| lagu-gereja.com/toraja |
|
Renungan Gereja Toraja 2022 Bahan khotbah hari Minggu Tanggal 24 Juli 2022 - Hosea 1:2-10 (Bahan Utama)Bahan khotbah hari Minggu Tanggal 24 Juli 2022 KITA ADALAH AMI DAN RUHAMA Kitamo tu Ammi sia Ruhama Bacaan Mazmur : Mazmur 85:1-14 Bacaan 1 : Hosea 1:2-10 (Bahan Utama) Bacaan 2 : Kolose 2:6-15 Bacaan 3 : Lukas 11:1-13 Nas Persembahan : Mazmur 29:2 Petunjuk Hidup Baru : Kolose 2:6-7 Tujuan: - Jemaat memahami bahwa pertobatan dianugerahkan bagi semua orang. - Jemaat Jemaat hidup mengasihi semua orang tanpa membeda-bedakan. Pemahaman Teks Mazmur 85:1-14 adalah bagian dari Mazmur Jilid III yang dimulai dari Mazmur 73:1-89:52. Lebih banyak ditulis oleh Asaf, atau keturunan Asaf. Beberapa penafsir berpendapat bahwa Mazmur 85:1-14 ini ditulis setelah mengalami masa penawanan atau pembuangan di Babilonia. Mazmur berupa doa yang dinaikkan oleh bangsa Israel kepada Tuhan ini, memohon belas kasihan yaitu pengampunan, setelah Allah menghukum Israel atas dosa-dosa, serta ketidaksetiaan dalam mewujudkan kehidupan yang Tuhan Allah kehendaki. Doa itu berisi pengharapan agar Tuhan Allah menjawab mereka untuk menganugerahkan damai sejahtera, kesetiaan, kebaikan, keadilan sebagai bukti bahwa Tuhan Allah hadir kembali dalam kehidupan Umat Israel. Pemazmur mengajak ‘umat’ untuk datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan penyesalan untuk mengakui segala kelemahan, kelalaian, ketidaksetiaan, dan ketidaktaatan pada kehendak Tuhan. Umat diajak untuk menyadari bahwa apa yang mereka alami melalui peristiwa pembuangan akibat dari dosa-dosa mereka, menjauh dari Tuhan dan dengan kesadaran untuk tidak mempersalahkan orang lain dalam ketidaksetiaan. Mereka terus menaikkan pengampunan dan permohonan, sebab mereka yakin bahwa Tuhan Allah akan mendengar permohonan mereka. Karena itu dalam doa permohonan umat diajak untuk: 1. Mengakui dengan sungguh-sungguh dalam rasa syukur apa yang Tuhan Allah kerjakan dan perbuat bagi umatnya, itu nampak dalam ay.2-4. Dalam keterpurukan sekalipun umat diajak untuk tidak melupakan kasih sayang Tuhan pada masa lampau. Walalupun mereka sering membelakangi Tuhan. 2. Memohon anugerah pertobatan, memohon agar Tuhan mengangkat tanda murka-Nya bagi mereka, dan memohon agar Allah menyertai mereka. 3. Dengan tangan terbuka membuka hati di hadapan Tuhan, agar kemudian mereka dapat berkomunikasi dengan Allah. Allah tetap memeliharaperjanjianNya, bahkan ketika umat perjanjianNya tidak layak menerimaNya. Dosa tentunya memiliki konsekuensi, tetapi kasih karunia juga terus hadir oleh karena Allah yang maha pengasih dan maha pengampun. Hosea 1:2-12 dapat disalin jadi sebuah narasi: Permulaan Tuhan berbicara dengan perantaraan Hosea. Tuhan berfirman kepada Hosea: Pergilah! Ambillah seorang perempuan sundal dan anak-anak sundal. Allah memerintahkan kepada Hosea mencari istri dan menunjukkan kepada Hosea bahwa istrinya tidak akan setia kepadanya. Dalam ketaatan kepada Allah, Hosea menikahi Gomer, dan hubungan Hosea dan Gomer dalam ikatan ‘perjanjian Pernikahan’ menjadi contoh hubungan yang nyata bagi Israel. Isi kitab Hosea bukanlah sekedar gambaran hubungan ‘ikatan perjanjian’ suami-istri, tetapi menggambarkan kasih Allah kepada umatNya, serta respon dari ‘pengantin perempuanNya’. Allah telah menyatakan perjanjian dan mengikat perjanjian itu dengan umatNya. Perjanjian itu telah dibuat dan Allah selalu setia, dan kasihNya selalu nyata. Tetapi gambaran Gomer adalah gambaran dari ketidaksetiaan umat, yakni menolak kasih setia Tuhan. Namun Allah yang adalah kasih tetap menyatakan kasihNya dengan menyatakan keadilanNya dalam penghukuman, sehingga pertobatan dan pengampunan akan menjadi jalan menuju cinta kasih Allah. Dengan rahmatNya yang berlimpah, kasih itu dinyatakanNya dan keadilanNya dijalankan. Pasal 1:2-9 adalah gambaran kehidupan keluarga Hosea sebagai gambaran kehidupan Israel yang tidak setia dan menjauh dari Tuhan. Hal itu nampak dari perkawinan Hosea dengan perempuan yang tidak setia. Perintah dari Allah kepada Hosea dilakukan dengan ketaatan kepada Allah, dan keluarga Hosea pun menerima berkat dengan kelahiran anak. Dalam ayat 4-5, diuraikan mengenai keberadaan Tuhan dalam peristiwa penting kehidupan Hosea. Jika memperhatikan ay 4-6 dan 9, penekanan pada penamaan anak yang selalu dilalui dengan kata “sebab”, menjelaskan bahwa Hosea melakukan suatu perbuatan tanda, yang di dalamnya Allah berperan. Dalam ay. 6 diuraikan kelahiran anak yang kedua dan dinamai Lo-Ruhama artinya yang tidak disayangi. Oleh A. de Kuiper (Tafsiran Alkitab Kitab Hosea) diuraikan bahwa ada permainan kata antara Lo-Ruhama dan Lo-arakhem yang berarti Aku tidak akan menyayangi atau tiada lagi di kasihi. (harafiah; Ruhama = dikasihani; Lo-Ruhama = tidak dikasihani ; Ami= Umatku ; Lo-Ami = Bukan Umatku) Pemberian nama ini hendak menunjukkan bahwa objek pengasihan Tuhan ialah bet-Yisrael (Rumah Israel), yakni yang menunjuk segenap masyarakat atau umat Israel utara. Namun dengan penamaan Lo-Ruhama dan Lo-Arakhem, objek pengasihan itu menjadi hilang sama sekali dan rahmat Tuhan tidak akan berlaku lagi baik kepada keturunan Raja maupun seluruh bangsa. Lebih jauh lagi dalam ay.8 diungkapkan tentang kelahiran anak ketiga yang diberi nama Lo-ami yang berarti bukan umatku. Ini menunjukkan bahwa penghukuman Tuhan semakin nyata. Israel (Utara) bukan lagi umat Allah. .. “sebab kamu ini bukanlah umatKu dan Aku ini bukanlah Allahmu (ay.9b). Dari pihak Israel perjanjian yang telah dinyatakan Allah, kini ditiadakan karena Israel tidak bertingkah laku sebagai ‘ami’ (umat-Ku). Dalam Perjanjian Lama kita mengenal perjanjian “ Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allahmu’… (Kel. 6:6). Itu berarti bahwa betapa besarnya dosa umat. Aku bukan lagi e'heye’-mu, bukan lagi Yahwe-mu”. Terlihat bahwa Allah sendiri yang meniadakan perjanjian-Nya dengan Israel. Kolose 2:6-15 berisi nasihat Paulus agar tetap berada di dalam Kristus. Paulus menulis surat ini karena muculnya ajaran-ajaran palsu (Kol. 2:8). Sebagai orang yang menerima Kristus, jemaat harus hidup di dalam Dia. Karena itu Rasul Paulus menyampaikan agar jemaat jangan ditipu oleh ajaran palsu. Mereka hendaknya memperoleh kepenuhan di dalam Allah dan hidup sebagai orang yang telah menikmati hidup yang telah disunat dengan sunat Kristus, karena kehidupan yang sedang dihidupi adalah kehidupan bersama Yesus yang telah mengampuni pelanggaran kita. Di dalam kematian Yesus Kristus, kita semua telah menerima anugerah pengampunan dari dosa-dosa. Sehubungan dengan itu pula, jemaat harus tegar dalam pertumbuhan iman dan terus berakar di dalam Kristus. Hidup di dalam Kristus adalah hidup yang berbuah di dalam Dia, dan buah itu akan dapat dihasilkan jika berakar dan bertumbuh di dalam Dia, yaitu mengerjakan dan melakukan perintahNya serta hidup menurut kehendakNya. Lukas 11:1-13 yang menguraikan berbagai ucapan Yesus tentang berdoa dapat dibagi ke dalam tiga bagian penting. Hal pertama menyampaikan apa yang disebut dengan ‘Doa Bapa Kami’. Lalu kedua menguraikan sebuh perumpamaan tentang seorang sahabat yang meluluskan permintaan sahabatnya. Sedangkan yang ketiga ialah menekankan hal berdoa dengan kesungguhan dan keyakinan serta kepercayaan atas belas kasihan Allah. Beberapa penafsir mengemukakan bahwa bagian yang disampaikan injil Lukas khususnya ucapan-ucapan Yesus tentang berdoa dalam Lukas 11:1-4 adalah bagian yang sering dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, yakni yang dipakai dalam rumah-rumah ibadat, yakni rumusan yang disebutkan ‘ Yang Delapan Belas’ sebagai doa resmi. Dalam pelaksanaannya setiap orang Yahudi sesudah mengucapkan setiap point dari ‘kedelapan belas’ doa itu, maka umat akan menjawab dengan respon puji-pujian, sebagaimana yang terdapat dalam Injil Matius 6:13b. Bagi murid Yesus sendiri, doa itu mempunyai tempat yang besar dalam hidup Yesus, sehingga mereka meminta petunjuk tentang doa. Lukas menekankan bagaimana Yesus hidup dan bekerja dengan kekuatan doa dan pergaulan dengan Allah. Petunjuk-petunjuk yang diberikan Yesus kepada kita dan murid-muridNya untuk berdoa yakni ‘Doa Bapa kami’ pertama-tama hendak mengajar bahwa berdoa untuk mewujudkan kehormatan Allah yang di dalamnya mengandung keselamatan bagi kita. Korelasi dari segenap bacaan, ialah tentang pesan tetap tinggal sebagai umat Tuhan. Pemazmur memiliki keyakinan bahwa pada Allah ada kedamaian dan keadilan. Karena itu Paulus menasihatkan agar tetap di dalam Kristus. Yesus sendiri menegaskan agar doa didasarkan pada keyakinan akan kemurahan Tuhan. Kehidupan Hosea secara jelas dapat memperlihatkan kasih setia Tuhan tersebut. Loh-Ruhama dan Lo-ami akan berubah menjadi kebalikan. Ami dan Ruhama akan bersahut-sahutan sebagai saudara, perjanjian Allah dibaharui, sebab rahmat Allah melebihi murkaNya. Sehubungan dengan itu pula, maka doa pemazmur memohon pemulihan Allah menjadi penting. Permohonan jelas didasarkan pada keyakinan bahwa Allah menginginkan damai, kesetiaan dan keadilan terjadi bagi umat-Nya. Hosea 1:2-12 berisi ketidaksetiaan Israel dan ini adalah fakta kejatuhan umat pilihan Allah. Ketidaksetiaan itu telah menjadi kisah perjalanan panjang mereka, mulai dari perjalan keluar dari Mesir, sampai ada di tanah perjanjian. Mari kita merasa pantas ketika Gambaran perkawinan Hosea dengan Gomer adalah Gambaran Ketidaksetiaan Israel kepada Allah. Ini bukan kisah keluarga Hosea, tapi kisah relasi Allah dengan Israel. Ini adalah kisah pelacuran Israel terhadap Allah. Hosea disuruh mengawini perempuan sundal. Secara harafiah, frasa Ibrani tentang Istri percabulan/pelacur adalah seorang pelacur. Dengan demikian anak-anak percabulan/pelacur adalah hasil dari pelacuran itu. Melahirkan anak-anak sundal yaitu: Yizreel, Lo Ruhama, dan Lo-Ami], memberi gambaran tentang keadilan Allah yang akan menghukum. Konsekuensi dari ketidaktaatan Israel adalah semua yang ahir dari ketidaktaatan kepada Allah adalah anak-anak pelacur. Hidup dalam identitas keturunan pelacur adalah hukuman, dan di sisi yang lain yang pasti adalah akan ada penghukuman Allah lagi. Ini adalah sifat keadilan Allah yang tidak bisa ditawar. Namun demikian, ada hal kedua yang menarik. Keadilan Allah yang menghukum tidak selalu bernada negatif, tapi juga bermakna positif, yakni sebagai proses pemuridan Allah bagi bangsa umat pilihan-Nya. Kehadiran kasih karunia Allah dapat menegaskan hal tersebut. Untuk memahami kasih karunia Allah yang menyelamatkan itu, kata Ammi (umatku) dan Ruhamah (yang dikasihi) diberikan pada umat Tuhan. Kedua kata menjadi gambaran sifat Allah yang penuh kasih, yang sebenarnya tidak bermaksud memusnahkan, tapi membuat umatNya dapat menjadi murid kembali. Dengan demikian, gambaran Israel yang tidak setia, sekaligus juga memberi gambaran juga tentang Allah yang setia menyelamatkan dan mengasihi. Dari sini kita melihat, betapa didikan dan hukuman tidak hanya bentuk keadilan Allah, tapi juga bentuk kasih Allah yang memuridkan dan menyelamatkan. Tema tentang kemurahan hati Allah, nampak dalam ayat 10-12. Hal itu semata-mata inisiatif Allah, bukan usaha Israel. Dari sini pun kita akan jelas memahami Yesus Kristus sebagai bentuk kehadiran Allah yang nyata bagi umat manusia yang penuh dosa. Jika kita telah sampai pada titik kesimpulan, bahwa bangsa Israel diselamatkan semata karena anugerah Allah, maka nasihat Rasul Paulus dalam Kolose 2:6-15, yang menyatakan untuk orang percaya harus tetap tinggal di dalam Kristus, adalah bentuk ekspresi iman terhadap kasih karunia yang telah dinyatakan Allah bagi mereka. Percakapan orang percaya tidak lagi pada soal salah benar untuk selamat, sebab kita sudah diselamatkan karena kasih Allah dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, kata tinggal di dalam Kristus yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, bermakna tinggal dengan hati, pikiran dan karakter Kasih Kristus. Kasih adalah pengetahuan tertinggi, perasaan terdalam, dan tidakan termulia bagi orang percaya. Semua orang percaya yang mengamalkan ini tidak gampang menghakimi, dan tetap mendahulukan kepentingan Tuhan dalam segala hal, temasuk hal berdoa. Pokok-pokok pengembangan khotbah. 1. Sedapatnya umat dihantar untuk sadar bahwa kejahatan dan dosa adalah pelacuran rohani, dan hal itu akan membawanya pada keadilan Allah. Penghukuman mungkin akan dialami sebagai konsekuensi dari tindakan ini. Tapi keadilan Allah itu adalah bentuk pemuridan Allah bagi umat yang dikasihi-Nya, yang dinantikan mau berbalik dan menjadi murid-Nya kembali. 2. Sedapatnya umat memahami juga bahwa, sebaik-baiknya dirinya, keluarganya, dan semua tindakan kebaikan bukanlah suatu hukum Tuhan yang memaksa, tetapi eskpresi iman dan panggilan Iman, semata-mata merupakan bentuk ucapan terima kasih kepada Allah yang menyelamatkannya dari Dosa dan maut, menyelamatkan Dunia dan isinya. Termasuk orang-orang yang belum percaya. ( percaya, bahwa Kairos Tuhan, semua orang akan mengaku dengan mulut, dan berlutut : bahasa iman ) 3. Gereja yang hidup, adalah geraja yang terus bermohon kepada Tuhan. Sedapatnya hal penting untuk didoakan oleh Gereja bukan lagi meminta keadilan Allah, kasih dan keselamatan Allah berlaku, tetapi mendoakan agar supaya Gereja tetap adil dalam setiap keputusannya dan menjadi agen perdamaian dalam konteks kemajemukan. Hamba-hamba Tuhan pun tetap tulus dan setia dalam pelayanannya, bukan saja bagi orang kristen, tapi mengasihi dan melayani semua. Sedangkan umat juga tetap menjadi “penyelamat” rumah tangganya dan persekutuan, serta menjadi surat Kristus yang terbuka di lingkungan masing-masing. 4. Sedapatnya umat dibimbing untuk menjadikan doa dalam keluarga sebagai bentuk relasi yang hidup dengan Tuhan. Berdoalah bagi dunia dengan semua gejolaknya. Jadilah pendoa syafaat masa kini, karena banyak orang yang tidak bisa berdoa. 5. Umat harus tahu bahwa tinggal di dalam Kristus itu bukan soal baca alkitab dan berdoa saja setiap hari saja. Lebih dari itu juga bersedia tinggal di dalam derita dan pergumulan orang lain. Di sanalah buah-buah kasih Kristus menjadi nyata bagi dunia.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 25-30 Juli 2022 - KITA ADALAH AMI DAN RUHAMA (Kitamo tu Ammi sia Ruhama) - Kolose 2:6-15 Sebelum: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 18-23 Juli 2022 - DENGARLAH PERINGATAN TUHAN (Tananni Talinga tu Peada`na Puang) - Lukas 10:38-42 All Renungan Gereja Toraja 2022: Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Renungan Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |