| lagu-gereja.com/toraja |
|
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022 Minggu, 23 Oktober 2022 Bahan khotbah hari Minggu, 23 Oktober 2022 - Pembukaan Pekan Pemuda Gereja Toraja JANGANLAH TINGGALKAN KAMI / Da`amMi Tampekan Puang - Yeremia 14:1-9Bahan khotbah hari Minggu Tanggal 23 Oktober 2022 Pembukaan Pekan Pemuda Gereja Toraja JANGANLAH TINGGALKAN KAMI Da’amMi Tampekan Puang Bacaan Mazmur : Mazmur 84:1-8 Bacaan 1 : Yeremia 14:1-9 (Bahan Utama) Bacaan 2 : 2 Timotius 4:6-8;16-18 Bacaan 3 : Lukas 18:9-14 Nas Persembahan : Mazmur 116: 17-18 Petunjuk Hidup Baru : Yeremia 14:7 Yeremia 14:1-9 Mengenai musim kering 14:1 Firman TUHAN yang datang kepada Yeremia mengenai musim kering. 14:2 Yehuda berkabung, pintu-pintu gerbangnya rebah dan dengan sedih terhantar di tanah; jeritan Yerusalem naik ke atas. 14:3 Pembesar-pembesarnya menyuruh pelayan-pelayannya mencari air; mereka sampai ke sumur-sumur, tetapi tidak menemukan air, sehingga mereka pulang dengan kendi-kendi kosong. Mereka malu, mukanya menjadi merah, sampai mereka menyelubungi kepala mereka. 14:4 Pekerjaan di ladang sudah terhenti, sebab hujan tiada turun di negeri, maka petani-petani merasa kecewa dan menyelubungi kepala mereka. 14:5 Bahkan rusa betina di padang meninggalkan anaknya yang baru lahir, sebab tidak ada rumput muda. 14:6 Keledai-keledai hutan berdiri di atas bukit gundul, mengap-mengap seperti serigala, matanya menjadi lesu, sebab tidak ada rumput. 14:7 "Sekalipun kesalahan-kesalahan kami bersaksi melawan kami, bertindaklah membela kami, ya TUHAN, oleh karena nama-Mu! Sebab banyak kemurtadan kami, kami telah berdosa kepada-Mu. 14:8 Ya Pengharapan Israel, Penolongnya di waktu kesusahan! Mengapakah Engkau seperti orang asing di negeri ini, seperti orang perjalanan yang hanya singgah untuk bermalam? 14:9 Mengapakah Engkau seperti orang yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong? Tetapi Engkau ada di antara kami, ya TUHAN, dan nama-Mu diserukan di atas kami; janganlah tinggalkan kami!" Penjelasan: * Ratapan Karena Musim Kering yang Parah; Doa Meminta Belas Kasihan; Berseru kepada Allah (14:1-9) Ayat pertama adalah judul dari keseluruhan pasal ini. Seluruh pasal ini memang berbicara mengenai musim kering, tetapi banyak darinya terdiri atas doa-doa sang nabi mengenai musim kering itu. Walaupun begitu, doa-doa ini bukannya tidak pantas dikatakan sebagai firman TUHAN yang datang kepadanya mengenai musim kering, sebab setiap doa yang berkenan adalah doa yang ditaruh Allah di dalam hati kita. Perkataan kita tidak akan sampai kepada-Nya, jika itu bukan merupakan perkataan-Nya yang pertama-tama berasal dari Dia. Dalam ayat-ayat ini kita mendapati, I. Bahasa alam yang meratapi bencana ini. Ketika langit seperti tembaga, dan tidak meneteskan embun, bumi pun menjadi seperti besi, dan tidak menghasilkan buah-buah. Maka kesedihan dan kekacauan terjadi di mana-mana. 1. Semua penduduk negeri itu menangis. Musnahkan pohon anggur dan pohon ara mereka, maka terhentilah segala kegirangan mereka (Hos. 2:10-11). Semua sukacita mereka musnah bersama sukacita panen, bersama sukacita menuai gandum dan anggur. Yehuda berkabung (ay. 2), bukan karena dosa, melainkan karena kesusahan, karena tertahannya hujan, bukan karena ditariknya perkenanan Allah. Pintu-pintu gerbangnya, semua orang yang keluar masuk dari pintu-pintu gerbang mereka, rebah, terlihat pucat, dan menjadi lemah, karena kekurangan kebutuhan-kebutuhan pokok untuk hidup dan karena takut akan dampak-dampak mematikan yang lebih jauh dari hukuman ini. Pintu-pintu gerbangnya, yang melaluinya pasokan gandum biasa dibawa masuk ke kota-kota mereka, sekarang tampak mengenaskan, ketika bukannya pasokan gandum yang dibawa masuk, para penduduknya malah pergi melalui pintu-pintu itu untuk mencari makanan di negeri-negeri lain. Bahkan orang-orang yang duduk di depan pintu-pintu gerbang rebah. Mereka terhantar di tanah dengan sedih. Mereka berpakaian hitam seperti orang-orang berkabung dan duduk di atas tanah, seperti para pengemis miskin di pintu-pintu gerbang menghitam mukanya karena kurang makan, lebih hitam dari pada jelaga (Rat. 4:8). Kelaparan digambarkan dengan kuda hitam (Why. 6:5). Mereka rebah ke tanah karena lemah, tidak sanggup berjalan menyusuri jalan. Jeritan Yerusalem naik ke atas, yaitu jeritan warganya (sebab kebutuhan kota dipenuhi oleh ladang), atau jeritan orang-orang dari seluruh penjuru negeri bertemu di Yerusalem untuk berdoa meminta hujan, demikian menurut sebagian orang. Tetapi saya takut itu lebih merupakan jeritan permasalahan mereka, dan jeritan doa mereka. 2. Orang-orang besar di negeri itu merasakan hukuman ini (ay. 3): Pembesar-pembesarnya menyuruh orang-orang kecil mereka mencari air (KJV), mungkin anak-anak mereka sendiri, setelah mereka terpaksa melepaskan pelayan-pelayan mereka karena tidak mampu mempertahankannya, dan bersedia melatih anak-anak mereka, sewaktu kecil, untuk bekerja, terutama dalam masa kekurangan, seperti yang terjadi saat itu. Kita mendapati Ahab dan Obaja, raja dan kepala pegawai istana, turun sendiri untuk mencari air pada masa kesusahan seperti ini (1Raj. 18:5-6). Atau lebih tepatnya, orang-orang kecil mereka, para pelayan dan para pegawai rendahan mereka. Orang-orang ini mereka suruh untuk mencari air, karena tanpa air orang tidak bisa hidup. Namun mereka tidak mendapat apa-apa: Mereka pulang dengan kendi-kendi kosong. Mata air menjadi kering karena tidak ada hujan yang mengisinya. Maka mereka (yaitu tuan-tuan mereka yang telah menyuruh mereka) malu, mukanya menjadi merah karena kecewa. Mereka tidak mau malu atas dosa-dosa mereka, atau memerah mukanya karena merasakan dosa-dosa itu, tetapi justru tidak merendah di bawah teguran-teguran firman. Pikir mereka, kekayaan dan martabat mereka menempatkan diri mereka di atas pertobatan. Tetapi Allah memakai suatu cara untuk membuat mereka malu atas apa yang begitu mereka banggakan, ketika mereka mendapati bahwa di seberang neraka ini kebangsawanan mereka tidak dapat membeli bahkan setetes air sekalipun untuk menyejukkan lidah mereka. Hendaklah dengan membaca gambaran tentang bencana ini kita menjadi bersyukur atas rahmat air, supaya kita tidak usah baru belajar menghargainya setelah merasakan bencana itu. Apa yang paling diperlukan adalah yang paling berlimpah. 3. Para petani paling merasakan dampaknya secara langsung (ay. 4): Petani-petani merasa kecewa, sebab tanahnya begitu kering dan keras sehingga tidak dapat dibajak, sekalipun tanah itu sudah retak dan terbelah sehingga tampak seolah-olah tidak perlu dibajak. Mereka malu bermalas-malasan, sebab tidak ada apa-apa yang harus dikerjakan, dan karena itu tidak ada apa-apa yang dapat diharapkan. Si pemalas, yang tidak mau membajak pada musim dingin, tidak malu akan kebodohannya sendiri. Tetapi petani yang rajin, yang tidak dapat membajak karena panas, malu akan penderitaannya sendiri. Lihatlah betapa para petani bergantung secara langsung pada Pemeliharaan ilahi. Oleh sebab itu, mereka harus selalu mengarahkan pandangan kepada pemeliharaan-Nya, karena mereka tidak dapat membajak atau menabur di dalam pengharapan, kecuali Allah membasahi gumpalan-gumpalan tanah mereka (Mzm. 65:11). 4. Bahkan keadaan binatang-binatang liar sangat mengenaskan (ay. 5-6). Dosa manusia mendatangkan hukuman-hukuman di atas bumi yang bahkan membuat makhluk-makhluk yang lebih rendah meradang kesakitan: dan sang nabi memberi perhatian pada hal ini sebagai seruan kepada Allah untuk meminta belas kasihan. Yehuda dan Yerusalem telah berdosa, tetapi rusa betina dan keledai liar, apa yang telah mereka lakukan? Rusa betina adalah makhluk yang menyenangkan, indah dan penuh kasih, dan terutama lembut terhadap anak-anaknya. Namun, begitu parah keadaannya sehingga, bertentangan dengan naluri alami mereka, mereka meninggalkan anak-anak mereka, sekalipun baru lahir dan sangat membutuhkan mereka, untuk mencari rumput di tempat lain. Dan, jika mereka tidak dapat menemukan apa-apa, mereka menelantarkan anak-anak mereka, karena tidak dapat menyusui mereka. Rusa betina itu tidak begitu sedih karena ia sendiri tidak mendapat rumput, tetapi terlebih karena tidak ada rumput bagi anak-anaknya. Ini seharusnya mempermalukan orang-orang yang menghabiskan untuk hawa nafsu mereka apa yang seharusnya mereka simpan untuk keluarga mereka. Rusa betina, setelah melahirkan anak-anaknya, dikatakan telah mengeluarkan isi kandungannya (Ayb. 39:6, KJV: melepaskan dukacitanya), namun ia tetap peduli. Tetapi, seperti yang dikatakan selanjutnya di sini, ia segera melihat dampak baik dari mereka, sebab anak-anaknya dalam beberapa saat saja sudah tumbuh, dan tidak menyusahkannya lagi (ay. 4). Namun di sini yang paling sulit dari semuanya adalah bahwa ia tidak mempunyai apa-apa untuk mereka. Bahkan, orang akan merasa kasihan pada keledai-keledai hutan (meskipun mereka bukanlah binatang kesayangan siapa-siapa). Sebab, meskipun paling-paling padang masinlah yang dijadikan sebagai tempat tinggal mereka (Ayb. 39:8-9), namun sekarang bahkan padang itu pun sudah terlalu panas bagi mereka, begitu panas sehingga mereka tidak dapat bernafas di sana. Karena itu mereka pergi ke atas bukit gundul, ke tempat-tempat tertinggi yang dapat mereka capai, di mana udaranya sangat sejuk, dan di sana mengap-mengap seperti serigala, seperti binatang-binatang yang karena sangat kepanasan, terus bernafas dengan terengah-engah. Mata mereka menjadi lesu, begitu pula dengan kekuatan mereka, sebab tidak ada rumput untuk menopang hidup mereka. Keledai jinak, yang melayani pemiliknya, dimasukkan ke palungannya (Yes. 1:3) dan itu membuatnya tidak dapat bekerja, sementara keledai-keledai liar, yang menertawakan teriakan si penggiring, terpaksa hidup dengan menelan angin, dan tidak mendapat apa-apa karena tidak bekerja. Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. II. Di sini ada bahasa anugerah, yang meratapi kesalahan itu, dan mengeluhkan bencana itu kepada Allah. Bangsa itu tidak juga tergerak untuk berdoa, sehingga sang nabi di sini berdoa untuk mereka, supaya menggugah mereka untuk berdoa bagi diri mereka sendiri, dan menempatkan kata-kata ke dalam mulut mereka, yang dapat mereka ucapkan, dengan harapan akan dikabulkan (ay. 7-9). Dalam doa ini, 1. Dosa diakui dengan rendah hati. Ketika kita datang berdoa untuk mencegah atau menghapuskan hukuman apa saja, kita harus selalu mengakui bahwa kesalahan-kesalahan kita bersaksi melawan kita. Dosa-dosa kita adalah saksi melawan kita, dan orang yang betul-betul bertobat memandangnya demikian. Dosa-dosa kita bersaksi, sebab dosa-dosa itu sudah terang dan jelas. Kita tidak bisa menyangkal tuduhannya. Dosa-dosa kita bersaksi melawan kita, untuk menyatakan kesalahan kita, yang akan membuat kita malu dan tertuduh pada saat ini, dan terkutuk nanti. Dosa-dosa kita menyangkal dan menggulingkan semua pembelaan bagi diri kita sendiri. Dan dengan demikian dosa-dosa kita tidak hanya mendakwa kita, tetapi juga membantah kita. Jika kita memegahkan keunggulan-keunggulan kita sendiri, dan mengandalkan kebenaran kita sendiri, maka kesalahan-kesalahan kita bersaksi melawan kita, dan membuktikan kita bejat. Jika kita berseteru dengan Allah bahwa Dia memperlakukan kita secara tidak adil atau tidak baik dalam membuat kita menderita, maka kesalahan-kesalahan kita bersaksi melawan kita bahwa kita sudah berbuat jahat kepada-Nya. “Sebab kemurtadan kami banyak dan pemberontakan-pemberontakan kami besar, yang olehnya kami telah berdosa kepada-Mu -” terlalu banyak untuk disembunyikan, sebab tak terhitung jumlahnya, terlalu keji untuk dimaafkan, sebab diperbuat melawan Engkau.” 2. Belas kasihan dimohonkan dengan sungguh-sungguh: “Sekalipun kesalahan-kesalahan kami bersaksi melawan kami, dan melawan diberikannya perkenanan yang dibutuhkan oleh keadaan kami, namun bertindaklah membela kami.” Mereka tidak mengatakan secara khusus apa yang akan mereka perbuat. Tetapi, seperti layaknya orang-orang yang bertobat dan mengemis, mereka menyerahkan masalahnya kepada Allah: “Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu” (Hak. 10:15). Bukan, bertindaklah membela kami dengan cara ini atau pada saat ini, melainkan “bertindaklah membela kami oleh karena nama-Mu. Lakukanlah apa yang paling dapat membawa kemuliaan bagi nama-Mu.” Perhatikanlah, seruan-seruan terbaik kita di dalam doa adalah seruan-seruan yang bertujuan untuk kemuliaan nama Allah sendiri. “Tuhan, lakukanlah itu, supaya rahmat-Mu diagungkan, janji-Mu digenapi, dan kepentingan-Mu di dunia terus dijaga. Dalam diri kami tidak ada apa-apa yang dapat kami andalkan, tetapi dalam diri-Mu ada segala sesuatu.” Ada permohonan lain dalam doa ini, dan permohonan itu sangat sederhana (ay. 9): “Janganlah tinggalkan kami, janganlah tarik perkenanan dan hadirat-Mu.” Perhatikanlah, kita harus ngeri dan mengutuki perginya Allah dari diri kita lebih daripada hilangnya semua penghiburan apa saja yang kita nikmati dari makhluk ciptaan. 3. Hubungan mereka dengan Allah, kepentingan mereka di dalam Dia, dan harapan-harapan mereka dari-Nya yang didasarkan pada kedua hal itu, diserukan dengan amat mengharukan kepada-Nya (ay. 8-9). Tujuan Jemaat memahami dampak dari bencana menjauhkan diri dari Allah karena dosa Jemaat senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan tak kenal henti berseru kepadaNya Pemahaman Teks Mazmur 84:1-8 menggambarkan orang percaya yang terikat kepada Allah, yakni mendambakan kehadiran Allah dan berada di rumah Allah melebihi segala sesuatu. Keinginan terbesarnya adalah mengalami dekatnya Allah, menyembah-Nya, dan menerima berkat-Nya. Suatu gambaran orang percaya sejati yang haus akan Allah (lih. Mzm.42:3,7). Yeremia 14:1-9 menguraikan dampak-dampak merusak dari bencana alam kekeringan atas Yehuda karena ketidaksetiaan kepada Allah dan perjanjianNya. Mereka telah menolak Allah dan meninggalkan Allah sumber air hidup (2:13). Ayat 1-6 merupakan penggambaran ketiadaan harapan. Tuhan mendatangkan kekeringan di Yehuda agar umat-Nya itu bertobat, tetapi tindakan untuk mendisiplinkan mereka tidak berhasil. Bangsa itu meratapi tanah mereka yang kering dan gersang, namun tidak meratapi dosa-dosanya. Mereka menyesali keadaan mereka yang malang menderita, tetapi tidak menyesali jalan kefasikan yang mereka tempuh. Ayat 7-9 berisi pengharapan yang terkandung dalam doa syafaat nabi Yeremia untuk bangsa Yehuda. Satu-satunya harapan bagi Yehuda dalam menghadapi penderitaan yang akan mereka terima adalah Tuhan. Tetapi Tuhan tidak akan melakukan apa-apa, selama mereka tidak mau kembali kepada-Nya. Tuhan akan menjadi seperti orang asing yang hanya melintasi negeri itu dan seperti prajurit yang tidak dapat menolong. Bangsa itu berseru kepada Allah memohon hujan, tetapi Allah menolak menjawab sebagai kesaksian tentang hukuman yang tidak bisa tidak mereka tanggung karena dosa mereka. 2 Timotius 4:6-8 berisi pesan Rasul Paulus, bahwa waktu pulang akan semakin dekat. Kematiannya yang semakin dekat merupakan korban persembahan bagi Tuhan (ay.6, bnd. Filipi 2:17). Ia telah menjalani pertandingan hidupnya dengan baik, sehingga ia pun meyakini bahwa Tuhan telah menyediakan sebuah mahkota kemuliaan bagi dirinya (ay.8), ibarat mahkota kemenangan yang diberikan kepada para pemenang dalam olimpiade Yunani. Rasul Paulus kecewa ketika orang yang dilayaninya berpaling darinya dan malu akan belenggu yang ditanggungnya. Namun Tuhan datang kepada Paulus dan membangkitkan semangatnya. Lukas 18:9-14 Yesus menguraikan perumpamaan tentang cara bertemu Tuhan dalam doa dengan cara yang benar sebagaimana yang dilakukan pemungut cukai dan tidak seperti orang Farisi. Orang Farisi menganggap dirinya benar sehingga menghadap Tuhan dalam doanya dengan penuh kesombongan. Dia menguraikan sejumlah perbuatan baiknya, mengandalkan diri sebagai yang benar dan berfokus pada diri sendiri (ayat 11-12). Berbeda dengan pemungut cukai yang merasa dirinya tidak layak (ay.13). Dia berdiri jauh-jauh, bahkan tidak berani menengadah ke langit atau tidak berani mengangkat mukanya, sebab ia menyadari akan dosa-dosanya. Dalam pertobatan sejati ia berhenti dari dosanya dan berbalik kepada Allah memohon pengampunan-Nya. Tuhan Yesus secara tegas menyatakan bahwa pemungut cukai pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah (ay.14). Dia beroleh kasih karunia Allah. Pemulihan yang dialaminya semata karena anugerah Allah yang diterima dalam kerendahan hati. Korelasi keempat bacaan: Allah itulah sumber air hidup. Menjauhkan diri dari Allah berarti bencana terhadap kehidupan. Sebaliknya dekat kepada Allah berarti kehidupan terpelihara. Karena itu, seperti pesan Rasul Paulus kepada Timotius, umat harus teguh berpegang pada Tuhan dalam hidupnya, sebab Tuhanlah yang memberikan mahkota kemuliaan. Jika sebelumnya mereka hidup jauh dari Tuhan, maka seperti pemungut cukai, yang dibutuhkan kerendahan hati memohon pengampunan Tuhan. Pokok-pokok pengembangan khotbah Alam dan isinya ikut mengalami dampak dosa manusia. Alam, tumbuhan dan hewan ikut merasakan dampak yang sangat serius dari dosa umat Yehuda. Kemurtadan dan kefasikan mereka yang lebih percaya dan mengikuti nabi palsu daripada setia dan taat kepada Tuhan dan perjanjian-Nya (baca ayat 14 dan 20) membuat Allah murka. Bencana alam melalui musim kering yang panjang pun melanda seluruh negeri Yehuda. Bangsa itu meninggalkan Allah sumber air hidup sejati dengan menggali kolam yang bocor (Yer.2:13). Akibatnya mereka kehilangan persediaan air alami; hujan tidak turun dan sumur-sumur kering. Pekerjaan di ladang terhenti karena tanah menjadi kering dan tandus. Bencana kelaparan pun melanda negeri. Bukan hanya manusia yang merasakan penderitaan itu, tetapi hewan lainpun ikut merana. Tanaman-tanaman tak dapat tumbuh. Binatang menjadi sekarat dan mati, petani kecewa karena gagal panen. Peristiwa tersebut menyadarkan akan dampak dosa yang sangat luar biasa membinasakan. Doa memohon kemurahan Tuhan di tengah bencana yang melanda negeri. Sekiranya bangsa Yehuda berbalik kepada Allah mengakui dosa-dosanya dan memohon pengampunan, tentulah Allah akan berbelas kasih atas mereka. Tapi mereka tidak melakukan hal itu, maka Yeremia berinisiatif bertindak mewakili bangsanya (ay.7-9). Sebagai nabi, Yeremia tidak tega menyaksikan bencana yang akan melanda bangsa Yehuda. Dia berdoa memohon kemurahan, belas kasih, pengampunan dan kebaikan Tuhan. Dalam syafaatnya, Yeremia mengakui kesalahan, kemurtadan, dan kefasikan bangsa Yehuda. Bahkan semua dosa bangsanya itu ditanggungkannya pada dirinya dengan maksud agar Allah mengampuni orang Yehuda. Tapi dalam ayat-ayat selanjutnya, Allah melarang Yeremia mendoakan bangsanya (ay.11-12). Pertobatan dan permohonan belas kasih pengampunan Allah harus datang langsung dari yang berdosa. Pertobatan tidak dapat diwakilkan, tapi harus timbul dari keinsyafan orang yang bersangkutan atas dosanya. Doa memegang peranan penting dalam kehidupan kerohanian umat. Itu sebabnya doa harus dilakukan dengan benar. Doa dipanjatkan dalam kesadaran dan kerendahan hati, bukan dalam kesombongan dan pemuasan hasrat hati (Luk.18:9-14). Kehidupan doa yang disiplin dan benar merupakan gambaran kerinduan dekat dengan Allah untuk menikmati hadirat-Nya (Maz.84:1-8) Harapan di tengah penderitaan akibat dosa Dalam doanya, Yeremia mengatakan “…janganlah tinggalkan kami” (ay.9). Namun benarkah Tuhan yang meninggalkan umat, ataukah justru umat yang meninggalkan Tuhan? Bagian lain ayat 9 katakan, “Tetapi Engkau ada di antara kami, ya Tuhan…”. Pesannya jelas, Yeremia menyakini bahwa Tuhan tetap hadir dan memperhatikan umat dalam keberdosaanya. Dosa itu yang menyebabkan seseorang merasa Tuhan meninggalkannya karena tidak mau mendengarkan panggilanTuhan dan menuruti kehendakNya. “Janganlah tinggalkan kami”, merupakan permohonan pertolongan Tuhan karena merasa tidak berdaya dan sekaligus menjadi kesadaran dan pengakuan akan kebesaran dan ke-mahakuasaan Tuhan. “Janganlah tinggalkan kami” mengandung pengharapan menatap masa depan kehidupan yang lebih baik di dalam Kristus. Kekuatan sauh pengharapan itulah yang dinyatakan rasul Paulus dalam perikop 2 Timotius 4:6-8; 16-18, bahwa sekalipun mengalami penderitaan dalam pelayanan pemberitaan Injil Kristus, orang-orang meninggalkannya dan saat kematiannya sudah dekat, sesungguhnya Tuhan tetap bersamanya, bahkan telah menyediakan mahkota baginya. Di tengah perayaan Pekan Pemuda Gereja Toraja dan Hari Sumpah Pemuda, teruslah berseru kepada kepada Tuhan, “Janganlah tinggalkan kami”. Peristiwa pekan pemuda dan hari sumpah pemuda kiranya merupakan saat pemuda-pemudi Indonesia menyatukan tekad menatap masa depan merebut kejayaan bangsa. Situasi memang tak jarang serba sulit, namun selalu ada harapan dalam menghadapi pergumulan masalah, kesulitan bahkan dalam penderitaan sekalipun. Di mana ada kesadaran, maka di situ ada harapan. Di mana ada pertobatan di situ ada keselamatan. Di mana ada pengampunan di situ ada kehidupan.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 24-29 Oktober 2022 - Pekan Pemuda Gereja Toraja JANGANLAH TINGGALKAN KAMI - 2 Timotius 4:6-8;16-18 Sebelum: Bahan Penelaahan Alkitab Tanggal 17-22 Oktober 2022 - TUMBUH DALAM TAURAT TUHAN / Lobo` lan Sukaran Alukna Puang Matua - 2 Timotius 3:14-4:5 All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022: Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |