| lagu-gereja.com/toraja |
|
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022 Minggu, 3 Juli 2022 Khotbah Minggu Gereja Toraja Minggu, 3 Juli 2022 - Yesaya 66:10-14Bahan khotbah hari Minggu Minggu, 3 Juli 2022 Minggu Trinitas Gereja Toraja SEPERTI IBU YANG MENGHIBUR Susi Indo’ Ma’pakatana Bacaan Mazmur : Mazmur 66:1-9 Bacaan 1 : Yesaya 66:10-14 (Bahan Utama) Bacaan 2 : Galatia 6:1-18 Bacaan 3 : Lukas 10:1-12, 17-20 Nas Persembahan : Mazmur 66:13-14 Petunjuk Hidup Baru : Mazmur 66:5 Tujuan Jemaat memahami kasih Allah tetap menyertai umat-Nya, ibarat seorang ibu yang menjaga anak-anaknya. Jemaat hidup dengan memusatkan perhatian pada besarnya kasih Allah Pemahaman Teks Mazmur 66:1-9 berisi ajakan dan seruan untuk bersorak dan memuliakan Allah. Pemazmur menyampaikan seruan ini bukan hanya untuk kalangan sendiri, melainkan untuk seluruh bumi. Seruan ini didorong oleh kesadaran akan pekerjaan Allah yang dahsyat. Hal itu nampak misalnya dalam tindakan: mengubah laut menjadi tanah kering (ay.6) dan matanya mengawasi bangsa-bangsa (ay.7). Jadi ajakan pemazmur bersorak dan memuliakan Allah didasarkan pada kasih dan perbuatan Allah. Yesaya 66:10-14 berisi nubuat nabi Yesaya pada akhir masa pembuangan umat Tuhan di Babel (ada yang mengatakan bahwa nubuatan ini disampaikan sesudah umat kembali dari pembuangan). Umat yang berada di pembuangan cenderung mengalami keputus-asaan karena lama menanti saat untuk kembali. Hati mereka semakin hancur ketika mereka membayangkan bagaimana hancurnya Yerusalem yang menjadi kota kebanggaan mereka. Mereka seolah-olah tengah menghadapi situasi yang amat berat. Situasi porak poranda menjadi tekanan yang amat keras sehingga mereka mulai putus asa. Pada ayat 10-11 ada ajakan untuk bersuka cita dan bergirang. Di tengah keprihatinan yang mendalam karena beratnya masalah yang dihadapi, Yesaya justru menyampaikan seruan untuk bersukacita. Ayat 12-13 berisi alasan untuk bergembira walaupun umat sementara menyaksikan kehancuran. Yesaya menyampaikan dan mempertegas bahwa kasih Allah tetap nyata bahkan terus-menerus. Hal itu nyata melalui ungkapan: “Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir”; aliran keselamatan/kekayaan dari Allah bagaikan aliran sungai (batang air). Tak pernah putus, terus menerus, bahkan tak tertahankan oleh apapun dan kondisi bagaimanapun. Besarnya kasih Allah dipertegas pada ayat 13 yang mengatakan: “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem”. Yesaya menggambarkan Allah bagaikan seorang ibu yang berusaha menghibur anak-Nya. Kasih seorang ibu terhadap anaknya adalah kasih yang terus menerus, dan tak pernah pudar. Kasih seorang ibu terhadap anaknya tidak terpengaruh dengan sikap anaknya. Hal ini lebih jelas kalau dibandingkan dengan pernyataan dalam Yesaya 49:15-16 “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku”. Penggambaran Yesaya ini menegaskan bahwa kasih Allah tetap terarah kepada umat-Nya secara terus menerus. Kasih Allah jauh lebih besar dibanding masalah yang menekan umat-Nya. Galatia 6:1-10 berisi nasihat Paulus agar setiap warga jemaat hidup dengan bertolong-tolongan. Bertolong-tolongan di sini bukanlah usaha yang berpusat pada usaha manusia, melainkan merupakan jawaban atas kasih Allah yang sudah diterima. Istilah yang digunakan Paulus adalah: “memenuhi hukum Kristus” dan “menabur dalam Roh”. Untuk bisa hidup bertolong-tolongan, maka setiap orang harus jujur dengan diri sendiri atau menyadari kondisi dan keadaannya sendiri. Waktu yang ditetapkan oleh Paulus untuk berbuat baik adalah setiap kesempatan. Setiap kesempatan perlu diisi dengan berbuat baik kepada semua orang. Lukas 10:1-12 berisi cerita Yesus mengutus tujuh puluh murid ke setiap kota dan tempat yang akan dikunjungi Yesus. Mereka diutus untuk mempersiapkan orang untuk menerima berita yang akan disampaikan oleh Yesus yaitu Kerajaan Allah. Mereka diutus berdua-dua agar saling memperkuat kesaksian dan sekaligus saling menguatkan. Pengutusan ini adalah sesuatu yang berat dan beresiko. Ini nampak dalam ungkapan “Aku mengutus kamu ke tengah serigala”. Karena itu mereka diminta untuk sepenuhnya mengandalkan penyertaan dari Yesus yang mengutus. Mereka harus fokus pada kemampuan Yesus yang mengutus. Korelasi keempat bacaan: Seluruh umat bahkan makhluk dipanggil untuk bersorak karena karya Allah Tritunggal. Yesaya mengajak umat agar bergirang karena kasih Allah Tritunggal yang besar yang mengasuh seperti ibu. Paulus menasihatkan jemaat untuk merespon kasih Allah dengan berbuat baik pada setiap kesempatan. Yesus mengutus murid untuk memberitakan perbuatan Allah atau kasih Allah. Penjelasan tentang Minggu Trinitas Pengkhotbah mengawali dengan menjelaskan bahwa minggu ini ditetapkan Gereja Toraja sebagai Minggu Trinitas. Dalam kalender ekumene, minggu Trinitas diperingati 3 minggu yang lalu, namun Gereja Toraja menggeser minggu perayaan ini untuk memberi ruang pada karya Roh Kudus. Minggu Trinitas adalah masa-masa untuk menghayati karya Allah Tritunggal yang telah menyatakan diri melalui ciptaan dan memuncak dalam karya Yesus Kristus sebagai Firman Allah yang menebus dan menguduskan umat Allah untuk bertumbuh dalam perarakan sebagai umat Allah. Pertumbuhan inilah yang disimbolkan melalui stola hijau yang dikenakan selama 7 minggu. Pokok-pokok pengembangan khotbah Pengkhotbah memulai dengan menyebutkan situasi-situasi tertentu yang dapat membuat seseorang frustrasi (contoh: pengaruh covid 19; biaya pendidikan anak-anak …). Bagaimana caranya agar kita tidak frustrasi dalam menghadapi realitas hidup yang cenderung keras? Yesaya 66:10-14 berisi penguatan nabi Yesaya sehubungan dengan kondisi Yerusalem yang hancur dan porak poranda. Kehancuran ini bukan hanya masalah fisik tetapi juga psikis. Secara fisik umat menyaksikan kehancuran sehingga kondisinya sudah berbeda dengan keadaan masa kejayaan dulu. Secara psikis umat mengalami trauma selama masa pembuangan yang sangat lama. Umat Allah putus asa membayangkan bagaimana hidup dan memulai kehidupan di tengah situasi yang serba hancur tanpa pertolongan Tuhan (memang di daerah pembuangan mereka merasa sudah ditinggalkan Allah) Di tengah situasi tanpa harapan dan menekan itu, Yesaya justru mengajak umat untuk bersuka cita dan bergirang. Ajakan Yesaya ini kontras dengan situasi yang sedang terjadi. Realitas menunjukkan beratnya situasi, sementara seruan Yesaya mengajak untuk bergembira. Apa yang menjadi alasan Yesaya menyerukan kegembiraan di tengah kegalauan dan kegamangan hidup ? Ada tigal hal yang bisa dipelajari di sini. 1. Kasih dan perhatian Allah kepada umat-Nya berlaku secara terus menerus. Hal ini nyata melalui ungkapan “Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir” (istilah pemazmur: “mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa - Mazmur 66:7). Bagi Yesaya dan pemazmur, mengingat kasih dan perbuatan Allah yang menyelamatkan adalah sesuatu yang semestinya tumbuh dalam hati umat di kala menghadapi situasi yang berat. Setiap orang semestinya menyadari, bahwa baik kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya kasih Allah tetap menyertai umat-Nya. 2. Fokus pada besarnya kasih Allah Yesaya menggambarkan Allah bagaikan seorang ibu yang berusaha menghibur anak-Nya. Seorang ibu penuh perjuangan dalam mengasihi anaknya sejak dari kandungan. Kalau anaknya sakit dan menderita, seorang ibu ikut merasakan sakit dan penderitaan anaknya (di sini pengkhotbah dapat mengungkapkan contoh-contoh yang menggambarkan perjungan seorang ibu dalam mengasihi anaknya, misalnya: rela tidak makan asal anaknya makan). Bagi Yesaya, Allah bagaikan seorang ibu (bahkan lebih dari itu) dalam mengasihi kita anak-anak-Nya. Kita adalah anak-anak-nya; kita berasal dari; maka Dia menyatakan kasihNya yang dalam atas diri kita. Di sini mau ditegaskan bahwa perhatian dan kasih Allah kepada umat-Nya sungguh amat besar. Kasih Allah kepada umat-Nya itu yang diwujudkan ketika Ia mengutus anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia (Yoh.3:16). Penggambaran Yesaya ini menegaskan bahwa kasih Allah tetap terarah kepada umat-Nya secara terus menerus. Kasih Allah jauh lebih besar dibanding masalah yang menekan umat-Nya. 3. Memandang pada suasana hidup dalam rangkulan kasih Allah Trintunggal. Untuk meyakinkan umat tentang kasih Allah, Yesaya seolah-olah memperlihatkan suasana kedamaian dalam rangkulan kasih Allah itu. Seperti kedamaian seorang anak di pangkuan ibunya akan tercipta kembali atas hidup umat yang datang kepadaNya. Hal itu dapat dilihat misalnya melalui ungkapan: “kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan” (Yes.66:12). Yesaya membangkitkan daya imajinasi umat mengenai hidup masa depan dalam rencana Allah. Kita tidak boleh hanya memandang pada masa dan situasi sekarang, tetapi juga bahkan semestinya kita mampu memandang pada situasi masa mendatang di dalam Tuhan. Masa sekarang bisa kelihatan suram, tetapi masa depan di dalam Tuhan sungguh cerah. Dari tiga hal yang diuraikan ini kita dapat melihat bahwa kita akan bangkit walau di tengah situasi yang berat, manakala kita berfokus pada besarnya kasih Allah dan indahnya suasana hidup masa depan di dalam Tuhan. Banyak orang frustasi dalam menghadapi situasi hidup karena hanya fokus pada beratnya situasi. Mungkin juga banyak orang frustasi dalam menghadapi situasi hidup karena hanya fokus pada masa sekarang yang banyak masalah. Karena itu, jangan lihat beratnya kondisi hidup, tetapi lihatlah besarnya kasih Allah. Jangan lihat bagaimana kemampuanmu menghadapinya, tetapi lihatlah kemampuan-Nya. Jangan lihat situasi dalam rencanamu, tetapi lihatlah kondisi itu dalam bingkai rencana-Nya. Dalam sepajang bentangan sejarah penyelamatan, Allah telah menggunakan berbagai cara untuk menyatakan diri-Nya kepada umatnya. Penyataan Allah yang kemudian kita kenal dengan Allah Tritunggal memperlihatkan bahwa Allah terus-menerus mewujudkan rancangannya, dan memanggil kita menerima pengutusan untuk memberitakan karya Allah Tritunggal.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: - Sebelum: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 27 Juni- 2 Juli 2022 - MENYALIBKAN KEINGINAN DAGING Unna’ta’ Pa’poraian Kale - Lukas 9:51-62 All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022: Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |