lagu-gereja.com/toraja

View : 884 kali
Bahan khotbah hari Minggu     Tanggal  10 April 2022
Prapaskah VI (Bulan Diakonia - Aksi Pangiu’)

TEGUH SEPERTI GUNUNG BATU  
Matoto' Susi Batu Laulung

Bacaan Mazmur     : Mazmur 31:10-19
Bacaan 1    : Yesaya 50:4-11 (Bahan Utama)
Bacaan 2    : Filipi 2: 1-11
Bacaan 3    : Lukas 22:14-23
Nas Persembahan    : Mazmur 52:11
Petunjuk Hidup Baru    : Yesaya 50:7

Tujuan:
Jemaat memahami kekuatan seorang hamba dalam menjalankan tugas
Jemaat teguh dalam menjalani hidupnya saat menghadapi tantangan

Pemahaman Teks
Mazmur 31:10-19 menjelaskan, Daud adalah salah seorang yang disebut Tuhan sebagai orang benar, namun sering mengalami penderitaan. Daud hendak dicelakai Saul bahkan dikhianati anak kandungnya sendiri (Absalom). Namun ia tetap mengharapkan belas kasihan Tuhan
Yesaya 50:4-11 menjelaskan bahwa Allah mempersiapkan Sang hamba untuk melakukan suatu tugas. Karena itu sang hamba diajak untuk mendengar seperti seorang murid (ay.4), agar dapat berkata benar dan menghibur serta dapat memberi semangat bagi mereka yang membutuhkan. Nabi Yesaya diberi lidah seorang murid supaya ia dapat memberikan kepada setiap orang bagaimana menggunakan lidahnya dengan berterus terang memberitakan dan mengatakan kebenaran. Identik dengan kebenaran Injil; “Siapa yang percaya akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”.
Filipi 2:1-11 berisi nasehat Rasul Paulus pada jemaat Filipi tentang kewajiban orang Kristen untuk tetap bersatu hati, seia sekata, satu pikiran, bersatu dan rendah hati menirukan teladan Tuhan Yesus, yang merupakan teladan agung dalam hal kerendahan hati dan kasih.
Lukas 22:14-23 menceriterakan tentang Yesus yang sedang memberi petunjuk kepada Petrus dan Yohanes  untuk pergi mempersiapkan perjamuan paskah (sebagai perjamuan perpisahan sebelum Ia menderita).  Sebagai orang Yahudi, Yesus pun turut menjalani tradisi Paskah yang akan dirayakan  dengan dua belas murid-Nya, sebelum Ia menjalani tugas penebusan.
Korelasi keempat bacaan adalah bahwa Yesus datang ke dunia menampakkan dua wujud yaitu kodrat ilahi dan dan kodrat manusia. Hal tersebut didasari kasih karunia-Nya untuk menyelamtakan kita manusia berdosa. Untuk itu, pada kita dibutuhkan lidah dan telinga seorang murid untuk mendengar dan memahami makna Perjamuan Kudus yang memandu kita bersaksi tentang penderitaan, kematian dan pengorbanan Kristus.
 Pokok-pokok pengembangan khotbah
Lidah dan Telinga seorang hamba.
Seorang nabi seperti Yesaya (Yesaya 50:4-11) harus memenuhi syarat bagi pekerjaan yang untuknya ia dipanggil sebagai utusan Tuhan. Untuk menjadi abdi Allah, ia diberi:
Lidah seorang murid (lidah seorang yang terpelajar), agar ia tahu memberikan pengajaran, supaya dengan perkataan ia dapat memberikan semangat baru kepada orang yang letih lesu. Allah memberi Musa lidah seorang yang terpelajar untuk membicarakan kepada Firaun agar ia diyakinkan. Ia memberi Kristus lidah seorang yang terpelajar, supaya dengan perkataan yang tepat Ia dapat menghibur orang yang letih lesu dan berbeban berat karena beban dosa. Pelajaran terbaik bagi seorang hamba Tuhan ialah tahu bagaimana menghibur hati nurani yang gunda, dan berkata-kata dengan cara bagaimana menghubungkan persoalan, tepat, dan jelas pada orang-orang yang mengalami persoalan. Kemampuan untuk melakukan hal tersebut adalah karunia Allah.

Telinga seorang murid, untuk menerima pengajaran. Para nabi memerlukan telinga seorang murid sama seperti mereka memerlukan lidah seorang murid. Sebab mereka harus menyampaikan apa yang diajarkan dan disampaikan kepada mereka langsung dari mulut Allah dengan tekun dan penuh perhatian. Tetapi mendengar saja tidak cukup, kita juga harus mendengar seperti seorang murid, mendengar dan memahami, mendengar dan mengingat, mendengar seperti seorang yang ingin belajar melalui apa yang di dengar. Siapa yang mendengar seperti seorang murid harus bangun, dan terjaga. Sebab pada dasarnya kita malas dan mengantuk, dan tidak sungguh-sungguh, atau kita hanya mendengar setengah-setengah, bahkan mendengar tapi tidak mengindahkan. Telinga kita perlu dibangunkan. Sesuatu perlu dikatakan untuk menggugah kita dan membangunkan kita dari tidur rohani kita, supaya kita sungguh mendengar seperti seorang murid.

Seorang yang menderita dengan sabar. Pekerjaan seorang nabi adalah pekerjaan yang sukar untuk dikerjakan dan juga sering menerima perlakukan yang keras untuk dijalani. Dan di sini ia memberitahu kita betapa dengan keteguhan yang tak kenal gentar (teguh seperti gunung batu) ia melalui pekerjaannya dengan baik. Tidak diragukan lagi bahwa nabi Yesaya terus melanjutkan pekerjaannya dengan gigih, pekerjaan yang untuknya Allah telah memanggilnya.

Besarnya kesulitan dan kekecewaan yang akan Ia alami. Seorang hamba sudah melihat besarnya kesulitan dan kekecewaan yang akan Ia alami. Ia harus bersusah payah dan selalu siap sedia seperti seorang hamba, termasuk harus mengosongkan diri-Nya (menunjuk Filipi 2:1-11 tentang Yesus merendahkan diri-Nya) dari apa yang sangat agung yang dimiliki-Nya, dan merendahkan diri-Nya menjadi hina dina. Namun demikian, Ia tidak melarikan diri, tidak berhenti dan tidak juga berkecil hati. Ia terus melanjutkan pekerjaan-Nya dengan sangat teguh dan gigih sekalipun Ia sampai pada bagian yang tersulit darinya.

Kesabaran-Nya yang penuh ketaatan dalam pekerjaan-Nya yang penuh penderitaan. Ia sabar dengan mata yang tertuju kepada kehendak Bapa-Nya: Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku, kata Yesus dan dengan demikian Ia rela dicambuk, dipukul, dan diludahi. Ia bisa saja menyembunyikan wajah-Nya dan menghindarinya, tetapi Ia tidak mau melakukan itu karena Ia rela dijadikan cela bagi manusia. Dengan demikian, Ia menggenapi gambaran Ayub, manusia yang menderita itu, yang olehnya dikatakan bahwa mereka menampar pipinya dengan cercaan (ayb. 16:10). Itu bukan hanya merupakan ungkapan penghinaan, melainkan juga kebencian dan kemarahan. Semuanya itu dijalani Kristus bagi kita dengan sukarela untuk meyakinkan kita akan kesediaan-Nya untuk menyelamatkan kita.

Kodrat Kristus.
Di sini (Filipi 2:1-11) diceritakan tentang dua kodrat Kristus, yaitu kodrat ilahi-Nya dan kodrat manusiawi-Nya.
 Kodrat ilahi.  Kodrat ilahi-Nya Nampak: “Yang walaupun dalam rupa Allah” (ay. 6),  memiliki kodrat ilahi, sebagai Anak Allah yang tunggal dan kekal. Ini sejalan dengan Yohanes 1:1, pada mulanya adalah adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah. Ini sama maknanya dengan menjadi gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15), dan cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah (Ibr. 1:3), Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia mengesampingkan keadaan-Nya yang sebelumnya ketika Ia berada di muka bumi, yaitu sebagai Anak Allah.

Kodrat manusia. Ia menjadi sama dengan manusia, dan dalam keadaan sebagai manusia. Ia sungguh dan sepenuhnya manusia, mendapat bagian dalam darah dan daging kita, tampil dalam kodrat dan kebiasaan manusia dengan sukarela. Itu merupakan tindakan-Nya sendiri, dan dilakukan dengan persetujuan-Nya sendiri. Ia mengosongkan diri-Nya sendiri, melepaskan diri dari kehormatan sorgawi, serta dari keadaan-Nya yang sebelumnya, untuk mengenakan pada diri-Nya kain kotor berupa kodrat manusia.

Kristus tidak hanya mengambil rupa dan keadaan seorang manusia, tetapi juga rupa seorang hamba, yaitu, manusia yang hina. Kristus bukan hanya Allah yang sudah dipilih oleh Allah, melainkan juga datang untuk melayani manusia, dan hidup di antara mereka sebagai seorang yang melayani di dalam keadaan hina dan rendah. Orang akan menyangka bahwa jika Tuhan Yesus menjadi manusia, tentulah Ia akan menjadi seorang pangeran, dan tampil dalam kemegahan. Namun justru sebaliknya: Ia mengambil rupa seorang hamba. Yesus dibesarkan secara sederhana, dan turut mengerjakan pekerjaan ayah-Nya sebagai tukang kayu. Seluruh hidup-Nya adalah hidup yang sangat rendah, hina, miskin, dan nista. Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan, tidak tampil dengan kemegahan lahiriah, atau memiliki tanda yang membedakan-Nya dari orang lain. Inilah keadaan rendah dari hidup-Nya. Puncak tahapan yang paling rendah dalam kehinaan-Nya adalah kematian-Nya di kayu salib. Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ia tidak hanya menderita, tetapi juga sepenuhnya taat secara sukarela. Ia merendahkan diri di bawah hukum yang mengatasi-Nya sebagai Pengantara, dan oleh hukum itu Dia ditetapkan untuk mati. Aku berkuasa memberikan nyawa-Ku dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang kuterima dari Bapa-Ku (Yoh. 10:18). Dan Dia takluk kepada hukum Taurat (Gal.4:4).
    Ada sebuah penekanan terhadap cara kematian-Nya, yang mengandung makna di dalamnya segala keadaan yang merendahkan diri-Nya. Bahkan sampai mati di kayu salib, sebuah kematian yang terkutuk, menyakitkan dan memalukan, sebuah kematian yang dinyatakan terkutuk oleh hukum Taurat (Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib). Belum lagi dengan kematian yang penuh rasa sakit perih, dengan tubuh dipaku sampai menembus bagian-bagian saraf (tangan dan kaki) dan seluruh berat badan-Nya tergantung pada kayu salib. Sungguh ini merupakan kematian seorang penjahat dan budak, bukan seorang yang merdeka, dipertontonkan di depan umum. Jelas terlihat penghinaan dan penderitaan yang luar biasa atas diri Yesus yang mulia itu.

Makna Perjamuan Yesus dengan murid-murid.
Lukas 22:14-23 Yesus memberitahukan sekali lagi penderitaan dan kematian-Nya, tetapi juga pemuliaan-Nya: ia tidak akan makan Paskah itu lagi “sampai ia beroleh kegenapannya dalam kerajaan Allah.” Sebab Paskah itu bagi orang-orang Yahudi bukanlah hanya kenang-kenangan kepada kejadian pada masa silam (yakni kepada perjalan keluar dari Mesir), dan artinya tidaklah hanya tertuju kepada masa kini (yaitu kesadaran dari setiap angkatan bahwa seolah-olah mereka sendirilah yang dibebaskan oleh Allah dari perbudakan). Paskah dalam PL menunjuk kepada masa depan ketika Paskah itu beroleh kegenapannya, yakni ketika kebebasan yang sesungguhnya akan diwujudkan dalam kerajaan Allah, di mana sekali kelak anak-anak Allah akan mendapat bagian dalam kegembiraan yang dapat dilukiskan dengan gambaran “Perjamuan Mesias” (bnd.Yes.25:6). Lambang kegembiraan itu ialah anggur seperti yang dimaksudkan dalam ayat 17-18.
Anak domba Paskah mengingatkan orang Israel kepada belas kasihan yang ditunjukkan Allah kepada mereka (Kel.12:27); roti yang tak beragi menandakan bahwa mereka dengan buru-buru meninggalkan Mesir (Kel.12:39); sayur-sayuran pahit mengingatkan mereka kepada menindasan pahit di Mesir (Kel. 1:14 dan 3:7). Dengan cara yang sama seperti itu Yesus memberi arti baru dan tafsiran baru kepada beberapa unsur perjamuan Paskah Yahudi itu. Berdasarkan arti dan tafsiran baru itu maka gereja Kristen merayakan Perjamuan Kudus. Itulah yang menjadi pokok dalam ayat 19-20.
Perjamuan Kudus mengingatkan kita kepada kematian Yesus, tetapi kematian itu tidak mempunyai arti tersendiri lepas dari kebangkitan-Nya dan pemuliaan-Nya; justru oleh kematian dan pemuliaan-Nya menjadi nyata bahwa Yesus adalah Kristus yang menjadi Juruselamat (Yun: soter) yang telah mengalahkan kuasa-kuasa dosa, maut dan iblis dan oleh sebab itu dalam hidup kita Yesus menjadi Kyrios yang berkuasa.
Jadi sama seperti Paskah Yahudi, Perjamuan Kudus seperti yang dimaksudkan dalam ayat 19-20 ini, bersangkut paut dengan masa silam, dengan masa kini dan dengan masa depan. Dalam memecah-mecahkan roti, jemaat Kristen mengingat akan kematian Yesus, juga akan kebangkitkan-Nya dan pemuliaan-Nya. Cawan yang berisi anggur itu menandakan perjanjian baru yang diikat Allah dengan manusia melalui kematian (dan kebangkitan) Yesus Kristus.  













Selanjutnya:
Bahan Penelaahan Alkitab - Tanggal 11-16 April 2022 - Prapaskah VI - TEGUH SEPERTI GUNUNG BATU / Matoto` susi batu Laulung - Lukas 22:14-23


Sebelum:
Bahan Penelaan Alkitab - Tanggal 4-9 April 2022 - Prapaskah V - KASIH YANG BENAR / Pa`kaboro` Tongan - Filipi 3:1-16


All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022:

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/list_judul_Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/lagu-gereja.com/toraja/baca10.php on line 91
MENU UTAMA:
Alkitab Bahasa Toraja PL(20)
BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022(12)
Catatan Penting Tata Ibadah Gereja Toraja(16)
Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022(90)
Lagu Natal TORAJA(1)
Lagu Rohani Toraja(24)
Lagu Sekolah Minggu(68)
NKGT(1)
PANDUAN TATA IBADAH GEREJA TORAJA(19)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja(2)
Pembacaan Alkitab Gereja Toraja 2019(2)
Renungan Gereja Toraja 2022(22)
Renungan Gereja Toraja 2023(133)
Renungan Gereja Toraja 2024(3)
Tata Gereja Toraja 2017(75)
Tentang Gereja Toraja(9)
xx(1)
xxx(107)

Arsip Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022..

Register   Login