lagu-gereja.com/toraja

View : 697 kali
Yesus datang untuk orang berdosa.
Lukas 5:27-32

Bahasa Toraja:
Lewi Natambai Puang Yesu undi urrundu'I ( ; )
27Undinna sunmi tu Yesu, Natiromi tu passima misa' disanga Lewi unno'ko' dio to' passiman, Nakuami lako: Undiko urrundu'Na'.
28Natampe nasangmi tu pengkaranganna, nake'de' male urrundu' Yesu.
29Natoratumi Lewi tu Yesu umpogau' pa'maruasan kapua lan banuanna; buda passima sirampun dio sia tau senga' kumande ma'talimbungan sola.
30Iatu to Farisi sia pandita Sura' situmberu'-beru', nakua lako anak gurunNa: Ma'apari ammi kumandera sia mangiru' sola passima sia to kadake gau'na?
31Mebalimi Yesu, Nakua: Tae' naanga'i to maleke tu to ma'dampi, sangadinna to masakiri.
32Tae'ra Kusae la untambai to malambu', sangadinna to kasalan, denoupa' namengkatoba'.

Bahasa Indonesia:
Lewi pemungut cukai mengikut Yesus
5:27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 5:28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 5:29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 5:30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 5:31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."


Penjelasan:
* Yesus datang untuk orang berdosa.
Memang wajar kalau para ahli Taurat dan orang Farisi tidak bisa menerima fakta Yesus bertandang ke rumah Lewi si pemungut cukai dan makan bersamanya. Dalam tradisi orang Yahudi, makan adalah bentuk persekutuan. Bagaimana mungkin, orang benar, bahkan seorang rabi, bersekutu dengan orang-orang berdosa? Apa yang ditolak karena dianggap najis, justru itulah yang Yesus lakukan. Yesus dan para murid menghadiri perjamuan makan yang diadakan Lewi untuk diri-Nya. Bahkan Ia duduk semeja dengan mereka yang disebut orang berdosa oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (ayat 29).

Mengapa Lewi mengundang Yesus? Karena sebelumnya Yesus telah mengundang Lewi untuk mengikut-Nya. Bagi Lewi, undangan Yesus ini tidak hanya mengejutkannya, tetapi suatu kehormatan. Selama ini Lewi merasa dikucilkan dari pergaulan dengan sesama orang Yahudi, apalagi dengan para tokoh agama Yahudi seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Sekarang tokoh sesuci Yesus mau memilihnya untuk menjadi murid-Nya. Undangan Yesus inilah yang mendorong Lewi untuk menghormati Dia dengan perjamuan makan. Sekaligus, kesempatan itu digunakan untuk membawa teman-teman sejawatnya mengenal Yesus.

Bagi Yesus, yang penting dari undangan perjamuan makan adalah respons Lewi yang menerima kehadiran-Nya dalam hidupnya, dan kehadiran orang-orang ‘berdosa’ lainnya untuk mengenal dan menerima Dia seperti yang telah terjadi pada Lewi. Bagi Yesus, hidup-Nya jauh lebih berguna untuk mereka yang menyadari diri sebagai orang berdosa, daripada untuk mereka yang merasa diri orang benar dan tidak memerlukan Juruselamat.

Renungkan: Sebagaimana Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, demikianlah seharusnya hidup kita, orang-orang Kristen adalah untuk menjadi berkat untuk sesama kita, terutama mereka yang masih ‘orang berdosa.’

*  Nasihat untuk Berjaga-jaga (5:27-39)
    Kecuali ayat terakhir, seluruh perikop di atas telah dicatat dalam Matius dan Markus. Kisah tersebut bukanlah tentang suatu mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus, tetapi mengenai beberapa keajaiban anugerah-Nya. Bagi orang-orang yang memahaminya dengan benar, keajaiban-keajaiban anugerah ini pun merupakan bukti jati diri Kristus sebagai utusan Allah, yang tidak kalah kuat bila dibandingkan dengan bukti-bukti lainnya.

    I. Pemanggilan-Nya terhadap seorang pemungut cukai dari sebuah rumah cukai untuk menjadi murid dan pengikut-Nya (ay. 27) merupakan kebaikan anugerah-Nya. Kesediaan Kristus untuk memberikan kehormatan yang sama terhadap para nelayan miskin yang termasuk orang-orang dari kelas sosial terendah saja sudah merupakan hal yang luar biasa, apalagi kini, saat Dia melakukan hal yang sama terhadap para pemungut cukai, yang merupakan orang-orang yang memiliki reputasi yang paling buruk, yang terkenal karena ketidakjujuran mereka. Melalui tindakan tersebut, Kristus telah merendahkan diri-Nya sendiri dan menjadi serupa dengan daging yang dikuasai dosa. Demikianlah Ia membuka diri-Nya dan mendapat julukan yang kurang disukai banyak orang, yaitu sebagai sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.
    II. Anugerah-Nya itu sungguhlah ajaib, ketika panggilan-Nya itu berhasil, langsung disambut saat itu juga (ay. 28). Kebanyakan orang yang bekerja di bidang itu biasanya tidak begitu peduli terhadap agama, tetapi pemungut cukai yang satu ini justru langsung meninggalkan posisinya di rumah cukai itu demi agama (padahal kemungkinan besar pekerjaannya itu merupakan sumber yang selama ini menafkahi kehidupannya, dan memberinya kesempatan untuk mencapai posisi yang lebih baik lagi). Ia meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Kristus. Tidak ada hati yang terlalu keras untuk dapat diubahkan oleh Roh dan anugerah Kristus, dan tidak ada kesulitan apa pun yang mungkin menghadang pertobatan seorang pendosa yang terlalu kuat untuk dikalahkan oleh kuasa-Nya.
    III. Adalah suatu keajaiban anugerah-Nya bahwa Ia bukan hanya mengundang seorang pemungut cukai yang sudah bertobat ke dalam keluarga-Nya, tetapi juga tidak segan untuk berkawan dengan pemungut-pemungut cukai lainnya yang belum bertobat, supaya Ia pun memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan bagi jiwa-jiwa mereka sebagai penggenapan rancangan kedatangan-Nya ke dunia ini. Di sinilah letak keajaiban anugerah itu, yaitu bahwa Kristus yang menjadi tabib bagi jiwa, rela dilumuri dosa dan bersedia mati karenanya (tugasnya adalah sebagai tabib, ay.31) -- bahwa Ia sangat peduli dan ingin menyembuhkan mereka yang sakit dan yang berdosa, yang menyadari dosa-dosa mereka dan mengakui kebutuhan mereka akan seorang tabib -- bahwa Ia datang untuk memanggil orang-orang berdosa, bahkan yang paling berdosa sekalipun, kepada pertobatan, dan menjamin pengampunan bagi mereka jika mereka mau bertobat (ay. 32). Hal ini benar-benar kabar baik yang menyukakan hati.
    IV. Sungguh merupakan suatu keajaiban anugerah bahwa Ia begitu tabah dalam menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dan murid-murid-Nya dari pihak orang-orang berdosa (ay. 30). Sekalipun Ia pantas melakukannya, namun Ia memilih untuk tidak menunjukkan kekesalan-Nya terhadap gerutu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu. Sebaliknya, Ia menjawab mereka dengan alasan yang masuk akal dan penuh kelemahlembutan, dan ia tidak memakai kesempatan itu untuk menunjukkan ketidaksenangan-Nya terhadap orang-orang Farisi seperti yang Ia lakukan sesudahnya, atau balik menuduh mereka, melainkan justru memakai kesempatan itu untuk menguatkan dan menunjukkan belas kasihan-Nya terhadap suatu kumpulan pendosa yang lain, yaitu para pemungut cukai yang malang itu.
    V. Sungguh merupakan suatu keajaiban anugerah bahwa sekalipun Ia melatih murid-murid-Nya dengan disiplin, Kristus tidak lupa memperhitungkan kelemahan dan kekuatan. Ia selalu menyesuaikan pelayanan mereka dengan kesanggupan dan keadaan mereka masing-masing, serta dengan lingkungan di mana mereka berada. Namun, orang keberatan dan mempersalahkan tindakan-Nya ini, bahwa Ia tidak menyuruh murid-murid-Nya berpuasa sesering murid-murid orang Farisi atau Yohanes Pembaptis (ay. 33). Dia lebih menekankan pada hal-hal yang berkenaan dengan puasa jiwa, seperti mematikan dosa, menyalibkan daging, dan menjalani hidup yang menyangkal diri, yang jauh lebih baik daripada berpuasa dan menyiksa diri secara fisik, sebagaimana belas kasihan jauh lebih berarti daripada korban persembahan.
    VI. Sungguh merupakan suatu keajaiban anugerah bahwa Kristus berkenan menangguhkan berbagai pencobaan bagi para murid-Nya sampai pada waktunya nanti supaya dengan anugerah-Nya mereka bisa lebih siap dalam menghadapi semuanya itu nanti. Sekarang, mereka bagaikan sahabat mempelai laki-laki ketika mempelai itu sedang bersama mereka. Mereka sedang bersukaria, dan tiap hari adalah hari pesta bagi mereka. Kristus selalu disambut ke mana pun Ia datang, dan mereka juga diperlakukan demikian karena-Nya, dan sejauh ini, mereka hanya menghadapi sedikit saja atau bahkan sama sekali tidak ada perlawanan. Akan tetapi, situasi seperti itu tidak akan berlangsung selamanya. Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa (ay. 35). Saat Kristus meninggalkan mereka dengan banyak kesedihan di hati mereka dan banyak pekerjaan di tangan mereka, dan dunia yang penuh dengan rasa benci dan amarah menentang mereka, maka pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Mereka tidak akan lagi punya cukup makanan seperti kini. Kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara (1Kor. 4:11). Pada waktu itulah mereka akan berpuasa rohani, lebih sering daripada yang kini mereka lakukan, sebab Allah Sang Pemelihara memanggil mereka melakukan hal ini. Mereka akan beribadah kepada Tuhan dengan berpuasa (Kis. 13:2).
    VII. Sungguh merupakan suatu keajaiban anugerah-Nya bahwa Ia menyeimbangkan kewajiban ibadah mereka sesuai dengan kekuatan yang mereka miliki. Dia tidak akan mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua (ay. 36), atau mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua (ay. 37-38). Dia tidak akan mendisiplinkan mereka dengan begitu tegas dan keras segera ketika Ia memanggil mereka keluar dari dunia ini, supaya jangan mereka tergoda untuk melarikan diri. Saat Allah menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir, Ia tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, untuk berjaga-jaga supaya bangsa itu tidak menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir (Kel. 13:17). Jadi, Kristus mendidik para pengikut-Nya secara bertahap di dalam kedisiplinan keluarga kerajaan-Nya, sebab tidak seorang pun yang telah minum anggur tua akan tiba-tiba saja ingin minum atau menikmati anggur yang baru, melainkan akan berkata, "Anggur yang tua itu baik," sebab ia telah terbiasa meminumnya (ay. 39). Para murid akan tergoda untuk berpikir bahwa kehidupan lama mereka itu lebih baik, jadi mereka perlu dilatih perlahan-lahan ke jalan yang menjadi panggilan mereka. Atau, bisa juga dikatakan demikian, "Biarlah mereka menjadi terbiasa dulu dengan ibadah-ibadah keagamaan, setelah itu mereka pun akan menjadi setekun kamu, tetapi kita tidak boleh terburu-buru memaksakan hal itu kepada mereka." Bagi Calvin, perkataan Kristus itu merupakan suatu teguran terhadap orang-orang Farisi supaya tidak menyombong-nyombongkan dan memamerkan ibadah puasa yang mereka jalankan, dan tidak menghina murid-murid-Nya karena tidak melakukan tata cara yang sama dengan mereka, sebab tindakan ibadah orang-orang Farisi itu memang terlihat hanya bertujuan untuk membesar-besarkan diri dan berlagak, seperti anggur baru yang kelihatan segar dan berkilauan, tetapi rasanya tidak seperti yang dikatakan orang bijak, "Anggur yang tua itu lebih baik," sebab sekalipun warnanya tidak begitu menawan di dalam cawan, namun lebih terasa hangat di dalam perut, dan juga lebih menyehatkan. Murid-murid Kristus, meskipun tidak memiliki macam-macam tata ibadah, namun lebih memiliki kuasa rohani dari ibadah itu.





Syalom.. Ingin mendukukung pelayanan ini?
Silakan Donasi ke Rekening
BCA. 0662447925 a.n Murdan Sianturi
Donasi Anda digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan website Lagu-Gereja.Com
TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.












Selanjutnya:
Renungan Gereja Toraja Kamis, 26 Januari 2023 - Berserah Kepada Allah - Mazmur 27:7-14


Sebelum:
Renungan Gereja Toraja Selasa, 24 Januari 2023 - Beritakanlah Injil Kristus - Galatia 2:1-10


All Renungan Gereja Toraja 2023:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2023.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Renungan Gereja Toraja 2023..

Register   Login