan seorang tahanan, mereka pun lalu membagi-bagikan pakaiannya, setiap orang menghendaki bagian yang sama, sehingga mereka pun membaginya menjadi empat bagian, dengan seadil mungkin, untuk tiap-tiap prajurit satu bagian. Akan tetapi jubah-Nya, atau pakaian bagian atas (mungkin jubah atau baju), tidak bisa dibagi-bagi, tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja, sehingga mereka bersepakat untuk membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya. Perhatikanlah di sini: . Bagaimana mereka mempermalukan Tuhan kita Yesus, dengan melucuti pakaian-Nya sebelum menyalibkan Dia. Rasa malu karena telanjang datang bersamaan dengan dosa. Karena itulah, Dia, yang dijadikan dosa bagi kita, harus menanggung rasa malu itu untuk menghapuskan aib kita. Dia ditelanjangi, supaya kepada kita dapat dipakaikan pakaian putih (Why. 3:18), supaya dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. . Upah yang rela dicari para prajurit itu dengan menyalibkan Kristus. Mereka bersedia melakukan pekerjaan penyaliban itu hanya demi pakaian usang-Nya. Tidak ada gunanya untuk melakukan hal yang jahat, tetapi akan selalu ada orang yang cukup jahat untuk bersedia melakukannya demi hal sepele. Mungkin mereka berharap dapat memanfaatkan pakaian-Nya dengan cara yang tidak biasa, sebab mereka telah mendengar bahwa hanya dengan menyentuh ujung pakaian-Nya saja orang banyak disembuhkan dari berbagai penyakit, atau mungkin juga mereka berharap bahwa orang-orang yang mengagumi-Nya akan mau menukar pakaian itu dengan sejumlah uang. . Olok-olok yang mereka buat dengan jubah-Nya yang tidak berjahit itu. Kita tidak pernah membaca tentang barang kepunyaan-Nya yang bernilai atau luar biasa, kecuali jubah ini, dan ini pun tidak mahal, hanya sedikit berbeda saja dari biasanya, sebab dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Jadi, sebenarnya tidak ada yang aneh dalam bentuk jubah itu, selain kesederhanaannya. Tradisi mengatakan bahwa ibu-Nyalah yang menenun jubah itu untuk Dia, dan bahwa jubah itu dibuat sewaktu Dia masih kecil dan, seperti juga pakaian orang Israel di padang gurun, jubah itu tidak menjadi buruk. Akan tetapi, semua cerita angan-angan tersebut sama sekali tidak berdasar. Para prajurit merasa sayang untuk merobek jubah itu, sebab nanti tenunannya akan lepas, dan jubah itu tidak akan ada gunanya lagi. Karena itulah, mereka membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya. Saat Kristus menghadapi penderitaan maut, mereka malah bersukacita membagi-bagi barang rampasan yang diperoleh dari-Nya. Keutuhan jubah Kristus yang tidak berjahit itu biasanya dijadikan perumpamaan untuk menunjukkan bagaimana orang-orang Kristen harus berhati-hati untuk tidak merobek-robek gereja dengan pertikaian dan perpecahan. Sebagian orang lagi berpendapat bahwa alasan mengapa para prajurit itu tidak mau merobek jubah Kristus bukanlah karena mereka menghormati Kristus, melainkan karena setiap dari mereka ingin memiliki jubah itu bagi dirinya sendiri. Demikianlah banyak orang menentang perpecahan dengan lantang, hanya supaya mereka bisa menelan seluruh kekayaan dan kekuasaan bagi diri mereka sendiri. Orang-orang yang menentang pemisahan dari gereja Roma yang diprakarsai oleh Luther, kurang lebih juga memaksakan tunica inconsutilis -- jubah yang tidak berjahit; dan beberapa dari mereka begitu bersikeras sampai-sampai mereka disebut Inconsutilistæ -- Kaum yang tidak berjahit. . Penggenapan Kitab Suci dalam kejadian tersebut. Daud, di dalam rohnya, menubuatkan keadaan yang sama mengenai penderitaan Kristus, yakni dalam Mazmur 22:18. Kejadian penderitaan Kristus itu, yang benar-benar menjawab nubuatan itu, membuktikan: (1) Bahwa Kitab Suci adalah benar firman Allah, yang telah menubuatkan peristiwa-peristiwa mengenai Kristus sedemikian jauh sebelumnya, dan semua peristiwa itu memang terjadi sesuai dengan yang telah dinubuatkan itu. (2) Bahwa Yesus adalah benar Sang Mesias, sebab di dalam Dia semua nubuatan Perjanjian Lama mengenai Mesias digenapi dengan sepenuh-penuhnya. Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu. III. Pemeliharaan Kristus bagi ibu-Nya yang malang itu. . Ibu-Nya menemani-Nya sampai saat kematian-Nya (ay. 25): Dekat salib Yesus, sedekat-dekat yang mereka bisa, berdiri ibu-Nya, dan beberapa kerabat serta kawan ada bersamanya. Pada awalnya, mereka berdiri dekat salib-Nya, seperti yang dikatakan di sini. Akan tetapi, setelah itu, mungkin para serdadu memaksa mereka menjauh, seperti yang ditulis dalam Injil Matius dan Markus. Atau mungkin juga mereka sendiri pindah menjauh dari sana. (1) Lihatlah di sini kasih sayang mendalam yang dirasakan para wanita saleh itu terhadap Tuhan kita Yesus ketika Dia sedang menderita. Saat semua murid-Nya, terkecuali Yohanes, mencampakkan Dia, mereka terus saja setia mendampingi-Nya. Begitulah orang-orang yang tersandung menjadi seperti Daud (Za. 12:8): mereka tidak tergoyahkan oleh kegeraman para musuh atau kengerian pemandangan di hadapan mereka itu. Mereka memang tidak bisa menyelamatkan atau melepaskan Dia, tetapi mereka tetap setia mendampingi-Nya, untuk menunjukkan kebaikan hati mereka. Beberapa penulis membuat rekaan yang tidak saleh dan menghujat mengenai perawan Maria berdiri di samping salib itu. Menurut mereka, dengan begitu ia pun ikut andil dalam penebusan dosa yang dilakukan Kristus, sama besarnya dengan yang Kristus lakukan sehingga dengan demikian dia menjadi sarana atau mitra Kristus untuk keselamatan kita. (2) Kita pastinya dapat membayangkan betapa menderitanya para wanita malang itu ketika melihat Kristus disiksa, terutama sang perawan yang terberkati itu. Kini, genaplah apa yang pernah dikatakan Simeon, bahwa suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri (Luk. 2:35). Siksaan yang dialami Kristus menjadi derita jiwa Maria. Ia tercabik-cabik saat Kristus terpaku di kayu salib, dan hatinya ikut berdarah karena luka-luka-Nya. Cela dan aib yang ditimpakan mereka kepada-Nya juga ikut menimpa orang-orang yang menyertai Dia. (3) Selayaknya kita mengagumi kekuatan anugerah ilahi yang menyokong para wanita itu, terutama sang perawan Maria, saat harus melalui pencobaan yang begitu berat seperti itu. Kita tidak mendapati ibu Kristus memilin-milin tangannya dengan gelisah, atau menjambak-jambak rambutnya sendiri, atau merobek-robek pakaiannya, atau mengeluarkan raungan sedih. Akan tetapi, dengan ketabahan hati yang luar biasa, dia berdiri di dekat salib, dan kawan-kawannya pun ada bersama dengannya. Pastilah dia dan mereka semua dikuatkan oleh kuasa ilahi sehingga mampu tabah seperti itu, dan pasti juga sang perawan Maria memiliki pengharapan yang lebih besar dari yang lainnya mengenai kebangkitan Kristus, yang mampu menguatkannya sedemikian rupa. Kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa kita tanggung sampai kita dicobai, dan saat itulah kita akan tahu siapa yang telah berkata, Cukuplah anugerah-Ku bagimu. . Dengan penuh kasih sayang, Kristus menyediakan keperluan ibu-Nya ketika Dia hampir mati. Mungkin saja Yusuf, suaminya, sudah lama meninggal, dan anaknya Yesus telah menyokong kehidupannya selama ini, dan hubungannya dengan Kristuslah yang menyambung kehidupannya selama ini. Kini Dia akan mati, lalu apa yang akan menimpanya kelak? Kristus melihatnya berdiri di dekat situ, dan mengenal kesulitan dan kedukaan hatinya. Dia juga melihat Yohanes berdiri tidak jauh dari sana, sehingga Dia lalu mengatur sebuah hubungan antara ibu yang sangat Ia kasihi dengan murid yang sangat Ia kasihi itu. Dia berkata kepada wanita itu, "Ibu, inilah anakmu, kepada siapa engkau harus mencurahkan kasih sayang keibuanmu mulai saat ini"; dan kepada Yohanes, "Inilah ibumu, kepada siapa engkau harus menunaikan tugas sebagai seorang anak." Dan sejak saat itu, saat yang tidak akan pernah terlupakan itu, murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Lihatlah di sini: (1) Perhatian yang Kristus limpahkan kepada ibu tersayang-Nya. Dia tidak tenggelam di dalam kesakitan penderitaan-Nya sampai melupakan kawan-kawan-Nya, yang begitu Dia pedulikan di dalam hati-Nya. Mungkin ibu-Nya justru tenggelam dalam kesedihan karena melihat-Nya menderita, sampai-sampai dia tidak memikirkan apa yang akan menimpa dia di kemudian hari. Tetapi, Kristus memikirkannya. Emas dan perak tidak ada pada-Nya untuk Ia wariskan, juga tidak ada rumah atau harta pribadi. Pakaian-Nya saja sudah disita para prajurit, dan kita tidak lagi pernah mendengar kabar tentang uang kas sejak Yudas yang bertugas mengurusnya, gantung diri. Jadi Dia tidak memiliki cara lain untuk memelihara ibu-Nya selain dengan menitipkannya kepada kawan-Nya, yang kemudian Ia lakukan di sini. [1] Dalam teks asli, Dia memanggilnya wanita, bukan ibu, bukan karena Dia tidak menghormatinya, tetapi karena kata ibu akan membuat hatinya yang sedang berduka itu menjadi lebih perih saja, seperti yang terjadi ketika Ishak berkata kepada Abraham, "Bapa." Dia berkata sebagai seorang yang kini tidak lagi ada di dunia ini, tetapi sudah mati terhadap orang-orang yang paling dekat dengan-Nya di dalam dunia ini. Gaya bicara-Nya yang kelihatan seolah-olah merendahkan ibu-Nya sendiri itu, seperti yang Ia pernah juga lakukan sebelumnya, dirancangkan untuk meniadakan dan menegur penghormatan berlebihan yang Ia tahu akan diberikan kepada Maria di kemudian hari oleh sebagian pihak gereja, seakan-akan dia adalah mitra-Nya yang juga harus diberi kehormatan yang sama dengan Sang Penebus sendiri. [2] Dia mengarahkan Maria supaya memandang Yohanes sebagai anaknya sendiri: "Tengoklah dia yang berdiri di sana sebagai anakmu sendiri, dan jadilah seorang ibu bagi dia." Lihatlah di sini: Pertama, sebuah contoh kebaikan ilahi untuk kita perhatikan supaya menjadi kekuatan hati bagi kita. Kadang kala, saat Allah mengambil satu penghiburan dari kita, Dia juga akan memberikan penghiburan yang lain lagi bagi kita, mungkin dari tempat di mana kita bahkan tidak mencari. Kita membaca tentang anak-anak yang akan dipunyai oleh gereja setelah gereja kehilangan anak-anaknya yang lain (Yes. 49:21). Jadi, saat sebuah cadangan air mengering, janganlah mengira bahwa semuanya sudah lenyap, sebab dari sumber air yang sama akan mengalir air yang memenuhi kolam lain. Kedua, sebuah contoh kewajiban persaudaraan, supaya kita meneladaninya juga. Di sini Kristus mengajarkan anak-anak untuk sebisa mungkin memelihara kenyamanan hidup orangtua mereka yang telah lanjut usia. Saat Daud sedang berada dalam kesusahan, dia memelihara kedua orangtuanya dan mencarikan tempat bernaung bagi mereka (1Sam. 22:3). Begitu pula yang dilakukan Anak Daud di sini. Anak-anak yang akan menghadapi maut, semampu-mampunya, haruslah memelihara orangtua mereka yang mungkin hidup lebih lama dari mereka dan membutuhkan pemeliharaan mereka. (2) Kepercayaan yang Dia miliki terhadap murid yang dikasihi-Nya. Kepada dialah Ia berkata, Inilah ibumu. Maksudnya, Aku menitipkan dia ke dalam pemeliharaanmu, jadilah anak baginya, untuk membimbing dia (Yes. 51:18), dan janganlah meninggalkan ibumu kalau ia sudah tua (Ams. 23:22). Nah, [1] Semua itu adalah kehormatan yang diberikan kepada Yohanes dan menjadi kesaksian mengenai kesalehan dan kesetiaannya. Jika Dia yang mengetahui segala sesuatu tidak tahu bahwa Yohanes mengasihi-Nya, maka Dia tidak akan menjadikannya sebagai penjaga ibu-Nya. Dipekerjakan oleh Kristus dan dipercayai untuk memelihara kepentingannya di dunia ini merupakan sebuah kehormatan besar. Akan tetapi, [2] Hal itu juga akan menjadi beban yang harus dipikul Yohanes. Namun, dia tetap menerimanya dengan riang hati dan menerima dia di dalam rumahnya tanpa memikirkan beban atau biaya tambahan yang harus ia keluarkan, atau kewajibannya yang lain kepada keluarganya sendiri, ataupun kesukaran lain yang akan timbul karena tindakannya itu. Perhatikanlah, orang-orang yang benar-benar mengasihi Kristus dan dikasihi oleh-Nya akan bersukacita bila mendapat kesempatan untuk melayani Dia atau pekerjaan-Nya. Dalam sejarah Nicephoras dikatakan bahwa perawan Maria tinggal bersama Yohanes di Yerusalem selama sebelas tahun, lalu ia pun meninggal. Menurut yang lain lagi, ia ikut Yohanes pindah ke Efesus. IV. Penggenapan Kitab Suci saat Ia diberi anggur asam untuk diminum (ay. 28-29). Perhatikanlah: . Betapa besar penghormatan yang ditunjukkan Kristus terhadap Kitab Suci (ay. 28): Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci mengenai bagaimana Ia minum di tengah-tengah penderitaan-Nya, berkatalah Ia "Aku haus!", yang maksudnya, Dia meminta minum. (1) Sama sekali tidaklah aneh jika Ia merasa haus. Kita pernah mendapati-Nya kehausan dalam sebuah perjalanan (4:6-7), dan sekarang pun Ia merasa haus saat hendak mengakhiri perjalanan-Nya. Ya, tentu wajar saja jika Dia merasa haus setelah mengalami semua pergumulan berat dalam waktu yang cepat ini. Apalagi sekarang Dia sedang menghadapi penderitaan maut, akan mati segera karena kehabisan darah dan kesakitan yang luar biasa. Siksaan neraka digambarkan dengan rasa haus yang amat sangat, sampai si pria kaya itu memohon-mohon setitik air untuk mendinginkan lidahnya. Rasa haus yang seganas itulah yang sudah akan menjadi hukuman bagi kita selamanya, jika saja Kristus tidak menanggung derita bagi kita. (2) Akan tetapi, agak mengejutkan mengapa Ia sepertinya mengeluhkan rasa hausnya itu. Itulah satu-satunya perkataan yang dikeluarkan-Nya dan tampak seperti sebuah keluhan mengenai penderitaan jasmani-Nya. Saat mereka menyesah-Nya dan menancapkan mahkota duri di kepala-Nya, Dia tidak mengerang, Aduh kepala-Ku! Atau, Ah, punggung-Ku! Tetapi kini Ia berseru, Aku haus. Sebab: [1] Dengan begitu Ia hendak mengungkapkan kesusahan jiwa-Nya (Yes. 53:11). Dia haus untuk mempermuliakan nama Allah dan menyelesaikan pekerjaan penebusan bagi kita, dan akan penggenapan tugas-Nya yang mendatangkan kebahagiaan. [2] Dengan begitu Ia hendak mencermati dengan saksama bahwa Kitab Suci digenapi. Sampai sejauh itu, semua telah selesai dan Dia mengetahuinya, sebab inilah yang telah Ia cermati dan lakukan sejak lama. Dan kini Dia teringat untuk melakukan satu hal lagi yang tepat untuk dilakukan pada saat itu. Dengan ini nyatalah bahwa Dia adalah Mesias, bukan saja karena Kitab Suci benar-benar tergenapi dengan sempurna di dalam diri-Nya, tetapi juga karena semua itu benar-benar dicermati-Nya dengan sepenuhnya. Dengan semuanya ini pula, benar-benar nyatalah bahwa Allah sungguh menyertai Dia -- bahwa di dalam semua yang Dia lakukan, Dia melakukannya tepat sesuai dengan firman Allah. Dia berhati-hati supaya Dia tidak meniadakan, tetapi menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi. Pertama, Kitab Suci telah menubuatkan rasa haus-Nya itu, dan karena itulah Dia sendiri mengucapkannya, sebab jika tidak begitu, maka tidak akan diketahui bahwa Ia berkata, Aku haus. Telah dinubuatkan bahwa lidah-Nya akan melekat pada langit-langit mulut-Nya (Mzm. 22:15). Samson, sosok yang melambangkan Kristus, juga merasa sangat haus (Hak. 15:18) saat dia menghajar bangsa Filistin. Demikian pula Kristus, saat Dia ada di kayu salib, melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa. Kedua, Kitab Suci telah menubuatkan bahwa dalam kehausan-Nya, Dia akan diberi anggur asam untuk diminum (Mzm. 69:22). Mereka memberi-Nya anggur asam untuk diminum sebelum mereka menyalibkan Dia (Mat. 27:34), akan tetapi nubuatan itu tidaklah dapat dikatakan tergenapi dalam kejadian itu, sebab hal itu tidak terlaksana pada saat Ia merasa haus. Maka dari itu, kini Ia berkata, Aku haus, dan meminta minuman itu lagi: sebelumnya Ia tidak mau meminumnya, tetapi kini Ia menerimanya, sebab Kristus lebih memilih menerima penghinaan daripada menyaksikan ada satu nubuatan yang tidak tergenapi. Hendaknya satu hal ini menghibur kita sewaktu menghadapi macam-macam pencobaan, yaitu bahwa kehendak Allah itu pasti akan terjadi, dan firman-Nya pasti digenapi. . Lihatlah betapa para penganiaya itu tidak menghormati Dia (ay. 29): Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam, mungkin sesuai dengan kebiasaan pelaksanaan hukuman seperti saat itu, atau, seperti yang diperkirakan beberapa orang, anggur itu sengaja dipersiapkan untuk menghina Kristus, sebagai ganti secawan anggur yang biasanya mereka berikan kepada orang-orang yang hendak binasa. Mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam itu, sebab mereka tidak sudi membiarkan Dia minum dari cawan. Lalu, mereka menaruhnya ke sebatang hisop, dan mengunjukkannya ke mulut Yesus. Hyssōpō perithentes -- mereka mencucukkannya ke hisop, supaya bisa diangkat. Atau sebagaimana yang diartikan beberapa orang lain lagi, mereka mencampurkannya dengan air hisop, dan inilah yang mereka berikan kepada-Nya sewaktu Ia merasa haus. Setetes air pastilah dapat menyejukkan lidah-Nya, lebih baik daripada setetes anggur asam. Walaupun begitu, Ia tunduk juga untuk menerimanya demi kita. Kita telah memetik anggur yang asam, dan karena itulah gigi-Nya harus berkemeretak. Kita telah kehilangan segala penghiburan dan kenyamanan, dan karena itulah semua itu harus ditahan untuk diberikan kepada-Nya. Saat sorga tidak memberi-Nya secercah terang, bumi pun menolak memberi-Nya setetes air, malah memberi-Nya anggur asam sebagai gantinya. V. Kata-kata terakhir yang diucapkan-Nya sebelum Ia mengembuskan nafas terakhir-Nya (ay. 30): Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, sebanyak yang Ia pikir cukup, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Perhatikanlah: . Apa yang dikatakan-Nya itu. Kita dapat menebak bahwa Ia mengatakannya dengan penuh kemenangan dan sorak sorai, Tetelestai -- Sudah selesai, sebuah kata yang merampungkan segalanya dan penuh penghiburan. (1) Sudah selesai, maksudnya, segala kepahitan dari kejahatan dan tindak permusuhan para penganiaya-Nya telah selesai. Sesudah Dia menerima penghinaan terakhir dalam anggur asam yang mereka berikan kepada-Nya itu, berkatalah Ia, "Inilah yang terakhir. Kini Aku tidak akan ada lagi dalam jangkauan mereka, menuju tempat di mana orang fasik berhenti menimbulkan huru-hara." (2) Sudah selesai, maksudnya, rancangan dan perintah Bapa-Nya mengenai penderitaan-Nya kini telah tergenapi. Semuanya itu merupakan maksud dan rencana Allah yang tidak dapat diubah lagi, dan Dia benar-benar berhati-hati supaya setiap titik dari rencana itu benar-benar terpenuhi (Kis. 2:23). Saat memasuki penderitaan-Nya, Dia berkata, "Bapa, jadilah kehendak-Mu," dan kini Dia berkata dengan penuh sukacita, "Sudah selesai." Makanan dan minuman-Nya ialah menyelesaikan pekerjaan-Nya (4:34), dan makanan dan minuman itu menyegarkan Dia, saat mereka memberi-Nya empedu dan anggur asam. (3) Sudah selesai, maksudnya, segenap perlambang dan nubuatan Perjanjian Lama yang menunjuk kepada semua penderitaan Sang Mesias telah terlaksana dan terjawab. Seolah Dia sedang berkata, bahwa setelah mereka memberi-Nya anggur asam, tidak ada satu kata pun dalam Perjanjian Lama mengenai diri-Nya yang belum tergenapi. Semuanya sudah terjawab, seperti Dia telah dijual seharga tiga puluh keping perak, tangan dan kaki-Nya ditusuk, pakaian-Nya dibagi-bagi, dan seterusnya. Dan kini, anggur asam itu telah diberikan. Sudah selesai. (4) Sudah selesai, maksudnya, hukum seremonial (yang hanya penuh dengan tata upacara saja) sudah dihapuskan dan kewajiban di dalamnya pun diakhiri. Yang inti sudah datang sekarang, dan semua bayang-bayang lenyap. Kini tabir telah terkoyak, dinding pemisah sudah dirubuhkan, bahkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya telah dibatalkan (Ef. 2:14-15). Tata aturan Musa dibubarkan, untuk membuka jalan bagi harapan yang lebih baik. (5) Sudah selesai, artinya, sudah tamatlah riwayat dosa, dan pelanggaran sudah diakhiri dengan datangnya kebenaran untuk selama-lamanya. Sepertinya hal ini mengacu kepada Daniel 9:24. Anak domba Allah dikorbankan untuk menghapus dosa dunia, dan semuanya sudah selesai (Ibr. 9:26). (6) Sudah selesai, artinya, penderitaan-Nya kini berakhir, baik penderitaan jiwa maupun tubuh-Nya. Badai sudah berlalu, yang terburuk sudah lewat. Semua kesakitan dan kesengsaraan sudah mencapai ujungnya, dan Dia akan segera pergi ke dalam firdaus, memasuki sukacita yang ditetapkan bagi Dia. Biarlah semua orang yang menderita bagi Kristus dan bersama Kristus menghibur diri mereka sendiri dengan perkataan ini, hanya sesaat saja, dan setelah itu mereka akan berkata, "Sudah selesai." (7) Sudah selesai, artinya, kehidupan-Nya kini berakhir, Dia siap untuk mengembuskan nafas terakhir, dan kini Dia tidak ada lagi di dalam dunia (17:11). Ini seperti yang diucapkan oleh Paulus yang terkasih (2Tim. 4:7), "Aku telah mencapai garis akhir, pertandinganku sudah kuakhiri dengan baik, minuman di gelasku sudah habis, mene, mene -- sudah terhitung dan selesai." Kita semua harus menghadapi semua ini sebentar lagi. (8) Sudah selesai, artinya, pekerjaan penebusan dan keselamatan manusia kini segera dituntaskan, setidaknya, bagian yang tersulit sudah lewat. Pemuasan murka Allah sudah terbalaskan dan memenuhi syarat keadilan Allah, pukulan mematikan sudah ditimpakan kepada kuasa Iblis, dan sumber anugerah telah dibuka dan akan terus mengalir, dasar kedamaian dan kebahagiaan sudah diletakkan dan tidak akan pernah goyah. Kini Kristus sudah menjalani tugas-Nya dan menyelesaikannya (17:4). Sebab, adapun Allah, pekerjaan-Nya sempurna; Saat Aku memulai perkara, kata Allah, Aku pun akan menyudahinya. Dan, sebagaimana terjadi dalam sebuah tindak pembelian, begitu pulalah yang terjadi dalam tindak penebusan, Ia yang memulai pekerjaan yang baik akan meneruskannya sampai pada akhirnya. Rahasia Allah akan tersingkap. . Apa yang Dia lakukan: Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Dia mati dengan sukarela, sebab Dia bukan saja Sang Korban, melainkan juga Sang Imam dan Pembawa Persembahan. Dia adalah animus offerentis -- Pikiran dari Sang Pembawa Persembahan, yang menyatu seluruhnya dengan korban persembahan itu. Kristus menunjukkan kehendak-Nya di dalam semua penderitaan-Nya, yang melaluinya kita semua dikuduskan. (1) Ia menyerahkan nyawa-Nya. Nyawa-Nya tidak direnggut dengan paksa dari-Nya, tetapi diserahkan secara sukarela. Dia berkata, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku," dan ini mengungkapkan maksud dari tindakan-Nya itu. Aku menyerahkan diri-Ku sebagai tebusan bagi banyak orang. Karena itulah, Dia menyerahkan nyawa-Nya, membayar lunas harga pengampunan dan kehidupan ke dalam tangan Bapa-Nya. "Bapa, muliakanlah nama-Mu!" (2) Ia menundukkan kepala-Nya. Saat sedang sekarat, orang-orang yang disalibkan biasanya menengadahkan kepala mereka untuk menghela nafas, dan tidak menundukkan kepala mereka sebelum mereka menghela nafas terakhir. Akan tetapi Kristus menundukkan kepala-Nya terlebih dahulu, untuk menunjukkan bahwa Dia tetap sadar saat tengah di ambang maut, seakan-akan Dia hendak jatuh tertidur. Allah telah membebankan kepada-Nya segala kesalahan kita semua, menaruhnya di atas kepala Sang Korban Agung ini. Sebagian orang berpendapat bahwa dengan menundukkan kepala-Nya itu Dia hendak memperlihatkan beratnya beban yang Ia rasakan menindih-Nya (Mzm. 38:5; 40:13). Dia menundukkan kepala-Nya untuk menunjukkan penyerahan-Nya kepada kehendak Allah dan kepatuhan-Nya sampai mati. Dia menyiapkan diri-Nya untuk mati, sebagaimana Yakub, yang menarik kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia.
| Bacaan Alkitab Setahun ProSesama: Kalender Liturgi Katolik Juni 2026 Bacaan Alkitab ProSesama: Juni NEXT: Minggu, 21 April 2019 - Kebangkitan Yesus - Yohanes 20:1-18 - Paskah PREV: Kamis, 18-22 April 2019 - Mencari keadilan pada orang-orang yang tidak beriman - 1 Kor 6:1-14 - Perjamuan Kudus |
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA,
GMIM,
GPM,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Christian Song,
Lagu Rohani,
ORIENTAL WORSHIP,
Lagu Persekutuan,
NJNE,
Nyanyian Jemaat GPM,
Nyanyian Ibadah Gereja:
MAZMUR MP3 GKI Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, KPP, NNBT, KLIK, Dua Sahabat Lama, NR TORAJA, KJ TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Lagu Ungkup Gereja Dayak di Kalimantan, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, ADV (Himnario Adventista), ELI1 (ELI ABOLOJO (Christian Songs, Igala)), ELI2 (ELI KEKE (Short Songs, Igala)), English Hymns, PKS (Pwuhken Koul Sarawi), RRZ (Runyankole Rukiga, Zaburi), CFC SONGS *, Tagalog Worship Song Kenya Worship Songs Ghana Worship Songs Urgandan Christian Song Russian Worship Songs Chinese Praise and Worship Song Lagu Rohani Bahasa Iban di Malaysia Thai Christian Song Hebrew Christian Song Arab Christian Song Christian Songs In Dutch German Christian Songs Hindi Worship Song Japanese Christian Song Italian Christian Song Lagu Rohani Batak Lagu Rohani Ambon Greek Worship Songs French Worship Songs Spanish Worship Songs |
|
login | Lagu-Gereja |
|