lagu-gereja.com/toraja

View : 763 kali
Yakobus 1:12-18
Pengujian dan pencobaan
1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. 1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. 1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. 1:16 Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! 1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. 1:18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.

Penjelasan:
* TAHAN UJI
Semua orang pernah mengalami pencobaan di dalam hidupnya. Pemicunya adalah keinginan diri. Setelah terseret dan terpikat, lalu ditindaklanjuti hingga berujung pada dosa. Dosa selalu melahirkan maut (14-15). Oleh karena itu, Yakobus menyatakan, "Berbahagialah orang yang tahan uji" (12). Artinya pencobaan itu tidak harus berujung pada dosa. Ada pencobaan yang berujung pada mahkota kehidupan. Ini terjadi jika orang bertahan dan menolak daya tarik kejahatan. Mahkota kehidupan diberikan Allah sebagai bukti bahwa orang tersebut setia mengasihi Allah. Yakobus menolak pendapat bahwa pencobaan di dalam diri manusia berasal dari Allah. Allah tidak pernah mencobai seorang pun (13)!

Tahan uji dalam pencobaan menjadi kunci sukses dalam mengarungi kehidupan iman Kristen. Alkitab mengisahkan berbagai teladan dari para tokoh iman. Yesus sendiri memperlihatkan ketahanan-Nya dalam ujian setelah Ia menyelesaikan masa empat puluh hari puasa. Pimpinan Roh Kudus dalam diri Tuhan juga memberi kesaksian bahwa Roh Kudus berperang aktif dalam hidup-Nya. Roh Kudus memampukan orang Kristen untuk mengenali kuat kuasa-Nya melalui ketahanan dalam pencobaan. Tahan uji membuktikan bahwa orang Kristen menggunakan sepenuhnya perlengkapan senjata rohani (Ef. 6:10-20). Setiap kali menang, maka layaklah orang Kristen disebut berbahagia. Nilai moral yang tinggi dalam ketaatan membuat hidup menjadi berhasil.

Orang Kristen perlu serius memperhatikan kondisi tahan uji, karena Allah memang menginginkan kita menjadi tahan uji. Dia bukan hanya mengizinkan adanya pencobaan tetapi juga membimbing kita untuk lulus dari pencobaan, bagaimana pun bentuk dan sifatnya. Asal kita punya semangat untuk tahan uji, maka meski di sekitar kita banyak yang kalah dalam pencobaan, kita tidak akan menjadi sama seperti mereka. Lihat terus pada mahkota kehidupan yang Allah janjikan! Itu akan membuat kita terus memiliki semangat juang untuk mengalahkan pencobaan.


* Cara Kerja Dosa dan Akibat-akibatnya (1:13-18)

Di sini kita diajar bahwa Allah bukanlah penyebab dosa siapa saja. Siapa pun yang melancarkan penganiayaan terhadap manusia, dan apa pun ketidakadilan dan dosa yang atasnya mereka bersalah dalam perbuatan itu, Allah tidak boleh dipersalahkan untuk itu. Dan, apa pun dosa yang mungkin menggoda orang-orang baik itu sendiri melalui ujian dan penderitaan mereka, Allah bukanlah penyebabnya. Tampaknya di sini dianggap bahwa sebagian orang yang mengaku beriman bisa saja jatuh pada saat pencobaan, bahwa tongkat yang memukul mereka bisa jadi menggiring sebagian orang ke jalan-jalan yang jahat, dan membuat mereka mengulurkan tangan pada kejahatan. Akan tetapi, meskipun ini bisa terjadi, dan walaupun penjahat-penjahat seperti itu akan berusaha mempersalahkan Allah untuk itu, mereka sendirilah yang harus sepenuhnya dipersalahkan atas pelanggaran mereka. Sebab,
            1. Pada sifat Allah, tidak ada suatu apa pun yang dapat mereka persalahkan: Apabila seorang dicobai untuk berjalan di jalan kejahatan, atau melakukan apa saja yang jahat, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat. Semua kejahatan moral terjadi akibat adanya suatu kekacauan dalam makhluk yang bersalah atas kejahatan itu, akibat tidak adanya hikmat, atau kekuatan, atau kepatutan dan kemurnian dalam kehendak. Tetapi siapa yang bisa mendakwa Allah yang kudus bahwa Ia tidak mempunyai kesemuanya ini, yang justru merupakan hakikatNya? Tidak ada urusan darurat apa pun yang dapat mencobai Allah untuk merendahkan atau menyangkal diri-Nya, dan karena itu Ia tidak dapat dicobai oleh yang jahat.
            2. Dalam pemeliharaan-pemeliharaan Allah, tidak ada suatu apa pun yang dapat dipersalahkan atas dosa siapa saja (ay. 13): Dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Seperti halnya Allah sendiri tidak dapat dicobai oleh yang jahat, demikian pula Ia tidak mungkin mencobai orang lain. Tidak mungkin Ia mendukung apa yang menjijikkan bagi kodrat-Nya. Pikiran yang bersifat kedagingan ingin mempersalahkan Allah atas dosa-dosanya. Dalam hal ini ada faktor keturunan yang berperan. Adam, orangtua kita yang pertama, berkata kepada Allah, perempuan yang Kautempatkan di sisiku menggodaku, dan dengan demikian, pada dasarnya, ia mempersalahkan Allah karena sudah memberinya si penggoda. Janganlah orang berkata demikian. Berbuat dosa itu sangat buruk, tetapi jauh lebih buruk apabila kita, setelah berbuat salah, mempersalahkan Allah untuk itu, dan berkata bahwa itu terjadi karena Dia. Orang yang mempersalahkan kedudukan atau keadaan mereka di dunia ini atas dosa-dosa mereka, atau yang mengaku bahwa sudah menjadi takdir mereka untuk berbuat dosa, berarti mempersalahkan Allah, seolah-olah Dialah yang menyebabkan dosa. Penderitaan, yang dikirimkan Allah, dimaksudkan untuk mengerjakan anugerah-anugerah kita, bukan kebobrokan-kebobrokan kita.

Kita diajar di mana sebenarnya penyebab kejahatan, dan siapa yang harus dipersalahkan (ay. 14): Tiap-tiap orang dicobai (dalam arti yang buruk) oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dalam bacaan-bacaan lain dalam Kitab Suci, Iblis disebut sebagai si pencoba, dan hal-hal lain adakalanya ikut bekerja untuk mencobai kita. Tetapi bukan Iblis bukan pula orang atau hal lain yang harus dipersalahkan supaya kita bisa berdalih. Sebab kejahatan dan godaan sebenarnya berasal dari dalam hati kita sendiri. Bahan yang mudah terbakar itu ada dalam diri kita, meskipun apinya bisa saja disulut oleh penyebab-penyebab luar. Oleh karena itu, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya (Ams. 9:12). Amatilah di sini,
            1. Cara kerja dosa. Pertama-tama dosa menyeret, kemudian memikat. Seperti halnya kekudusan terdiri atas dua hal, yaitu meninggalkan yang buruk dan melekat pada yang baik, demikian pula jika kedua hal ini dibalik, maka itu merupakan dua bagian dari dosa. Hati diseret dari apa yang baik, dan dipikat untuk melekat pada apa yang buruk. Ini terjadi pertama-tama melalui kecenderungan hati yang bobrok, atau karena bernafsu dan mengingini suatu kepuasan ragawi atau duniawi, yang terasing dari hidup di dalam Allah, dan kemudian secara perlahan-lahan hati pun menetap di jalan dosa.
            2. Dari sini kita dapat mengamati kuasa dan cara-cara dosa. Kata yang di sini diartikan diseret berarti ditarik atau didesak secara paksa. Kata yang diterjemahkan terpikat berarti terpancing dan teperdaya oleh daya pikat dan gambaran-gambaran yang menipu tentang segala sesuatu, exelkomenos kai deleazomenos. Ada banyak kekerasan yang dilakukan terhadap hati nurani dan pikiran oleh kuasa dari kebobrokan. Dan ada banyak kelicikan, tipu daya, dan sanjungan dalam dosa untuk memenangkan kita pada kepentingan-kepentingannya. Kekuatan dan kuasa dosa tidak akan pernah bisa menang, kalau bukan karena kelicikan dan tipu dayanya. Para pendosa yang binasa terpancing dan tersanjung, sehingga itu membawa kebinasaan bagi diri mereka sendiri. Dan ini akan membenarkan Allah untuk selama-lamanya dalam menghukum mereka, sebab mereka sudah menghancurkan diri mereka sendiri. Dosa mereka ada di depan pintu mereka sendiri, dan karena itu darah mereka akan menimpa kepala mereka sendiri.
            3. Berhasilnya kebobrokan di dalam hati (ay. 15): Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa. Yaitu, karena dosa dibiarkan merangsang keinginan-keinginan dalam diri kita, maka ia akan segera mematangkan keinginan-keinginan itu menjadi persetujuan, lalu dikatakan bahwa keinginan itu telah dibuahi. Dosa sudah benar-benar ada, meskipun baru berupa janin. Dan, apabila sudah bertumbuh penuh di dalam pikiran, dosa akan melahirkan perbuatan nyata. Oleh sebab itu, hentikanlah mulainya dosa, sebab kalau tidak, semua kejahatan yang dihasilkannya akan sepenuhnya ditanggungkan kepada kita.
            4. Akhir dari dosa, dan bagaimana kesudahannya: Apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Setelah dosa melahirkan perbuatan-perbuatan nyata, kesudahannya (seperti yang diamati Dr. Manton) adalah bahwa dosa diperkuat oleh perbuatan-perbuatan yang sering dilakukan, yang kemudian menetap menjadi kebiasaan. Dan, apabila pelanggaran-pelanggaran manusia sudah penuh seperti itu, maka lahirlah maut. Ada maut atas jiwa, dan maut pun mendatangi tubuh jasmani. Dan, selain kematian rohani dan jasmani, upah dosa adalah kematian kekal juga. Oleh sebab itu, hendaklah kita bertobat dan meninggalkan dosa, sebelum dosa menjadi matang. Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? (Yeh. 33:11). Allah tidak bersuka dalam kematianmu, seperti halnya Ia tidak mempunyai andil dalam dosamu. Sebaliknya, baik dosa maupun kesengsaraan terjadi karena dirimu sendiri. Keinginan dan kebobrokan hatimu sendirilah yang menggoda kamu. Dan apabila sedikit demi sedikit keinginan dan kebobrokan hatimu itu menjauhkanmu dari Allah, dan mematangkan kekuatan dan kuasa dosa dalam dirimu, maka itu akan menghancurkan kamu.

Kita diajar lebih jauh bahwa, sementara kita sendirilah yang menyebabkan dan mendatangkan semua dosa dan kesengsaraan bagi diri kita, Allah adalah Bapa dan sumber dari semua kebaikan (ay. 16-17). Kita harus sangat berhati-hati supaya tidak salah dalam pemikiran-pemikiran kita tentang Allah: “Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat, m-” lanasthe -” jangan menyimpang, yaitu dari firman Allah, dan gambaran-gambaran tentang Dia yang engkau dapati di dalam firman-Nya itu. Jangan menyimpang ke dalam pendapat-pendapat yang salah, dan keluar dari patokan kebenaran, yaitu hal-hal yang telah engkau terima dari Tuhan Yesus dan oleh pimpinan Roh-Nya.” Ada kemungkinan Rasul Yakobus di sini terutama memperingatkan jemaat terhadap ajaran-ajaran yang bebas dari Simon dan para pengikut Nikolaus (yang dari mereka kemudian muncul kaum Gnostik, sekelompok orang yang paling cemar dan bobrok). Kalau mau melihat masalah ini lebih jauh lagi, Anda bisa membaca buku pertama dari theolog Yunani Irenaeus yang berjudul “Melawan Bidah.” Biar saja orang-orang bobrok mengarang gagasan apa saja yang mereka mau, tetapi kebenaran, yang nyata di dalam Yesus, tetap berdiri: Bahwa Allah bukanlah, dan tidak mungkin, menjadi penyebab dan pelindung apa saja yang jahat. Sebaliknya, Ia harus diakui sebagai penyebab dan sumber dari segala hal yang baik: Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang (ay. 17).

Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Minggu, 12 Februari 2023 - Perwujudan Kasih - 1 Yohanes 2:7-17


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Jumat, 10 Februari 2023 - JADILAH BIJAKSANA (Kinaako) - Amsal 6:1-8


All Renungan Gereja Toraja 2023:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login