| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2023 Selasa, 07 Februari 2023 Renungan Gereja Toraja Selasa, 7 Februari 2023 - Manfaat Mencintai Taurat Tuhan - Mazmur 119:1-8Mazmur 119:1-8 Bahagianya orang yang hidup menurut Taurat TUHAN 119:1 Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. 119:2 Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, 119:3 yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. 119:4 Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. 119:5 Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! 119:6 Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu. 119:7 Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. 119:8 Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Penjelasan: MENCINTAI TAURAT TUHAN BERBAHAGIA * (ay 1-3) Mazmur ini lain daripada yang lain, tidak seperti mazmur-mazmur lainnya. Keunggulannya melebihi semua mazmur yang lainnya, dan tampil paling cemerlang di dalam seluruh rangkaian mazmur-mazmur tersebut. I. “Orang yang membaca mazmur ini dengan cermat akan merasa bergairah atau sebaliknya merasa malu.” Susunan mazmur ini sangat khas dan sangat cermat. Mazmur ini dibagi menjadi dua puluh dua bagian, sesuai jumlah huruf dalam abjad bahasa Ibrani, dan masing-masing bagian terdiri atas delapan ayat. Semua ayat pada bagian pertama dimulai dengan huruf AlephAlef, semua ayat pada bagian kedua dimulai dengan huruf Bet dan seterusnya. Semuanya dilakukan tanpa cacat dalam keseluruhan kitab ini. Uskup Agung Tillotson (dari Canterbury, Inggris abad ketujuh belas ” pen.) berkomentar bahwa tampaknya terdapat lebih banyak kemahiran menggubah puisi dan bilangan di dalam mazmur ini daripada yang dapat kita pahami dengan mudah dari jarak waktu yang jauh ini. Sebagian orang menamakan mazmur ini sebagai abjad orang-orang kudus. Dari situ diharapkan supaya kita dapat lebih mudah mengingat-ingat, sama seperti mengingat abjad ABC kita sendiri. Mungkin penulis mazmur ini merasa sangat terbantu dengan menggunakan cara ini, karena dengan begitu ia harus berusaha mencari bahan pemikiran dan kemudian menelitinya supaya dapat memenuhi jatah setiap bagian. Begitu juga dengan huruf pertama yang harus digunakan pada setiap ayat, dapat membawanya pada sebuah kata yang akan membentuk sebuah kalimat yang indah. Semua itu cukup untuk membangkitkan segala sesuatu yang baik dalam tanah hati kita yang gersang. Bagaimanapun juga, cara ini sangat berguna bagi orang yang sedang belajar, dan memungkinkan mereka dapat menghafal dengan lebih mudah serta mengingatnya kembali pada saat diperlukan. Melalui huruf yang membentuk kata pertama, mereka dapat meneruskan menyusun sebuah ayat yang lengkap. Dengan demikian orang-orang muda akan lebih mudah belajar menghafal dan menyimpannya dalam ingatan, bahkan sampai masa tua mereka. Ada juga pihak-pihak yang merasa keberatan dengan cara ini karena dianggap terlampau kekanak-kanakan dan tidak bersungguh-sungguh, dan ini bisa terjadi karena seni acrostic (seni menggubah puisi atau teka-teki silang dengan menggunakan huruf tertentu yang sama dalam setiap baris untuk membentuk sebuah kata " pen.) sekarang sudah dianggap ketinggalan zaman. Bila ada yang beranggapan demikian, biarlah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya pemazmur kerajaan menganggap rendah keberatan mereka ini. Ia adalah guru bagi anak kecil, dan jika cara ini memang berguna bagi mereka, dengan mudah ia mau menundukkan diri untuk itu. Jika cara ini tidak berguna, maka terlebih lagi ia sendiri lebih tidak berguna lagi. II. Lingkup dan rancangan umum mazmur ini adalah untuk mengagungkan Hukum Taurat dan membuatnya menjadi terhormat. Juga, untuk menggambarkan keistimewaan dan kegunaan wahyu ilahi serta menganjurkannya kepada kita, bukan hanya untuk penghiburan kita, melainkan juga untuk pengendalian diri kita. Melalui contoh yang dipaparkan berdasarkan pengalamannya sendiri, pemazmur menunjukkan manfaat dan kesan baik yang ditimbulkan hukum ini pada dirinya. Untuk itulah ia mengucap syukur kepada Allah, dan berdoa dengan sungguh mulai sejak awal sampai akhir penulisan mazmur ini demi kelangsungan anugerah Allah di dalam dirinya, guna membimbing dan membangkitkan gairah diri dalam menjalankan kewajiban ibadahnya. Terdapat sepuluh kata berbeda yang digunakan untuk menyebut wahyu ilahi dalam mazmur ini, dan semuanya merupakan kata yang searti, masing-masing mengungkapkan keseluruhan lingkup mazmur ini (yang menunjukkan apa yang diharapkan Allah dari kita dan apa yang dapat kita harapkan dari Dia), serta tata hidup keagamaan yang dibangun di atasnya dan dipimpin olehnya. Orang-orang yang berbahagia adalah, 1. Orang-orang yang menjadikan kehendak Allah sebagai pedoman bagi semua perbuatan mereka serta mengendalikan perilaku mereka sesuai dengan pedoman itu, mereka hidup menurut Taurat TUHAN(ay. 1). Firman Allah menjadi Taurat bagi mereka, bukan hanya dalam hal-hal tertentu saja, melainkan juga dalam semua cara mereka berperilaku. Mereka berjalan sesuai petunjuk Taurat itu, petunjuk yang tidak berani mereka langgar dengan melakukan sesuatu yang terlarang. Mereka berjalan di dalam jalan-jalan Taurat itu, yang tidak akan pernah mereka remehkan, tetapi berlari-lari kepada tujuan, menyelaraskan setiap langkah dengan pedoman itu dan tidak pernah berjalan tanpa arah. Inilah yang disebut hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya (ay. 3), menurut jalan-jalan yang telah ditetapkan Allah bagi kita dan yang telah dikaruniakan-Nya untuk kita jalani. Agama tidak akan berguna bagi kita jika hanya diperbincangkan sebatas mulut kita saja. Sebaliknya, kita harus menjadikannya sebagai pedoman dalam perjalanan kita. Kita harus berjalan menurut jalan-jalan-Nya, tidak menurut jalan dunia ini, ataupun kehendak hati kita (Ayb. 23:10-11; 31:7). 2. Orang-orang yang teguh dan jujur dalam hidup keagamaan mereka, yaitu yang hidupnya tidak bercela. Orang-orang ini tidak hanya menjaga diri tetap bersih dari pencemaran perbuatan dosa, dan tidak dicemarkan oleh dunia ini, tetapi juga senantiasa tulus dalam maksud hati mereka. Mereka tidak berjiwa penipu, yang sungguh-sungguh sebaik penampakan mereka dan sejalan dengan penampilan mereka. 3. Orang-orang yang setia dengan kepercayaan yang diberikan kepada mereka sebagai umat yang mengakui Allah. Adalah suatu kehormatan bagi bangsa Yahudi, sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah. Berbahagialah orang yang menjaga segenap harta yang kudus itu dengan murni, yang memegang peringatan-peringatan-Nya sebagai harta yang tak ternilai, yang menjaga harta itu ibarat menjaga biji mata sendiri. Mereka menjaganya dengan membawa penghiburannya bagi diri sendiri hingga ke sorga dan mewariskan pengenalan dan pengakuan atas harta itu kepada mereka yang akan datang setelah mereka di dunia ini. Mereka yang ingin hidup menurut Taurat TUHANharus memegang peringatan-peringatan-Nya, yaitu kebenaran-kebenaran-Nya. Mereka yang tidak berpegang teguh pada nilai-nilai yang baik tidak akan memiliki hati nurani untuk berbuat baik. Jelasnya, peringatan-peringatan-Nya itu akan menunjukkan dan mengingatkan perjanjian-Nya kepada mereka. Tabut perjanjian itu juga disebut tabut hukum. Orang-orang yang tidak memelihara perjanjian antara mereka dengan Allah adalah mereka yang tidak memegang perintah-perintah Allah. 4. Mereka yang matanya hanya tertuju kepada Allah sebagai kebaikan utama dan tujuan tertinggi dalam kehidupan keagamaan mereka (ay. 2): Mereka yang mencari Dia dengan segenap hati. Mereka tidak mencari diri sendiri dan urusan mereka sendiri, melainkan hanya Allah saja. Inilah yang menjadi tujuan utama mereka, supaya Allah dimuliakan dalam ketaatan mereka dan supaya mereka berbahagia dalam perkenan Allah. Allah adalah dan akan menjadi pemberi upah dan upah itu sendiri bagi orang yang sungguh-sungguh mencari Dia, mencari Dia dengan hati, karena itulah yang dilihat dan diminta Allah. Dengan segenap hati, karena kalau hati mereka menjadi licik dan terbagi antara Allah dan dunia, mereka akan dinyatakan bersalah. 5. Mereka yang sungguh-sungguh menjauhi semua dosa (ay. 3), mereka tidak melakukan kejahatan. Mereka tidak membiarkan diri berkanjang dalam dosa apa pun. Mereka tidak membiasakan diri berbuat dosa seperti orang-orang yang menjadi hamba dosa. Mereka tidak melakukan hal itu, tidak menjual diri kepada dosa. Mereka menyadari, betapa banyaknya kejahatan yang menghambat mereka dalam jalan-jalan Allah, tetapi bukan jenis kejahatan yang dapat membuat mereka ke luar dari jalan itu. Berbahagialah dan kuduslah mereka yang karena itu berusaha hidup dengan hati nurani yang murni. * (ay 4-6) 1. Mengakui bahwa kewajiban tertinggi kita adalah hidup menurut Taurat TUHAN. Si penggoda akan menawan manusia dengan menanamkan pikiran bahwa mereka memiliki kebebasan untuk menjadikan firman Allah sebagai Taurat mereka atau tidak, dan meskipun baik, tidaklah perlu bagi mereka untuk harus percaya kepada firman-Nya itu. Ia mengajar nenek moyang kita yang pertama untuk mempertanyakan perintah itu: Tentulah Allah berfirman, semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? Oleh karena itu, kita harus berdiri teguh dalam peringatan TUHAN ini (ay. 4), Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, untuk menjadikan agama sebagai pedoman, dan supaya dipegang dengan sungguh-sungguh, untuk menjadikan hidup keagamaan sebagai urusan utama kita dan senantiasa mengingat-ingatnya dengan cermat. Kita harus melakukan dan menaatinya atas tanggung jawab kita sendiri. 2. Memandang kepada Allah guna memperoleh hikmat dan anugerah yang diperlukan untuk berlaku seperti itu (ay. 5), sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! Bukan saja supaya semua peristiwa yang berkaitan dengan diri kita diatur dan dikuasai oleh pemeliharaan Allah sehingga tidak menjadi penghalang bagi kita, tetapi justru menjadi pendorong dalam melakukan pekerjaan Allah, supaya hati kita dapat dibimbing dan dipengaruhi Roh Allah sehingga kita tidak akan melanggar perintah Allah sama sekali. Dengan begitu, bukan saja supaya pandangan kita dibimbing untuk memandang ketetapan-ketetapan Allah, tetapi juga supaya hati kita diarahkan untuk berpegang padanya. Lihatlah bagaimana hasrat dan doa orang benar sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak dan perintah Allah yang baik; “Engkau menghendaki aku memegang titah-titah-Mu, dan TUHAN, aku rindu memegang titah-titah itu.” Inilah kehendak Allah, yaitu pengudusanmu, dan biarlah itu menjadi kehendak kita juga. 3. Mendorong kita dengan pengharapan mendapatkan penghiburan di dalam menjalankan kewajiban kita (ay. 6). Perhatikanlah: (1) Inilah watak yang tidak diragukan lagi harus ada pada setiap orang benar, yaitu bahwa ia mengamat-amati segala perintahAllah (kjv: ia menghormati semua perintah Allah). Ia menaruh hormat kepada perintah itu, memperhatikannya dengan cermat sebagai teladannya, tujuannya, berusaha menaatinya, dan merasa menyesal ketika ia tidak cukup taat. Apa yang ia kerjakan dalam hidup keagamaannya dilakukannya dengan penuh kesadaran terhadap perintah itu, karena itulah kewajibannya. Ia mengamat-amati semua perintah itu, satu demi satu, karena semuanya didukung oleh kuasa yang sama (Yak. 2:10-11), semuanya mengarah kepada tujuan yang sama, untuk mempermuliakan Allah di dalam kebahagiaan kita. Orang-orang yang mengamat-amati setiap perintah dengan sungguh-sungguh akan memberikan penghargaan yang sama kepada setiap perintah, kepada perintah-perintah yang ada di dalam kedua kitab perjanjian dan juga kedua loh batu, kepada larangan-larangan dan titah-titah, kepada perintah yang berhubungan dengan manusia batiniah maupun lahiriah, kepala dan hati, kepada perintah yang melarang dosa yang paling menyenangkan dan menguntungkan maupun yang paling sulit dan berbahaya untuk dijalankan. (2) Mereka yang mengamat-amati dengan sungguh segala perintah Allah, tidak akan mendapat malu. Mereka tidak saja dijauhkan dari melakukan perbuatan yang akan mendatangkan malu, tetapi juga akan memiliki keberanian percaya dan keluasan hati untuk mendekati takhta anugerah Allah (1 Yoh. 3:21). Mereka akan dihormati di hadapan manusia, dan kejujuran mereka akan menjadi kehormatan mereka. Mereka akan mendapat kejernihan dan keberanian dalam jiwa mereka. Mereka tidak akan merasa malu untuk memeriksa diri sendiri, untuk merenungi diri, karena hati mereka tidak menuduh mereka. Daud mengatakan hal ini dengan menerapkannya kepada diri sendiri. Orang-orang yang jujur akan memperoleh penghiburan dari kejujuran mereka. “Karena, kalau aku bersalah, celakalah aku. Jadi, kalau aku tulus, akan baiklah keadaanku.” * (ay 7-8) I. Upaya Daud untuk menyempurnakan diri dalam hidup keagamaannya, dan menjadikan dirinya (seperti yang kita katakan) penguasa atas semua urusannya. Ia berharap dapat belajar hukum-hukum Allah yang adil. Ia telah mengetahui banyak hal, tetapi ia berusaha semakin maju dan berhasrat mengetahui lebih banyak lagi, karena ia tahu bahwa ia belum memperoleh semuanya. Tetapi selama kesempurnaan masih dapat diraih dalam kehidupan ini, ia akan terus berusaha mendapatkannya, dan tidak akan berhenti mencari. Selama kita hidup, kita harus menjadi murid dalam sekolah Kristus, dan duduk di dekat kaki-Nya. Tetapi kita harus berusaha menjadi murid utama, dan berusaha mencapai kedudukan tertinggi. Semua hukum Allah itu adil, karena itu Allah sangat menginginkan supaya kita tidak saja mempelajarinya, tetapi juga diajar di dalamnya, dan menjadi sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. II. Keuntungan yang ia peroleh dalam pembelajaran ilahi ini. Ia ingin dapat mengerti Taurat TUHAN, tidak untuk mengukir nama bagi diri sendiri dan mencari keuntungan di antara banyak orang, atau memenuhi kepalanya dengan harapan-harapan kosong yang menyenangkan, tetapi, 1. Supaya ia dapat memuliakan Allah dari pembelajarannya ini: Aku akan bersyukur kepada-Mu, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak akan dapat belajar apa pun jika Allah tidak mengajar dia, dan bahwa pengajaran-pengajaran ilahi adalah berkat-berkat khusus, karena itu kita mempunyai alasan untuk bersyukur. Meskipun belajar di sekolah Kristus semuanya serba cuma-cuma, Ia mengajar tanpa memungut bayaran dan semuanya tanpa biaya, namun Ia berharap murid-murid-Nya akan bersyukur kepada-Nya, baik untuk firman-Nya maupun untuk Roh-Nya. Pasti itu adalah pengajaran belas kasihan yang layak diberi ucapan syukur, panggilan hidup keagamaan yang sangat berguna. Orang-orang yang telah belajar bersyukur kepada Allah, telah belajar pengajaran yang baik, karena mengucap syukur adalah pekerjaan malaikat-malaikat, pekerjaan sorga. Sangat mudah untuk bersyukur kepada Allah dengan perkataan dan lidah, tetapi hanya orang-orang yang telah belajar sungguh-sungguh mengenai rahasia ini, yang telah belajar untuk bersyukur kepada-Nya dengan hati jujur, artinya bersekutu bersama Dia di dalam hati untuk bersyukur kepada-Nya, dan dengan tulus hati mengarahkan diri bagi kemuliaan-Nya dalam perilaku dan dalam menjalankan ibadah mereka. Allah hanya mau menerima ucapan syukur dari orang-orang yang tulus hati. 2. Supaya ia dapat menundukkan diri di bawah pengaruh pembelajaran itu: Apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil, aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu. Kita tidak akan dapat memegangnya. Namun, pembelajaran kita sia sia saja jika kita tidak memegang hukum-hukum itu. Mereka yang telah mempelajari ketetapan-ketetapan Allah dengan baik dan telah meyakini sepenuhnya, akan memegang ketetapan-ketetapan itu dalam kekuatan anugerah-Nya. III. Doanya kepada Allah supaya jangan meninggalkan dia: “Janganlah tinggalkan aku. Maksudnya, jangan biarkan aku sendiri, janganlah mengambil Roh dan anugerah-Mu dariku, karena akibatnya aku tidak akan dapat berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu.” Orang benar akan merasa tidak aman kalau Allah meninggalkan mereka, karena kemudian si penggoda itu akan semakin ganas terhadap mereka. “Meskipun tampaknya Engkau meninggalkan aku, dan mengancam untuk meninggalkan aku, dan benar-benar meninggalkan aku untuk seketika lamanya, mundur dariku, janganlah pergi sama sekali dan tidak pernah kembali, karena itu berarti neraka. Janganlah tinggalkan aku sama sekali! Karena celakalah aku kalau Allah meninggalkan aku.”
Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Renungan Gereja Toraja Rabu, 8 Februari 2023 - Yang Terpilih (To dipilei) - Roma 11:1-10 Sebelum: Renungan Gereja Toraja Senin, 6 Februari 2023 - Buah Kerendahan Hati - Mazmur 31:20-25 All Renungan Gereja Toraja 2023: Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |