lagu-gereja.com/toraja

View : 1602 kali
Bahan khotbah hari Minggu     Tanggal  6 November 2022

MELEBIHI KEMEGAHAN SEMULA
Mandu Kapua  anna ia tu kamala’biran dolona

Bacaan Mazmur     : Mazmur 145:1-13
Bacaan 1    : Hagai 2:1b-10 (Bahan Utama)
Bacaan 2    : 2 Tesalonika  2:1-17
Bacaan 3    : Lukas 20:27-40
Nas Persembahan    : 2 Korintus 8:12
Petunjuk Hidup Baru    : Hagai 2:5

Tujuan:
Jemaat Memahami bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya
Jemaat  bersyukur dan semangat dalam perjuangan menjalani kehidupannya.

Pemahaman Teks
Mazmur 145:1-13 berisi puji-pujian  karena kemurahan Tuhan. Sepanjang hidupnya Daud hendak memuliakan, memasyhurkan dan meninggikan Tuhan atas segala rahmat dan kebaikanNya. Angkatan demi angkatan akan menceritakan kebaikan Tuhan, sebab kerajaan dan pemerintahan Tuhan itu tetap untuk selamanya.
 Hagai 2:1b-10 berisi tentang kemegahan bait suci yang baru.  Tuhan akan menyertai umatNya  untuk  tidak takut dalam membangun kembali  bait Suci, sekalipun akan mendapatkan tantangan dari orang-orang yang tidak setuju untuk pembangunan itu.  Bangunan bait suci ini sudah menjadi lama menjadi reruntuhan.  Penyertaan Tuhan itu akan nyata ketika mereka sudah mulai bekerja. Karena itu nabi Hagai berkata kuatkan dan teguhkan hatimu (ay.5). Kalau ingin merasakan penyertaan Tuhan, maka kita harus bekerja untuk kemuliaan nama Tuhan. Kemegahan bangunan  rumah ini diyakini akan melebihi bangunan semula (ay.10)
Nabi Hagai adalah nabi Tuhan yang diutus kepada orang-orang Yahudi setelah mereka kembali ke Yehuda dari pembuangan di Babel. Sepeninggal Salomo, Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan Israel di utara dan kerajaan Yehuda di selatan. Israel kemudian dihancurkan oleh Asyur pada tahun 722 SM, sedangkan Yehuda dihancurkan oleh Babel pada tahun 587 SM. Pada waktu Babel menghancurkan ibukota Yehuda (Yerusalem), bait suci yang menjadi kebanggaan orang Yahudi juga ikut dihancurkan. Tidak hanya itu, Babel juga membawa orang-orang Yahudi untuk menjadi orang buangan di negaranya. Beberapa orang di antaranya ialah: Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.
Ketika Babel ditaklukkan oleh bangsa yang lebih kuat lagi, yaitu Persia pada tahun 538 SM, Tuhan pun menggerakkan hati raja Koresh, raja Persia waktu itu, untuk mengizinkan orang-orang Yehuda kembali ke Yerusalem. Mereka dipimpin oleh bupati Zerubabel dan imam besar Yosua. Pada waktu pulang kampung ke daerahnya  mereka melihat Yerusalem sudah hancur dan mereka harus bekerja keras untuk membangunnya kembali. Selain itu, mereka juga mulai meletakkan pondasi bait suci.
Dalam niat yang sangat besar dan menggebu-gebu itu, ada juga  sekelompok orang yang menentang pembangunan itu dan menakut-nakuti penduduk Yehuda. Mereka tidak ingin Yehuda menjadi bangsa yang kuat kembali. Bayangkan betapa beratnya tekanan fisik dan mental yang dihadapi oleh orang-orang Yehuda saat itu. Oleh sebab itu, selama 15 tahun tidak ada kemajuan dalam pembangunan bait suci (kitab Ezra pasal 1-4).
Setelah Raja Koresh digantikan oleh Raja Darius, Tuhan mengutus nabi Hagai untuk mengingatkan kembali bahwa membangun bait suci harus menjadi prioritas orang-orang Yehuda. Di dalam Hag. 1:14 dituliskan, “TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.” Pemimpin pemerintahan, pemimpin agama dan seluruh bangsa, semuanya digerakkan oleh Tuhan untuk membangun bait suci.
Dorongan dan semangat harus diberikan, sebab memang tugas membangun kembali Bait Suci bukanlah perkara mudah. Apalagi jika harus dibandingkan dengan Bait Suci sebelumnya yang dibangun oleh Raja Salomo. Pada waktu membangun bait suci yang pertama, Salomo mampu mempekerjakan orang-orang terbaik dan mendapatkan material yang bermutu sehingga bait sucinya dibangun dengan megah. Tetapi pada waktu membangun bait suci yang kedua ini, bangsa Yehuda hidup dalam kondisi yang serba terbatas. Mereka mengalami kekurangan hasil panen, makanan, serta uang.  Karena itu, perhiasan dan perabotan yang nantinya ada di dalam bait suci yang baru ini tidak mungkin bisa menyamai apa yang pernah ada di dalam bait suci Salomo. Bukan hanya itu, benda kudus yang dulu ada di dalam bait suci Salomo, seperti tabut perjanjian, tidak mungkin ada. Namun demikian, umat tidak boleh menyerah. Nabi Hagai bahkan menubuatkan sebuah hal penting, bahwa “Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula..” (ay.9).
2 Tesalonika 2:1-5, 13-17 (ay.1-17)  berisi himbauan Paulus kepada jemaat untuk tidak bingung dan gelisah melihat berbagai kedurhakaan, penyesatan, dan kemurtadan. Para pendurhaka itu akan melakukan berbagai perbuatan ajaib, tanda dan mujizat palsu, serta tipu daya terhadap mereka yang akan binasa, termasuk duduk di Bait Allah dan menyatakan diri sebagai Allah (ay.4). Paulus mengajak jemaat untuk ‘memandang’ kepada (karya) Yesus, yang telah mengasihi dan memanggil mereka dari semula, serta menguduskan mereka dan memberikan kemuliaan-Nya, bahkan yang menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan.
Lukas  20:27-40 memperlihatkan cara pandang orang Saduki, yang sama seperti orang pada umumnya (ayat 35 disebut oleh Yesus sebagai “orang-orang dunia ini”). Mereka cenderung hanya memandang realitas hidup sejauh kehidupan ini. Orang Saduki  menggunakan cara pandang dunia ini untuk memandang kehidupan di dunia yang akan datang. Sedang bagi bagi Yesus, mereka akan beroleh kebangkitan dengan menggunakan cara pandang Allah, bukan cara pandangnya sendiri. Hal itu harus dilakukan, karena Allah itu adalah Allah yang hidup, bukan Allah orang mati (ay.38).  
Korelasi, segenap bacaan sehubungan dengan tema, ialah ajakan untuk meyakini penggenapan kemegahan dan kemuliaan karya Tuhan melampaui apa yang terlihat di depan mata saat ini. Karena itu, seperti pesan nabi Hagai, umat tidak boleh berhenti berjuang mewujudkan karya dan kehendak Allah. Kekuatan umat saat ini mungkin sangat terbatas, namun karya kemuliaan Tuhan tak bisa dinilai dengan realitas hari ini saja. Karya kerajaan sorga tak bisa dinilai dari cara hidup duniawi, seperti yang dilakukan kaum Saduki. Rencana Allah pasti tergenapi, sebab kerajaan Allah ialah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.

Pokok-pokok pengembangan  khotbah
Tuhan memahami keadaan bangsa Yehuda yang patah semangat karena kuatir hasil pekerjaan mereka  tidak akan sesuai dengan kemegahan bait suci sebelumnya. Namun mereka diminta tidak mundur dalam pekerjaan Tuhan. Kepada mereka Tuhan menegaskan janjiNya, “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah pernah  takut” (Hagai 2:5-6).
Jangan mundur dalam pekerjaan. Seluruh bangsa Yehuda, dari pemimpin hingga rakyatnya, diperintahkan untuk menguatkan hati. Mereka diperintahkan untuk terus bekerja karena Tuhan akan menyertai mereka. Inilah yang menjadi dasar bagi bangsa Yehuda untuk tidak patah semangat dan terus maju. Jika Tuhan yang mahakuasa, sang Pemilik kehidupan, berjanji untuk menyertai mereka, apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Dukungan seperti apa lagi yang mereka perlukan?
Tuhan kembali menguatkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang mereka pada zaman Musa: “Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Maka mereka akan mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka” (Kel.29:45-46). Zerubabel, Yosua, dan seluruh orang Yehuda diingatkan kembali akan kesetiaan Tuhan pada waktu menyertai nenek moyang mereka keluar dari Mesir.
Tuhan menegaskan bahwa kekuatiran tua-tua Yehuda karena kekurangan material tidak beralasan. “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag. 2:7-9). Walaupun saat itu bangsa Yehuda tidak memiliki sumber daya yang melimpah seperti pada zaman Salomo, tetapi Tuhan tidak pernah kekurangan. Tuhan tidak perlu bergantung kepada siapa pun, karena Dialah pemilik alam semesta, yang sanggup menyediakan sumber daya apapun yang dibutuhkan dalam pelayanan. Suatu saat, demikian nubuat Hagai, kemuliaan bait suci Zerubabel ini akan melebihi kemuliaan bait suci Salomo.
Pada zaman Tuhan Yesus, nubuat itu akhirnya digenapi pada saat raja Herodes merenovasi bait suci secara besar-besaran untuk mengambil hati orang-orang Yahudi. Bait suci itu menjadi bangunan yang luar biasa megah. Buktinya, dalam kitab injil lukas 21:5 Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan. Puncak kemegahan bait suci bukanlah terletak pada bangunannya, namun pada kemuliaan Allah yang hadir di dalamnya. Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat.12:6). Apa yang dijanjikan Allah melalui nabi Hagai akhirnya digenapi dengan kehadiran Kristus di dalam bait suci, dan ini yang membuat kemuliaan bait suci Zerubabel melebihi kemuliaan bait suci Salomo. Dan kemuliaan tersebut baru akan kita lihat puncaknya di surga, “Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu. Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya” (Why. 21:22-23).
Banyak orang gagal melihat kemegahan bangunan bait suci, karena hanya menilai hasil pekerjaan dari apa yang mereka bisa lihat sepintas saja. Padahal, bait suci hanyalah tempat dan lambang kehadiran Allah di tengah-tengah orang Israel. Yang penting bukan fisik bait sucinya, tetapi kehadiran Allah sendiri, yang menjadikan bait suci penuh dengan kemuliaan. Karena itu, walaupun bait suci yang telah direnovasi Herodes ini kembali dihancurkan oleh kekaisaran Romawi pada tahun 70, dan sampai sekarang tidak dibangun kembali, kita sebagai orang percaya yakin bahwa penyertaan Tuhan masih terus kita rasakan karena Tuhan Yesus telah berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat.28:20b). Kita telah belajar bahwa kita tidak boleh patah semangat ketika menghadapi kesulitan karena Tuhan berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Tuhan berjanji akan membangun kembali melampaui kemegahan semula.

----------------------

Hagai 2:1b-10
2:1 (#2-#2) datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: 2:2 (#2-#3) "Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian: 2:3 (#2-#4) Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? 2:4 (#2-#5) Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 2:5 (#2-#6) sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! 2:6 (#2-#7) Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 2:7 (#2-#8) Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. 2:8 (#2-#9) Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. 2:9 (#2-#10) Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam."
Pembangunan Bait Suci terancam oleh ikut sertanya orang-orang najis
2:10 (#2-#11) Pada tanggal dua puluh empat bulan yang kesembilan, pada tahun yang kedua zaman Darius, datanglah firman TUHAN kepada nabi Hagai, bunyinya: 2:11 (#2-#12) "Beginilah firman TUHAN semesta alam itu: Tanyakanlah pengajaran kepada para imam.

Penjelasan:
* Hag 2:3 - Masih adakah di antara kamu ... ? // Seperti tidak ada artinya?
Masih adakah di antara kamu ... ? Kata-kata ini ditujukan kepada para pemimpin pemerintahan dan agama serta orang-orang tersisa yang kembali. Allah sedang membandingkan Bait Allah Salomo dengan Bait Allah yang waktu itu sedang dibangun. Melalui Hagai Allah bertanya kepada para pemimpin dan rakyat mengenai berapa banyak dari mereka yang mengingat keagungan bangunan yang pertama. Setelah selang waktu tujuh puluh tahun pembuangan, kemungkinan hanya tinggal sedikit orang yang pernah menyaksikan Bait Allah yang terdahulu. Seperti tidak ada artinya? Alasan munculnya pertanyaan TUHAN ini terdapat pada kisah dalam Ezra 3:8-13. Catatan itu menyatakan bahwa pada saat pendirian Bait Allah yang kedua, para imam mengiringi upacara dengan menyanyikan mazmur dan meniup nafiri. Generasi yang lebih muda, tanpa maksud membandingkan dalam hal ini, bersukaria atas prestasi tersebut. Namun orang yang lebih tua yang telah mengetahui kemegahan Bait Allah yang pertama, menangis secara terbuka karena perbedaan mencolok antara kedua tempat suci. Hagai mengarahkan pertanyaan tersebut kepada kelompok kedua. Dari sudut pandang Allah, hanya ada satu rumah TUHAN di Yerusalem, baik yang dibangun oleh Salomo, Zerubabel, atau yang kemudian dibangun oleh Herodes. Oleh karena itu, Allah menyebut 'bangunan Salomo sebagai "Rumah ini dalam kemegahannya semula." Pikiran-pikiran Allah bukanlah pikiran-pikiran manusia, dan penilaian-Nya dibuat berdasarkan hal-hal yang mutlak.

* Hag 2:4 - Kuatkanlah
Kuatkanlah. Dalam tiga kali ucapan sama yang ditujukan kepada raja, imam besar, dan seluruh rakyat itu TUHAN menyuruh semuanya untuk kuat. Allah, yang mula-mula telah menarik perbedaan yang jelas antara bangunan-bangunan itu, sekarang memberikan kepada bangsa itu dasar-dasar rohani bagi pelaksanaan tugas mereka. Tujuan-Nya dalam menyatakan perbedaan tersebut bukan untuk mengecilkan hati mereka, melainkan lebih untuk membawa mereka kepada kesadaran tentang pentingnya pekerjaan itu, tentang ketidakmampuan mereka untuk menyelesaikannya dengan kekuatan mereka sendiri, dan tentang perlunya bersandar pada Dia yang serba mencukupi. TUHAN adalah kekuatan mereka. Sekali lagi, perkataan yang meringankan diberikan bahwa kehadiran TUHAN akan merupakan bagian tetap mereka.

* Hag 2:5 - Janji yang telah Kuikat dengan kamu // Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu
Janji yang telah Kuikat dengan kamu. Bila ada negara di dunia ini yang bisa memiliki kepastian mengenai sifat Tuhan yang dapat dipercaya berkenaan dengan janji-janji-Nya, itulah Israel. Dia telah mengikat janji (harf., memotong perjanjian, berbicara tentang korban-korban - yang dipotong dua untuk mengesahkan sebuah perjanjian; bdg. Kej. 15:10) untuk masuk dalam sebuah hubungan yang permanen dengan bani Israel ketika mereka meninggalkan Mesir. Pandangan tertuju kepada perjanjian di atas Gunung Sinai (bdg. Kel. 19:5; khususnya 33:12-14). Karena Allah sudah setia pada janji-Nya itu sepanjang abad-abad yang lampau dalam sejarah Israel, Dia pasti dapat diandalkan untuk tetap menjunjung tinggi janji-Nya kepada orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi Hagai. Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Untuk menjamin kebenaran janji itu maka Roh Tuhan tinggal di tengah-tengah mereka. Tuhan tidak meninggalkan mereka, walaupun Dia sangat tidak senang pada sikap acuh tak acuh mereka terhadap kasih-Nya dan perintah-perintah-Nya. Mereka sama sekali tidak perlu takut.

* Hag 2:6 - Sedikit waktu lagi // Aku akan menggoncangkan langit
Sedikit waktu lagi. Ungkapan yang tidak jelas ini barangkali berarti bahwa hanya dalam waktu singkat peristiwa-peristiwa yang dinyatakan tersebut akan terjadi. Aku akan menggoncangkan langit. Ayat ini dan tiga ayat setelahnya dengan jelas menyatakan pemikiran mengenai Mesias (lih. juga Yes. 61:1-3; Dan. 9:24-27; Za. 9:9, 10). Di sini pesan nabi memadukan rincian tentang kedatangan pertama dan kedatangan kedua Kristus, sebagaimana yang sering diberikan dalam nubuatan-nubuatan PL yang lain. Prediksi mengenai bergoncangnya langit, bumi, laut, dan daratan tentu bukan sekadar peragaan luar biasa tentang kemahakuasaan Allah atas alam semesta; keseluruhan suasana dari nubuatan ini membawa pembaca kepada zaman wahyu. Di sini Allah sekali lagi terlihat campur tangan secara bijaksana dan secara nyata dalam urusan manusia. Hubungan pemikiran apakah yang mungkin ada antara pernyataan dalam ayat ini dengan yang dalam ayat 5? Nabi mendorong bangsa Yahudi untuk melaksanakan pekerjaan membangun Bait Allah dengan segenap ketekunan, sebab, katanya meyakinkan mereka, Allah mereka, Tuhan atas segala bangsa, tidak lama lagi akan menyatakan kuasa-Nya yang dahsyat demi Israel. Dia akan menggoncangkan alam semesta dan merobohkan kerajaan-kerajaan di dunia yang bersifat terbatas, dengan maksud untuk mendirikan kerajaan terakhir dan final di muka bumi, yaitu kerajaan Putra terkasih Allah.

* Hag 2:7 - Aku akan menggoncangkan segala bangsa // Kepunyaan segala bangsa datang mengalir // Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan
Aku akan menggoncangkan segala bangsa. Prediksi ini menunjuk pada pemberontakan dan pergolakan di kerajaan Persia dan Yunani. Tidak seorang pun dapat secara masuk akal menyangkal bahwa pemerintahan-pemerintahan ini digoncangkan pada masa lampau. Akan tetapi, membaca secara teliti nubuat-nubuat dalam Alkitab akan meyakinkan siswa yang tak berprasangka bahwa peristiwa-peristiwa itu. hanya merupakan langkah persiapan dalam proses di mana Allah akan mengeluarkan kerajaan-kerajaan tersebut dari dunia, untuk menggantikan mereka dengan pemerintahan yang adil oleh Mesias Israel dan Penebus dunia (lih. Ibr. 12:26,27; Why. 11:15). Kepunyaan segala bangsa datang mengalir. Para penerjemah belum sependapat dalam menerjemahkan empat kata Ibrani dari bagian ayat ini. LXX menerjemahkannya, barang-barang pilihan dari segala bangsa akan datang. ASV lebih suka menerjemahkannya dengan barang-barang berharga dari segala bangsa, dengan bacaan di pinggir barang-barang yang diinginkan (Ibr. keinginan) segala bangsa akan datang. Yang lainnya berpendapat: Bangsa-bangsa lain akan datang dengan barang-barang sangat indah milik mereka, atau harta berharga milik bangsa kafir. Arti apa yang hendak diberikan pada bagian ini bila terjemahan-terjemahan ini diikuti? Kurang megahnya dekorasi luar Bait Allah Zerubabel akan lebih dari sekadar tertutupi oleh pemberian-pemberian berharga yang akan diserahkan oleh segala bangsa untuk menjadikan Bait Allah sesuatu yang indah dan mulia. Tentu saja, penghargaan-penghargaan seperti itu bagi Tuhan akan diberikan karena penghormatan yang benar kepada-Nya. Untuk mendukung penafsiran ini disebutkan bahwa itu merupakan penafsiran terbaik untuk pemakaian subyek tunggal feminin dan kata kerja jamak.

Meskipun demikian, harus diingat bahwa sejak masa-masa awal, sebagian besar penafsir Kristen mengikuti tradisi Yahudi waktu mengacu pada ayat mengenai kedatangan Mesias Israel. Tampaknya jelas bagi para penafsir ini bahwa kerinduan yang dimiliki oleh segala bangsa pada umumnya pasti adalah kerinduan mereka akan Sang Pelepas, entah mereka menyadari atau tidak tentang sifat keinginan mereka atau identitas penggenapannya yang sebenarnya dalam Tuhan Yesus Kristus. Lagi pula, dalam bahasa Ibrani, kata benda abstrak yang sering dipakai, bukan kata yang memiliki arti konkret; jadi penyebutan Mesias tidak secara otomatis dikesampingkan berdasarkan pertimbangan bahasa. Pemakaian kata kerja jamak tidak berlawanan dengan penafsiran mengenai Mesias, sebab terdapat contoh-contoh di mana kata kerjanya selaras dengan kata benda yang kedua dari dua kata benda.

Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan. Adalah menarik bahwa semua tempat di dunia yang merupakan tempat kediaman Allah yang bersifat tak terbatas itu dipenuhi dengan kemuliaan (lih. Kel. 40:35 untuk Kemah Pertemuan Musa; I Raj. 8:10, 11; II Taw. 5:13, 14 untuk Bait Suci Salomo). Bait Allah Zerubabel masih akan dipenuhi kemuliaan dengan kehadiran Allah Anak yang menjelma (Yoh. 1:14), belum lagi kemuliaan dari Adven Kedua (Mal. 3:1). TUHAN memberitahukan sebelumnya bahwa bangsa-bangsa akan digoncangkan (bukan ditebus). Penggoncangan tersebut berawal pada persiapan kedatangan pertama dan akan disempurnakan pada penampakan kedua (Dan. 2:35,44; Mat. 21:44). Karena itu, Allah akan memenuhi rumah-Nya, Bait Allah yang akan datang, dengan kemuliaan yang tidak pernah ada sebelumnya.

* Hag 2:8 - Kepunyaan-Kulah perak
Kepunyaan-Kulah perak. Agar orang-orang yang tersisa tidak terus bertambah cemas tentang kekurangan logam berharga dalam perbaikan Bait Allah, TUHAN menunjukkan persediaan-Nya yang tidak ada habis-habisnya. Telah diperkirakan bahwa dalam Bait Allah Salomo, emas seharga sekitar dua puluh juta dolar dipakai untuk melapisi ruang yang paling dalam dari tempat suci. Tetapi apakah yang dapat menandingi persediaan Oknum yang memiliki segalanya? (Mzm. 50:12). Ya, lebih dari itu, Allah akan membuatnya indah pada waktu kedatangan Anak-Nya. Orang-orang buangan yang miskin hanya memiliki sedikit yang mereka pakai untuk menghiasi Bait Suci, namun Allah meyakinkan mereka bahwa Dia akan menyediakan kekurangannya.

* Hag 2:9 - Kemegahannya yang kemudian // Di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera
Kemegahannya yang kemudian. Pengertiannya adalah bahwa kemegahan yang kemudian dari bait itu akan melampaui semua kemegahan sebelumnya. Sangatlah penting untuk mengetahui bahwa dalam Kitab Suci, Bait Allah di Yerusalem dipahami sebagai sebuah kesatuan yang hadir dengan bentuk-bentuk yang berbeda dalam periode-periode sejarah yang berbeda. Kehadiran Kristus akan memberikan kemuliaan pada Bait Allah yang kedua yang tidak pernah dialami oleh Bait Allah yang pertama. Pandangan yang diberikan selama ini adalah bahwa kemuliaan yang belakangan memiliki kaitan dengan kemuliaan masa Milenial Bait Allah itu yang terdapat dalam Yehezkiel, pasal 40 sampai 48. Karena terdapat kesinambungan dari berbagai Bait Allah dari zaman yang berbeda, pendapat ini tidak dapat diabaikan. Walaupun Bait Allah Zerubabel telah dilenyapkan sampai pada dasarnya oleh Herodes ketika dia merenovasinya, Bait Allah Zerubabel tetap dianggap sebagai Bait Allah kedua. Demikianlah Bait Allah itu disebut oleh seluruh penguasa Yahudi. Di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera. Kristus menyempurnakan dasar bagi damai sejahtera rohani (Kol. 1:20). Dia memberi damai sejahtera di hati dan pikiran kepada orang-orang percaya saat ini (Rm. 5:1; Flp. 4:7). Namun pada akhirnya, Dia akan membawa damai sejahtera kepada dunia sebagai Raja Damai (Yes. 9:6, 7). Jadi, lebih dari cukup jawaban Allah ini bagi penampilan yang kurang mengesankan dalam ayat 3. Tuhan selalu menyediakan yang terbaik pada akhirnya. Hanya mata iman yang mampu melihatnya.

* Hag 2:10 - Pada tanggal dua puluh empat bulan yang kesembilan
Pada tanggal dua puluh empat bulan yang kesembilan. Pesan keempat dari nubuatan Hagai diberikan dua bulan setelah pesan yang sebelumnya. Pada bulan yang kesembilan barulah hujan awal dapat diharapkan untuk mengairi tanaman yang baru. Setelah mengalami kekurangan dan kekecewaan pada periode sebelum ini, bangsa itu tentu secara khusus akan memperhatikan produksi dalam tahun yang berikut. Selama periode ketidaktaatan mereka sebelumnya, mereka telah dihukum atas hal-hal yang bersifat sementara. Akankah ada perubahan sekarang setelah mereka mematuhi perintah Allah melalui Hagai? Pertanyaan inilah yang sekarang dijawab oleh sang nabi.













Selanjutnya:
Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 7-12 November 2022 - MELEBIHI KEMEGAHAN SEMULA / Mandu Kapua anna ia tu kamala`biran dolona - Lukas 20:27-40


Sebelum:
Bahan Penelaahan Alkitab 31 Oktober - 5 November 2022 - BASUHLAH, BERSIHKANLAH DIRIMU / Basei sia Seroi tu Kalemu - Lukas 19:1-10


All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022..

Register   Login