| lagu-gereja.com/toraja |
|
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022 Minggu, 22 Mei 2022 Renungan Gereja Toraja Minggu, 22 Mei 2022 - Puang Kapenomban Napobanua Kabusungan (TUHANLAH BAIT SUCINYA) - Kisah Para Rasul 16:4-15 - Wahyu 21:22-22:5Bacaan Mazmur : Mazmur 67:1-8 Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 16:4-15 Bacaan 2 : Wahyu 21:22-22:5 (Bahan Utama) Bacaan 3 : Yohanes 5:1-9 Nas Persembahan : 2 Korintus 8:12 Petunjuk Hidup Baru : Yohanes 14:23 Kisah Para Rasul 16:4-15 (Bacaan 1): 4Iatonna male sola duai unnolai lendu' tu tondok iato naparampoanni mintu' to sangsiuluran tu nasituru'ina rasulu' sola penatua dio Yerusalem, kumua anna turu'i. 5Tenmo to tu mintu' kombongan dipabatta' kapatongananna, nasangalloi kendekoi bilanganna. 6Naola lendu'mi tu tana Frigia sia Galatia, belanna tang Natangga' Penaa Masallo' umpokadai tu kada dio Asia. 7Iatonna sae lako sipatunna Misia, la morairaimi tama Bitinia, apa tae' Naeloranni PenaanNa Yesu. 8Tonna lendu'i Misia, ma'palurokkomi Troas. 9Iatonna bongi denmi bayo-bayo nakita Paulus; nakua den to Makedonia ke'de' untambai nakua: Lambankomi mai Makedonia untunduikan. 10Iatona kitai tu bayo-bayo iato, tikaran-karamokan la male lako Makedonia, belanna kipamatu'tunmo lan penaangki kumua Puang Matua untambaikan lako la umpa'peissanan Kareba-kaparannuan lako tu tau. Kapassombaran lako Makedonia. Pengkaranganna Paulus dio Filipi 11Iatongki ke'de' massombaran dio mai Troas, ma'palulakomokan Samotrake; namasiang to lako Neapolis; 12naindeto dio mai kimale lako Filipi, tondok la'bi' dio te parenta Makedonia, nanii to Roma ma'tondok. Iamote tondok iate kinii torro ba'tu pirang-pirang allo. 13Iatonna allo katorroammo sunmokan lan mai babangan tondok kimale urrundunan randan salu, kisanga inang la den inan dinii masambayang inde to dio; angki unno'ko' ma'ulelean lako tu baine sirampunmo. 14Denmi misa' baine disanga Lidia, to dio mai Tiatira, pa'baluk sampin lango-lango sia to umpengkaolai Puang Matua, umperangiikan; Napatibungka'mi Puang Matua penaanna, anna palan penaai tu apa napokada Paulus. 15Tonna mangkamo didio' sola to lan banuanna, natamba-tambaimokan, nakua: Iake misanga siai kumua aku te to mengkaola lako Puang, maikomi ammi torro dio banuangku. Naparuku-rukumokan. Timotius turut serta dengan Paulus 16:1 Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. 16:2 Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, 16:3 dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani. Paulus menyeberang ke Makedonia 16:4 Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. 16:5 Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya. 16:6 Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. 16:7 Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. 16:8 Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. 16:9 Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" 16:10 Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. 16:11 Lalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; 16:12 dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari. Paulus di Filipi 16:13 Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ. 16:14 Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. 16:15 Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: "Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku." Wahyu 21:22-22:5 (Bacaan 2) 22Tae' kutiro tu banua kabusunganNa Puang Matua lan, belanna Puang Kapenomban, Umpoissan angge maritik sia Anak domba tu napobanua kabusungan. 23Tae' namanggi' tu allo sola bulan unnarrangi tu tondok iato, belanna kamala'biranNa Puang Matua umpamasiangi sia Anak domba napopalita. 24Na mintu' bangsa la lolang lan arrangna, sia mintu' datu lan lino la umbaa kamala'biranna tama tondok iato. 25Iatu babanganna tae' nala ditutu' len keallo, belanna tae' nala urrandan lenni bongi. 26Iatu kamala'biranna sia napomarayanna mintu' bangsa la nabaa tau tama. 27Apa inang tae' anna la tama len tu apa maruttak, ba'tu to umpogau' pagi'giranna sia to ma'kada mo'rang, sangadinna ia manna tu to tisura' tu sanganna lan sura' katuoanNa Anak domba. Salu katuoan sia kayu katuoan 1Napakitammo' misa' salu nanii uai katuoan, malino susi kinang lolong dio mai to' isungan kapayunganNa Puang Matua sia Anak domba. 2Lan tangnga lalan lan tondok iato sia patomalinna randanan salu iato den kayu katuoan, membua pessangpulo dua; bulanoi membuaoi, namintu' daunna napomondo mintu' bangsa. 3Tae' ia tampak ropu dio; na iatu isungan kapayunganNa Puang Matua sia Anak domba la tongkon lan, sia mintu' taunNa la mengkaola lako Kalena, 4sia la untiro lindoNa, sia iatu sanganNa den dio kidena tau iato mai. 5Tae'mo nala bongi len, sia tau iato mai tae' nala umpiang arrang palita sia arrang matallo, belanna Puang Kapenomban la unnarrangi, sia la ma'parenta tu tau iato mai tontong sae lakona. 21:22 Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu. 21:23 Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya. 21:24 Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; 21:25 dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana; 21:26 dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya. 21:27 Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. 22:1 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. 22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. 22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, 22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. 22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. Tujuan: Jemaat memahami bahwa Tuhanlah yang terutama, melebih segala yang lain. Jemaat hidup menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Pemahaman Teks Mazmur 67:1-8 merupakan pujian yang menjelaskan betapa Tuhanlah sumber berkat bagi semua bangsa. Tanah bangsa-bangsa di bumi diberkati dan memberikan hasilnya. Itu sebabnya semua bangsa bersyukur kepada Tuhan. Kisah Para Rasul 16:9-15 berisi kisah pelayanan Rasul Paulus di daerah Makedonia, termasuk di Filipi salah satu kota di Makedonia. Meskipun belum ada orang Kristen di sana, selain rumah ibadat orang Yahudi, namun hal tersebut tidak menghalangi pemberitaan Injil di sana. Tuhan hadir bekerja meskipun di sana belum ada jemaat Tuhan di sana. Lidia pun menjadi percaya dan dibaptis. Wahyu 21:22-22:5 mengisahkan penglihatan Rasul Yohanes tentang kota Yerusalem yang baru. Namun, bangunan Bait Suci yang selama ini jadi pusat kegiatan umat Yahudi dari berbagai penjuru, ternyata tak lagi terlihat di sana. Tuhan yang Maha Kuasa dan Anak Domba itulah yang merupakan Bait Sucinya. Tak ada bulan dan matahari di sana, sebab kemuliaan dan terangnya adalah Anak Domba itu sendiri. Sungai air kehidupan mengalir dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Yohanes 5:1-9 mengisahkan penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di kolam Betesda, yakni atas diri seseorang yang telah menderita sakit selama 38 tahun. Sebagaimana yang diyakini oleh sejumlah orang saat itu, di kolam Betesda berkumpul begitu banyak orang sakit yang menantikan kesembuhan melalui kolam Betesda. Namun demikian, Tuhan kemudian menyembuhkan orang sakit tersebut hanya dengan sebuah ucapan, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah!”. Orang tersebut mengalami kesembuhan tanpa harus turun ke kolam Betesda. Dengan demikian Tuhan mematahkan sebuah tradisi kepercayaan yang telah diyakini sekian lama oleh banyak orang pada saat itu. Tuhanlah sumber kesembuhan dan bukan kolam Betesda. Korelasi yang terlihat dari segenap bacaan di atas, ialah terkait dengan keberadaan Tuhan sebagai satu-satunya Sumber Kehidupan bagi semua bangsa. Rumah ibadah dan beragam ornament / ritual keagamaan merupakan hal penting, namun semua itu tidak menggantikan keberadaan Tuhan sendiri sebagai satu-satunya sumber berkat. Itu sebabnya karya dan berkat Tuhan hadir bagi semua orang melampaui ragam ornamen dan ritual keagamaan. Pokok-pokok pengembangan khotbah Wahyu 21:22 : “Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya…”. Hal yang menarik diperhatikan, ialah penglihatan Rasul Yohanes yang mengatakan bahwa tak ada bangunan Bait Suci yang terlihat di kota Yerusalem baru yang turun dari sorga. Menceritakan tentang hal yang tak terlihat dalam sebuah penglihatan, jelas memberi sebuah pesan, betapa ketiadaan Bait Suci ini merupakan sebuah hal yang penting dan tentu sarat makna. Bait Suci yang merupakan kelanjutan dari Kemah Suci, serta merupakan tempat kudus yang menjadi tempat kediaman Tuhan: “Dan mereka harus membuat tempat kediaman bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya” (Kel.25:8-9). Itu sebabnya, saat Bait Suci yang dibangun oleh Raja Salomo itu ditahbiskan, “… kemuliaan TUHAN memenuhi rumah itu. Para imam tidak dapat memasuki rumah TUHAN itu, karena kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN” (2 Taw.7:1-2). Hal ini serupa dengan peristiwa yang terjadi di Kemah Suci pada zaman Musa: “Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci, sehingga Musa tidak dapat memasuki memasuki Kemah Pertemuan, sebab awan itu hinggap di atas kemah itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci” (Kel.40:34-35). Bait Suci jelas merupakan bangunan yang teramat penting di kota Yerusalem. Yerusalem menjadi penting, sebab Bait Suci ada di sana. Saat ibukota Israel dipindahkan dari Hebron ke Yerusalem, tabut TUHAN juga turut dibawa ke Yerusalem. Untuk itulah Raja Daud kemudian membeli tanah milik Ornan orang Yebus itu dengan emas seberat enam ratus syikal, sebagai tempat nantinya Bait Suci akan dibangun (1 Taw.21:25). Saat umat Israel kembali dari pembuangan di Babel, maka di bawah pimpinan Zerubabel, Bait Suci pun menjadi bangunan penting yang harus dibangun kembali di kota Yerusalem. Dan ketika bangsa Israel merasa belum saatnya membangun Bait Suci itu kembali, Tuhan melalui nabi Hagai datang menegur mereka: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Oleh sebab itu, sebuah hal yang tentu menarik dipertanyakan, ialah mengapa bangunan Bait Suci yang amat penting tersebut kini tak lagi ada di kota Yerusalem baru? Alasan amat jelas yang dikemukakan, ialah “…sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu” (Why.21:22). Pernyataan ini memang tak mudah dipahami, khususnya jika selama ini umat sudah seringkali melihat representasi kehadiran Tuhan sebatas pada simbol-simbol, tempat atau bangunan-bangunan tertentu. Namun jika memperhatikan sejumlah ucapan Yesus Kristus, Anak Domba itu, sesungguhnya hal tersebut sudah pernah dikemukakan sebelumnya. Kepada orang-orang Yahudi Yesus pernah mengatakan, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” ; yang dimaksudkan dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri (Yoh.2:19-21). Tuhanlah Bait Suci-nya! Pernyataan ini tentu mengandung sejumlah makna penting. Yang pertama, bait suci, serta beragam ornamen dan simbol kegamaan tentu saja penting. Namun demikian, semua hal tersebut tidak boleh menggantikan kehadiran dan keberadaan Tuhan itu sendiri. Tuhan hadir dan berkarya melampaui semua batas-batas yang seringkali ada di pikiran manusia. Kepada perempuan Samaria, Yesus pernah mengatakan, “percayalah kepada-Ku hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” (Yoh. 4:21). Pesannya jelas, yakni kehadiran dan karya Tuhan jelas melampaui semua bangunan ciptaan manusia, bahkan wilayah teritorial tempat tinggal manusia. Itu sebabnya, saat niat membangun Bait Suci itu muncul pertama kali dari Raja Daud, Tuhan mengingatkan sebuah hal penting kepadanya: “Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Ku diami?”. Lebih jauh Tuhan bahkan menegaskan, betapa Ia tidak pernah meminta umat-Nya mendirikan rumah bagiNya dengan mengatakan, “Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras?” (2 Sam.7:5-7). Kalaupun pembangunan rumah Tuhan itu kemudian diperkenankan oleh Tuhan, maka Daud harus selalu mengingat bahwa Tuhanlah yang sesungguhnya bisa membuat Daud bisa berada dalam kedudukan, kemuliaan dan kekayaan sebagai Raja seperti sekarang ini (2 Sam.7:8-16). Tuhan hadir dan berkarya melampaui batas-batas bangunan keagamaan. Itu pula sebabnya, melalui Nabi Yesaya, Tuhan berkata kepada umatNya: “Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?” (Yes.66:1). Begitu jelas, betapa tak ada bangunan sebesar apa pun yang bisa menjadi tempat tinggal Tuhan, sebab sesungguhnya segenap alam semesta itu adalah kediamannya. Tuhan hadir melampaui batas bangunan dan wilayah. Itu pula sebabnya, sebagaimana yang terjadi dalam perjalanan pelayanan Paulus di Filipi, karya Tuhan juga terjadi di sana meskipun saat itu belum ada jemaat Tuhan di sana. Tuhan berkuasa atas segenap alam semesta beserta segala isinya. Tuhanlah Bait Sucinya! Karena itu, meskipun menjadi lambang kehadiran Tuhan, Bait Suci bahkan tidak secara otomatis menjamin kehadiran Allah. Melalui Nabi Yeremia, Tuhan mengatakan hal tersebut dengan begitu jelas: “Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini” (Yer.7:3). Bait Suci tentu saja penting. Namun kesetiaan dan fokus kepada Tuhan, sesungguhnya merupakan hal yang terutama! Itu sebabnya kehidupan setiap hari yang sungguh terarah dan bergantung pada Tuhan, sesungguhnya merupakan hal yang terutama dalam kehidupan umat Tuhan. Tuhanlah Bait Sucinya! Keberadaan Tuhan sebagai sumber segalanya juga terlihat dalam penjelasan lebih lanjut. Kota Yerusalem baru tidak memerlukan matahari dan bulan lagi, sebab kemuliaan Allah-lah yang meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya (Why.21:23). Matahari dan bulan sesungguhnya hanyalah ciptaan. Karena itu sumber terang yang sesungguhnya bukanlah matahari dan bulan, melainkan Tuhan itu sendiri.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Renungan Gereja Toraja - Tanggal 23-28 Mei 2022 - Puang Kapenomban napobanua kabusungan (TUHANLAH BAIT SUCINYA) - Yohanes 5:1-18 Sebelum: Renungan Alkitab Gereja Toraja - Tanggal 16-21 Mei 2022 - Pengkatobaran dipa`kamasean lako mintu` tau (ANUGERAH PERTOBATAN BAGI SEMUA) - Yohanes 13:31-35 All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022: Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91 Alkitab Bahasa Toraja PL(20) BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12) Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16) Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90) Lagu Natal TORAJA(1) Lagu Rohani Toraja(24) Lagu Sekolah Minggu(68) NKGT(1) PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2) Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2) Renungan Gereja Toraja 2022(22) Renungan Gereja Toraja 2023(133) Renungan Gereja Toraja 2024(3) Tata Gereja Toraja 2017(75) Tentang Gereja Toraja(9) xx(1) xxx(107) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
gkii,
gkj,
hkbp,
misa,
gmim,
toraja,
gmit,
gkp,
gkps,
gbkp,
Hillsong,
PlanetShakers,
JPCC Worship,
Symphony Worship,
Bethany Nginden,
Lagu Persekutuan,
|
| popular pages | Register | Login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |