| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2023 Sabtu, 01 April 2023 Renungan Gereja Toraja Sabtu, 01 April 2023 - Pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan - Matius 22:23-33Matius 22:23-33 Pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan 22:23 Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: 22:24 "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. 22:25 Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. 22:26 Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. 22:27 Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. 22:28 Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia." 22:29 Yesus menjawab mereka: "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! 22:30 Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. 22:31 Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: 22:32 Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup." 22:33 Orang banyak yang mendengar itu takjub akan pengajaran-Nya. Penjelasan: * Mat 22:31-33 - Apa yang difirmankan Allah // Akulah Allah Abraham Apa yang difirmankan Allah. Yesus membawa orang-orang yang bertanya kepada-Nya itu kepada suatu pernyataan langsung dari Allah (bukan yang disampaikan melalui Musa seperti dalam ay. 24). Akulah Allah Abraham (Kel. 3:6). Bukannya menggunakan beberapa nas yang lebih khusus dari kitab Nabi-nabi dan Tulisan-tulisan (yang dalam pandangan orang Saduki diragukan). Yesus mengutip sebuah pernyataan dari kitab Taurat dan menafsirkannya secara mendalam. dengan menggunakan nama perjanjian dari Allah yang dihormati, Yesus menunjukkan ketidakfanaan para leluhur itu. Sebagaimana dikemukakan oleh Plummer, "Mana mungkin yang mati memiliki Pencipta atau Pengatur: hanya yang hidup dapat memiliki Allah" (Gospel According to St. Matthew, hlm. 307). * Pernyataan yang dipakai Kristus untuk menegaskan kebenaran agung tentang kebangkitan dan kehidupan yang akan datang. Karena hal ini merupakan masalah besar, Ia menganggap tidak akan cukup (seperti juga pada beberapa perbantahan lainnya) untuk hanya mengungkapkan kekeliruan dan alasan licik yang ada dalam bantahan orang-orang Saduki itu, tetapi harus mendukung kebenaran itu dengan pernyataan kokoh yang memberikan dasar bagi kebenaran itu. Kristus menyatakan hukum maupun kemenangan bagi kebenaran itu, supaya para pengikut-Nya bisa mempunyai alasan untuk berharap akan penghakiman dan kemenangan itu. . Dari mana Kristus mengambil penjelasan-Nya? Dari Kitab Suci yang adalah gudang senjata terbesar untuk melengkapi kita dengan senjata-senjata rohani, baik untuk menyerang maupun bertahan. Ungkapan "telah tertulis" merupakan pedang Goliat. Tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah? . Dasar apa yang dipakai-Nya? (ay. 32), Akulah Allah Abraham. Walaupun bukan merupakan bukti yang dinyatakan dengan jelas, totidem verbis -- dengan begitu banyak kata, namun benar-benar merupakan pernyataan yang dengan sendirinya sudah menyimpulkan hal lainnya. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari Kitab Suci, bila memang disimpulkan dengan benar, maka harus diterima sebagai alkitabiah, karena Kitab Suci ditulis bagi mereka yang menggunakan kemampuan akal budi untuk bernalar. Sekarang tujuan penjelasan ini adalah untuk membuktikan: (1) Bahwa ada kehidupan yang akan datang, kehidupan lain setelah kehidupan ini, di mana orang-orang benar akan sungguh-sungguh berbahagia terus-menerus. Hal ini dibuktikan dari apa yang dikatakan Allah, "Akulah Allah Abraham." [1] Menjadikan Allah sebagai Allah seseorang, mengandaikan adanya beberapa hak istimewa dan kebahagiaan yang luar biasa. Jika tidak mengenal Allah sepenuhnya, kita tidak akan dapat memahami kekayaan kata-kata, Aku akan menjadi Allah bagimu, yaitu seorang Penolong seperti diriku sendiri. Allah dari orang Israel adalah Allah bagi orang Israel (1Taw. 17:24), Penolong rohaniah, karena Ia adalah Bapa segala roh, dan karena Ia memberkati dengan berkat-berkat rohaniah. Ia menjadi Penolong yang mencukupi semuanya, Allah yang mencukupi, Kebaikan yang limpah, Penolong yang abadi. Karena Ia sendiri adalah Allah yang kekal, maka Ia juga akan menjadi Allah selamanya bagi mereka yang ada di dalam kovenan atau perjanjian dengan-Nya. Firman yang luar biasa ini telah sering disampaikan Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, yang dimaksudkan-Nya sebagai pahala atas iman dan ketaatan mereka yang utuh karena telah meninggalkan negeri mereka sendiri demi panggilan-Nya. Orang-orang Yahudi sangat menghormati ketiga tokoh bapa gereja ini, dan mereka turut menerima janji Allah turun-temurun. [2] Ternyata ketiga tokoh yang baik ini tidak memiliki kebahagiaan luar biasa dalam kehidupan ini, sebagai kegenapan firman yang begitu luar biasa. Mereka menjadi orang asing di negeri perjanjian, mengembara, dan diimpit kelaparan. Mereka tidak memiliki sejengkal tanah pun selain tanah pemakaman. Tetapi justru hal ini mengarahkan mereka untuk mencari sesuatu yang melampaui kehidupan ini. Dalam hal kenikmatan hidup pada saat itu, mereka jauh tertinggal dibandingkan dengan para tetangga mereka yang adalah orang-orang asing terhadap kovenan ini. Lalu apa yang ada di dunia ini yang membedakan mereka dan para ahli waris iman mereka dari orang lain, yang menggambarkan kemuliaan dan keunggulan kovenan Allah itu? Seandainya tidak ada kebahagiaan yang disediakan bagi para tokoh yang agung dan baik ini di sisi lain dari kematian ini, maka kata-kata Yakub ketika ia telah menjadi tua (Kej. 47:9), tahun-tahun hidupku sedikit saja dan buruk adanya, akan menjadi celaan kekal terhadap kebijaksanaan, kebaikan, dan kesetiaan Allah yang sering menamakan diri-Nya sebagai Allah Yakub. [3] Oleh karena itu, pastilah ada kehidupan yang akan datang, di mana Allah hidup selamanya untuk memberikan pahala kekal, dan demikian pula Abraham, Ishak, dan Yakub akan terus hidup untuk menerima pahala kekal itu. Apa yang ditulis dalam Ibrani 11:16 menjadi kunci pernyataan ini, ketika ia menulis tentang iman dan ketaatan para tokoh nenek moyang ini di tanah pengembaraan mereka, ia menambahkan, sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka, sebuah kota sorgawi. Secara tidak langsung hal ini menunjukkan bahwa seandainya Allah belum mempersiapkan dengan begitu baik sebuah tempat bagi mereka di dunia lain, dan mengingat bahwa mereka berhasil mempertahankan iman, maka Ia akan malu menyebut diri-Nya sebagai Allah mereka. Tetapi sekarang Ia tidak merasa malu, karena Ia telah mempersiapkan semuanya bagi mereka, untuk menjawab iman mereka dengan sebenar-benarnya dan seutuh-utuhnya. (2) Bahwa jiwa itu kekal, dan tubuh akan dibangkitkan kembali dan dipersatukan. Bila uraian di atas telah dipahami, maka uraian berikut ini akan menegaskannya. Kehidupan yang akan datang itu juga dibuktikan dengan memperhatikan saat ketika Allah berbicara kepada Musa dari tengah-tengah semak duri, lama setelah kematian Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah tidak berkata, "Dahulu Aku," atau "pernah," tetapi Ia berkata (dengan merujuk pada waktu sekarang ini), "Akulah Allah Abraham." Jadi, Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Ia adalah Allah yang hidup, dan Ia menyampaikan hal-hal penting bagi mereka yang menjadikan Dia sebagai Allah. Seandainya Abraham mati dan segala sesuatu berakhir dengan dia, maka begitu pula hubungan Allah dengan dia sebagai Allahnya. Tetapi, pada saat itu, ketika Allah berbicara kepada Musa, Allah berkata bahwa Ialah Allah Abraham, karena itu pastilah Abraham saat itu dan sampai sekarang masih hidup. Jadi ini membuktikan adanya kekekalan jiwa dalam keadaan yang diberkati, dan karena itu pula bisa disimpulkan adanya kebangkitan tubuh. Jiwa manusia memiliki kecenderungan bersatu dengan tubuhnya, dan karena itu pemisahan akhir dan kekal antara tubuh dan jiwa akan bertentangan dengan kebahagiaan mereka yang menjadikan Allah sebagai Allah mereka. Tetapi, pemikiran orang-orang Saduki terbalik, mereka mengatakan bahwa persatuan antara tubuh dan jiwa itu begitu dekat, sehingga ketika tubuh mati, maka jiwa juga turut mati bersamanya. Namun, kita juga dapat menggunakan dasar pemikiran yang sama, yaitu bahwa bila jiwa itu hidup, dan pasti demikian, tentunya pada satu saat nanti tubuh itu juga hidup bersamanya. Di samping itu, Tuhan itu juga Tuhan bagi tubuh, tubuh itu merupakan bagian penting bagi manusia. Ada sebuah kovenan dengan debu tanah, yang akan selalu diingat, karena kalau tidak, manusia tidak akan berbahagia. Tugas yang diberikan oleh para nenek moyang yang akan meninggal tentang tulang-tulang mereka, merupakan bukti bahwa dengan iman mereka memiliki pengharapan akan kebangkitan tubuh mereka. Namun, pengajaran ini disimpan untuk diungkapkan sepenuh-penuhnya setelah kebangkitan Kristus, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal dunia. Akhirnya, kita membaca hasil akhir perdebatan ini. Orang-orang Saduki itu bungkam (ay. 34), dan dengan begitu menjadi malu. Mereka mengira dengan kelicikan, mereka dapat mempermalukan Kristus, tetapi dalam kenyataannya mereka sendirilah yang mempersiapkan aib bagi diri sendiri. Tetapi orang banyak menjadi takjub akan pengajaran-Nya (ay. 33). . Karena pengajaran itu baru bagi mereka. Lihatlah, betapa buruknya uraian Kitab Suci yang disampaikan kepada mereka selama ini, sampai-sampai mereka pun menjadi takjub akan penjelasan-Nya itu seperti sebuah mujizat, karena mereka mendengarkan janji yang sangat mendasar yang ada dalam kebenaran agung ini. Mereka menyesali para ahli Taurat yang tidak menjadikan kebenaran ini sebagai berita bagi mereka. . Karena ada sesuatu yang sangat indah dan agung di dalamnya. Kebenaran akan tampak lebih cerah dan lebih dikagumi bila dipertentangkan. Perhatikan baik-baik, banyak orang yang menyangkal kebenaran menjadi bungkam, dan banyak orang yang mendengar kebenaran itu menjadi takjub, tetapi tidak ada dari mereka yang mau bertobat supaya diselamatkan. Walaupun demikian, dalam kebungkaman dan ketakjuban jiwa-jiwa yang tidak dikuduskan ini, Allah tetap memuliakan hukum-Nya, memuliakan Injil-Nya, dan menjadikan keduanya terhormat.
Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Renungan Gereja Toraja Minggu, 2 April 2023 - DALAM KRISTUS ADA PENGHIBURAN KASIH (Lan Kristus nanai Pa`pakatana Pa`kaboro`) - Filipi 2:1-11 - Minggu Palmarum Sebelum: Renungan Gereja Toraja Jumat, 31 Maret 2023 - DIPERSIAPKAN ALLAH SEBELUMNYA - Efesus 2:1-10 All Renungan Gereja Toraja 2023: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |